
Sabtu sore.
Mobil pajero sport hitam milik Angga baru saja keluar dari gerbang rumahnya.
Seorang gadis berkerudung merah muda dengan pakaian yang juga serba merah muda berada didalamnya. Dia adalah istri pemilik mobil, Fauzia nesha.
Gadis yang dua bulan belakangan ini selalu merayu dan memohon pada mama dan mertuanya supaya diizinkan untuk belajar menyetir. Alasannya supaya kalo ada situasi atau kondisi darurat Echa bisa bawa mobil sendiri.
Tentu alasan yang seperti itu takkan dapat membuahkan hasil yang diinginkan Echa,. Lagipula situasi darurat apa yang mengharuskan dia buat bawa mobil sendiri?, kan ada papa Danu yang biasanya nyetir, mama Lina juga bisa bawa mobil, juga ada mama Sarah yang mobil adalah kesehariannya pulang pergi dari butik, jadi atas dasar apa Echa harus bawa mobil sendiri.
Tak lolos dengan cara pertama, Echa menggunakan cara kedua. Kali ini Echa menggunakan alasan kalo dirinya sudah dewasa dan ingin mandiri, gak mau kesana kemari harus selalu diawasi., walaupun Echa sadar diri kalo orang tuanya melakukan itu atas dasar sayang.
Namun masih saja tak sesuai expektasi, penolakan masih harus menghampiri.
Terakhir!, Echa memggunakan cara terakhir. Dia ngambek dan mogok ngomong sama mama dan kedua mertuanya, kecuali sama si kecil Lila.
Tidak sepenuhnya mogok bicara sih, Echa tetap menjawab jika orang tuanya bertanya, dia masih takut di anggap anak durhaka. Hanya saja jawaban Echa lebih irit dari biasanya, dijawab sepatah kata atau kadang hanya dengan anggukan dan gelengan kepala, tak lupa wajahnya pun selalu dibuat cemberut.
Tak sampai dua hari.
Sikap Echa yang berubah tentu membuat orang tuanya tak tahan berlama-lama dan tak tega melihatnya. Echa yang selalunya cerewet dan ceria malah berubah menjadi irit bicara, wajah manis yang selalu menampakkan lesung di pipinya ketika tersenyum sudah tak lagi dapat terlihat, malah berganti dengan wajah sedih dan kecewa.
Akhirnya para orang tua mengalah, Echa di beri izin untuk belajar bawa mobil.
Papa danu yang mengajari, kadang kalo tak sempat di gantikan sama mama Lina atau mama Sarah. Dan hasilnya setelah dua bulan belajar..., yah seperti sekarang, Echa sudah bisa bawa mobil sendiri.
Sebenarnya dua minggu belajar Echa juga sudah bisa, tapi alasannya ya itu tadi, untuk mendapat kan izin dan restu dari para orang tua yang selalu menghawatirkannya itu sangatlah sulit, dan lagi-lagi Echa gak bisa membantah alasannya, mereka lakukan karna hawatir dan terlalu sayang padanya.
Jadi setelah Echa bisa bawa mobil. walaupun Echa yang memegang setir, para orang tuanya atau salah satu dari mereka harus tetap ikut dan dan duduk disebelahnya untuk memantau dan untuk berjaga-jaga.
Setelah perjalanan panjang dan negosiasi selama dua bulan lamanya, berkendara di jalan raya dengan selalu diawasi orang tua di sampingnya, akhirnya Echa diperbolehkan juga untuk pergi dengan membawa mobil sendiri tanpa harus diawasi lagi.
Tapi tetap saja orang tua tak memberi izin Echa untuk keluar sendiri, tetap harus ada yang menemani. Maka dari itulah tujuan Echa yang ingin pergi ke kafe harus mampir dulu ke rumah sahabatnya yang kebetulan ada yang lagi free, Sindy.
Sindy yang biasanya setiap malam minggu selalu susah untuk di ajak pergi, malam minggu ini malah lagi free. Walaupun Sindy jomblo, tapi setiap malam minggu dia gak pernah absen untuk tidak stay dirumah, selalu jalan-jalan di temani sang kakak.
