LDR( Jauh Kangen Dekat Berantem)

LDR( Jauh Kangen Dekat Berantem)
Bab21. Bingung lagi.


__ADS_3

"Pagi menjelang siang."


Rumah Echa tampak kosong dan pintunya pun terkunci rapat. Echa dan mamanya sedang tak ada di rumah. Mama Sarah pergi kebutik sedangkan Echa pergi kerumah sebelah, rumah papa dan mama mertua. 


Lila masih belum pulang sekolah, jadi Echa gak ada teman buat main. Papa Danu lagi ada di kantor dan mama Lina lagi ngurusin bunga-bunga hiasnya di depan rumah yang udah kayak taman bunga sanking banyaknya. 


Dan disinilah Echa sekarang. Rebahan sambil video call-an sama suaminya, Angga kurniawan.


Rencananya sih pengen cerita tentang kebingungannya pada Angga, dia pengen jadi dokter tapi takut darah, tapi ah gak taulah....?


"Ehmmm, kalo temen kamu, ada gak yang ambil kedokteran jugak tapi takut darah." Tanya Angga setelah sekian lama dengar Echa cerita.


"Ya gak ada lah, ngaco kamu!, mana ada dokter yang takut darah." Kata Echa sedikit nyolot. Ada-ada aja pertanyaan Angga.


"Nah tu tau, jadi sekarang ini yang begok siapa?, dah tau takut darah malah pengen jadi dokter, hadeeeh, bikin pusing aja!" Decak Angga, namun hanya didalam hati, takut entar Echa marah karena mungkin lagi gak mood buat becanda.


"Ehmmm, emang teman- teman kamu pada ngambil jurusan apa?" Tanyanya lagi.


"Teman yang mana nih, kan teman sma aku banyak?"


"Ck, itu cewek-cewek cerewet yang sering main kerumah kamu!"


"Oooh, sahabat aku?" Tanya Echa memastikan.


"Hmm." Balas Angga malas. Echa terkikik geli melihat ekspresinya.


"Kalo Salsa ama Sindy, ambil Ekonomi, kalo Alifah ambil jurusan matematika."


"Hmmmm, gak ada sangkut pautnya dengan kedokteran yah." Gumam Angga, Echa menepuk jidatnya pelan. 


"Gak usah dibilang jugak semua orang udah tau kalo jurusan ekonomi sama matematika emang gak ada sangkut pautnya dengan ilmu kedokteran!" Decak Echa dalam hati. mulai menyesal menanyakan masalah kuliahnya dengan Angga. 


"Yaudah lah udah terlanjur nelpon, ngobrol ajalah, bodo amat sama masalah kuliah, masih sebulan lagi jugak, masih lama." Pikir Echa lagi.


"Kalo para bocil cerewet itu..., alasan mereka ngambil jurusan kuliah yang mereka pilih, apa?."


Tanpa harus mengingat-ingat karna emang Echa udah pernah nanyak pertanyaan yang sama ke para sahabatnya, dengan senang hati Echa menjelaskan.


"Kalo Sindy ambil jurusan ekonomi, Salsa ngambil jurusan informatika. Walaupun beda jurusan tapi tujuan mereka sama. karna dua jurusan ini prospek kerjanya pasti berhubungan dengan perkantoran, dan tujuan mereka ya memang pengen kerja di perkantoran."


"Tapi alasan lainnya karena banyak alumni dari jurusan yang mereka ambil pada sukses dan punya banyak uang, pada kaya, gajinya gedek-gedek." Malah Echa yang semangat cerita, dari nadanya Echa kelihatan sependapat dengan pemikiran Sindy dan Salsa.


"Hmm, terus kalo si Alifah gimana?"


"Nah, kalo Alifah dia ambil pendidikan matematika, kalo alasannya sih karena cita-citanya Alifah pengen jadi guru, ngikutin papanya."


"Cita-citanya ngikutin papanya?" Tanya Angga pura-pura bodoh. Echa memutar bola matanya malas.


"Bukan!, cita-cita Alifah pengen jadi guru, nah papanya ngikutin cita-citanya dia." Ketus Echa. Angga cekikikan mendengarnya.


"Yaudah itukan temen-temennya kamu, kalo kamu sendiri gimana?, masih niat buat ngambil kedokteran?"


"Ya karna itu!, aku belum tau, pengennya sih jadi dokter bisa nolongin orang, tapi ya gimana akunya takut sama darah."


"Terus gimana dong?, dokter kerjaaannya ya memang berhadapan sama darah, sama jenis-jenis penyakit yang mungkin orang lain anggap jijik dan mengerikan. Gak ada dokter yang gak berhadapan dengan hal yang kayak gitu, karena memang itu tugasnya dia."


"Ya kalo itu aku juga tau?" Balas Echa lagi.


"Lha terus...?" 


