LDR( Jauh Kangen Dekat Berantem)

LDR( Jauh Kangen Dekat Berantem)
Bab28. Baikan.


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, sinar mentari masuk di selah-selah jendela kamar sebuah hotel, cahayanya tanpa permisi dengan sengaja menyapa sepasang kekasih yang masih setia berpelukan dalam tidur lelapnya, membuat dua orang tersebut dengan terpaksa harus berpisah dari dunia mimpi indahnya.


Echa mengerjapkan mata, sinar matahari tepat menyinari wajah cantiknya, mengangkat tangan di pelipis mata agar cahaya yang mengenai wajahnya dapat sedikit terhalangi.


Dengan kondisi yang sudah tersadar, Echa mulai menyadari satu hal. Badannya sulit digerakkan, ternyata dirinya sekarang sedang berada dalam pelukan Angga yang kelihatannya sama sekali tidak terganggu dengan panas yang mulai masuk lewat jendela kamar mereka, matanya masih setia terpejam, Angga masih terlelap dalam tidurnya.


Echa mulai teringat, dirinya belum mengeluarkan kata maaf untuk Angga. Mau kembali marah tapi tak tega membangunkan Angga, walau bagaimana pun Angga tetap sahabat sekaligus suaminya, dan sebenarnya Angga tidak sepenuhnya bersalah, Echa saja yang kelewat baper dan terlalu gengsi untuk langsung memberikan maaf.


Perlahan Echa bergerak, mencoba melepaskan tangan Angga yang melingkari pinggangnya. Satu yang Echa sadari, kepalanya kini sudah tak tertutupi hijab. Padahal semalam seingat Echa ketika dirinya mulai terlelap Echa masih mengenakan hijab, padahal Angga sudah memberi tau supaya Echa buka hijabnya terlebih dahulu sebelum tidur, tapi karna masih kesal dan marah, Echa mengabaikannya, bahkan ketika Angga dengan lembut mau membantu Echa untuk membuka hijabnya Echa langsung menepis tangan Angga, setelah itu Echa tak ingat apa-apa lagi karna dirinya langsung tertidur lelap. Mungkin setelah Echa terlelap barulah Angga membuka hijab Echa.


Ketika satu tangan Angga mulai terangkat, Echa perlahan bergerak menjauh, namun baru saja hampir lepas, Angga langsung kembali menarik Echa dalam pelukannya,...erat, Angga memeluknya erat.


"A....Angga...,loe udah bangun?" Tanya Echa pelan, Echa sedikit ragu karena mata Angga masih terpejam.


"Jangan tinggalin gue Cha..., gue minta maaf." Lirih Angga, Echa memperhatikan wajah suaminya, perlahan buliran bening mengalir dari mata Angga yang masih terlelap. 


Echa tersenyum simpul, entah kenapa hatinya menghangat mendengar ucapan Angga, mata Echa mulai berkaca-kaca.


Karna yakin Angga masih terlelap, perlahan Echa memberanikan diri mengecup bibir suaminya itu. 


"Cup..."


Tangan Echa bergerak perlahan, membelai setiap inci wajah sang suami.


"Makanya jangan ngeprank, jangan suka bikin kesel,..." Bisik Echa pelan.


Detik berikutnya Echa membalas pelukan Angga,..."I love u." Tiba-tiba Angga kembali berucap dengan mata yang masih terpejam, satu kecupan ia daratkan di kening Echa.


Echa kaget, rupanya dari tadi suaminya udah bangun, karna malu Echa makin erat memeluk Angga dan malah menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik suaminya itu.


Angga tersenyum simpul, tangannya kini mulai mengelus lembut rambut panjang Echa. Berdua kembali terlelap...Zzz...Zzz...Zzz.😴


"Flash back on."


Setelah kejadian Angga yang mendatangi kosannya Echa dan membuat kegaduhan disana, Echa akhirnya mengalah dan memilih untuk mengikuti Angga,. 


