
Hari ini Angga bangun pagi-pagi sekali. Hidup sendiri di negara asing membentuknya menjadi pribadi yang mandiri.
Sebelum tidur Angga selalu menyetel sebanyak lima alarm diponsel nya, masing-masing memiliki selisih waktu 10 menit dari alarm utama.
Alarm sebanyak itu dengan selisih setiap 10 menit sekali dilakukan Angga bukan tanpa alasan, apalagi hanya iseng karna gak ada kerjaan.
Walau sudah tinggal di negara orang, Angga masih kesulitan untuk bangun pagi, terlebih untuk menunaikan kewajibannya sebagai muslim di pagi hari.
Jika hanya satu alarm yang di setel, Angga sebenarnya juga akan tetap bangun, tapi bangunnya dari tidur adalah untuk mematikan alarm tersebut, setelahnya ia lanjut tidur lagi.😪
Itulah sebabnya kenapa Angga sampai harus memasang 5 alarm hanya untuk sekedar memisahkan dirinya dengan kasur.
Angga ingin membiasakan dirinya untuk bangun pagi, apalagi keadaannya sekarang adalah sebagai suami, imam untuk sang istri.
Walaupun sekarang dalam posisi LDR, tapi Angga ingin membiasakan kebiasaan baik pada dirinya, supaya nanti waktu dia kembali ada yang berbeda dari dirinya yang bisa dibanggakan sama si Echa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aneh!, pagi ini belum terdengar satu pun bunyi alarm di ponsel Angga tapi dia sudah memisahkan diri dari ranjangnya.
Dalam tidur yang nyenyak, sang mama datang dan menggoyangkan bahu Angga lengkap dengan ocehan untuk membangunkan anaknya. Hal yang sama persis yang dilakukan sang mama saat Angga ada dirumah. Membangunkan Angga setiap pagi supaya terbiasa melaksanakan Sholat subuh tepat pada waktunya.
Saat mamanya mulai menyerah, diganti dengan papanya yang kini mulai mengguncangkan seluruh badan Angga.
Tak juga berhasil, kini giliran mama mertua dengan si kecil Lila yang akan membangunkannya. Dengan dua gayung penuh berisi air dingin, keduanya bersiap menuangkan seluruh isinya ke badan Angga...1...2...3...byuuuur...
"Huaaa....". Angga terbangun dengan badan yang menggigil kedinginan.
Setelah nyawanya terkumpul semua, Angga tersadar, ternyata semua hanyalah sekedar mimpi.
Rupanya rindu Angga dengan keluarga dapat membuat imajinasi alam bawah sadar membawanya berjumpa dengan papa-mama, serta mama mertua juga adik kecilnya.
Mumpung dia sudah terbangun dan waktu subuh juga belum tiba, Angga mengambil handuk dan meringankan langkahnya menuju kamar mandi. Menyegarkan tubuhnya terlebih dahulu kemudian berlanjut dengan berwudhuk.
Ternyata mandi di pagi hari dapat membuat kantuknya hilang dan pergi.
Angga memakai sarung dan koko, kemudian mengambil sajadah untuk kemudian dibentangkan mengarah kiblat. Angga berdiri gagah sebelum akhirnya mengangkat takbir untuk menghadap sang pencipta.
Walaupun jarang, tapi setidaknya sesekali jika Angga terbangun dari tidurnya dia akan paksakan buat bersimpuh menghadap sang kuasa, walau hanya sekedar dengan dua raka'at saja.
Tak lupa setelahnya, Angga sebut setiap harapan baiknya pada keluarga dan juga istrinya, Echa. Ia sampaikan setiap harapannya pada sang pemilik alam semesta, yang maha kuasa menyembuhkan semua luka, mengubah setiap duka menjadi senyum bahagia.
Setidaknya dua rakaat tahajjud sudah bisa Angga jadikan alasan untuk dirinya melangitkan do'a.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ditempat berbeda dalam waktu yang sama, tapi dengan situasi yang juga berbeda.
Seorang gadis manis dengan lesung di pipit, menggunakan hijab berwarna putih yang sudah rapi dengan seragam putih abu-abu sedang menikmati sarapan paginya berdua dengan sang mama di meja makan.
Tiba-tiba di tengah kunyahan sarapannya ia tersedak, tak ada tulang dan tak ada yang mebuatnya kaget apalagi menahan tawa, tapi entah kenapa tenggorokannya seolah menyampaikan pesan bahwa dia memang seharusnya tersedak.
