
Masih dihari yang sama dan di tempat yang sama pula...
"Rangga Kafe."
Setelah menumpahkan seluruh isi hati yang beberapa hari ini di pendam, akhirnya dada Echa terasa sedikit lega. Walaupun belum terlalu yakin dengan solusi yang ditawari Angga, setidaknya dadanya kini terasa lapang setelah habis bercerita.
Echa menceritakan semua keresahan yang ada di hatinya.
Disaat siswa SMA lain mulai sibuk menyiapkan diri untuk study lanjutan setelah lulus sma, disaat yang lain mulai berjuang untuk mendapat kan beasiswa dan berusaha bagaimana caranya untuk masuk ke universitas pilihan mereka. Disaat itu pula Echa mulai dilanda kebingungan. Harus memilih antara masuk universitas pilihannya, atau malah tidak kuliah dan berdiam diri saja dirumah.
Pilihannya ada dua. Kalo Echa memilih untuk kuliah, maka dia harus rela untuk berpisah dengan mamanya, yang memang universitas pilihan Echa letaknya berbeda provinsi dengan kota tempat tinggalnya.
Pilihan lainnya ya dia gak kuliah, maka mamanya gak akan kesepian dan tidak akan berpisah dan kehilangan putri satu-satunya.
Disaat seperti ini Echa mulai menyadari polemiknya menjadi anak tunggal. Selama ini Echa merasa menjadi anak satu-satunya adalah anugrah yang semua orang belum tentu bisa memilikinya, karna hanya orang tertentu saja yang menjadi anak satu-satunya di keluarga mereka.
Selama ini Echa merasa begitu beruntung menjadi anak tunggal di keluarganya, dia tak harus menerima kasih sayang yang harus berbagi dari orang tuanya karna seluruh kasih sayang mama dan papanya sepenuhnya diberikan padanya.
Dia juga gak harus saling berebutan barang atau mainan seperti anak lainnya yang memiliki banyak saudara.
Selama ini Echa selalu dimanja, apapun yang dia minta pasti akan dituruti mama-papanya.
Selama ini Echa happy-happy saja menjalani harinya. Bahkan setelah papanya meninggal dunia, kasih sayang yang dicurahkan padanya tak terasa berkurang.
Karna walau papanya sudah tiada tapi orang tuanya Angga, sahabat dari mama-papanya memberikan kasih sayang yang sama ke Echa. Kasih sayang yang diberikan ke Echa sama dengan kasih sayang yang mereka berikan pada Angga dan Lila.
Echa merasa, dia begitu beruntung dilahirkan menjadi anak satu-satunya.
Tapi masalah Echa yang terlahir sebagai anak tunggal mulai dirasakannya sekarang.
Sebentar lagi ujian nasional, setelahnya maka Echa dan kawan-kawan akan lulus sma bersama, lalu Echa akan lanjut kuliah ambil jurusan kedokteran di perguruan tinggi pilihannya...??? Itulah list yang ada di pikiran Echa ketika awal masuk sma dulu.
Lelah letihnya Echa selama 3 tahun berjuang di sma di tujukan hanya untuk mendapatkan beasiswa di universitas pilihannya.
Namun, ketika harapan dan cita-citanya untuk menempuh pendidikan menjadi seorang dokter hanya tinggal beberapa langlah lagi, disaat itu pula hati Echa mulai dilanda resah dan gundah.
__ADS_1
Dia berada di situasi yang bahkan bukan sebuah pilihan.
Di satu sisi Echa ingin sekali menjadi dokter, menempuh pendidikan di universitas pilihannya yang sayangnya terletak jauh dari tempat tinggalnya. Disisi yang lain Echa juga tak tega untuk meninggalkan mamanya.
Kalo Echa tetap memilih kuliah, maka dia harus rela berpisah dengan mamanya yang itu tak pernah ada dalam pikiran Echa sebelumnya, terbersitpun Echa tak pernah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beban pikiran Echa sedikit berkurang setelah mendengar nasehat dari Angga, Echa disuruh fokus untuk ujian saja, menghadapi ujian yang sudah di depan mata.
Masalah kuliah atau tidaknya Echa, dapat dipikirkan lagi setelah ujian nya selesai, lagipula pendaftaran di universitas juga baru akan di buka setelah ujian nasional selesai.
Jadi Echa masih punya banyak waktu untuk memikirkan langkah yang akan diambilnya nanti.
...----------------...
Setelah mengakhiri panggilan dengan Angga, Echa memilih beristirahat sebentar didalam ruangannya.
