LDR( Jauh Kangen Dekat Berantem)

LDR( Jauh Kangen Dekat Berantem)
Bab18. Bingung.


__ADS_3

#Sehari setelah wisuda#


Malam sudah cukup larut, namun seorang gadis yang memaksa matanya untuk tetap terpejam itu tak juga beranjak ke alam mimpi.


Pikirannya masih enggan tuk beristirahat sebelum bisa menemukan solusi dari masalah yang kini ia hadapi.


Memilih untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi atau mengambil pilihan kedua untuk tidak kuliah dan tetap tinggal dirumah agar terus bisa menemani mamanya.


Sudah berapa hari ini Echa gak bisa tidur nyenyak gara-gara mikirin hal ini, tapi malam ini dia benar-benar kesulitan untuk mengistirahatkan matanya, udah di paksa berkali-kali juga tetap gak bisa tidur.


Echa membuka matanya, mau di paksa pun Echa tetap gak bisa tidur. Echa mengambil laptopnya diatas nakas kemudian membawanya keatas kasur. 


Setelah laptop menyala, Echa langsung melakukan panggilan video keseberang sana, nama Angga menjadi tujuannya., Harap-harap Angga tak lagi sibuk dan bisa menemaninya mengobrol dan tentunya mendengarkan curahan hatinya. Lagian sudah lama juga dia dan Angga gak saling telponan.


Agak lama Echa menunggu panggilannya tersambung... 


"Mungkin si Angga lagi di kamar mandi." Batin Echa, walau bagaimanapun dia berharap Angga menjawab panggilannya.


5 menit berlalu, namun panggilan Echa tak juga disambut oleh Angga.


"Mungkin Angga memang lagi sibuk." 


Echa memilih untuk mengalah dengan keinginannya, mungkin setelah ini ia akan coba untuk memaksa kembali  matanya agar bisa beristirahat. 


Baru saja Echa mau memutuskan sambungan nya, namun panggilannya tiba-tiba terhubung dengan Angga.


"Hai cantik." Sapa Angga di seberang sana, wajahnya terlihat segar dan rambutnya nampak basah.


Echa belum menjawab sapaan Angga, bibirnya tersenyum begitu saja.


"Tadi nungguin ya?, sorry ya abis mandi soalnya." Kata Angga seolah tau kalo istrinya udah lama nungguin.


Echa menggelengkan kepala, senyuman masih tak lekang dari bibirnya... "Enggak lama kok nungguinnya." Balas Echa.


Obrolan keduanya mengalir begitu saja,melepas kangen setelah lebih dari seminggu tak bertukar kabar. Tak lupa Echa juga mengucap terima kasih untuk hadiah yang di berikan Angga sebagai kado wisudanya.


Angga malah bertanya apakah Echa udah bilang terima kasih ke Trisno yang udah mau di repotin, Echa malah nyengir dan dengan santainya bilang lupa, namun setelahnya dia janji kalo besok atau lusa bakalan bilang terima kasih ke Trisno karna udah mau repot buat ngantar kado dari Angga untuk Echa. 


Setelahnya berdua saling bercerita, lalu berlanjut dengan saling tuduh siapa yang paling rindu diantara mereka setelah lama tak bertegur sapa. Lagi-lagi Angga yang harus mengalah hanya untuk menyenangkan hati istrinya, melihat senyuman Echa yang menampakkan lekukan manis di kedua pipi istrinya itu sudah cukup untuk membuatnya ikut bahagia.


"Terus gimana dong?" Tanya Echa di tengah obrolannya dengan Angga. 


Obrolan yang dimulai dari kangen-kengenan setelah lebih dari seminggu gak kontakan, obrolan yang awalnya saling bercanda dan tertawa, berubah menjadi obrolan yang agak serius. Topik obrolan mereka mulai beralih kearah yang saat ini Echa rasakan. Ada sebuah penghalang atau stuck di salah satu sudut hati Echa yang hingga saat ini masih ragu untuk ia putuskan.


Echa bingung, dia sangat ingin melanjutkan pendidikannya tapi harus merelakan untuk pisah dengan mamanya karena universitas yang ia inginkan adanya di luar kota, sedangkan di satu sisi dia gak mau pisah dengan mamanya, gak tega buat ninggalin mamanya sendirian.


Dalam posisi ini, jujur Angga juga bingung untuk mencari jalan keluarnya. 


Dalam diam-diaman kedua insan yang sama-sama sedang memikirkan jalan keluar yang terbaik untuk Echa, tiba-tiba pintu kamar Echa diketuk sang mama dari luar. 


Tentu Echa kaget, pasalnya ini udah larut malam, kok mamanya belum tidur, apa jangan-jangan mamanya dengar obrolan dirinya dengan Angga yang barusan.


Cepat-cepat Echa memutuskan sambungan dengan Angga lalu kembali meletakkan laptopnya di tempat semula. Setelah beres, Echa langsung bergegas kedepan pintu. Dengan sedikit akting penuh penghayatan layaknya orang yang baru bangun dari tidur, Echa membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


"Hoaaam..., kenapa mah?" Tanya Echa sembari mengucek matanya.


