
Banyak yang bilang, jodoh, rezeki, pertemuan, maut, itu adalah skenario tuhan yang terbungkus dalam satu agenda yang dinamakan takdir.
Mungkin ada benarnya, dan aku tak memungkiri itu, karna setiap kejadian yang berlaku sering kali yang datang silih berganti tanpa kita sadari dan tak pernah bisa kita prediksi.
Mungkin itu lah yang sedang aku alami kemarin, sekarang, dan mungkin nanti.
Dari kecil sudah saling mengenal, bermain bersama, saling melempar canda dan tawa, saling membagi sedih dan luka. Bersama menginjak remaja, hingga tak terasa takdir membawa kita ke suatu peristiwa tak terduga.
Menikah di pagi hari, Siang harinya kuluapkan emosi, tapi satu yang kukagumi, kau tetap sabar menemani tanpa secenti pun berpaling diri.
Malamnya kupeluk diri mu erat, aneh rasanya tidur bersama suami yang sebelumnya berstatus sahabat, bersama mengarungi mimpi hingga pagi.
Rasanya tak ingin kulepas dirimu pergi. Jemari yang saling bertautan sebenarnya enggan tuk kulepaskan , tapi satu yang kuyakini dan kuingin kau gapai suatu hari nanti. Kau masih punya mimpi. Buatlah dirimu jadi lebih berarti, membanggakan keluarga juga istrimu ini.😔
^^^Echa. 17 Desember ...^^^
Echa menutup diary nya. Setidaknya meluapkan emosi dan isi hati di dalam sebuah diary dapat membuat hati yang nyeri sedikit lebih terobati.
Sebuah lagu dari spotify menjadi pilihan hati, mungkin dengan mendengar lagu akan lebih mengobati.
Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 malam.
Sebenarnya Echa cuman mau mengisi kegabutan nya., dari tadi dia berguling kesana-kemari diatas kasur, tapi matanya masih susah diajak jalan keruang mimpi.
Echa ingat waktu itu dia tidur sambil meluk dan di peluk sama Angga.
"Ehk,,, Angga???, Dia lagi apa ya?... Apa disana udah malam?, apa dia juga lagi susah tidur ya???"
"Belum juga seminggu di tinggal., Tapi aku..., Kok kangen ya...😊"
"Tanpa terasa bayangan dimalam itu terulang kembali dalam memori ingatan. Indahnya kenangan membawa Echa kedunia mimpi penuh harapan, berpeluk mesra dengan sang suami dialam fatamorgana, bahkan dinginnya pagi tak sedikitpun mengganggu tidur nyenyaknya. Hingga suara gedoran dengan sapaan lembut sang mama dari balik pintu terdengar nyaring di telinga, barulah Echa berpisah dari mimpi indahnya.
"Sayang ayo bangun, dibawah ada Teman-temanmu."
"Iya mah." Saut Echa dari dalam dengan suara serak baru bangun tidur. Dengan mulut yang masih menguap, Echa merenggangkan otot-ototnya.
Echa melihat jam di dinding kamarnya..."Astaghfirulloh." Kaget Echa, dia kesiangan.
Echa bergegas ke kamar mandi, membersihkan wajahnya, menggosok gigi, lalu langsung berwudhuk.
Keluar dari kamar mandi, Echa ingat dengan pesan mamanya tadi kalo ada teman-temannya, yang Echa belum tau siapa, yang jelas mereka sedang menanti. Echa membuka pintu kamarnya sebentar mencari keberadaan sang mama.
__ADS_1
"Mah, tolong bilangin ke temen Echa yah, Echa sholat bentar."
Sampai suara sahutan dari sang mama, barulah Echa kembali menutup pintunya dan langsung menunaikan sholat subuh yang sempat tertunda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Echa baru saja membuka pintu kamar. Jujur, dia penasaran dengan tamu yang datang sepagi ini kerumahnya. Biasanya hanya Angga yang iseng kerumahnya sepagi ini, sekedar hanya untuk menjaili Echa atau hanya sekedar mengganggu mamanya memasak.
"Ehk, Angga lagi,." Sembari berjalan keruang tamu Echa menggelengkan kepala, senyumnya terbit begitu saja, sahabat yang kini sudah jadi suami terus saja menghantui kepalanya.
Tak pernah sebelumnya ia memikirkan tentang kehadiran Angga, mungkin karna sebelumnya dia selalu ada, lalu kemudian semesta memisahkan jarak antara mereka.
Aneh rasanya ketika seseorang yang selalu mengisi hari tiba-tiba semesta menyuruhnya pergi, walaupun dengan sebab yang pasti.
...****************...
Echa menautkan alisnya, melihat dari belakang tamu yang sedang duduk di sofa sambil menonton TV. Bukannya tamu ini tak sopan, hanya saja karna memang sudah terlalu akrab dengan pemilik rumah.
"Kalian ngapain pagi-pagi udah kemari?" Tanya Echa pada tamu nya yang pasti ia kenal. Dua orang gadis manis yang selalu ada di setiap senang sedihnya, Alifah dan Salsa.
Tapi anehnya ada satu yang kurang, malah diganti dengan cowok antah berantah yang entah mengapa dia ikut hadir disini, Trisno.
"Ni orang kok ada disini?, Emang personil kita udah ganti ya" Tanya Echa.
Belum sempat dia beranjak dari duduk, pergerakannya langsung tertahan dengan sindiran Salsa.
"Gak usah ngadi-ngadi loe, duduk." Ujar Salsa, Trisno langsung kicep, dia hanya pasrah menerima hukumannya.
