
Masih di tempat yang sama dan di hari yang sama, siang hari di
Rangga kafe.
Terdengar Yusuf mendengus beberapa kali, dia gak bisa berbuat apa-apa lagi selain menerima Echa dan adiknya ikut bergabung di meja mereka. Mau marah sama adik manjanya yang satu ini juga gak bisa, yang ada nanti Sindy malah nangis dan tambah jadi masalah.😩
Mau tak mau Yusuf hanya bisa menerima keadaannya sekarang, pdkt yang gagal lagi untuk kesekian kali. Lidya bahkan terlihat beberapa kali menahan tawanya melihat wajah melas dari Yusuf yang tak bisa berbuat apa-apa.🤭
"Cha sekali-kali kasi gratis bisa kali Cha, masak sama temen sendiri gak pernah di traktir." Celoteh Yusuf, mencoba sedikit berdamai dengan hatinya yang lagi menangis.
"Iya deh iya, hari ini buat kakak Yusuf dan kak Lidya gratis, gak usah bayar."
"Dih gayaan lu bilang gak usah bayar, emang kafe ini punya nenek moyang loe." Celetuk Sindy.
Echa hanya tersenyum sembari menggaruk tengkuknya. Sementara Yusuf dan Lidya seperti melongo tak percaya.
"Emang Sindy gak tau kalo ini kafenya Angga?" Tanya Lidya.
"Ha..." Sindy belum paham, pikirannya masih loading.
"Ma...maksudnya, Angga lakiknya Echa." Tanyanya kembali, memastikan kalo kupingnya gak salah dengar.
Keduanya mengangguk, Echa hanya bisa nyengir menatap wajah sahabatnya yang langsung berubah kesal.
"Pantas tiap kemari dia bilang biar dia yang traktir, orang kafe punya lakiknya." Oceh Sindy. Lidya dan Yusuf hanya bisa terkekeh sambil geleng-geleng kepala melihat adiknya di bodohin sama sahabatnya sendiri.
"Hehehe... yah gimana ya, gue takut loe gak pede aja temenan sama yang punya kafe."
"Huuu, sombong amat." Gerutu Sindy.
"Echa tu gak mau bilang karna dia takut temennya mintak gratisan terus." Celetuk Yusuf, Lidya kembali terkekeh, Echa mesem-mesem, Sindy mulai cemberut lagi.
"maksud kak Yusuf siapa?" Tanya Sindy nyolot.
"Yah gak tau!, kan temennya Echa, bukan temennya kakak. Kalo temen kakak mah gak ada yang minta gratisan." Yusuf kembali berujar, tawanya sekuat tenaga ia tahan.
"Sindy juga gak pernah kok minta gratisan, ada juga Echa yang selalu nawarin, kalo enggak, gak pernah tuh Sindy minta gratisan, iyakan Cha?"
Echa menaikkan pandang matanya kelangit-langit kafe sambil bersiul pelan, dia pura-pura gak dengar. Yusuf dan Lidya terkekeh lagi, Sindy mencebik sebal di lemparnya selembar tisu yang di gumpalnya ke wajah Echa. Bukannya marah, Echa malah nyengir.
Sindy masih cemberut, malah kini dia memainkan hpnya, membuka whatsapp dan mengetik pesan didalamnya, kemudian kembali mengikuti arah obrolan dengan wajah yang lebih ceria.
Echa bergidik ngeri, sahabatnya memang aneh baru berapa menit yang lalu Sindy cemberut sekarang malah senyum-senyum sendiri.
"Kenapa loe senyum-senyum?" Tanya Echa.
"Enggak!" Jawab Sindy sambil menggeleng, senyumnya masih terukir di bibir.
"Aneh." Gumam Echa pelan.
Setelahnya Echa kembali memanggil karyawan kafe untuk kembali memesan beberapa makanan dan minuman untuk menemani perbincangan mereka, tak lupa ia katakan kalo meja yang mereka duduki sekarang gratis, gak usah diambil bayaran.
...****************...
Tak lama berselang pesanan mereka sampai di meja mereka, berempat kembali berbincang.
"Emang beda ya kalo yang punya kafe yang mesan!." Celetuk Lidya dengan senyuman.
