LDR( Jauh Kangen Dekat Berantem)

LDR( Jauh Kangen Dekat Berantem)
Bab25. Pulang.


__ADS_3

Rumah, adalah kata yang biasa diucap sebagai tempat untuk pulang. Bukan hanya sebuah bangunan teduh dengan alas dan atap, akan tetapi ada hati yang juga terpaut didalamnya.


Bukanlah sebuah bangunan yang tinggi nan megah yang menjadikannya tempat yang nyaman untuk ditinggali, tapi orang-orang  yang ada didalamnya lah yang menjadikan ia hangat dan akan selalu di rindukan.


Bagi para perantau, rumah adalah kerinduan yang selalu mengingatkan pada setiap moment indah di dalamnya, tempat membagi kisah atau mungkin tempat mengadu resah setelah lama hidup di perantauan. Ada saja kisah-kisah yang terpaut di dalamnya, terekam pada setiap sudut bangunan, tersimpan dalam memori ingatan serta mungkin akan menjadi tujuan akhir setelah lamanya hidup di perantauan.


Layaknya sebagian orang yang memiliki keluarga yang nyaman dan hangat, mereka akan selalu merindukan tempatnya, untuk kembali kerumah. Karna disana ada kehangatan disaat dingin mulai menyapa, ada tawa disaat bibir mulai lupa caranya tersenyum, dan ada bahagia disaat hati dirundung luka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dinginnya udara di dalam di pesawat membuat setiap orang nyaman untuk memejamkan mata. Dengan balutan sweater atau pakaian hangat lainnya yang melekat di badan, mereka mencari posisi yang nyaman untuk terlelap, beranjak dari alam nyata dan terbang bebas menuju dunia fatamorgana.


Perjalanan selama 3 jam di atas udara memberikan cukup masa bagi setiap penumpang untuk melepaskan lelahnya di atas pesawat yang terus berjalan melewati kepingan awan. Perjalanan mulus dengan kondisi cuaca yang bagus seakan mendukung setiap penumpang yang ingin beristirahat dengan nyaman.


Berbeda dengan seorang pemuda yang sedang duduk ditepi jendela tepat di sebelah mamanya yang sedang terlelap, Angga.


Dengan mata yang masih terbuka lebar, Angga duduk menghadap jendela sambil nyengir sendiri, kentara sekali kalo dia sedang berada di dunia hayal, mungkin membayangkan sesuatu yang menyenangkan yang hanya dia sendiri yang tau. 


Untung yang duduk disebelah adalah mamanya, dan yang di sampingnya lagi papa dan adik kecilnya, jadi tak ada yang memandangnya dengan tatapan aneh, kalau tidak, mungkin dia sudah disangka penumpang gila yang diam-diam ikutan naik kedalam pesawat.


Rangga kurniawan, pria yang baru saja menyelesaikan studynya di luar negeri dan akan kembali kekampung halaman, berjumpa kembali dengan Echa dan semua yang dirindukan setelah selama empat tahun tak pernah berjumpa. 


Angga masih duduk sambil bersender dengan mata yang masih enggan untuk terpejam, sedangkan sang mama dari semenjak satu jam setelah pesawat take off sudah terlelap dalam tidurnya.


Rasa rindu membuat Angga enggan tuk beristirahat, malah membuatnya melamun dan terbawa ke dunia hayal, membayangkan hal-hal menyenangkan yang mungkin akan terjadi ketika nanti ia sampai di rumah. 


Angga sudah tidak sabar untuk segera tiba, bahkan penerbangan yang lumayan lama tak membuat matanya menutup karna lelah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kampus Echa, 10.00 am


"Udah sampek dimana sayang?" Tanya Sarah dari balik sambungan.


"Bentaran mah, ini juga baru mau pulang dari kampus." Echa misuh-misuh menerima panggilan mamanya.


"Yaudah cepetan pulang ya, ingat! Jangan ngebut, selt beltnya di pakek, kalo ada Alifah pulangnya bareng Alifah aja, jangan sendirian."


"Iya mah...., tapi Echa pulangnya sendirian, si Alifahnya masih ada kelas, lagian mama sih, siapa suruh kasi taunya mendadak."


"Yaudah gak papa, hati-hati ya sayang, ingat jangan ngebut." Peringat sang mama lagi.


"Hmmm." 


Setelahnya panggilan dari sang mama berakhir. Echa misuh-misuh, dongkol dalam hati, pasalnya si mama mendadak nyuruh Echa pulang, entah mau ngapain entah ada acara atau apa, yang jelas Echa gak dikasi tau kenapanya yang penting Echa harus segera pulang.


Echa dongkol sendiri karena jam kuliahnya belum beres. Baru juga masuk dosen pertama si Mama nelpon dan langsung suruh Echa pulang, siapa yang gak dongkol cobak.