Sebenarnya itu juga sebagai tanggung jawab kakaknya untuk selalu menemani sang adik biar gak iri sama temen-temennya yang bisa malam mingguan karna punya pacar.
Lagi pula alasan Sindy jomblo juga karna kakaknya, setiap kali ada cowok yang mau dekat langsung gak jadi karna takut sama kakaknya, masak setiap kali ada cowok yang pdkt dan ajak Sindy jalan kakaknya selalu ngikut, gimana para cowok gak keder coba.
Tapi Sindy mah santai-santai aja, toh semua yang dilakukan yusuf karna dia sayang sama adiknya, gak mau adiknya kenapa-napa.
Dan walaupun dia jomblo dia tetap bisa nikmatin malam mingguan sama kakaknya. Tapi sayangnya malam ini sang kakak katanya lagi pusing, jadi malam minggu kali ini Sindy hanya stay di rumah hingga akhirnya satu callingan dari Echa mengajaknya untuk jalan ke cafe.
Awalnya Sindy nolak karna gak enak sama kakaknya, masak kakaknya lagi sakit dia malah jalan-jalan, kan gak baik. Tapi karna sang kakak yang memaksanya dan bilang kalo dia baik-baik aja, jadilah Sindy menyetujui ajakan Echa buat malming di sebuah cafe.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebuah lagu friendzone yang di cover oleh feby putri menemani awal perjalanan mereka menuju sebuah kafe di tepian kota, dua gadis itu menikmati perjalanan mereka dengan mengikuti setiap alunan lirik dan lagu, gemerlap malam seolah lenyap dengan kilauan beragam cahaya kendaraan, juga terangnya lampu-lampu tepian jalan.
Hingga mereka sampai tujuan dengan ditutup satu coveran lagu terakhir dari feby putri yang berjudul terukir dibintang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"RANGGA KAFE"
Berdua memasuki Cafe. Satu kafe dengan dua lantai dan ruangan yang cukup luas untuk menampung banyaknya pelanggan.
Dengan lampu yang remang tak terlalu terang dan berbagai macam gantungan dan ornamen yang menghiasi ruangan atas dan bawah. Juga terdapat mural 3D yang di lukis tangan pada lebarnya dinding kafe. Pada setiap sudut ruangan juga dihiasi dengan kelap-kelip lampu hias menambah kesan estetik pada cafe tersebut dan tentunya bertujuan untuk kenyamanan dan menarik para pelanggan.
Didalam kafe juga terdapat panggung kecil yang sudah lengkap dengan dua buah gitar akustik, microphone, juga speaker pada kiri dan kanannya, khusus disediakan untuk pelanggan yang mau menyumbangkan suara atau hanya sekedar untuk menghibur pelanggan lainnya.
Juga terdapat beberapa tanaman hias yang di letakkan di beberapa sudut, membuat kafe tersebut tampak lebih hidup, juga bertujuan untuk menarik pelanggan lain yang sudah tak muda lagi. Kesan tanaman hias diletakkan agar kafe tersebut kesannya bukan hanya di peruntukkan untuk tongkrongan para anak muda, tapi juga bisa untuk berkumpulnya keluarga.
Sindy sempat takjub melihat kafe tersebut, terlebih ada lukisan mural 3D pada dindingnya yang banyak di jadikan objek foto oleh para pelanggan.
...****************...
Berdua mengedarkan pandangan, mencari tempat yang cocok dan nyaman, hingga akhirnya pandangan keduanya tertuju pada salah satu meja yang sudah ada dua pelanggan duduk disana, yang satu cowok dan satunya lagi cewek.
__ADS_1
Echa dan Sindy mengenalnya, berdua seperti musuh bebuyutan tapi kenapa sekarang bisa berduaan di dalam kafe,... mereka Trisno dan Salsa.
Dengan seringai di bibir, keduanya berjalan mendekat..."
"Assalamu'alaikum, boleh ikut gabung mbak?" Ucap keduanya sok-sokan bertanya, padahal udah kenal siapa yang disana.
Trisno dan Salsa menoleh, dan ketika bertatap muka...