Di dalam mobil, Angga terus saja mengajak Echa ngobrol, sesekali ia sisipkan canda didalam omongannya tujuannya hanya satu untuk meredakan amarah istrinya, namun tak ada sekalipun Echa menyahut ucapannya.


Di tengah ocehan Angga, Echa berucap,.


"Gak usah pulang kerumah, besok gue mau kuliah." Angga agak kaget dengan ucapan Echa yang tiba-tiba, namun tetap tersenyum lalu mengangguk. Hanya sekali itu Echa berucap setelahnya dia memilih kembali diam dan tak mengubris setiap omongan Angga yang masih saja berusaha membujuknya. Bahkan ketika Angga menawarkan agar menginap di hotel, Echa tetap diam tak menjawabnya, tak menggeleng tidak juga mengangguk.

__ADS_1


Karena Echa tak menolak akhirnya Angga memilih untuk pesan satu kamar hotel untuk mereka menginap malam ini. 


Sesampainya di kamar hotel, Angga kembali menawarkan kepada Echa untuk makan dan pesan makanan, tapi lagi-lagi ucapan Angga tak dihiraukan, Echa malah langsung membaringkan badannya dikasur dan langsung menutup matanya.


Angga menghela napas, dirinya belum makan apapun dari siang tadi, perutnya terasa lapar, tapi dia gak mau makan kalo gak di temani istrinya.


Yasudah, lagi-lagi Angga harus mengalah, Angga mendekati Echa lalu kembali berucap agar Echa lebih dulu membuka hijabnya sebelum tidur, namun tak dihiraukan oleh Echa. Angga paham, istrinya masih marah padanya, Angga memilih untuk membantu melepaskan hijab Echa, namun baru saja tangan Angga menyentuh kepalanya, si Echa langsung menepis tangan Angga.


Angga tak lagi memaksa, karena kalo di paksa si Echa nantinya malah jadi makin marah. 


Angga mengambil handuk, lalu berjalan kekamar mandi. Jujur dirinya begitu lelah, kepalanya juga sedikit pusing. Mungkin dengan mandi dapat sedikit meringankan bebannya.


Selesai mandi, Angga melihat Echa yang sudah tertidur pulas, mungkin bukan hanya dirinya yang lelah, Echa juga merasakan hal yang sama.


Angga mendekati Echa lalu perlahan membukakan hijab di kepala istrinya, setelah selesai, Angga ikut merebahkan badannya di samping Echa. 


Posisi Echa kini membelakangi Angga dan di tengah-tengah mereka ada bantal guling sebagai penghalang, Echa memang sengaja melakukannya. 


Angga tersenyum simpul, Echa masih ngambek, bahkan sampai tidurpun dia masih ngambek sama Angga. Angga memindahkan bantal gulingnya, lalu perlahan memutar badan Echa supaya menghadap kearahnya. Tak ada perlawanan dari Echa, Echa masih terlelap dalam tidurnya, mungkin dia memang benar-benar lelah. 


Angga memeluk Echa erat, bibirnya ia tempelkan di kening putih sang istri, satu tangannya lagi mengelus lembut kepala Echa. Angga ikut memejamkan mata, mengikuti sang istri ke alam mimpi.


"Flash back off."


Echa kembali terbangun dari tidurnya, mengerjapkan mata, dirinya masih berada dalam dekapan sang suami.


"Angga, bangun udah siang." Ujar Echa pelan, tangan Angga yang melingkari pinggangnya perlahan ia pindahkan. Namun ada yang aneh ketika Echa mengangkat tangan Angga, tangannya terasa sedikit hangat.


Echa meletakkan tangannya di pipi Angga, lalu berpindah ke keningnya, panas,..." Angga kamu demam." Gumamnya.


Dengan mata yang sayup dan baru bangun tidur, Angga tersenyum lalu mengeleng. "Enggak., Echa mau kuliahkan, yaudah mandi sana entar keburu telat, nanti kuliahnya pakek mobil aku aja, atau mau Angga yang antar." Dalam kondisi badan yang panas dan kepala yang terasa pusing, si Angga masih bisa tersenyum.