"Masalahnya aku tuh bingung mau ambil jurusan apa selain kedokteran?"


"I...ya terserah, kan kamu yang nanti ngejalaninnya."


"Ck gak peka banget sih." Echa mendecak sebal, di mintain pendapat malah bilang terserah.


"Ya terus aku harus gimana...?" 


"Tau ah nyebelin!" Echa meletakkan ponselnya asal saja di atas kasur, dia merebahkan badannya terlentang lalu menutup matanya. Sambungannya dengan Angga masih menyala, layar ponsel Echa mengarah kelangit-langit kamarnya.

__ADS_1


Di seberang sana Angga menghela napas panjang, menghadapi Echa memang harus punya stok kesabaran yang banyak.


"Sayang liat kameranya dong, kan aku masih mau cerita." Tanpa niatan menjawab, Echa hanya menyimak ucapan Angga dalam keadaan mata yang masih saja ia pejam. Mungkin kalo nanti omongan Angga bikin bosen atau malah bikin kesel Echa mau tinggal tidur aja.


"Echa ini aku mau kasih solusi lho!"


Masih tak ada tanggapan, Angga kembali menghela napasnya. Lalu dengan penuh ketabahan dan kesabaran, Angga lanjut bercerita.


"Kalo menurut aku, menurut aku nih ya!, kamu itu gak perlu maksain buat ngambil kedokteran. Walaupun itu cita-citanya kamu dari kecil, tapi kan memang gak semua yang kita inginkan bisa kita capai, dan gak semua yang kita cita-citakan adalah hal yang baik untuk kita."


"Selain keinginan, sesuatu yang ingin kita capai juga harus sesuai dengan kemampuan kita, dan untuk yang satu ini kamu kekurangan itu. Dan itu tidak salah dan bukan sesuatu yang tidak adil untuk kamu, karna banyak orang juga mengalami hal yang sama, walaupun dalam keadaan dan situasi yang berbeda."


"Jadi sebaiknya kamu itu pilih jurusan kuliah yang sesuai dengan apa yang memang kamu sukai, yang gak jadi beban. Sesuatu yang memang kamu senang menjalaninya." Echa mulai menatap kearah layar, ucapan Angga cukup menarik buat didengar.


Angga tersenyum, senang melihat wajah Echa yang kembali tampak di layar.


"Contohnya apa?" Tanya Echa.


"Ehmmm....oke gini ya., kayak Sindy sama Salsa misalnya. Mereka ngambil jurusan Ekonomi sama informatika karena ada sesuatu yang mereka ingin kejar, mereka mau setelah lulus nanti kerjanya di kantoran, pengen sukses, pengen jadi orang kaya. Tapi jurusan yang mereka ambil juga memang sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Echa manggut-manggut, mulai memahami maksud ucapan angga.


"Kalo jurusan yang diambil Alifah gimana, kan jurusan matematika lumayan sulit?" Kata Echa menyampaikan pendapatnya.


"Ya sama, konsepnya gak beda jauh. Alifah ambil jurusan matematika karena emang dia tau batas kemampuannya. Mungkin bagi beberapa orang matematika adalah ilmu yang sulit, tapi bagi Alifah bisa saja matematika adalah ilmu yang menyenangkan, makanya dia ngambil jurusan itu. Dan dia juga akan senang menjalaninya karena jurusan kuliah yang diambil sesuai dengan cita-citanya, pengen jadi guru matematika., gitu."


"Ha, guru matematika, perasaan aku tadi cuman ngomong cita-cita Alifah mau jadi guru, gak ada bilang dia mau jadi guru matematika!" Gumam Echa dengan kening yang membentuk lapisan-lapisan kerutan.


Angga malah tak memperhatikan omongan Echa, dan tanpa sadar dia terus saja mengoceh dalam lamunannya.


"Duh pasti seneng yang jadi murid Alifah nantinya, udah gurunya cantik, alim, pinter lagi. Pasti Alifah sabar banget nanti ngeladenin murid-muridnya." Angga nyengir sendiri, tanpa ia sadari ada yang lagi kepanasan mendengar ocehannya.


"Tau bener kamu soal Alifah!" Bentak Echa kesal, berani-beraninya Angga memuji cewek lain dihadapan istrinya.


"Ehk..., eng...enggak kok sayang, gak..,gak gitu maksudnya."


"Maksudnya gimana!, kamu mau jadi muridnya Alifah!"


"Mau!, ehk..enggak bukan gitu, aduh gimana sih, kok malah jadi gini." Echa makin menatap sebal, dalam gelagapannya Angga malah jawab mau.


"Apa...?" Sungut Echa meminta penjelasan.


"Maksudnya itu, kamu lebih manis lebih cantik dari Alifah. Apalagi kalo nanti udah jadi mahasiswa kedokteran, duh aku pasti makin sayang deh. Terus...terus kalo kamu nantinya jadi dokter, pasti aku pengennya sakit terus supaya bisa di rawat sama kamu." 