Setidaknya tidur sejenak dapat sedikit mengompres bengkak dimatanya. Echa gak mau nanti setelah pulang kerumah dia malah ditanya-tanya lagi sama mamanya, dia gak mau buat kawatir orang tuanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tak terasa sudah 1 jam lebih Echa tertidur diruangan Angga. Mungkin lelah dan beban pikiran yang barusaja terlepas membuat tidurnya begitu nyenyak.
Hingga Echa terbangun ketika terdengar bunyi pesan Whatsapp yang masuk keponselnya.
Echa menyipitkan matanya, mengintip pesan siapa yang masuk ke ponselnya.
Detik selanjutnya, mata Echa membulat sempurna, melihat lebih dari 100 panggilan whatsapp dan lebih dari 100 pesan whatsapp yang masuk keponselnya, dan itu semua berasal dari tiga nomer yang berbeda dan dari nama kontak yang berbeda pula.
Teman-temannya, Alifah, Sindy dan Salsa yang ternyata sudah menelponnya dari setengah jam yang lalu dan dia baru terbangun setelah sekian banyaknya pesan dan panggilan yang masuk ke ponselnya.
Tak lama berselang ponsel Echa kembali berbunyi, nama kontak Sindy tertulis di panggilan video yang masuk keponselnya.
Tanpa berfikir Echa langsung menggeser tombol hijau kekanan,. Dan begitu panggilan mereka tersambung Sindy dan Salsa langsung menangis dan merengek minta maaf ke Echa, Alifah yang duduk diantara keduanya juga terlihat berkaca-kaca.
__ADS_1
Echa juga ikut terharu, beberapa kali Echa anggukkan kepala, memaafkan kesalahan mereka. Echa juga gak bisa terlalu lama marah dengan para sahabatnya. Selain Angga dia juga butuh mereka, sahabat yang terkadang bikin kesal tapi selalu ada disaat dia butuh mereka.
...****************...
Kini Echa mulai merasa agak baikan, setelah masalahnya yang memang sudah berkurang setelah bercerita dengan Angga, kini teman-temannya juga hadir untuk menghibur dan memberi semangat padanya.
Walau mereka gak tau masalah Echa dan Echa belum cerita apa-apa, tapi ketiganya dengan senang hati menemani Echa.
Kini mereka malah nyamperin Echa ke kafenya Angga. Niat Echa yang tadinya mau langsung pulang harus tertahan dengan kehadiran para sahabatnya.
Lucunya, begitu ketiganya sampai, Sindy sama Salsa malah langsung meluk Echa sambil nangis-nangis minta maaf, sedangkan Alifah hanya diam memandangi ketiganya berpelukan.
Bukannya Alifah gak mau ikut pelukan, hanya saja dia gak mau kalo bajunya ikut basah kena air mata dan ingusnya Sindy dan Salsa, mungkin juga Echa yang ikut-ikutan nangis lagi.
Sungguh pemandangan yang memalukan jika dipandang oleh para pelanggan kafe yang datang. Untung Echa membawa teman-temannya ikut ke dalam ruangan Angga, jadi mereka dapat menangis sepuasnya disana tanpa takut ada yang melihat.
Di tengah keharuan mereka, tiba-tiba Alifah nyeletuk.
"Cukup kali ini aja ya kita bolos pelajaran, jangan ada yang kedua kalinya. Ingat!, kita udah mau ujian nasional. Peringat Alifah.
Echa melepas pelukannya, menghapus jejak air mata di pipinya.
"Jadi, kalian bolos pelajaran jugak?" Tanya Echa, sedikit kaget karna Alifah yang gak akan pernah mau ngelakuin hal yang satu ini malah ikutan juga.
"Hehehe... Sebenarnya gak bolos sih Cha, kita udah ijin." Berdua menjawab dengan cengirannya.
"Izin sama siapa?, guru piket?, emang bisa izin sekali tiga???" Tanya Echa lagi.
Berdua kembali nyengir, kali ini arah pandang mereka tujukan ke Alifah. Melihat itu Echa juga ikut menoleh ke Alifah.
"Alifah yang minta izin sama papanya." Ucap keduanya kembali nyengir.
Echa tak sanggup berkata-kata lagi. Dia melangkahkan kaki mendekati Alifah dan langsung memeluknya. Awalnya Alifah mau menolak, tapi langsung tak bisa karna Sindy dan Salsa juga ikut-ikutan memeluknya.
Kini mereka kembali menangis bersama, Echa menangis senang karna teman-temannya yang rela bolos pelajaran hanya untuk menghiburnya, Sindy dan Salsa menangis haru karna mereka kembali lagi bersama, dan Alifah menangis sedih karna harus merelakan bajunya ikut-ikutan basah kena air mata dan ingus para sahabatnya...😭
__ADS_1
...🙃🙃🙃...