Sebelum bergerak pulang, Echa nitip izin terlebih dahulu sama ketua kelasnya, setelahnya baru Echa bebas bergerak untuk pulang, tak lupa Echa juga kirimin pesan ke Alifah kalo dia disuruh mamanya pulang dan belum tau balik lagi ke kosannya kapan, pasalnya si mama ngasi taunya mendadak dan gak tau mau ngapain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah selama lebih kurang dua jam perjalanan, akhirnya Echa sampai juga di kediamannya. 


Rumah Echa; 12.30 pm


Echa lagi duduk berdua sama mamanya di sofa depan TV. Sudah lebih dari 10 menit Echa bertanya sama mamanya kenapa dia mendadak di suruh pulang, tapi si mama masih belum kasi tau alasannya kenapa.


"Ma, emang sebenarnya ada apa sih."


"Rahasia sayang, bentar lagi kamu juga tau kok."

__ADS_1


"Apaan sih ma, pakek rahasia-rahasia segala, kasi tau aja kenapa sih!" Echa ngoceh terus dari tadi, si mama malah senyum sambil geleng-geleng kepala.


Tak lama ponsel Sarah yang bebas diatas meja berdering, terlihat sebuah panggilan whatsapp dari nomor Lina tertulis disana.


Sarah menggeser tombol hijau diatas layar dan langsung berdiri dari duduknya, berjalan agak menjauh dari Echa agar obrolannya dengan Lina tak tertangkap oleh Echa, tapi Echa yang dari tadi sudah curiga terus saja mengikuti langkah mamanya.


Sarah tak bicara banyak, hanya beberapa kata karna Echa terus saja mengikutinya.


"Yaudah iya, tunggu bentar, ini juga udah di jalan kok, bentar lagi nyampek,.....


"........"


"Iya beneran udah di jalan, tungguin aja bentar lagi, gak percayaan banget sih."


".........."


".........."


"Hmmm, Wa'alaikun salam." Setelahnya panggilan berakhir.


Rupanya Angga dan keluarga sudah tiba di bandara dan mama Lina ngoceh-ngoceh karena mama Sarah belum jemput. Padahal sebelum naik pesawat dia udah bilang kalo akan tiba jam satu siang, tapi begitu nyampek bandara yang di tunggu malah gak ada dan bilang masih di jalan. Jelas Lina gak percaya, dan Sarah juga gak yakin kalo Lina bakalan percaya, mereka udah sahabatan lama dan udah saling tau dengan karakter masing-masing.


Dari pada si Lina nelpon dan ngoceh lagi, lebih baik Sarah langsung bergegas ke bandara buat jemput mereka.


"Mama Lina kenapa mah?" Tanya Echa penasaran.


"Gak papa, dia nelpon kalo dia udah sampek bandara, jadi mintak jemput."


"Oh..." Echa manggut-manggut kemudian berjalan ke kamarnya.


"Lho, Echa mau kemana?"


"Kok kekamar, kan kita mau jemput mama Lina...???"


"Lha!!!, Echa ikut?, ngapain mah, entar yang ada mobilnya malah jadi sempit."


"Ya makanya itu kamu ikut bawa mobil satunya lagi."


"Dua mobil???" Tanya Echa memastikan.


"Iya sayang, kalo satu mobil takut gak muat, tau sendiri kalo mama Lina udah jalan keluar, pasti oleh-olehnya lebih banyak dari barang bawaannya."


"Oh..., yaudah, Echa mandi dulu kalo gitu." Baru Echa mau jalan, si mama ngomong lagi.


"Eh gak usah mandi lagi Cha, entar mereka kelamaan nunggunya."


"Tapi mah...."


"Udah ayok, entar mereka kelamaan nunggunya, lagian mau ngapain lagi mandi, orang udah cantik gini kok., nih tinggal kasi minyak wangi dikit."


Sarah mengambil minyak wangi dalam tasnya dan langsung menyemprotkan minyak wangi nya ke Echa.  "Csst...csst..."


"Tuh, dah cakep, yuk." Sarah menarik tangan Echa, dengan bibir yang di tarik ke atas Echa hanya bisa menuruti mamanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Echa membawa mobil pajero sport putih miliknya yang tadi di pakai buat balik dan Sarah membawa mobil vellvirenya Danu. Sengaja bawa vellvire supaya lebih luas, karena biasanya Lina bawa oleh-oleh yang memang kebanyakan.


Di sepanjang jalan menuju bandara Echa terus saja ngomel-ngomel sendiri. Dia kesal, pasalnya gak tau kenapa tiba-tiba dia di suruh balik kerumah, dan sekarang malah disuruh ikut jemput mertuanya di bandara. 


Kalo aja Echa disuruh balik memang cuman buat jemput mertuanya, dia bakalan kesel banget dan bakalan ngambek sama mama dan mertuanya...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Begitu sampai di bandara, Sarah langsung menghubungi Lina dan kasi tau kalo dia dan Echa udah nyampek dan nungguin mereka di parkiran. 


Echa dan mamanya keluar dari mobil.