"Bukannya tadi, kamu yang bilang kalo aku jangan ngambil kedokteran." Ketus Echa.Yah, Angga mulai panik, dia malah salah dalam mengarang alasannya.


Pura-pura bodoh, Angga menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Eh, iya ya...duuuh, sayang banget ya. Padahal aku udah ngebayangin lo kalo nanti pas aku sakit bakalan dirawat sama kamu." Tak kehabisan akal, Angga terus aja ngeles.


"Aku bukan sehari dua hari ya kenal sama kamu, jadi gak usah bohong, aku tau saat ini kamu lagi boong!"


"Gak usah kenal lama juga, orang-orang juga pasti tau kalo aku lagi boong buat bujukin kamu." Sempat-sempatnya Angga ngeledek Echa dalam hati.


"Kamu ngatain aku yah" Decak Echa melihat Angga yang tiba-tiba diam.


"Loh, kok dia tau." Batin Angga..."Engg, enggak kok." Jawab Angga cepat. Fix, selain cemburuan istrinya ini juga peramal.


"Alah, gak usah boong."


"Gak boong loe sayang., jangan marah ya sayang, kan aku sayang sama kamu, Echa juga sayang Angga kan."


"Gak usah sok-sok an ngerayu, mulut kamu itu gak manis, dimana-mana orang yang suka boong itu mulutnya pait." Ketus Echa lagi.


"Iya..., tapi kan aku lagi gak boong, jadi mulut aku manis kan. Apalagi bibir aku, pasti manis banget kalo nyentuh bibir kamu." Echa melotot sebal.


"Tau ah, nyebelin." Tanpa salam, Echa langsung memutus panggilannya.


Bisa-bisanya Angga malah ngomong gitu disaat Echa lagi kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Malam harinya."

__ADS_1


Di sofa depan tv, Echa lagi nonton sinetron bersama mamanya. Di selang jeda iklan, Echa mengingat sesuatu dan langsung mengambil ponselnya yang bebas diatas meja depan sofa yang kini ia duduki.


Membuka aplikasi istagram, Echa langsung memposting sebuah foto.



Caption; "Pengen jadi dokter tapi takut darah, yaudah jadi guru ajalah, kan sama-sama ngobatin. Dokter ngobatin luka, guru ngobatin buta (buta huruf, buta aksara)."😅


Tak lama setelah postingan itu muncul di laman instagram Echa, satu pesan whatsapp masuk ke hpnya. Nama Angga terpampang jelas di layar ponsel Echa.


Angga.


"Cie, yang pindah jurusan., hehe canda ya sayang.😘."


Echa. 


"Gak usah ngeledek.😠."


Angga.


"Hehehe gak ngeledek kok, serius✌, tapi ngomong-ngomong, ini pilihan dari hati kan, memang pilihan kamu kan, memang beneran kamu mau jadi gurukan."


Echa.


"Iya lah, emang kenapa?."


Angga.


"Oh, syukurlah kalo gitu. Gak kenapa-kenapa sih, aku takut aja kamu pilih jadi guru karna cemburu sama Alifah gara-gara obrolan kita tadi siang. Padahal aku gak ada maksud ke situ lo sayang, gak ada niatan buat muji dia, apalagi sampek buat kamu jadi cemburu, seirus.✌


Echa.


"Dih, geer banget jadi orang, lagian siapa juga yang cemburu." 


Angga.


"Beneran nih, gak cemburu.😗."


Echa.


"Gak."


Angga.


"Beneraaan???"


Echa.


"Au ah.😒


Angga.


"Echa sayang..."


Echa.


"Bodo." Zzz Zzz..😴."


Angga.


Hahaha, tapi jujur, aku suka loe kamu cemburu😊, selamat tidur sayang, jangan lupa mimpiin aku yah.😘."


Tak ada lagi balasan, Echa senyum sendiri melihat pesan dari Angga. Tanpa ia sadari sang mama lagi ngintip, sama siapa Echa berbalas pesan. 


"Cieee, yang lagi mesra-mesraan sama suaminya, cieeee..." Echa menoleh kemamanya yang kini begitu dekat dengan dirinya. Cepat-cepat, Echa langsung menyembunyikan ponselnya dari sang mama.


"Apaan sih ma, orang Echa lagi whatsapp-an sama Sindy kok." Walau udah ketangkap basah, Echa tetap aja ngeles.


"Hmmm percaya deh, kan namanya Sindy, Sindy Angga kurniawan." Ledek mamanya, jelas-jelas mamanya lihat nama di ponselnya tadi nama Angga, masih aja ngeles.

__ADS_1


"Malu-malu Echa memeluk mamanya dari samping," Sarah tertawa kecil, lalu membalas pelukan Putri manjanya.


....🙃🙃🙃....


__ADS_2