
"Awalnya sih santai karena gue udah siapin list kegiatan selama setahun gue di rumah, tapi pas udah sekitar dua sampek tiga bulanan awal, mulai dah tu kerasa bosen."
"Harinya sih berganti tapi kegiatan yang gue lakuin mutar di situ-situ aja. Gue sampek mikir, apa list yang gue buat salah ya?."
"Mau nongkrong buat ngilangin stres juga gak ada temen, paling harus nunggu kalian cuti dulu., itupun kalo pas kalian cuti gak ada janji sama temen kampus kalian,."
"jadi ya, mau gimana???"
"Sebenernya gue gak ada masalah dengan semua itu, gue juga ngerti dengan posisi kalian. Tapi ya gimana!."
"Kalo semisal, Semisal nih ya, kalo misalnya gue boleh egois, gue gak pengen kalian tuh punya temen baru, gue pengennya tuh temenan ya kita-kita aja. Tapi ya gak mungkin jugak, gue egois namanya kalo gitu., Tapi ya gimana, hati gue juga kadang rada susah buat diajak diskusi kalok masalah yang beginian."
Echa bicara panjang lebar. Sindy dan Salsa ikut melow mendengarnya, keduanya jadi merasa bersalah sama sahabatnya yang satu ini, yang ternyata dibalik senyum manis yang Echa berikan setiap kali berjumpa dengan mereka ternyata tersimpan rasa nyeri dihati kecilnya. Ada rasa kecewa pada sahabatnya yang walau bagaimanapun itu bukan salahnya mereka. Hanya saja keadaan yang memang sudah menetapkan jalan mereka untuk seperti itu adanya, yang dalam keadaan suka tidak suka, mau tidak mau mereka harus menerima jalan takdirnya masing-masing.
...----------------...
Echa, Sindy dan Salsa sedang duduk bertiga di kafenya Angga. Sambil nungguin Alifah yang masih di jalan dan mungkin sebentar lagi akan nyampek, bertiga saling bertukar cerita. Sindy dan Salsa dengan cerita kuliahnya, dan Echa dengan kisah sepinya yang alhamdulillah sudah 10 bulan terlewati.
Sebentar lagi Echa juga akan mengikuti jejak teman-temannya, meniti pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ikut menjadi mahasiswa baru yang akan menimba ilmu dan mencari banyak pengalaman di bangku universitas yang mudah-mudahan sesuai dengan keinginannya.
Sindy dan Salsa masih saja memeluk erat Echa, tak peduli kalo pengunjung kafe pada ngeliatin mereka. Echa yang malu di buatnya. Secara Echa kan istri dari yang punya kafe, kan jadi gak enak diliatin para pengunjung dan para karyawannya.
Padahal Echa udah bilang gak papa, dan kesendirian yang Echa alami selama berapa bulan ini memang bukan salahnya mereka, tapi tetap aja Sindy sama Salsa merasa bersalah.
Sampai keduanya berhenti memeluk Echa ketika salah satu pengunjung masuk dan langsung menegur mereka, dia adalah Alifah yang dari tadi di tungguin.
"Heh, kalian pada ngapain sih, gak malu apa diliatin orang-orang." Tegurnya pada Sindy dan Salsa termasuk juga Echa.
Sindy dan Salsa kembali ke duduknya sambil menatap Alifah sebal. Pasalnya Alifah udah ngerusak suasana haru yang udah susah payah mereka bangun. Itu sih menurut mereka, kalo Echa mah malah lega karna Alifah datang dan langsung misahin pelukan mereka. Sebenarnya Echa juga udah pengen ngelakuin itu dari tadi, cuman gak enak aja sama keduanya yang kayaknya beneran merasa bersalah banget ke Echa.
"Kalian pada kenapa sih." Tanya Alifah pada ketiganya.
"Ish, Alifah mah gak seru, ngerusak suasana." Oceh Sindy, Salsa manggut-manggut sependapat dengan Sindy. Alifah akhirnya menoleh ke Echa, sorot matanya meminta penjelasan.
Sambil cengengesan dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, akhirnya Echa kembali menjelaskan ceritanya ke Alifah.
...----------------...
Setelah Echa jelasin panjang lebar, Alifah ikut melow mendengar ceritanya, tapi gak sampek meluk. Gila aja, masak tadi dia yang ngelarang Sindy dan Salsa buat pelukan sama Echa, eh malah dia yang ngelakuin hal yang tadi dia larang, kan gak Alifah banget.
"Terus cara loe ngatasin rasa bosen loe itu gimana Cha?" Tanya Alifah akhirnya. Dia penasaran gimana Echa melewati masa gapyear yang menurut sebagian orang pasti bakalan bosen banget karna gak ada temen.
Dengan senang hati Echa melanjutkan ceritanya...
