LDR( Jauh Kangen Dekat Berantem)

LDR( Jauh Kangen Dekat Berantem)
Bab3. Karna Do'a.


__ADS_3

Tuhan menciptakan alam semesta dan seisinya semua berpasangan. Tuhan gelapkan malam lalu ia berikan cahaya pada siang. Ia turunkan hujan disaat terik mulai memecahkan bongkahan tanah. Ia berikan badai namun setelahnya ia terbitkan pelangi. Semua atas kuasanya. Saling mengisi disaat ada yang kosong, saling melengkapi disaat kekurangan menghantui.


Satu hal yang kita anggap buruk, belum tentu sepenuhnya buruk. Boleh jadi hal yang terlihat jelek adalah penyeimbang bagi sesuatu yang mungkin baik. Itu semua hanyalah bentuk keadilan semesta dalam menerapkan penyeimbang kehidupan.


Tapi!, memang ada beberapa hal yang tak bisa menyatu dalam kehidupan. Ibarat air dan minyak, walau diletakkan dalam satu wadah yang rapat, dia tak akan pernah bisa bersatu. 


Sama halnya dengan semboyan yang sering dilantunkan oleh teman-teman sekelasnya Echa., Air dan minyak tak kan pernah bisa menyatu, seperti hari senin dan hari minggu. Senin yang selalu mengganggu, dan minggu yang selalu di tunggu-tunggu.😅


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Minggu ini Echa rencananya mau ke mall sekalian ngajakin si kecil jalan-jalan. Dia lagi duduk di sofa sambil nonton TV bersama Lila.


Echa mengambil gawainya  di saku lalu mengirim pesan Whatsapp ke grup yang hanya ada 4 orang di dalamnya, Salsa, Sindy, Alifah dan dirinya. Sebuah pesan yang menanyakan waktu luang para sahabatnya, siapa dari mereka yang gak sibuk dan bisa diajak ke mall, Echa butuh teman.


Dan syukurnya diantara mereka masih ada Salsa yang free. Hari minggu kali ini Salsa gak ada acara dan akhirnya Echa ada teman juga buat diajak ke mall.


Bukan apa-apa, kalo dari keempat sahabatnya gak ada yang bisa nemenin Echa, masak Echa harus jalan sama papa Danu, kan gak banget. Malu tau jalan sama bapak-bapak. Mending sama anak nya bapak. 


"Ehk, anaknya bapak???, Angga dong." Echa tersadar dari lamunannya. Dia teringat akan Angga yang selalu mengganggu pikirannya.


Echa membuka kembali ponselnya. Tanpa berlama-lama, Echa langsung mengirim pesan pada Angga yang sekarang berada di belahan negara lain.


Me.


"Lagi apa."


Tak pakai hitungan menit, Angga langsung membalas.


Angga.


"Wa'alaikum salam istri."


Me.


"He he he, maaf. Assalamu'alaikum suami."


Me.


"Lagi apa?"


Angga.


"Lagi chat-an."


Me.


"🤨Chat-an?, ama siapa??, cewek apa cowok???"


Angga.


"Cewek 🤔, emang gak boleh."


Echa mendumel kesal. Dia meletakkan ponselnya asal saja. Belum juga setahun, tapi Angga malah udah berani bilang ke Echa kalo dia lagi Chat-an sama cewek lain. "Ehmm..., belum tentu benar sih, tapi setidaknya itu yang ada di pikiran Echa sekarang.


Ponsel Echa terus berbunyi, namun tak sedikit pun niat hati ingin mengambilnya, apalagi membacanya. Angga terus mengiriminya balasan berkali-kali, sepertinya dia tau kalo istrinya lagi marah.


Tak lama Echa ngambek, tiba-tiba mamanya Angga datang dari arah belakang sambil memegang ponselnya, keliatan kalo dia lagi vidio call.


"Nih orang nya, makanya jangan suka jail jadi orang." Ujar Lina berbicara dengan seseorang dibalik layar ponselnya.


"Nih sayang, ada yang mau ngomong sama kamu,." Kata Lina memberikan ponselnya ke Echa. 


"Siapa mah.?" Tanya Echa, tangannya menyambut gawai dari tangan sang mama. Tak dijawab, hanya senyum yang di berikan, lalu mama mertua kembali lagi kebelakang melanjutkan aktifitasnya.


