
Postingan instagram Angga.
Dalam captionnya Angga menuliskan:
Ngerjain tugas jadi lebih semangat di temani mbak anne marie.😊
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rumah Angga.
Siang ini Echa mengurung diri dikamar Angga, ditemani si kecil Lila yang main sendiri, Echa malah uring-uringan di kasur.Â
Sejak pernikahannya dengan Angga, kamar tidur Angga dirumahnya juga menjadi kamarnya Echa. Angga yang meminta supaya Echa menggunakan kamarnya.Â
Jika Echa lagi main kerumah dan mau istirahat, Echa boleh pakai kamarnya Angga, menurut Angga semua miliknya adalah miliknya Echa juga karna sekarang Echa adalah istrinya.Â
Kata Angga supaya Echa bisa melepas rindu kalo sewaktu-waktu kangen dengannya.
Tapi masalahnya, walaupun sekarang Echa lagi dikamar Angga, Echa bukan lagi melepas rindu, tapi kelihatan lagi kesal dengannya,.
Pasalnya semenjak Echa uring-uringan dikamar, sudah lebih dari 10 kali panggilan Angga tak dijawabnya.Â
Bahkan ketika Angga meminta bantuan mamanya, Echa tetap tak mau menjawab panggilan Angga.
Kalo Echa lagi kesal dengan sesuatu atau dengan seseorang dia pasti akan tetap menjawab panggilan Angga, walaupun dengan marah-marah. Tapi sekarang dia tak sekalipun menjawab panggilan Angga, dan Angga tau penyebab kekesalan istrinya sekarang pasti tertuju padanya.
Yang jadi pertanyaan?, masalah apa yang bisa Angga buat ke Echa dengan jarak mereka sekarang. Bertamu aja gak bisa, gimana mau buat masalah,???.
Petunjuk satu-satunya Angga ya media sosialnya. Apalagi coba yang berpotensi jadi masalah mereka dengan hubungan LDR mereka yang sekarang.
Tapi Angga gak ada memposting atau melakukan hal aneh di media sosialnya.Â
Terakhir yang Angga lakukan cuman posting foto penyanyi anne marie, postingan itupun udah dari kemarin dan menurut Angga itu bukanlah suatu masalah., masak iya Echa cemburu sama penyanyi sekelas Anne marie, emang suaminya ini siapa.🥴
...****************...
Ponsel Echa dari tadi terus saja berdenting. Tak mampu dengan panggilan, Angga mencoba dengan mengirim pesan Whatsapp ke Echa, berulang kali tanpa henti, sampek dia jadi capek sendiri, namun sayangnya tak satupun dibaca oleh Echa.
Angga yang berada di seberang sana bingung dibuatnya. Salahnya apa?, dan kalo emang Angga salah kasi tau dong salahnya apa, biar dia bisa jelasin!
Lila yang dari tadi main sendiri di karpet bawah, memilih naik ke atas kasur mendekati kakaknya.
"Kak Echa kenapa?, kok dari tadi guling-guling?" Tanya Lila yang dari tadi memperhatikan kakaknya dari bawah.
"Enggak papa sayang." Ucapnya, lalu mencium pipi Lila.
"Beneran?, boong dosa lo?"
Echa tersenyum sembari menggeleng kecil, kemudian mengecup semua wajah Lila mebuat si kecil Lila terkekeh geli.
Di tengah candaan nya dengan Lila, tiba-tiba pintu kamarnya di buka oleh sang mama (mama mertua).
Echa menjeda kegiatannya.
"Iya mah?" Tanyanya menoleh kearah Lina.
"Di bawah ada temannya Echa, udah mama suruh masuk, tu di ruang tamu lagi nungguin."
"Teman Echa, siapa mah?" Tanya Echa.
"Udah jumpain aja." Balas mamanya, Echa mengangguk.Â
"Perasaan teman gue gak pernah jumpain gue dirumahnya Angga, dan selalunya kalo emang ada yang mau datang kerumah biasanya sms atau nelpon gue dulu. Siapa ya???" Echa bertanya-tanya dalam hati.