"Kan pas dua bulan mau jalan ke tiga bulan, gue bosen-bosenan tuh, sampek akhirnya gue mikir dan cari, apa sebenarnya yang harus gue lakuin supaya gue gak bosen lagi., Sejujurnya hal ini juga jadi masalah gue dulu waktu masa sma, tapi gue gak terlalu mikirin, karna waktu dulu gue bosen gue bisa langsung cari kalian buat main, tapi waktu gue sendirian dan gak ada pelarian lain, akhirnya gue mikir dan gue nemu jawabannya." Bertiga mulai serius menatap Echa, menyimak setiap kata yang selanjutnya akan Echa ucapkan.
"Rupanya masalah nya itu bukan karna kita sendirian, bukan juga karna kita kesepian, bukan karna gak ada temen yang bisa diajak main atau diajak nongkrong."
"Sebenernya masalahnya itu ada pada diri kita sendiri, kegiatan yang cuman berputar di hal yang sama setiap harinya, itulah yang bikin kita jadi bosen."
__ADS_1
"Tunggu-tunggu!, bukannya loe tadi bilang kalo loe punya list kegiatan sendiri selama setahun?" Tanya Alifah lagi. Sindy dan Salsa cuman manggut-manggut membenarkan ucapan Alifah.
"I...ya sih, tapi kan namanya orang ya, kan pasti ada salahnya dan pasti banyak kekurangannya."
"Jadi list harian yang gue tulis itu cuman berdasarkan apa yang gue pikirin, apa aja kegiatan yang menurut gue bermanfaat dan menyenangkan bagi diri gue dan selebihnya cuman kegiatan yang sehari-hari emang udah biasa gue lakuin, cuman waktunya aja yang gue tambahin."😁
"Lah udah bener dong, emangnya salah ya?" Sindy mulai bingung, menurutnya hal yang dilakukan Echa udah bener.
"Iya emang bener, gak ada yang salah." Balas Echa.
"Terus masalahnya apa?" Salsa ikut berkomentar.
"Masalahnya gue itu bosen kalo ngelakuin hal yang sama terus setiap harinya, gue musti ada kegiatan baru yang sama sekali belum pernah gue lakuin sebelumya."
"Ya berarti loe tinggal tulis aja kegiatan baru yang mau loe lakuin." Ujar Salsa lagi.
"Atau loe minta pendapat sama orang lain tentang kegiatan apa yang baiknya loe lakuin, terus loe masukin dah dalam kegiatan harian loe."
"Nah itu..., itu yang gue lakuin!" Ucap Echa menjentikkan jari sebelum akhirnya menunjuk ke arah Salsa. Salsa malah nampak songong dengan cengirannya.
"Awalnya tuh gue mikir sendiri sampek akhirnya gue jadi stres sendiri karna gue gak nemu, apanih yang harusnya gue lakuin buat ngisi waktu kosong gue supaya gue gak bosen walaupun cuman sendirian."
"Terakhir ya itu, kayak yang di bilang Salsa tadi, gue emang gak bisa kalo cuman ngandelin kemampuan otak gue. Gue harus nanyak juga ke yang lain.
"Akhirnya gue ceritain masalah gue ini sama mama, sama mama papanya Angga jugak, terus sama ehmmm...., gak deh cuman itu aja."
"Udah, ni mau ngeledek gue atau mau gue lanjutin cerita." Ancam Echa menahan malu.
"Hehehhe, lanjut lanjut."
"Nah terus abis gue ceritain ke mereka, gue nemu tuh solusinya, dan alhamdulillah nya solusi untuk masalah gue yah, gak tau kalo yang lain, kan beda orang beda masalah dan cara ngatasinnya."
"Iya udah tau, terus gimana solusinya?" Ketiganya kompak bertanya, dari tadi omongan Echa muter-muter terus, padahal yang ditungguin dari tadi solusi dari masalahnya.
"Iya, sabar-sabar..."😅
Echa nyengir, ternyata anak kuliahan butuh bimbingan dari dia juga rupanya, Echa kira mereka udah lebih satu level diatasnya, ternyata....😆, Hehehe, canda...🤭
"Plak...", satu tepukan di tangannya menyadarkan Echa dari lamunannya.
"Loe gak kesurupankan Cha." Tanya mereka yang melihat Echa tiba-tiba diam dan nyengir sendiri.
"Enak aja tu mulut kalo ngomong." Ketus Echa. Dia baru sadar, rupanya tadi dia ngayal.
"Yah abisnya." Saut Salsa.
"Oke gue lanjut. Jadi solusinya adala.....h, oke kalo kalian mau tau, hari ini traktir gue makan." Kompak Salsa dan Sindy melempari Echa dengan tisu berkali-kali. Echa cuman nyengir doang sambil terus ngehindar. Sedangkan Alifah harus berkali-kali istighfar sambil ngelus dada buat meredakan rasa jengkelnya ke Echa.