Mamanya malah tersenyum melihat sang putri berakting, padahal dia tau kalo Echa belum tidur.


"Mama tidur disini boleh?" Pinta mamanya."


"Hmm!, kenapa mah?" Tanya Echa. Matanya dibuat sayup seolah-olah sangat mengantuk, namun dahinya  mengkerut. Agak bingung kenapa mamanya tiba-tiba pengen tidur di kamarnya.


"Engak kenapa-napa, mama pengen aja tidur sama Echa, udah lama juga kan kamu tidur gak mama kelonin."


"Ish mama, emangnya Echa anak bayi tidur masih di kelonin sama mamanya." Balas Echa sambil menggembungkan pipinya. Sarah malah terkekeh melihatnya. Wajah akting putrinya sudah tak tampak lagi, berganti dengan wajah cemberut tak terima.


Sambil mecubit gemas pipi Echa, Sarah kembali berujar. 


"Bobok yuk udah malam." Setelahnya Sarah menutup pintu kamar lalu membawa Echa kembali ketempat tidurnya. 


...****************...


Dalam posisi tidur sambil di peluk mamanya, Echa merasakan kenyamanan. Memang pelukan sang mama gak akan ada bandingannya. Echa mengeratkan pelukannya, menenggelamkan wajahnya kedada sang mama. Sarah senang melihatnya, Echa yang masih saja manja padanya, seulas senyuman terbit dari bibirnya.


"Tidur ya sayang, jangan terlalu mikirin mama, mama gak papa kok, yang penting Echa senang menjalaninya, mama akan ikut bahagia." Entah kenapa Sang mama berujar seolah tau apa yang sedang Echa pikirkan.


Echa merenggangkan pelukannya,dia mendongak, menatap wajah mamanya yang entah sejak kapan  mulai berkaca-kaca.


"Emm, mama tadi denger ya?" Tanya Echa memastikan. Sarah hanya tersenyum menanggapi.


Tebakan Echa benar, tanpa sengaja mamanya memang mendengar obrolannya dengan Angga barusan.


"Echa kuliah ya, gak usah terlalu mikirin mama, kan Echanya mama mau jadi dokter." Selembut mungkin Sarah berucap. Echa malah menangis mendengar ucapan mamanya aliran air mata terus menetes di pipinya.


"Echa kuliah ya." Ucap mamanya lagi.


Tak membalas ucapan mamanya, Echa malah menggelengkan kepala, lalu kembali memeluk mamanya erat, menenggelamkan wajah sembabnya di dada sang mama.


Tak ada lagi obrolan, Sarah tau Echa tak tega meninggalkannya sendirian. Dalam hati kecilnya Sarah juga gak mau pisah dengan putri satu-satunya, tapi dia juga gak mau menjadi penghalang dari cita-citanya Echa. 


Walau nanti dirinya akan kesepian, tapi Sarah akan tetap mendukung semua keputusan dari Echa, sang putri yang telah beranjak dewasa tapi akan selalu menjadi bayi kecilnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari ini Echa merasakan dirinya kembali segar. Bukan karena baru selesai mandi, tapi karena semalam dia bisa tidur nyenyak kembali, beristirahat dengan nyaman di pelukan sang mama setelah beberapa hari dirinya kesulitan untuk tidur pulas.


Echa sudah mengambil keputusan. Setelah selesai sholat subuh dan dilanjutkan dengan berdo'a semoga pilihan yang diambilnya di berkahi sang maha kuasa, Echa membulatkan tekat dengan keputusan yang akan diambilnya.


Bismillah ia ucapkan sebelum menyampaikan pilihannya kepada sang mama yang mungkin akan keberatan dengan pilihan yang diambilnya.


Echa bilang sama mamanya kalo dia akan tetap kuliah dan masih tetap dengan cita-citanya untuk jadi seorang dokter. Walau mata mamanya berkaca-kaca tapi senyuman tetap mamanya berikan, tak ingin membuat Echa merasa salah dengan keputusan yang diambilnya.


Tapi Echa belum selesai dengan ucapannya, Echa kembali mengatakan kalo dia akan tetap kuliah tapi gak sekarang, gak tahun ini. Insya allah Echa akan mulai kuliah di tahun depan. 


Awalnya sang mama menolak karena mengira Echa mengambil keputusan demikian hanya karena gak mau ninggalin mamanya, gak mau mamanya kesepian dirumah. Walau pun itu termasuk salah satu alasan Echa, tapi setelah memberi pengertian sama mamanya kalau dia masih ragu untuk kuliah di tahun ini, ditambah lagi dengan beberapa alasan lain sebagai penguat keputusannya, akhirnya sang mama memberi izin dengan keputusan yang di ambil Echa.


Kata Sarah gak papa kalo itu keputusan Echa buat gak kuliah tahun ini, tapi ingat tahun depan Echa harus kuliah karena mamanya tahu betul dengan keinginan Echa yang dari kecil sudah bercita-cita ingin jadi dokter. 

