LDR( Jauh Kangen Dekat Berantem)

LDR( Jauh Kangen Dekat Berantem)
Bab17. Perkara Hadiah.


__ADS_3

Mobil pick up yang membawa hadiah untuk seorang spesial yang baru saja di wisuda itu menjadi tontonan banyak siswa.


Wah, gila bener si Angga, gak nyangka gue dia bisa semanis ini." Ujar Sindy yang matanya masih tak lepas dari pick up yang telah dihias cantik dan dipenuhi dengan bunga dan coklat sebagai hadiah wisudanya Echa.


"Kalo tau Angga bakalan seromantis ini, gue juga mau dia nikahin." Saut Salsa menimpali. Sambil mengangguk Sindy terkekeh geli. Echa tak marah, dia malah ikut tertawa mendengar ocehan Salsa.


Di tengah kerumunan orang-orang yang menjadikan hadiah Echa sebagai objek tontonan, seorang lelaki tampan dengan rambut sebahu dan kulit sawo matang baru saja keluar dari mobil pick up yang sedang mereka lihat. Mungkin dia adalah kurir yang membawa mobil berisi hadiah Echa tersebut.


"Senyumnya biasa aja gak usah lebar-lebar." Ujar Lelaki tersebut ke Echa. Lelaki ini tampak tak asing bagi mereka, juga bagi setiap orang yang menatapnya. 


Rupanya yang mereka anggap sebagai kurir adalah Trisno, alumni sma Trisakti yang tak lain adalah temannya Angga.


Padahal dia sudah berniat baik mau dimintai tolong sama Angga buat mengantar hadiah untuk Echa, tapi dirinya malah dianggap sebagai kurir.


"Lahhh, loe jadi kurir sekarang bang." Tanya Sindy pura-pura kaget, dari nadanya saja sudah kentara kalau Sindy mengejek." Echa dan Salsa mendukung dengan tawanya. 


"Tolong ya mulutnya di kondisikan." Balas Trisno tak terima.


Mereka masih jadi tontonan para siswa. Apalagi sekarang ada Trisno disana, seorang senior yang dulunya cukup dikenal oleh para adik tingkat, terutama yang cewek-cewek. 


Waktu sekolah dulu Trisno dikenal sebagai senior mata keranjang. 


Walaupun dia gak pernah punya pacar, tapi dianya selalu suka godain adik tingkat yang cantik-cantik, dan dia juga banyak berteman dengan para juniornya yang cewek, terutama yang cantik. 


Selain mata keranjang, Trisno juga punya nama lain dari para juniornya. Dia biasa di sebut sebagai penunggu sekolah. 


Pasalnya Trisno selalu datang paling awal ketika masa sma nya dulu. Bukan karna dia rajin, tapi hanya karna untuk melakukan rutinitas hariannya yang tak berfaedah di parkiran, yang selalu jadi tempat lalu lalangnya para siswa-siswi yang baru datang kesekolah, dan selalu ia jadikan sebagai objek cuci mata.


Trisno selalunya nongkrong dulu setiap pagi di parkiran hanya untuk memandangi dan menggoda setiap cewek-cewek cantik yang berlalu lalang,. Dulu Trisno melakukannya tidak sendirian, ada budi juga yang selalu ikutan, dan karna itulah dia di beri julukan penunggu sekolah. 


Herannya walaupun dia selalu melakukannya bersama Budi, tapi hanya Trisno yang diberi julukan penunggu sekolah, sedangkan Budi...??? 


Yah, mungkin karena budi memang banyak di gemari sama cewek cantik dan adik tingkat, makanya namanya bersih dari gelar atau julukan yang aneh-aneh. Mungkin sih...????, tapi entahlah, gak ada yang tau pasti alasannya dan gak ada juga yang terlalu peduli dengan hal yang gak penting seperti itu.


...****************...


"Kalian gak usah ngeledek, gini-gini gue senior kalian." Ujar Trisno datar. Mungkin maksudnya sok-sok an tegas, tapi malah jadi tertawaan Echa dan kawan-kawan.😆


Dari dulu Trisno adalah orang yang di kenal lucu dan suka bercanda, jadi walaupun dia berusaha serius dan tegas, orang-orang akan tetap menganggapnya melucu dan sedang bercanda.😅


"Cha, gue mintak satu bunganya ya." Ujar Trisno mengambil satu bucket bunga dan sebuah coklat dari mobil yang di bawanya tanpa menunggu jawaban dari Echa. Echa hanya diam saja, tak mengangguk dan tak juga melarang.


Trisno memberikan bunga dan coklat di tangannya untuk Salsa, dengan gaya sok kerennya ia berucap.


"Selamat wisuda ya Salsa." Ucapnya tersenyum. 