Mata Echa mulai berkaca, air matanya tanpa disuruh langsung menetes begitu saja,. 


"Eh, kenapa nangis sayang." Angga menghapus air mata Echa dengan jarinya.


Dengan tangisan yang mulai terisak Echa memeluk Angga dengan erat,...


"Heh, jangan nangis, aku gak papa kok." Ucap Angga, tangannya terus mengelus kepala Echa.


Bukannya diam, Echa malah makin nangis,.." Maaf." Lirih Echa dalam pelukannya.

__ADS_1


Angga tersenyum kecil, "Kamu gak salah sayang, aku yang salah udah bikin kamu marah, maafin yah." Ucap Angga lagi. Dalam pelukannya Echa mengangguk.


Angga merenggangkan pelukannya, melihat wajah sang istri yang basah karena air mata, Angga tersenyum lalu mengecup singkat kening Echa..."Cup"..."Istri aku cantik." Ujarnya, kemudian kembali membawa Echa dalam dekapannya.


Setelah agak lama dan mulai merasa baikan, Echa mulai melepas pelukannya. Echa bangun dari kasur dan langsung mengambil handuk untuk mandi. Angga hanya diam dan memperhatikan setiap gerakan istrinya dari atas kasur.


Selesai mandi, Echa langsung berpakaian rapi lalu meminta kunci mobil kepada Angga.


Dalam posisi duduk sambil bersandar di sandaran kasur Angga bertanya. "Mau kuliah ya?" Echa tak menjawab, mungkin masih ada  tersisa sedikit kekesalannya pada Angga.


"Yaudah, hati-hati ya." Ucapnya lagi.


"Hmmm." Hanya jawaban singkat yang Echa berikan, tapi cukup untuk  membuat lengkungan di bibir Angga.


Echa bersiap pergi, namun baru dua langkah ia harus kembali membalikkan badannya karena panggilan Angga.


"Echa..., ehmmm." Angga menatap Echa, tapi ragu dengan yang mau ia ucapkan. "Gak jadi,." Ucap Angga, satu senyuman kembali ia berikan, sudut matanya seolah berkata ia baik-baik saja.


Echa menghela napas., "Apaan, kalo ada yang mau diomongin bilang,." Jawab Echa ketus.


"Enggak ada." Balas Angga.


"Bilang aja kenapa sih, ribet bener." 


Ragu-ragu Angga meminta pada Echa. "Ehm, kalo...kalo aku minta cium boleh nggak?." Angga memandangi wajah Echa, Echa hanya menatapnya datar.


Angga menundukkan kepalanya, dia tau Echa belum sepenuhnya memberi maaf.


Tanpa Angga sadari, Echa tersenyum kecil, rupanya dari tadi dia berusaha untuk tidak tersenyum dihadapan Angga.


Echa berjalan mendekati Angga yang masih menundukkan kepalanya, lalu satu kecupan singkat Echa berikan di pipi Angga." 


"Cup." 


Setelahnya Echa cepat-cepat melangkah keluar kamar, dirinya malu. Sedangkan Angga masih kaget dengan ciuman yang diberikan Echa.


Beberapa detik kemudian, Angga memukul-mukul gemas kasurnya, dia kegirangan karena dapat ciuman dari Echa. 


Di lain sisi Echa yang sedang berjalan keluar hotel juga sedang senyum-senyum sendiri. Dirinya sudah memaafkan Angga, tapi egonya masih bertahan untuk tidak terlalu cepat berucap manis pada suaminya itu.


Echa akan tetap berbicara ketus sampai Angga benar-benar bisa meluluhkan kembali hatinya. Dan Echa tau itu tidak akan lama, tapi Echa akan berusaha untuk tidak terlalu cepat diluluhkan oleh Angga.😈

__ADS_1


...🙃🙃🙃...


 


__ADS_2