"Iya, sampeknya lebih cepat." Sahut Yusuf. Semua kembali tertawa, malah Echa yang kini cemberut.
__ADS_1
"Sindir aja terus." Ketusnya.
Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba ponsel Echa berbunyi. Satu pesan whatsapp dari Angga masuk di ponselnya.
Angga.
"Assalamu'alaikum istri ku...😘."
Baru membaca pesan pertamanya saja pipi Echa sudah merona.
Me.
"Wa'alakum salam."
Angga.
"Ish, salamnya kok gak pakek embel-embel suami sih!, gak ada emoji kissnya jugak...😫."
Me.
Iya deh iya!, Wa'alaikum suami ku yang suka ambekan...🤣.
Angga.
"Dasar, untung sayang."😤
Echa mengulum senyumnya semburat merah makin merona di pipinya. Tanpa dia sadari kini dia jadi perhatian orang di sekelilingnya, bahkan Sindy dari tadi sudah memiringkan badan dan memanjangkan lehernya, mengintip dengan siapa Echa berbalas pesan.
"Assalamu'alaikum istriku !, Wa'alaikum salam !, Ish salamnya kok gak pakek embel-embel suami sih gak ada emoji kissnya jugak!." Gumam Sindy pelan membaca setiap pesan di ponsel Echa.
Menyadari ada yang bersuara di sampingnya, Echa langsung menoleh. Ternyata Sindy mencuri baca pesannya. Echa buru-buru menyembunyikan ponselnya. Wajahnya menatap kesal kearah Sindy, Sindy nyengir saja. Yusuf dan Lidya hanya bisa tertawa melihatnya.
"Ehk, bukan siapa-siapa kok, ehm anu, teman." Jawabnya kagok."
"Ish boong bener, masak suaminya dibilang temen." Ketus Sindy. Echa mengangkat tinjunya kearah Sindy, Sindy malah nyengir. Yusuf dan Lidya kembali tertawa.
Sindy dan Echa menatap keduanya, sedetik kemudian... Sindy spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan, mata Echa membulat sempurna. Berdua baru sadar kalo ada Lidya juga diantara mereka. Lupa kalo hanya mereka yang tau pernikahan Angga dan Echa.
"Ehk, an..anu, beneran temen kok." Kata Echa lagi.
"Hehehe,i... iya kak beneran temennya Echa kok." Saut Sindy membenarkan.
"Temen?..., temen hidup!" Ketus Yusuf, masih dengan kekehannya. Lidya juga tak henti tertawa.
Sindy dan Echa memicingkan matanya, mengkode Yusuf kalo Lidya ada di sebelahnya, mungkin saja kakaknya lupa.
"Kalian kenapa sih?" Ujar Yusuf tak paham. Echa dan Sindy kembali mengulang kode yang sama, Bahkan Lidya ikut menyadari yang dilakukan Sindy dan Echa.
"Apa?" Tanya Yusuf lagi. Sindy yang tak tahan karna keleletan kakaknya, dia langsung berdiri dari duduk, mengambil posisi berdiri di samping kakaknya lalu menarik sang kakak agak menjauh.
Setelah dirasa cukup aman dia mulai membisikkan kenapa mereka tadi memberi kode yang sayangnya sang kakak malah tak paham.
Dari tempat mereka duduk Echa dan Lidya memperhatikan interaksi dua orang kakak beradik tersebut. Terlihat Yusuf manggut-manggut mendengar ucapan Sindy. Setelahnya mereka kembali, dan entah kenapa si Yusuf malah terlihat menahan senyumnya.
"Kenapa?" Tanya Lidya begitu keduanya kembali duduk. Yusuf meminum minumannya sejenak.
"Enggak kenapa-napa, si Echa malu karna chatannya sama suami kebaca sama Sindy." Ujar Yusuf santai. Echa dan Sindy melotot, kedua matanya membulat sempurna. Echa langsung menoleh kearah Sindy, Sindy buru-buru menggeleng, raut wajahnya berkata kalo itu bukanlah yang tadi dia bicarakan sama sang kakak.
"Gak papa Cha gak usah malu, udah halal juga kok." Saut Lidya. Sontak Sindy dan Echa tertegun dengan ucapannya. Berdua mengarahkan pandang kepada Yusuf, yang di tatap cuman nyengir doang.