Sambil nungguin Angga dan keluarganya sampai, keduanya duduk di bangku yang ada di bawah pohon rindang tak jauh dari tempat mereka parkir. 


Duduk bersandar sambil menikmati semilir angin yang sepoi-sepoi. Melihat orang-orang berlalu lalang masuk dan keluar dari bandara, menjemput juga melepas kepergian keluarga.


Di tengah pemandangan tersebut, Echa kembali teringat momen empat tahun yang lalu, disaat dia ikut mengantarkan kepergian Angga untuk kuliah keluar negeri, disaat sehari setelah pernikahan mereka. Di bandara yang sama yang menjadi saksi perpisahan mereka.


Mata Echa mulai berkaca-kaca, Echa langsung mendongakkan kepalanya menutup mata sejenak agar buliran bening tak lolos dari matanya. Setelah dirasa aman, Echa kembali menatap kedepan.


"Angga....!" 


Echa mengedipkan kedua matanya berulang kali, dia pasti lagi halusinasi


, bisa-bisanya dia melihat Angga berjalan sambil gendong Lila beriringan dengan kedua mertuanya.


Echa kembali mendongak dan menutup kedua matanya, mengatur udara yang masuk lewat pernapasannya agar lebih tenang, merilekskan fikirannya agar halusinasinya segera sirna.


Setelah lebih tenang, Echa kembali menghadap lurus kedepan, pelan-pelan kembali ia buka kedua matanya., Bukannya hilang, bayangan Angga malah tampak makin nyata dihadapannya.


Baru saja Echa mau menutup kembali matanya, Sarah yang duduk disamping dan dari tadi memperhatikan Echa menepuk pelan pundaknya. 


"Itu beneran Angga sayang." Ujar lembut sang mama, dia tau putrinya masih tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.


"Angga....." Echa beberapa kali mengerjapkan matanya, memastikan kalo matanya gak salah lihat.


"Itu beneran Angga?" Tanyanya lagi sembari menoleh ke mamanya. Sarah tersenyum di sertai anggukan kepala.


"Kok dia ada disini?, mama tau?" Tanyanya lagi, suaranya sedikit beda dari yang tadi, ada sedikit kesal di nada bicaranya.


Sarah mulai salah tingkah, dia panik sendiri, sepertinya ketakutan yang yang dia bicarakan dengan Lina beberapa hari yang lalu akan terjadi. Sepertinya putrinya gak akan senang dengan kejutan kepulangan Angga, malah sebaliknya Echa bakalan kesal dan marah.


Sarah menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Ehmmm, anu si Angga mau kasi kejutan ke Echa."


Echa masih lekat memandangi mamanya, matanya kini mulai berkaca. menarik napas dalam-dalam, sepertinya Echa sedang menahan sesak didada, dia beneran marah.


Tanpa berkata apa-apa, Echa langsung bangun dari duduknya dan berjalan dengan cepat menuju tempat mobilnya di parkir.


Tanpa pamit dan tanpa berkata apapun Echa langsung bergegas masuk kedalam mobil, dengan segera pula Echa langsung menghidupkan mesin mobilnya. Sang mama hanya bisa terpaku melihat putrinya, Sarah mulai merasa bersalah, bisa dia tebak kalo Echanya sekarang sedang menangis di dalam mobil.


Dari kejauhan terlihat Angga yang sedang berlari, sepertinya dia akan menghampiri Echa, kepanikan terpampang jelas di wajahnya. Untung saja Echa harus memutar dulu mobilnya agar bisa keluar dari parkiran, sehingga Angga masih sempat mengejarnya.


Baru saja bebas dari parkiran dan mau segera pergi, Angga sudah duluan menghadang di depan mobil Echa.


Angga terus meminta Echa untuk membuka mobilnya, dia akan jelasin semuanya. Echa tak menggubris ucapan Angga, samar-samar terlihat oleh Angga kalo Echa sedang menangis. Dia terus meminta Echa agar mau keluar, dia akan jelasin semuanya. 


Tak mau mendengar ucapan Angga, Echa malah menekan klason mobilnya supaya Angga minggir dari hadapannya.


Namun Angga juga tak mau menyingkir sebelum Echa keluar dari mobilnya. Berdua tak mau mengalah, akhirnya Echa membunyikan panjang klakson mobilnya sehingga membuat orang-orang yang berada di area tersebut melihat kearah mereka.


Angga tetap tak mau menyingkir, walau bagaimanapun dia akan jelasin ke Echa. Hingga akhirnya mama Sarah menghampiri Angga dan menariknya agar menjauh dari mobil Echa.


Awalnya Angga tak langsung mau, tapi setelah mama Sarah membujuknya dan bilang untuk membiarkan Echa menenangkan hatinya terlebih dahulu, akhirnya Angga mengalah.


Setelahnya, Echa langsung berlalu pergi...


...🙃🙃🙃...

__ADS_1


__ADS_2