Begitu Echa melihat siapa yang melakukan panggilan Vidio, Echa langsung meletakkan ponselnya diatas meja dalam keadaan terbalik. Niat hati mau mematikan panggilan, yang ada nanti Angga malah gantian nelponin papanya.


"Echa..., marah ya, tapi kenapa?, emang aku ada buat salah ya???, hpnya kasi liat muka kamu dong, aku kan rindu." Angga terus saja merayu sang istri supaya tak marah lagi.


"Kalo Echa gak kasi lihat hpnya ke wajah Echa, entar aku gantian nelpon papa lo." Ancamnya kemudian.


Echa menghela napas, dengan terpaksa dia mengambil ponselnya dari atas meja.


Angga mengulum senyum.melihat wajah kecut istrinya.


"Kenapa hmm."


"Dasar, ni orang begok apa gimana sih, masih nanya kenapa." Omongan itu hanya sebatas dihati saja, tak sampai ia keluarkan, takut dosa. Walau lagi kesal si Angga kan tetap suaminya.


"Cerita dong, kalo diem gini aku ya mana paham." 


"Udah berapa lama." Ketus Echa, membuat Angga bingung dengan pertanyaannya.

__ADS_1


"Maksudnya???"


"Udah berapa lama loe chatan sama cewek, dan udah berapa cewek.


Angga mulai paham kenapa sang istri marah-marah., dia coba tuk tidak tertawa, takut si Echa makin marah.


Angga mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari, tampak berfikir. Dia ingin sedikit lebih lama mengerjai istrinya.


"Cuman satu cewek sih, itupun belum lama, baru juga tadi." Balasnya santai. Wajah Echa makin mengerucut, matanya mulai berkaca-kaca, sekuat tenaga ia tahan supaya tak keluar di hadapan Angga.


"Ceweknya asli indonesia Cha, mau tau gak nama ceweknya siapa?" Echa hanya diam, wajahnya mulai memanas, ingin rasanya ia putuskan panggilan sekarang juga, tapi kok dia penasaran sama cewek yang chatan dengan suaminya.


"Nama ceweknya adalaaah, Fauzia...nesha." Ujar Angga. Tawanya pecah saat itu juga.


"Ahahahahah...ahhahahhhhaa..."


Agak lama Angga tertawa sampai akhirnya ia kembali fokus ke layar ponselnya hanya untuk melihat reaksi sang istri.


Echa menghapus buliran bening yang jatuh perlahan di pipinya. Angga mulai merasa bersalah, "apa tadi bercandanya kelewatan???"


"Echa jangan nangis dong, Angga tadi cuman bercanda, sumpah aku gak ada chatan sama cewek lain. Cewek yang aku masud lagi chatan sama aku itu ya kamu Fauzia nesha, istriku orang yang paling aku sayang. Jangan nangis ya, maafin."


Echa terus menghapus air matanya yang belum mau berhenti. Entah kenapa candaan seperti ini membuat hatinya sakit.


"Becandanya gak lucu." Balas Echa dengan suara parau.


"Iya maaf, maafin ya Cha. Janji deh gak bakal ulangin lagi." Ujar Angga, dari seberang panggilan, terlihat dia menangkupkan kedua tangannya tanda permohonan maaf.


Echa mengangguk. "Jangan becanda kayak gitu, Echa gak sukak."


"Iya sayang, maafin suami mu yang gak ada ahlak ini yah." Balas Angga, Echa terkekeh di sela jatuhnya air mata.


"Nangis nya udah dong sayang, kan Angga gak bisa peluk, aku jadi berasa suami yang gak ada ahlak beneran nih." Angga memohon, tak tega melihat buliran bening yang tak kunjung berhenti dari wajah istrinya.


Echa terkekeh lagi. "Iya suami Echa memang gak ada ahlak." Balas Echa. Angga mengerucut kan bibirnya.


"Tapi..., Echa sayang." Tambahnya lagi. Bibir yang tadi mengerucut kini mulai menarik kedua sudutnya, Angga tersenyum bahagia. Senang rasanya ketika ucapan itu keluar dari mulut istrinya.


Obrolan mereka berlanjut. Echa yang awalnya marah-marah malah dibuat tertawa oleh Angga, dia memang selalu bisa menyenangkan hati sahabat yang sekarang sudah jadi istrinya. 