Barusaja mamanya akan kembali menutup pintu, sang mama kembali menoleh ke Echa.
"Udah baikan sama Angga?" Tanyanya, Echa menunduk dengan gelengan kepala.
Terdengar helaan napas dari mamanya, sang mama lalu berjalan masuk mendekati Echa.Â
Dia mengambil duduk disamping kasur sembari mengelus kepala sang menantu dengan ibu jarinya, ia berujar.
"Yaudah gak papa, marahan boleh tapi jangan terlalu lama, gak baik dan gak dianjurkan sama agama. Echa tenangin diri aja dulu, setelah tenang nanti coba bicarain baik-baik sama Angga." Echa hanya manggut-manggut.
"Mama gak marah kok sama kalian. Dalam suatu hubungan memang akan selalu ada masalah, itu adalah hal yang lumrah dan memang selalu begitu. Suatu hubungan memang akan ada aja ujian yang menerpa, entah itu dari orang ketiga ataupun hanya dari prasangka. Gak ada yang salah, karna memang sudah seperti itu jalannya. Yang terpenting gimana cara kalian menghadapi dan menyelesaikannya."
"Kalo lagi sama-sama marah, yaudah tenangin aja dulu, jangan saling bicara karna nantinya pasti gak akan ada yang saling mau mengalah. Tapi juga jangan terlalu lama karna agama melarang dan Allah gak suka ."Â
"Marahan boleh, tapi setelahnya cobalah untuk berbaikan, diskusikan baik-baik permasalahan yang kalian hadapi, ya." Echa hanya manggut-manggut mendengar nasihat dari mama mertuanya.Â
Setelahnya mamanya kembali berujar agar segera turun kebawah menemui teman-teman yang sedang menunggu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Echa duduk di sofa dengan wajah sebal, dia kesal. Ternyata tamu yang datang menemuinya adalah Sindy, teman sekaligus sahabat yang menjadi dalang diem-diemannya dia dengan Angga. Dan parahnya lagi, Sindy kemari bawa Alifah.Â
Pasti Sindy mau minta maaf sama Echa, dan dia tau kalo Echa gak mudah buat maafin kalo udah kesal kayak sekarang, makanya dia bawa Alifah.
"Dasar, beraninya bawa teman." Gumam Echa dalam hati.
"Ha..hai Echa, apakabar." Sapa Sindy. Echa memutar bola matanya malas tanpa sedikitpun membalas sapaan Sindy. Alifah tersenyum paksa, lagi-lagi dia harus jadi penengah antara 2 sahabatnya.
"Sayang, temannya dibuatin minum." Saut mamanya dari dapur.
"Iya mah." Balas Echa.
"Alifah loe mau minum apa?" Tanya Echa tanpa sedikitpun menoleh kearah Sindy yang duduk bersebelahan dengan Alifah.
"Gue susu putih aja Cha." Saut Sindy duluan, sedang kan Alifah hanya berkata terserah Echa saja.
Helaan napas Echa berikan mendengar permintaan Sindy,. "Tunggu bentar ya Fah." Kata Echa sebelum akhirnya berdiri dan beranjak kedapur.
__ADS_1
"Udah gak di tawarin, mintaknya susu lagi." Gumam Echa dalam langkahnya.
...****************...
Echa kembali dengan nampan yang berisi dua gelas minuman berbeda warna dan sepiring kukies coklat yang baru saja di masak oleh mama mertua.
Echa letakkan diatas meja. Sindy langsung menyambar gelasnya dengan senyum manis yang sengaja ia lontarkan ke Echa. Echa hanya memutar bola matanya malas.
Sindy minta minuman susu, sedangkan Alifah yang tadi minta terserah, dibuatkan sirup merah sama Echa.
Berdua meminum minumannya, dan setelah beberapa tegukan, keduanya kembali meletakkan gelas diatas meja. Terlihat Sindy mengecap-ngecap lidahnya.