Salsa tak langsung mengambilnya, lebih dulu ia memandang ke Echa, tatapan matanya seolah bertanya dengan coklat dan bunga yang di berikan Trisno untuknya yang jelas-jelas itu punyanya Echa.


Echa menganggukkan kepala, menandakan kalo dia tak masalah dengan coklat dan bunga yang di ambil Trisno dari hadiah Angga untuknya.


Salsa tersenyum lalu dengan senang hati menerima pemberian Trisno.

__ADS_1


"Makasih ya." Ucap Salsa. Trisno mengangguk, senyuman masih setia mengukir bibirnya, tapi tetap dengan gaya sok coolnya. Dia harus tampak keren di hadapan para adik tingkat yang masih setia menjadikan dirinya sebagai tontonan.


"Tapi lain kali kalo mau kasi hadiah beli sendiri, jangan mintak sama orang." Tambah Salsa lagi. Sindy dan Echa kembali tertawa, dan orang-orang yang masih setia mengelilingi mereka ikut tertawa mendengarnya. 


Trisno hanya pasrah saja menahan malu, lagi pula sudah biasa baginya di permalukan oleh Echa dan kawan-kawan. Mungkin hidupnya di dunia ini memang hanya untuk di permalukan.😭


"Oh iya Sindy, si Budi nitip salam, katanya Sorry gak bisa hadir, dia lagi ada ujian, nih..." Trisno menyodorkan sebuah amplop titipan Budi ke Sindy.


Sindy membuka amplop tersebut sekilas hanya untuk melihat apa isinya, dan begitu tau kalo isinya adalah sebuah surat, dia langsung tersenyum dan segera menyimpannya kedalam saku.


"Cih, gaya kalian kolot bener, masak udah zaman canggih begini masih pakek surat-suratan." Ujar Trisno dengan nada mengejek.


"Biarin, dari pada ngasi hadiah kecewek dari hasil minta-minta." Ketus Sindy. Lagi-lagi Trisno menjadi bahan tertawaan, kehadirannya kesini seolah hanya menjadi bahan bulyan bagi mereka.


...****************...


Di tengah perbincangan dan perdebatan, tiba-tiba pak Ramlan selaku guru BP berjalan menghampiri mereka. 


Trisno tersenyum ceria, dia mengira mungkin pak Ramlan rindu pada nya karna sudah lama tak berjumpa, jadi sengaja datang hanya untuk sekedar menyapa atau mungkin bertukar cerita. 


Tapi anehnya satu persatu orang disekelilingnya yang tadi menjadikan dia sebagai bahan tontonan pada bubar semua. Bahkan Sindy, Salsa dan Echa sudah hilang entah kemana.


"Hehehe, Assalamu'alaikum pak." Sambutnya sambil menyalami pak ramlan, dengan senyuman merekah di wajah. Anehnya senyuman Trisno tak terbalas. Pak Ramlan menatapnya datar, atau mungkin kesal...???, tapi mungkin itu hanya firasat saja, kan wajah pak Ramlan memang selalu datar dan serius, jarang ada senyumnya.


"Kamu apa kabar?" Tanya pak ramlan dengan senyuman paksa. Trisno malah ngeri melihatnya.


"Ehm, ba..baik pak."


"Hehehe cuti pak."jawabnya asal.


"O... Cuti. Terus kamu kesini mau ngapain?"


"Ehm,,,an...anu pak, mau ini... mau ngantar hadiahnya Angga buat Echa."


"Oooh kurir." 


"Eh bukan pak, bukan kurir, masak anak sultan jadi kurir pak, ada-ada aja bapak, hahhahah..." ujar Trisno dengan tawanya. Pak Ramlan ikut tertawa paksa, Trisno makin ngeri melihatnya, masak ada orang tertawa sambil melotot.😨


"Terus kalo kamu bukan kurir kenapa kamu yang ngantar?"


"Oh anu pak, sebagai teman yang baik saya bantuin Angga pak, biasa pak solidaritas sebagai sahabat." Ucapnya bangga.


Tiba-tiba pak ramlan meletakkan sebelah tangannya di bahu Trisno. Trisno makin tak enak hati. Bahkan orang-orang yang tadi sudah bubar, diam-diam mulai mendekat lagi dan kembali menjadikannya sebagai pusat tontonan, dan kampretnya diantara orang-orang tersebut ada Echa dan para sahabatnya disana.


"Saya tau kamu punya niat yang baik dan mungkin kamu juga adalah teman yang baik, tapi kamu tau jugakan kalo ini adalah SEKOLAHAN." Kata pak Ramlan dengan menekankan kata sekolahan.


"Ta..tau pak" Cepat-cepat Trisno mengangguk.


"Kalo tau, kenapa kamu kesekolah bawa seserahan!." Ucapnya lagi yang mulai mengintimidasi.


"Eh...bukan seserahan pak, ini cuman hadiah."