Sepanjang obrolan sudut bibir Echa tak pernah lekang dari senyum bahagia. Angga juga senang melihatnya tertawa, setidaknya jarak mereka yang tak dapat berjumpa dapat sedikit terobati dengan bertatap muka, saling berbagi cerita, juga canda dan tawa. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Echa, Salsa, dan si kecil Lila sedang berada di dalam mall. Niat Echa hanya ngajak Lila jalan sekalian nyari buku novel yang baru, soalnya novel yang dirumah udah pada habis di baca semua. 


Novel yang dicari Echa biasanya tak jauh dari genre romantis dan comedy, katanya biar lebih fresh dan bisa ketawa-ketiwi dan biasanya juga novel dengan genre ini akan diakhiri dengan happy ending, terlalu malas buat baca novel yang ujung ceritanya sad ending, kalo kata Echa sih, bikin nyesek.😅


Setelah dapat beberapa buku yang menurut Echa menarik, Echa langsung membawanya ke kasir dan langsung membayarnya. 


Beres dari membeli buku, mereka lanjut lagi jalan-jalan mengitari seisi mall. Niatnya sih cuman liat-liat doang. Echa sih bener cuman liat-liat sekedar cuci mata, beda lagi dengan Salsa. Setiap kali Salsa liat pakaian atau alat kosmetik yang menurutnya bagus, ya langsung di comot sama dia. Mana sekarang belanjaannya Salsa malah lebih banyak dari Echa lagi. Ini mah jatoh nya malah Echa yang nemenin Salsa.😅


Beres dari belanja, mereka milih mampir dulu ke kafe yang menjual berbagai farian Es krim yang ada di seberang jalan mall tersebut.


Begitu masuk, baru mau milih tempat, seseorang yang lagi duduk di satu kursi bagian pojok melambaikan tangannya ke mereka, dia Cintiya, orang yang pernah suka dengan Angga.


Echa, Salsa dan si kecil Lila yang tangan nya tak lepas dari genggaman Echa, berjalan menghampiri tempat Cintiya duduk.


"Duduk Cha, ujar Cintiya mempersilahkan, satu senyum ia berikan, tentunya bukan hanya senyum ke Echa, tapi ke Salsa, juga si kecil Lila.


"Habis dari mana kak?" Tanya Salsa. Echa menggerutu dalam hati.


"Masak nanyaknya gitu?, kita kan gak akrab sama dia, tanya kabar dulu kek, kesini sama siapa kek?, apa kek?. Ini langsung nanyak habis dari mana?, emangnya lu emaknya." Batin Echa.


"Kakak apa kabar?" Sela Echa. Cintiya membalas dengan senyum.


"Alhamdulillah baik, Kalian sering kesini?" 


"Enggak kak, cuman sesekali doang." Balas Echa.


"Kak Cintiya emang sering kemari?" Saut Salsa lagi.


"Kalo aku emang udah langganan disini, setiap pulang kampus selalunya mampir dulu kemari.


"Oooh." Balas Keduanya, dan entah kenapa Si kecil Lila juga ikut-ikutan. "Oooh." Cintiya tersenyum lucu melihat kegemasan wajah Lila.


"Emang hari minggu kuliah ya kak?" 


"Enggak..., aku cuman kebetulan lewat sini, tadi habis pulang dari rumahnya teman, jadi sekalian aja mampir kemari."


Kembali, hanya kata "Oh" yang mereka ucapkan.

__ADS_1


"Kakak ini kalo gak salah, dulu pernah pacaran sama Angga ya?" Tanya Salsa, mata Echa membulat sempurna, kaget dengan pertanyaan yang keluar dari mulut sahabat nya.


Sedetik kemudian langsung ia daratkan cubitannya di paha Salsa.."Ahhwww..." Salsa meringis kesakitan, tapi tak berani protes karna Echa lebih dulu memberinya kode dengan sorot mata, kalau pertanyaan nya tadi keterlaluan.


"Ehk,,mm, maaf ya kak, si Salsa mulutnya kadang emang suka ceplas-ceplos,. Tapi...tapi dia baik kok kak, dia orang nya gak ember., maafin ya kak." Echa yang meminta maaf, sedangkan Salsa mengangguk dengan senyum terpaksa.


Bukannya marah, Cintiya malah terkekeh geli. 