"Cha ni susu apaan, kok rasanya beda???" Tanya Sindy.Â
Dengan tatapan malasnya Echa menjawab. "Tu bukan susu tapi tepung yang gue kasi gula."
"Ha..." Sindy melotot tak percaya, Alifah terkekeh geli disampingnya.
"Susu di dapur udah abis jadi gue ganti pake tepung, sama-sama putihkan jadi sama aja, habisin gak usah protes." Ketus Echa.
Alifah mengulum senyumnya sambil geleng-geleng kepala, Sindy menatap tak percaya. Niat hati mau berbaikan malah jadi pengangkatan bendera perang.
"Tega bener lo Cha sama sahabat sendiri." Kata Sindy masih tak terima.Â
"Udah diminum aja, lagian jarang-jarang kan bertamu dikasi minum tepung." Ujar Alifah sambil mengelus pundak Sindy. Sindy melengos sedih, Echa sekuat tenaga menahan tawa.
"Jadi ada apa nih, kok tumben mau kerumah gak ngechat dulu?"
Alifah menoleh ke Sindy. Wajahnya masih di tekuk, masih tak terima dengan minumannya.
"Ehem,, Si Lila mana Cha?" Tanya Alifah mengubah topik.
"Hmm, Lila?" Tanya Echa memastikan, Alifah manggut-manggut.
"Si Lila keluar sama papanya, gak tau kemana, jajan kali."
Alifah hanya ber "Oh." saja, sedangkan Sindy tak menanggapi.Â
Alifah mulai kawatir keduanya akan mulai lagi.Â
Niat hati mau ikut mendamai kan keduanya, malah jadi penonton debat yang baru. Jadi sebelum itu terjadi, Alifah lebih baik mencegahnya lebih dulu.
"Jadi gini Cha, niat kami kemari mau minta maaf sama Echa."
"Minta maaf???, perasaan Alifah gak ada buat salah sama gue kenapa harus minta maaf."
"Kecuali yang satu itutuh, kalo dia memang banyak salahnya." Ketus Echa menekankan setiap katanya, membuat Sindy memicingkan matanya ke Echa.
"Kenapa liat-liat?, punya utang loe.?" Ketus Echa.
"Terserah gue lah, mata-mata gue, kok malah loe yang sewot." Balas Sindy tak kalah ketus. Alifah hanya bisa mengusap wajahnya gusar. Beban hidupnya semakin berat melihat kedua sahabatnya kembali berdebat.
"Loe berdua bisa udahan gak sih, gue pusing liat loe berdua debat terus." Bentak Alifah pada keduanya, tapi dengan suara yang masih bisa dikendalikan, takut kedengaran sama mamanya Angga di dapur., walaupun sudah bisa dipastikan kalo pertengkaran mereka sudah kedengaran sama mama mertuanya Echa.
"Kan Echa duluan yang ngasi gue minuman tepung."Gumam Sindy dengan suara pelan.
"Siapa suruh bikin gue kesal." Balas Echa dengan suara yang juga pelan.
"Ya kan niat gue cuman becanda, loe nya aja yang kelewat baper." Sindy kembali membalas dengan suara yang mulai nyolot.
"Tadi gue juga bercanda, tapi loe nya jugak baperkan." Sulut Echa tak mau kalah.
"Ya gak bisa gitu dong Cha, gue kan cuma ngomong doang, gak pakek minuman!"
"Lha gue jugak cuman pakek minuman doang gak pakek omongan." Balas Echa lagi.
"Plak..." Hentakan tangan Alifah di meja membuat keduanya kaget dan seketika menghentikan debat nya...
"Terus!, terus aja ngoceh, terus ngoceh sampek loe berdua puas!, sampek loe berdua sama-sama sakit hati, sampek loe berdua benar-benar musuhan dan gak ada lagi yang bisa di perbaiki!." Ketus Alifah dan langsung beranjak pergi meninggalkan keduanya.Â
Alifah sempat pamit terlebih dahulu sama mamanya Angga sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Sindy dan Echa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Alifah kok pulang duluan." Tanya Lina menghampiri keduanya yang masih diam-diaman.