"Bisa-bisanya Echa berhenti disaat teman-temannya udah pada penasaran."😠
__ADS_1
"Gimana, mau traktirin gue gak, kalo gak mau yaudah gue juga gak maksa." Ujar Echa lagi. gaya songongnya mulai keluar.
"Udah, cepetan cerita, biar hari ini Sindy semua yang bayarin. Ketus Salsa melempar masalah traktiran ke Sindy.
"Yeeee., sama aja lu juminten." Ketus Sindy melempari Salsa dengan tisu. Alifah dan Echa cekikikan melihatnya.
"Aelah, sekali-kali ah, anak ekonomi kan banyak uang." Ujar Salsa menyinggung jurusan kuliahnya Sindy.
"Huuu, dasar."
"Yaudah, gimana nih, mau lanjut gak." Tanya Echa lagi sambil menahan tawa.
"Iya.., lanjutin cerita loe, biar gue yang bayarin semua, kalo perlu kafenya gue beli sekalian." Oceh Sindy dengan nada songongnya.
"Yah...jangan lah, enak aja mau beli ni kafe, entar yang ada gue yang kena omel sama Angga." Protes Echa yang membuat ketiganya kembali tertawa.
Mereka kembali bercerita, Echa ceritain gimana cara dia mengisi waktu kosongnya, Sindy, Salsa dan Alifah cerita tentang kuliahnya.
Echa banyak.mengambil pelajaran dari mereka, setidaknya cerita dari para sahabatnya dapat menjadi gambaran sebelum Echa menjejaki bangku kuliah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dalam waktu setahun selama dirumah Echa mempelajari banyak hal. Selain membaca buku untuk tetap mengasah kemampuan otaknya, Echa juga banyak belajar tentang ilmu desain dan bisnis butik dari mamanya. Echa belajar gimana cara mendesain pakaian, belajar tentang memilih bahan kain yang bagus untuk dijadikan pakaian, dan berbagai macam ilmu lainnya yang berkaitan dengan mendesain pakaian. Selain itu Echa juga belajar gimana caranya memasarkan produk.
Kalo untuk masalah bisnis, Echa juga banyak belajar sama papa Danu, beberapa kali papa Danu juga sempat mau ngajakin Echa buat kekantornya supaya bisa praktek langsung, tapi Echanya selalu nolak dengan alasan malu dan gak enak sama para karyawan papa Danu.
Selain belajar masalah bisnis dan butik, Echa juga mulai suka menulis.
Echa mulai rajin nulis cerita buat mengisi waktu luangnya. Kan Echa suka baca novel, jadi dari berbagai kisah novel yang udah selesai Echa baca, Echa jadi punya cerita sendiri yang mau ia tuangkan dalam sebuah karya tulis.
Gak ada niatan untuk buat buku sih, Echa cuman iseng doang dan seneng aja gitu nulis cerita di platform novel. Apalagi kalo banyak yang baca tulisannya, du...h Echa udah girang bukan main. Apalagi kalo yang baca, kasi komen-komen yang mendukung, terus ada juga yang memuji karyanya., duuuh kalo udah gitu Echa bisa nyengir seharian karena keinget terus sama komen-komen yang ia baca.😊 "Agak lebay sih, tapi ya gitulah kira-kira."😁
Dan untuk masalah kuliah.....
Echa belajar banyak hal. Terutama mempelajari hal-hal tentang jurusan kedokteran yang rencananya mau ia ambil.
Ternyata cukup banyak yang harus dihapal kalo mau ngambil jurusan kedokteran.
Selain dalam materi pembelajaran dan jenis obat-obatan serta berbagai jenis bahan kimia yang kesemuanya harus hapal di luar kepala, dalam ilmu kedokteran ini kita juga di tuntut untuk lebih jeli dan teliti, terutama ketika praktek.
Pastinya akan ada masanya bagi setiap mahasiswa kedokteran untuk praktek langsung pada pasien yang sakit. Tentu ini bukan hal yang mudah karna berurusan dengan darah dan nyawa seseorang. Dan dari sekian banyak yang telah Echa pelajari, Echa malah jadi agak ragu untuk ngambil jurusan kedokteran yang sebenarnya adalah cita-citanya sejak kecil.
Masalahnya Echa gak bisa nahan diri kalo udah berurusan dengan darah atau hal lainnya yang mungkin orang biasa anggap jijik, tapi dalam ilmu kedokteran hal itu malah hal yang biasa dan mungkin setiap hari di tangani.
Untuk masalah yang satu ini, Echa masih belum nemu solusinya, apakah Echa akan pindah dan milih buat kuliah dengan jurusan lain, atau malah nekat buat tetap ngambil jurusan kedokteran.🤔
....🙃🙃🙃....
"Kakak-kakak, tinggalin jejak donk, minta vote dan komennya jugak. Seiklasnya aja yang penting banyak🤭🤭🤭. see u...
__ADS_1