"Kenapa sayang." Tanya mamanya.
Echa masih berusaha menenangkan tenggorokannya belum bisa menjawab sang mama karna tenggorokannya masih membutuhkan air untuk hanya sekedar melancarkan jalannya.
"Enggak papa mah." Jawabnya setelah sedikit merasa lega.
"Gak papa kok bisa kesedak?"
"Ya gak tau." Balas Echa, kemudian melanjutkan makannya lagi.
Sang mama menyunggingkan senyumnya, "Cha.!" Panggilnya.
Echa menatap heran, kok tiba-tiba mamanya senyum. Ini bahkan lebih aneh lagi ketimbang dengan dia yang tiba-tiba kesedak.
"Jangan-jangan ada yang ingat kamu terus dia nyebut nama kamu." Ucap sang mama.
"He...." Echa menautkan alisnya, tak paham dengan arah ucapan mamanya.
"Mama ngomong apa sih ma?, mama gak lagi kesambet kan??, kalo ia Echa takut nih." Ujarnya ragu-ragu, takut sang mama beneran kesambet.
"Hush, ngaco kamu." Bantah mamanya sambil memukul pelan tangan Echa.
"Habisnya mama ngomongnya aneh." Balas Echa yang sontak mengundang decakan dari mulut sang mama.
"Memang yah anak jaman sekarang, disekolah belajar apa sih sampek yang ginian aja gak tau."
Echa menggaruk tengkuknya yang tak gatal, mamanya kenapa lagi sih?, tadi ngomongin kesedak, terus bilang ada yang nyebut nama Echa, lha sekarang malah bawa-bawa pelajaran???"
Melihat raut muka putri semata wayang yang tampak bingung, Sarah dengan senang hati menjelaskan.
"Jadi gini ya sayang mama jelasin. Kata orang zaman dulu, kalo kita tiba-tiba kesedak tanpa ada penyebabnya itu berarti ada yang nyebut nama kita."
Echa tampak berpikir...sedetik kemudian.
"Mama Sarah, mama Sarah, mama Sarah." Ucapnya menatap lekat sang mama. Kini giliran Sarah yang menatap anak nya heran.
"Tuh kan gak bener,. Ucap Echa setelahnya.
"Gak bener apanya???"
"Tadi mama bilang kalo ada yang nyebut nama kita, kita bakalan kesedak. Nih Echa sebut nama mama tiga kali, gak ada tuh mama sekalipun kesedak."
__ADS_1
Satu pukulan pelan Sarah daratkan di keningnya "Ya gak gitu juga kali Cha, sebutnya itu gak langsung kayak gini, nyebutnya itu lewat hati."
"Oooh," jawab Echa seolah mengerti dengan ucapan mamanya.
Setelahnya terjadi jeda, tak ada lagi yang bersuara..., Lalu. "Tuhkan gak bener juga." Ucap Echa tiba-tiba. Sarah bahkan sampai kaget di buatnya.
"Astaghfirullahaladziiiim...., kamu kenapa lagi siiiih." Decak Sarah sambil mengelus dadanya karna kaget dengan ulah anaknya.
"Teori mama gak bener nih. Tadi Echa nyebut nama mama dalam hati, tapi gak ada tuh mama kesedak kayak Echa.
Helaan napas berat keluar dari mulut Sarah. Kecerdasan sang anak memang sulit tuk di bantah, juga kepolosannya.
Tak mau makin pusing, Sarah melanjutkan sarapannya. Hingga selesai sarapan tak ada lagi pembahasan tentang tersedak. Terserah Echa mau percaya atau tidak, setidaknya Sarah sudah sampaikan petuah orang tua zaman dulu untuk anaknya.
Selesai sarapan, Echa langsung memakai tas dan sepatu, berpamitan pada sang mama, kemudian melangkahkan kaki ke rumah sebelah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Echa sedang duduk diteras rumah dengan si kecil Lila, menunggu papa mertua mengeluarkan mobil dari garasi, turut pula mama Lina yang duduk di kursi satunya, ikut menunggu sang suami untuk berpamitan berangkat menjemput rezeki.
"Ting..." Satu pesan whatsapp masuk ke ponsel Echa. Tertera nama Angga di layarnya.
Angga.
"Assalamu'alaikum istri😘."
Me.
"Wa'alaikum salam suami🤮."
Angga.