Sindy menoleh.."He... Alifah kayak nya ada urusan tante, makanya dia pamit duluan." Jawab Sindy.
"Kalian lagi marahan?" Tanya Lina lagi. tak ada yang menjawab, keduanya kembali diam.
Terdengar helaan napas yang panjang dari Lina, dia ingin bercerita.
"Tante udah sahabatan dengan mamanya Echa dari sejak lama, bahkan tante gak ingat kapan tepatnya kami mulai dekat." Dia mulai menceritakan kisah hidupnya.
"Dulu juga waktu sama-sama muda kami juga sering berantem, bahkan pernah gak saling sapa selama seminggu." Echa dan Sindy hanya diam mendengarkan cerita sang mama mertua.
"Tapi setelah itu kita sama-sama merasa kehilangan, merasa ada yang kurang. Tapi sama-sama gengsi gak mau ngomong duluan gak mau minta maaf duluan."
"Terus ma,..." Tanya Echa penasaran, Sindy juga ikut menunggu jawaban.Â
Lina tersenyum,.."Sampai akhirnya papanya Echa datang dan nasehatin tante juga mamanya Echa."Â
"Tante bahkan masih ingat nasehatnya sampek sekarang." Ujar Lina sambil mengulum senyumnya.
Echa dan Sindy menatap heran., "Tante gak sedang nyeritain cinta segitiga antara tante dengan orang tuanya Echa kan?" Tanya Sindy penasaran, Lina seketika tergelak mendengarnya.
"Enggak lah sayang, itukan cerita dulu dan gak ada hubungannya juga dengan papanya Echa. Balas Lina sembari menghapus bekas air matanya.
"Jadi papanya Echa dulu senior kami disekolah. Gak tau kenapa, dia itu sering aja gabung sama tante dan mamanya Echa., Jadi pas dia liat Tante sama mamanya Echa udah jarang bareng, saat itulah dia mulai sadar kalo kami emang lagi musuhan."Â
"Jadi posisi papanya Echa itu sama kayak orang ketiga, tapi dalam konteks positip. Dia datang untuk menjadi penengah disaat kami berselisih paham, disaat kami mulai marahan, tanpa sedikitpun memihak."
"Dia tetap bisa memposisikan dirinya sebagai pemberi solusi terbaik di setiap masalah yang kami hadapi." Berdua fokus mendengarkan, ada tatapan kagum dari mata keduanya, lebih-lebih Echa. Rasa rindu tiba-tiba menghampirinya, teringat kembali masa-masa bersama sang papa, lelaki pertama yang selalu jadi idola.
__ADS_1
"Jadi sekarang tante tanya, dalam pertemanan kalian siapa yang biasanya jadi penengah kalo lagi ada yang berantem?"Â
"Alifah." Jawab keduanya serentak.
Sontak Lina menepuk jidatnya pelan. Dia langsung beranjak dari duduk dan kembali ke dapur melanjutkan aktifitasnya.Â
Niat hati mau kasi solusi, malah jadi pusing sendiri. Kalo Alifah yang biasanya jadi penengah permasalahan mereka aja kabur, apalagi Lina yang sama sekali gak tau-menau tentang masalah Echa dan sahabatnya...😓
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Echa dan Sindy kembali diam dalam duduknya. perasaan mereka juga sama seperti yang di ceritakan mamanya Angga barusan, serasa ada yang hilang kalo mereka lagi marahan.
Berdua saling mencuri pandang..., mau minta maaf duluan juga gengsi. Akhirnya hanya hp yang menemani kesunyian mereka.Â
Berdua sok sibuk dengan ponselnya masing-masing, membuka aplikasi instagram, lalu menscrol keatas dan kebawah layar ponselnya. Sampai satu postingan baru muncul di instagram mereka.
Postingan foto Echa yang baru saja Angga posting di laman instagramnya.