__ADS_1
"Kak...?" Ucap Echa, sorot matanya meminta penjelasan. Sindy juga sama, menunggu penjelasan dari sang kakak.
"Lidya udah tau." Ucapnya santai.
"Ma...maksudnya???"
Bukannya di jawab, Yusuf malah menggedikkan bahu, dan ekspresi wajahnya sukses membuat Sindy dan Echa mencebik kesal.
Lidya mulai tau arah obrolan mereka. "Jadi kalian kira aku belum tau?" Ujarnya.
"Ha...., belum tau apa kak?"
"Masalah pernikahan kamu sama Angga!" Ujarnya lagi. Echa spechles matanya mengerjap beberapa kali.
"Kak...kak Lidya udah tau, siapa yang kasi tau kak?, pasti kak Yusuf ya." Oceh Sindy.
"Dih enak aja, walau ganteng gini kakak gak suka gibahin orang ya." Cuilan roti ia lemparkan ke arah Sindy.
"Dih, jangan sok ganteng deh, kak Lidya aja gak mau sama situ." Balas Sindy, cuilan roti yang tadi, ia lempar kembali kearah kakaknya.
Lidya lagi-lagi tak bisa untuk menahan senyum melihat interaksi kakak beradik di hadapannya.
"Jadi kakak udah tau?" Tanya Echa lagi dan di jawab anggukan oleh Lidya.
"Kakak taunya dari siapa?"
"Dari mamanya Angga!, kan waktu hari kalian nikah kakak juga di undang, tapi gak sempat datang karna acaranya mendadak dan ada urusan lain."
"Oooh,..."
"Ehmm, kakak gak marah?" Ragu-ragu Echa menanyakan isi hatinya. Pandang matanya ia arahkan kebawah, agak takut menatap langsung ke Lidya.
"Lho...,kenapa harus marah?"
"Ehmm, ann....anu kakak kan pernah suka sama Angga." Tanya Echa lagi, Lidya malah kembali tertawa, bahkan air mata mengairi kedua sudut matanya. Echa menatap heran, Yusuf dan Sindy hanya diam sembari menunggu jawaban dari Lidya.
Setelah bisa menetralkan tawanya, Lidya kembali berucap.
"Enggak lah Cha, itukan dulu waktu zaman nya masih sma, lagi pula itupun,...ah udah lah, malu juga kalo di ceritain." Jarinya menghapus jejak air yang membasahi matanya.
"Jadi beneran kak Lidya gak marah."
"Enggak." Balas Lidya sambil tersenyum geli.
"Lagian kalau pun ada yang gak suka sama pernikahan kalian, toh kalian udah sah menikah, jadi ngapain dipikirin."
"Jodohkan udah ada yang ngatur Cha, mau dipisahin jarak sejauh apapun kalo kata tuhan berjodoh ya ujungnya pasti akan tetap bersatu,." Echa senang mendengarnya, setidaknya kata-kata Lidya sedikit menyejukkan hatinya. Sindy dan Yusuf ikut tersenyum, agak terharu mendengar ucapan yang keluar dari mulut Lidya.
Gak nyangka, orang yang dulunya pernah Echa sangka jahat, ternyata sudah berubah sikap sedemikian rupa, kata-katanya bahkan dapat menyenangkan hati Echa.
"Begitu juga sebaliknya Cha." Lidya kembali menyambung kata-katanya "Walau kita sedekat apapun, usaha kita sekeras apapun, tapi kalo kata Allah gak jodoh, ya gak bakalan bisa bersatu." Sekilas matanya melirik kearah Yusuf, sekuat tenaga ia tahan bibirnya agar tak tersenyum, tawapun ia tahan agar tak keluar dari mulutnya. yang lainnya tau kalo Lidya sedang menyinggung Yusuf.
Kini pandang mata mereka mengarah kepada Yusuf, dengan wajah ikut sedih dan prihatin Sindy berujar. "Yang sabar ya kak." Ucapnya pelan.
Yusuf dengan wajah yang sedih dan cemberut hanya bisa menangis dalam hati,.
Sambil mengangguk ia menjawab "He'e."😥
....🙃🙃🙃....
__ADS_1