"Kok jawab salamnya sambil muntah😭."
Me.
"He he he, Canda...😘."
Angga.
"Huuu, gak lucuuu...😗."
me.
"Biarin...😝."
Angga.
"Lagi ngapain???"
Me.
Tak ada lagi balasan..., detik berikutnya ponsel Echa kembali berbunyi, satu panggilan video dari Angga masuk keponselnya.
Sepertinya Angga lebih senang berbicara dari pada hanya sekedar mangetikkan kata. Apalagi dengan panggilan video dia bukan hanya dapat mendengarkan suara, tapi juga dapat bertatap muka.
Echa mengangkat panggilannya.
"Assalamu'alaikum Istri..." Sapanya dari balik video. Echa sekuat tenaga menahan malu. Memicingkan mata pada Angga, memberinya kode kalo mamanya sedang ada di sebelah.
Angga menangkap isarat Echa. Bukannya berbicara biasa saja, Angga malah makin senang menggodanya.
"Echa, kamu kok makin cantik gini sih aku jadi rindu, rasanya pengen peluk." Semburat merah makin menyuar di pipi Echa, bercampur antara malu dan senang di puji oleh Angga, juga malu karna mama mertua sedang duduk di sampingnya.
"Echa kasi liat hpnya ke mama." Pinta Angga di seberang sana.
Menuruti permintaan Angga, Echa menyerahkan ponselnya ke mama Lina., Lila yang di pangkuan mamanya pun ikut menyambut obrolan sang kakak diseberang sana.
Bertiga berbicara bersama, melepas rindu yang harus terpisah oleh jarak antar negara.
Tak lama mamanya berbicara, setelahnya kembali menyerahkan ponselnya ke tangan Echa.
Echa berujar pada mama mertua, tak apa jika mamanya ingin lebih lama berbicara dengan Angga. Tapi mamanya menolak, tetap menyerahkan ponselnya ke tangan Echa, dengan senyuman juga sedikit jail menggoda,. Mamanya berkata pada Echa kalo Angga lebih rindu dengannya.
Echa mengeles ucapan mamanya, namun wajahnya tetap tak bisa menyembunyikan merah di pipinya.
"Disana jam berapa Ngga?" Tanya Echa sedikit penasaran, juga untuk menghilangkan semburat merah di wajahnya.
"Cie, yang nanyain jam?"
"Apaan sih Ngga, gak jelas banget.!"
Angga terkekeh saja mendengar omelan Echa.
"Cha tau gak....
"Gak tau." Ketus Echa sebelum Angga selesai dengan ucapannya.
"Kan belum diceritain."
"Gak tau dan gak mau tau."
"Oh yaudah, assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Lah, kok gitu, katanya tadi mau cerita." Kata Echa dengan raut wajah kecewa.
"Tadi katanya gak mau tau."
"Ya kan, kan cuman bilang gak mau tau, bukan bilang gak mau denger Angga cerita."
Angga terkekeh lagi, dia paham betul dengan istrinya, Ngomongnya gak mau tau, tapi tetap saja penasaran dan pengen diceritain.
"Jadi hari ini aku sholat tahajjud lho."
"Ah boong, orang sholat subuh aja susah dibangunin, mau sok-sokan sholat tahajjud." Kata Echa dengan kekehannya. Angga memanyunkan bibirnya, sebal dengan ungkapan sang istri.
"Ish, gak percayaan banget sih sama aku.," kesal Angga.
"Uluh uluh uluuuuh, jangan malah doong, otok otok otok, cuami ciapa sih yang ganteng ini...ayo cenyum nya mana, cenyumnya...😚" Goda Echa dengan menirukan suara anak kecil.
Walau perasaannya masih sebal, tapi Angga tetap tak bisa untuk tak menarik kedua sudut bibirnya, Echa nya memang lucu.
"Telus selesai tahajjud, Angga do'a apa." Kata Echa masih dengan menirukan suara anak kecil.
"Aku marah beneran loe ini Cha."
"Macak cih." Balas Echa lagi, matanya ia kedipkan beberapa kali. Angga hanya bisa menghela napasnya di seberang panggilan.
"Yaudah, jadi tadi abis tahajjud Angga do'anya apa aja." Ulang Echa.
Angga kembali melanjutkan ceritanya. "Abis sholat ya aku do'ain keluarga kita."
"Iya, do'ain nya gimana, mintak apa aja."