Dalam captionnya Angga menuliskan; Malam ini mau ngerjain tugas kuliah sambil ditemenin foto dia aja. Gak lebih cantik sih dari anne marie, tapi...??? ,Bikin kangen...🥰
Sindy melirik ke Echa, dia gak tau apa Echa udah liat postingan terbaru Angga atau belum, tapi mungkin ini saat nya dia baikan sama Echa.
Dalam posisi duduk yang saling berhadapan, hanya meja yang menjadi pemisah jarak mereka.Â
Mau ngomong langsung tapi masih ragu, akhirnya Sindy memilih pesan Whatsapp sebagai perantara penyampai pesan antara dirinya dan Echa yang sekarang duduk berhadapan.
Sindy.
"Cha kita udahan yuk marahannya."
Tanpa sedikit pun melirik, Echa membalas pesannya.
Echa.
"Hmm."
Sindy tau Echa masih marah, dia kembali membalasnya.
Sindy.
Gue kemarin cuman bercanda, bilang kalo Angga selingkuh sama Anne marie, lagiankan gak mungkin juga. Gue minta maaf ya.
Echa.
Gak kedengeran.
Sindy menoleh ke Echa, Echa masih sok sibuk dengan ponselnya.Â
Ragu-ragu Sindy berucap. "Hmm, Cha gue minta maaf ya."
"Minta maaf kenapa, loe kan cuman bercanda." Balas Echa yang masih sok fokus ke ponsel, masih enggan menaikkan wajahnya.
Sindy mengulum senyum, dia dapat menangkap raut wajah Echa yang sudah tak marah lagi namun masih ditutupi gengsi. Sindy bangun dari duduknya dan berpindah ke sebelah Echa.
"Lagian ya Cha kalo gue perhatiin ya, loe lebih cantik kok dari Anne marie." Ujar Sindy.
"Kemarin aja pas ngeledek, loe bilang gue gak ada apa-apanya dibanding Anne marie, bahkan seujung jari pun gak ada, dasar.!" Ucapan ini hanya diucap Echa dalam hati, dia gak mau kembali menyulut api peperangan. Dia juga capek diem-dieman terus sama sahabat nya yang gak ada ahlak satu ini.
"Gak usah boong." Jawab Echa.
"Beneran Cha, lagian ya, kalo dibanding Anne marie, loe itu pokoknya lebih lah dari dia."
"Lebih apa???"
Sindy mulai tampak berpikir, kelebihan apa yang Echa miliki yang gak dimiliki Anne marie.
"iii, iya...pokoknya loe memiliki kelebihan yang gak dia miliki Cha."
"Iya kelebihan apa???" Kembali Echa memancing sahabatnya, dari tadi berusaha ia menahan senyum.
"Ann...anu, ehm di dia gak lebih muda dari loe Cha."
"Itu kelebihan?"
"Iii, iya lah Cha itu kelebihan, dan satu lagi yang dia gak bisa tapi loe bisa."
"Apa...?"
"Dia gak bisa ngomong bahasa indonesia Cha."
"Bisa kok kalo dia mau belajar."
"Iii..iya sih, tap...tapi dia gak lahir di indonesia Cha!"
"Itu kelebihan?"Â
"Iyalah, indonesia kan.....
"Udah gak usah boong lagi, gue maafin loe,." Balas Echa sebelum Sindy menyelesaikan Ocehan ngawurnya.
"Lagian mau boong kayak gitu, pinteran dikit kek." Gumam Echa lagi
Sindy tersenyum senang dan langsung memeluk Echa.
"Maafin gue ya." Gumamnya pelan. Echa mengangguk lalu membalas pelukannya.
Masih di dalam pelukan Sindy kembali berujar. "Lagian ya Cha Anne marie gak mungkin mau selingkuh sama Angga, Angga kan burik." Ujarnya terkekeh.
"Loe mau kita musuhan lagi." Balas Echa.
"Canda sayang." Balas Sindy kembali mengeratkan pelukannya.😊
__ADS_1
...🙃🙃🙃...