"Lho...!" Berdua terperanjat kaget begitu tau kalo yang nyapa Sindy dan Echa.
"Ko...kok, kok loe bedua ada disini?" Tanya Salsa kagok, sedangkan Trisno terlihat masa bodo. Entah memang dia gak begitu peduli atau mau menyembunyikan kegugupannya, yang jelas tadi dia juga kelihatan kaget waktu tau yang nyapa adalah Sindy dan Echa.
Sindy dan Echa ikut duduk di kursi yang masih kosong.
"Yang harusnya nanyak begitu itu kita bukan elo,." Balas Echa yang diangguki mantap oleh Sindy.
"Dan kenapa jugak loe harus berdua bareng sama si cunguk ini." Ketus Echa lagi. Sindy tertawa renyah mendengar ocehan Echa, tapi setelahnya kembali manggut-manggut membenarkan ucapan Echa.
"Iya ngapain loe bareng sama si barongsai, apa jangan-jangan loe berdua udah pacaran." Tambah Sindy. Salsa menanggapi santai, sedangkan Trisno menatap tak terima.
"Ssst, jangan asal ngomong, entar jatohnya fitnah loe, dosak." Jawab Salsa.
"Tau nih dua kurcaci, datang-datang langsung ngoceh, udah kayak presenter berita gosip loe bedua., dan satu lagi asal loe tau ya nama gue itu Trisno nugraha putra, bukan cunguk bukan barongsai." Ocehnya tak terima.
"Alah sama aja mau cunguk mau trisnuk, sama-sama uk." Balas Echa lagi. Sindy dan Salsa terkekeh geli, Trisno merengut tak terima.
"Salsa, loe belom jawab, kenapa loe barengan sama dia." Tanya Echa lagi., Sindy menatap lekat, dia menanti jawaban. Trisno masih merengut, masih tak terima namanya dilecehkan.
Belum sempat Salsa menjawab, Trisno memilih pamit duluan.
"Sa, gue balik duluan, loe mau pulang bareng gue, atau bareng mereka.
"Kok duluan?" Tanya Salsa.
"Gak papa, malas aja lama-lama disini, hawanya panas, bikin nambah dosa." Balasnya sambil melirik sekilas Sindy dan Echa.
"Yah, si Cunguk baper." Ejek Echa, Sindy lagi-lagi tertawa. Trisno hanya bisa pasrah dengan wajah cemberutnya.
"Iyah." Jawab Trisno malas sebelum akhirnya benar-benar pergi dari kafe tersebut.
"Di...dia beneran marah ya Sa?" Ragu-ragu Echa bertanya pada Salsa. Salsa menggedikkan kedua bahunya tanda tak tau.
Walaupun tadi Echa dan Sindy mengejek namanya dengan panggilan Cunguk dan barongsai, tapi tak ada sedikitpun niat keduanya untuk ngebuly Trisno, niat mereka cuman bercanda doang.
Gak papa lah, kalo dia emang marah, besok atau lusa gue minta maaf aja via wa, atau kalo dia gak mau maafin, tinggal ngadu aja sama Angga, Trisno kan temennya Angga 😙. Monolog Echa dalam hati.
"Salsa, jadi kenapa loe sama Trisno bisa ke kafe bareng, loe berdua beneran pacaran?" Tanya Sindy kembali ke topik.
"Enggak, cuman kebetulan aja." Balas Salsa santai.
"Kebetulan gimana?, loe kemarinya sendiri-sendiri terus gak sengaja ketemu, gitu?" Terka Echa.
"Ya enggak gitu, gue kesininya kan nebeng mobilnya dia."
"Loe sama Trisno pacaran?" Serentak keduanya bertanya. Pelanggan yang lain sampai menoleh kearah mereka.
"Jan keras-keras, malu diliatin orang." Bisik Salsa.
"Jadi beneran loe berdua pacaran.???" Tanya Echa lagi, sekarang dengan sedikit berbisik.
"Enggak."
"Ya kalo enggak kenapa bisa barengan?" Sindy mulai kesal dengan jawaban Salsa yang berbelit-belit.
"Kan gue udah bilang karna kebetulan?"