"Ehmm adalah, pokoknya do'anya yang pastinya yang baik-baik. Tapi ada lo satu nama yang aku sebut khusus dalam do'a."
"Siapa emang?" Balas Echa sok cuek, padahal hatinya lagi menunggu nama yang di sebut suaminya dalam do'a, harap-harap itu adalah namanya.
"Ehmmm, pengen tau aja atau pengen tau banget."
"Pengen tau aja." Balas Echa sok cuek.
"Oh yaudah, berarti gak dikasi tau juga gak papa, kan pengen taunya pengen tau aja gak pengen tau banget."
"Ish kasi tau aja kenapa sih." Ketus Echa sebal. Sang mama dan Lila yang duduk di samping sampai tertawa melihat Echa kesal.
Echa malu sendiri, tapi setelahnya tetap meminta Angga memberi tau nama yang dia sebutkan dalam do'anya.
"Jadi nama siapa yang loe sebut dalam do'a." Ujar Echa berbisik dengan mengalihkan dari dua orang yang duduk tak jauh dari sampingnya.
Angga mengulum senyum. Echa menyebut Angga dengan sebutan elo, panggilan yang sudah lama tak mereka pakai. Sepertinya Echanya benar-benar kesal, mungkin sebentar lagi akan marah besar. Jadi sebelum itu terjadi, Angga lebih baik menjawab pertanyaannya, menghentikan kejailan pada istrinya.
Dengan wajah yang masih ceria, Angga berkata.
"Dalam do'a Angga sebut nama Echa, Angga mintak supaya istri Angga bahagia selamanya, Allah kabulkan semua harapannya, menjadi istri yang solehah juga jadi sahabat Angga sampai di surga nanti."
Semburat merah merona di pipi Echa, dia ikut mengaminkan do'a Angga di dalam hati, tapi masih saja gengsi mengakui keromantisan sang suami.
"Ah, masyak..." Balas Echa dengan senyum yang masih bisa ia tahan, beda lagi dengan hatinya yang sudah terbang melalang buana.
"Cha! ih sumpah, aku marah beneran nih." Sebal Angga.
"Macak ciiih, miapah.???" Tak henti Echa menggoda. Wajah kesal Angga membuat hatinya tak henti tertawa.
Tak lama berjeda, Sang papa menegurnya, mereka sudah harus berangkat.
Mobil papanya sudah siap, namun Angga terlihat masih belum ingin memutuskan panggilan nya., tapi Angga juga tau Echanya harus sekolah, harus rela walau hanya sebentar berbicara, toh nanti masih ada banyak waktu tuk kembali menyapa.
Papa mertua paling depan berpamitan sama istrinya, mamanya Angga yang tentunya mertua Echa.
Setelahnya Echa dan Lila bergantian ikut menyalami sang mama, ciuman tak lupa di berikan pada kedua pipi mamanya.
...****************...
Di dalam mobil, Echa teringat kembali kata-kata sang mama saat dia tersedak ketika sarapan pagi.
Mungkin ketika itu si Angga dalam keadaan berdo'a di negara sana. Menyebut khusus nama Echa saat melangitkan do'a pada sang kuasa.
Dalam diam di dunia hayal, Echa mengukir senyum di bibirnya.
Teringat karna sebab do'a Angga yang menyebabkan nya tersedak saat sarapan. Entah itu benar atau hanya kebetulan semata, tapi ada satu yang ingin Echa coba.
Echa memejamkan mata, Lalu berulang-ulang menyebut dua orang sahabat yang paling sering menjailinya di sekolah.
Hingga Echa kembali membuka matanya saat sang papa menegur namanya.
"Echa!, kamu kenapa?"
"Eh, enggak pah, lagi do'a aja."
"Do'a?, do'ain siapa?, Angga?"
Malu-malu Echa menjawab... Hehe, Enggak kok pah, bukan lagi do'a. Echa cuman nyebut nama Sindy sama Salsa aja dalam hati."
Danu terkikik geli. "Ada-ada saja tingkah si Echa, gadis manis yang hampir tiap hari main kerumahnya, gadis kecil yang sekarang tumbuh jadi remaja, malah sudah sah jadi menantunya...😊
"Emang supaya apa nyebut nama teman kamu dalam do'a?" Sang papa mertua kembali bertanya.
__ADS_1
"Gak papa sih pa, pengen aja." Dalam hati berkata, supaya mereka kesedak...😁."
...🙃🙃🙃...