Echa menatap Alifah, sorot matanya bertanya perihal Trisno.
"Trisno katanya mau jadi supir kita seharian." Ujar Alifah. Setidaknya itulah yang ia tau dari penjelasan Salsa. Echa memandangi Trisno, kentara sekali dari wajahnya kalo dia tidak iklas dan seperti sedang berada dalam tekanan batin.
Echa memicingkan matanya ke Salsa, Salsa menghela napas. Dia mengerti maksud Echa, teman yang sudah sekian lama bersama pasti tau maksud yang tersirat dari sahabatnya.
Salsa berdiri dari duduknya, menarik lengan Echa agak jauh dari tempatnya Alifah duduk lalu membisikkan apa yang memang Echa mau dengar tentang penjelasan kenapa Trisno ada disini dan bersedia jadi supir mereka seharian.
Berdasarkan garis besar penjelasan Salsa, Ternyata semalam Salsa sama Trisno main badminton di gor, ada Sindy sama Yusuf juga disana.
Awalnya biasa aja, mereka mainnya ya barengan. Tapi lama-lama Trisno ngebacot dan gak mau main one by one lawan Salsa atau Sindy. Katanya cewek pasti kalah, dan kalo kalah nanti pasti nangis. Mulai dari situlah, emosi Salsa mulai naik.
Dia terus ngajakin Trisno duel 1by1 dengan taruhan siapa yang kalah harus nurutin permintaan yang menang seharian penuh. Trisno ya pasti setujulah, karna bagi Trisno pemenangnya ya udah pasti dia. Masak ia cowok kalah lawan cewek, kan gak masuk akal, gak bakalan pernah ada dalam logika pemikiran Trisno.
__ADS_1
Dan hasilnya, yah seperti sekarang.😭😭😭
Trisno terpaksa mengorbankan mobil dan bensinnya serta dirinya yang harus rela menjadi supir bagi mereka selama seharian penuh.
Echa sempat tertawa kencang mendengar kekonyolan sahabat dari suaminya itu, sampai-sampai mulutnya terpaksa ditutup rapat oleh Salsa. Bukannya kenapa-napa, kalo Alifah sampek tau alasan Trisno mau jadi supir mereka karna kalah taruhan, sudah pasti telinga Salsa yang bakal jadi sasaran omelannya Alifah.
Jadi, selama Alifah taunya Trisno melakukannya dengan sukarela maka kondisi telinga Salsa ya akan aman-aman saja.
Trisno hanya bisa pasrah dengan wajah senyum yang terpaksa, raut wajahnya begitu menderita. Sudah pasti Salsa akan membeberkan semua bacotannya, juga kekalahannya. Harga dirinya sudah tidak ada lagi di hadapan para wanita., apalagi setelah kejadian memalukan ini, dia gak mungkin lagi berani sama geng mereka, khususnya sama Sindy, Echa, lebih-lebih Salsa.😭
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Trisno harus merelakan mobil alphardnya menjelajah jalanan hutan. Jalannya sih bagus, hanya saja namanya akses nya masuk rimba tentu ada lobang-lobang yang berisi tampungan air hujan. Dia hanya bisa pasrah dan menangis dalam hati melihat mobilnya yang penuh dengan derita.
Tujuan spot mereka kali ini adalah alam terbuka, asri dan dinginnya suasana hutan memiliki energi tersendiri tuk mengisi semangat dan setiap ruang kosong di dalam jiwa.
Setidaknya ini dapat menjadi refleksi bagi pikiran dan hati.
"Andai Angga ada disini, pasti liburan kali ini akan lebih seru lagi."
"Huh" Echa menghela napas, menarik dalam-dalam sejuknya udara segar, lalu ia hembuskan perlahan.
"Gak papa semua akan baik-baik saja, semua ini kan memang udah jalannya, lagi pula Echa juga masih punya teman-teman yang tak pernah membiarkannya sendirian. Jadi, gak boleh sedih lagi." Echa menarik perlahan kedua sudut bibirnya.🙂
"So..., mumpung masih liburan, let's having fun." Echa memandangi kearah teman-temannya yang sedang asik berfoto ria di depan perciakan air terjun yang begitu indah. Mereka melambaikan tangannya ke Echa, Echa melambai balik, dia berlari untuk ikut foto bersama.
Senang rasanya punya mereka. Para sahabat yang selalu ada tanpa perlu tanya kenapa.😊
Trisno hanya bisa pasrah menjadi fotografer dadakan bagi para wanita, hukumannya belum juga reda. Memang kesalahannya, juga bacotannya yang terlalu meremehkan kaum hawa.😭
Echa dan Salsa juga Alifah, melihat raut wajah Trisno yang tampak menderita, malah tertawa bahagia.😆
Mungkin tertawa diatas penderitaannya adalah surga dunia bagi mereka., memang dia yang salah, semesta lagi menunjukkan keadilannya.😭
Mungkin peribahasa yang pantas untuk Trisno adalah;
"Karna bacotmu kau terluka dan karna bacotmulah Salsa dan sahabatnya bisa bahagia.🤣🤣🤣
Akhirnya, sisa liburan Echa yang hanya tinggal beberapa hari lagi ia nikmati bersama dengan para sahabatnya. Walau terasa ada yang kurang, tapi setidaknya masih ada yang bisa menggantikannya...
"Angga lagi apa ya?, Apa disana ada air terjun juga???"...
__ADS_1
...🙃🙃🙃...