"Kebetulan gimana?, maksudnya apa, kapan, gimana, siapa, bagaimana???, sedangkan loe kesini satu mobil sama dia, terus loe masih ngeles bilang cuma kebetulan." Echa mulai kehilangan kesabaran.
Dengan santainya Salsa menjawab.
__ADS_1
"Ya karna kebetulan gue menang lawan dia, jadi dia yang traktir gue makan."
Kedua alis bertautan...,"Maksud nya?" Tanya keduanya masih belum paham.
Salsa menghela napasnya. "Jadi gini loe sahabatku sayang, sore tadi gue sama Trisno main badminton di gor, nah dia nantangin gue lagi, siapa yang kalah harus bayarin makan yang menang dimanapun tempat yang dipilih, dan hasilnya yah, yang seperti kalian lihat sekarang." Kata Salsa, ada sedikit sombong dari nadanya.
"Ohhhh, gitu toh.," Echa dan Sindy manggut-manggut.
"Pantas tadi si cunguk langsung kabur, gue kira dia baperan, rupanya takut kena buly lagi..." Tawa ketiganya pecah seketika, membuly Trisno ada efek bahagia bagi mereka.
Tak lama setelah berhenti tertawa, seketika tenggorokan terasa dahaga, Sindy dan Echa sampek lupa kalo mereka belum pesan apa-apa.
Setelah memesan dan mungkin akan agak lama, sementara leher butuh air segera. Akhirnya minuman Echa yang tersisa setengah diatas meja menjadi sasaran kehausan mereka. Salsa hanya pasrah tanpa bisa berkata apa-apa.
"Tapi ya Cha, pandangan pertama sebagai orang yang baru sekali masuk ke kafe ini, gue perhatiin kafe ini cukup bagus, tapi ada satu yang bikin cafe ini kurang menarik." Oceh Sindy sembari menunggu pesanan mereka yang belum datang.
"Apa emang, perasaan selama beberapa kali kesini, menurut gue bagus-bagus aja." Salsa yang protes Echa ikut mengangguk.
"Loe udah beberapa kali kemari Sa?" Tanya Sindy, Salsa mengangguk.
"Masak udah berapa kali tapi kok loe masih belum nyadar sih."
"Apa emang?" Tanya Salsa, Echa ikut menunggu jawaban, kali aja ada yang ia lewatkan.
Sindy mengulum senyumnya.
"Tapi loe jangan marah ya Cha?" Kata Sindy
"Kenapa gue harus marah, emang ni kafe punya gue." Ujar Echa sarkasme.
Karna setau Echa, teman-temannya gak ada yang tau kalo kafe ini milik Angga, entah kalo temennya Angga, tapi yang pasti temannya Echa belum ada yang tau.
Sindy mengambil buku menu lalu mengarahkan telunjuknya pada tulisan paling atas menu tersebut yang menunjukkan nama. "RANGGA KAFE."
Sindy dan Salsa tertawa renyah, malah kini giliran Echa yang merengut sebal, mungkin ini karma nya karna tadi ngejekin Trisno.
"Kenapa Emang dengan nama Rangga kafe, emang gak boleh.!" Ketus Echa tak terima.
"Ya sebenarnya gak papa, gue seneng aja liat loe kesal." Balas Sindy kembali dengan kekehannya.
"Dasar!, Awas aja kalo nanti gue beneran punya kafe, gak bakalan gue ajak loe berdua ke kafe gue." Kesal Echa.
"Ngimpi aja dulu buk, ngimpi." Balas keduanya kembali terkekeh geli.
Ditengah gelak tawa para sahabat yang sedang membuly nya, satu pesan whatsapp masuk ke ponsel Echa.
Angga.
"Echa sayang lagi apa, dan lagi dimana?"
Me.
"Rangga kafe sama Salsa sama Sindy."
Angga.
"O lagi di Rangga kafe!, Cha jangan kasi tau sama Salsa sama Sindy kalo itu kafe kita, entar mereka mintak gratisan.😆,
Angga.
"canda ya sayang.😆."
Me.
👍👍👍😘.
Angga.
😍.
__ADS_1
...🙃🙃🙃...