__ADS_1


Echa mengiyakan permintaan mamanya yang memang juga adalah keinginan hatinya. Echa memilih untuk ambil gap year tahun ini dan akan mengambil kuliah di tahun selanjutnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah memberi tau mama, Echa lanjut memberi tau keputusannya pada mama dan papa mertua. Ini juga salah satu perintah mama kalo Echa harus ngasi tau sama mama Lina dan papa Danu tentang keputusannya, dan Echa juga harus mendengarkan pendapat mereka tentang keputusan yang diambilnya.


Setelahnya, Echa bergerak kesebelah rumah buat cerita ke mama dan papa mertua tentang keputusannya untuk tidak kuliah dulu tahun ini.


Papa Danu dan mama Lina menanggapinya dengan memberikan pandangan mereka terhadap keputusan yang diambil Echa. 


Plus minus tentang keputusan Echa juga tak lupa untuk disampaikan, hanya untuk menjadi bahan pertimbangan Echa apakah keputusannya untuk tidak kuliah dulu tahun ini tetap menjadi pilihannya. Namun apapun keputusan Echa papa dan mama mertua akan selalu mendukungnya.


Echa menyimak semua penyampaian keduanya. 


Sebenarnya sedikit banyak dari pandangan kedua mertuanya juga sudah menjadi pertimbangan Echa sebelumnya. Tentang kejenuhan yang mungkin akan dia alami, tentang aktifitas apa saja yang akan ia lakukan selama setahun ini, teman-teman yang mungkin akan sulit untuk diajak main atau hanya sekedar jumpa, karena udah sibuk dengan aktifitas kuliah mereka masing-masing. Semua sudah Echa pertimbangkan. 


Echa tetap dengan keputusannya, tak lupa ia juga sampaikan beberapa alasan kenapa Echa lebih milih buat gak kuliah dulu tahun ini. 


Echa gak mau gegabah ambil keputusan buat langsung kuliah yang nantinya malah nyesal dan berhenti di tengah jalan. Echa juga belum siap buat pisah dengan mamanya, Echa juga belum terlalu yakin buat ngambil jurusan kedokteran yang walaupun itu adalah cita-citanya dari kecil, dan masih banyak lagi yang jadi pertimbangan Echa.


Mendengar penjelasan Echa yang cukup membuat kedua mertuanya bangga sekaligus terharu. 


Echa langsung di peluk oleh mama mertuanya, Lina begitu senang dengan pemikiran dewasa dari menantu kesayangannya itu. 


Ciuman di kedua pipi Echa juga ia berikan lalu kembali memeluknya erat. Papa Danu malah minta gantian, ketika ditanya mau ngapain papa Danu bilang. "Mau meluk dan Cium Echa."


Mama Lina bilang. "Gak boleh, kalo mau cium nih cium pipi mama aja, jangan cium Echa, entar Angga marah." Katanya menunjuk pipinya dengan jari telunjuk.


Papanya cemberut dan bilang, "Echa kan juga putrinya papa, masak mama doang yang boleh meluk, papakan dari dulu juga ikut jagain Echa."


"Biarin, lagian siapa suruh kemarin pas wisuda, anaknya gak di peluk, pasti karna gengsi, iyakan!" Tuduh nya lagi.


Sambil cemberut danu berkata. " "Emang kalo papa mau peluk Echa kalian mau kasih ruang buat papa?, Enggak kan!, Orang waktu wisudanya Angga aja, waktu papa mau peluk Angga di halangin terus sama kamu sama Sarah, sampek papa malu sendiri karna dilihatin banyak orang."


Keluh Danu.


"Bukannya papa gengsi gak mau peluk Echa, tapi papa malu kalo kejadian waktu wisudanya Angga bakalan keulang lagi."


"Bisa-bisa papa malah dianggap papa pungut sama orang-orang gara-gara gak dikasi ruang buat meluk anaknya sendiri." Dengan wajah yang masih cemberut, papa Danu mengeluarkan semua uneg-unegnya. Lina malah cekikikan mendengarnya. Echa juga ikut tertawa, tapi juga kasian dengan papanya yang gak pernah kebagian tempat buat meluk anak-anaknya di hari spesial gara-gara kelakuan mama Lina dan mama Sarah yang gak pernah mau kasi ruang ke papa mertuanya. 


Echa melepas pelukan dari mama Lina lalu berpindah memeluk papa mertua yang dari dulu udah dia Anggap sebagai papa keduanya. 


Mama Lina sempat protes, tapi akhirnya kembali diam setelah papa Danu ikut membawanya kedalam pelukan bersama, dengan Echa di tengah-tengah keduanya...


....🙃🙃🙃....


...😗...


...Minta vote dan comentnya donk kakak, biar aku nulisnya cemangat gitu loh kakak. yah kakak yah, 🙄...


...Ndak usah banyak -banyak, seiklasnya ajha....


...maacih.😘...

__ADS_1


...🤭🤭🤭...


__ADS_2