__ADS_1


"Ooo hadiah...., tapi kenapa banyaknya kayak hantaran, dan kamu taukan ini lapangan, bukan tempat parkiran!, kenapa kamu parkir mobil kamu disini, kamu mau jadi tontonan, kamu mau jadi pusat perhatian, kamu mau buat pertunjukan." Pak Ramlan makin gencar melancarkan serangannya.


"Eh engg...,enggak gitu pak."


Terlihat pak Ramlan menjeda amarahnya, dia kemudian menarik napas panjang yang setelahnya dihembuskan begitu saja. "Hufft..."


"Oke, karna ini adalah hari spesial, jadi hari ini saya gak akan marah sama kamu" Pak Ramlan mulai menurunkan intonasinya. Trisno mencebik sebal dalam hati. 


"Dia bilang gak akan marah, lah dari tadi dia ngomong dengan nada kencang bukan marah..???, terus apa, lagi komentarin sepak bola,!!!." Kesal Trisno, namun ucapannya hanya tertahan di dalam hati.


Pak Ramlan kembali melanjutkan ucapannya..


"Tapi kamu juga harus paham, sekolah ini bukan ajang untuk menunjukkan kemesraan. Jadi saya harap kamu mengerti ucapan saya, dan segera bawa kembali seserahan kamu!" Ujarnya kembali tegas. Padahal Baru sedetik yang lalu dia bilang gak akan marah-marah.


"Iya pak!" Jawabnya malas, tapi tetap menuruti perintah mantan gurunya. Trisno kembali menaiki mobilnya. 


Sebelum menginjak gas, Trisno kembali menoleh ke pak ramlan,...


"Pak ini cuman hadiah bukan seserahan." Ucapnya yang kembali dapat pelototan sama pak Ramlan. Trisno cuek saja, rispeknya mulai hilang pada sang mantan guru yang dengan sengaja mempermalukan Trisno di tengah para juniornya.


Trisno memutar mobilnya segera dan langsung menginjak cepat gasnya. Namun belum jauh jaraknya dari pak ramlan dia kembali menghentikan mobilnya. 


Sambil teriak dia berkata...


"Pak Ramlan jangan kelamaan jomblo jadinya suka baperan!, salam jomblo pak!." Ujar Trisno diakhiri tawa kencangnya. Setelahnya Trisno kembali menancap gas mobilnya. Tawa semua orang yang sedang menyaksikan pecah seketika.


Pak Ramlan langsung berjalan kencang meninggalkan lapangan, dia malu dan menyesal sudah memarahi mantan muridnya yang gak mungkin lagi bisa ia balas kemudian hari didalam kelas.


Akhirnya kekesalan Trisno sama pak Ramlan yang ia tahan dari semenjak ia masih menjadi murid dulu dapat ia sampaikan di hari wisudanya Echa, ternyata tak sia-sia ketika dirinya berbaik hati menolong Angga, dia bisa pulang dengan hati lapang dan wajah yang sangat ceria.😎


Ketika dulu sering di omelin dan di hukum oleh pak Ramlan, dirinya gak berani buat kabur dan membantah, hanya bisa menuruti dan melakukan saja semua yang di perintah. Tapi ketika dia mendapatkan kembali kesempatannya, maka saat itulah ia bisa melakukan pembalasan, bagaimana rasanya dipermalukan ditengah banyaknya siswa sma.


...****************...


Tawa ceria terpampang di wajah para siswa sma, kehadiran Trisno yang hanya sebentar saja dapat menjadi hiburan di hari wisuda mereka, lebih-lebih ketika Trisno berani meledek pak Ramlan yang jelas tak ada satupun murid yang berani melakukannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di saat kesedihan Echa mulai mereda dan berganti dengan senyum bahagia, orang-orang hanya bisa iri melihatnya.


Banyak yang menganggap kagum hadiah yang di dapatkan Echa. Walau tak dapat berjumpa, tapi Angga masih mau menyempatkan diri untuk memberi Echa surprise dengan keadaan jarak yang memisahkan mereka.


Dengan bantuan sahabatnya, dia  masih bisa menyenangkan hati Echa.


Orang-orang pada iri dengan Echa. Sebagaimana di ketahui para guru dan para junior Angga di sekolah kalo hubungan mereka hanya sebatas saudara sepupu, tapi Angga memberikan surprise ke Echa lebih dari yang diberikan seorang kakak kepada adik sepupunya, setidaknya itulah yang ada di pikiran orang-orang yang melihatnya. 


Bahkan sampai Echa lulus pun tak ada yang mengetahui hubungan Angga dan Echa yang sebenarnya. 


Gosip yang di sebarkan pak Ramlan kalo mereka adalah saudara sepupu belum terbantahkan hingga kelulusan Echa...


...🙃🙃🙃...

__ADS_1


__ADS_2