"Perasaan dulu semasa SMA, kalo ada yang menyinggungnya Cintiya pasti langsung marah, dia kan punya geng disekolah dan dia sebagai ketuanya. Tapi sekarang kok rada beda ya, dia kayak tenang banget udah gak marah-marah lagi kayaknya??, kayaknya ya, kayaknya..."


Entah mengapa kali ini Echa dan Salsa berpikiran hal yang sama.


Cintiya menghapus jejak air dimatanya setelah kekehannya tadi, mungkin ada sesuatu yang menurutnya lucu, hingga membuat tawanya sampek seperti itu.


"Sebenarnya waktu itu, aku yang nyebarin gosip kalo kami pacaran." Ucapnya. 


"Haaaa." Echa dan Salsa melongo. Pastinya berita ini membuat mereka kaget.


"Kok bisa kak?" Tanya mereka lagi, cerita ini gak boleh berhenti disini, mereka harus tau cerita sebenarnya dari kak Cintiya.


Cintiya kembali terkekeh, dia mengingat ulahnya dulu waktu SMA yang ternyata cukup konyol.


"Ya karna Angga nolak buat pacaran sama aku."


"Hah..., kok bisa kak?" Lagi-lagi keduanya kaget dengan penuturan Cintiya, Cintiya sampek malu sendiri karna seisi kafe menoleh ke arah mereka.


"Hah hoh terus, ya bisalah, namanya juga cinta masa SMA, apa sih yang gak bisa.


Masalahnya dulu itu waktu di sekolah, semua cowok rebutan mau jadi pacarnya Cintiya, lah Angga malah belagu, pakek nolak segala."


"Wajar sih kak, tu orang emang pemikirannya rada sinting." Ketus Salsa,


malah dia yang marah. Echa mengetok kepala Salsa dengan jitakannya. Enak aja lakik nya di bilang sinting, gitu-gitukan dia tetap suaminya Echa.


Cintiya kembali terkekeh mendengar ucapan Salsa, juga Echa yang marah karenanya.


"Rasain tuh, makanya jangan ngejekin Angga di depannya Echa." 


Echa tertegun, begitu juga Salsa, "Apa Cintiya tau ya kalo Angga sama Echa udah nikah?, Perasaan papanya Angga udah minta tolong ke semua tamu yang hadir waktu acara pernikahan mereka, supaya jangan ada yang membeberkan perihal pernikahan mereka, takutnya berita ini malah mengganggu sekolahnya Echa.


"Em, emang kenapa kak?" Tanya Salsa ragu-ragu. Tampak Echa juga sedang menunggu jawabannya.


"Kan Echa adik sepupunya, ya jelas marah lah kalo kamu jelekin Angga di depan Echa." Kembali Cintiya tertawa, pertanyaan Salsa cukup konyol baginya. 


Salsa tertegun...O...ooh, sepupu ya, hehe, he he he..." Salsa tertawa paksa, begitu juga Echa. Ternyata kebohongan di masa Angga sekolah berpengaruh hingga dia sudah tak ada disana.


"Tapi karna di sekolah Angga selalu ngehindar, makanya beritanya gak lama dan langsung ilang gitu aja." Cintiya kembali bercerita. Echa dan Salsa fokus mendengarkan, Lila cuek saja dan terus makan eskrim coklat vanila miliknya..


"Dulu itu aku sempat marah banget loe sama Angga, sampek gara-gara kejadian itu aku yang awalnya sholatnya bolong-bolong, jadi pol 5 waktu. Malah sering tepat waktu."


"Lho, kok bisa kak, dari sakit hati kok malah jadi rajin ibadah???" Lagi-lagi pertanyaan "kok bisa" muncul.


"Lha iya, kan mau do'a."


"Do'a supaya Angga mau menerima kakak?" Tanya Salsa. Echa pun ikut penasaran tapi sambil memasukkan eskrim ke mulutnya.


Cintiya menggeleng, Salsa dan Echa mengeryitkan dahi, Lila cuek saja dan fokus sama eskrimnya.


"Ya enggak lah, kan aku udah sakit hati, mana mungkin aku mau lagi. 


"Jadi Angga itu aku do'ain supaya nikah sama orang yang dia suka, abis nikah dia langsung dipisahkan sama tuhan yang maha kuasa dengan waktu yang cukup lama, ehmm.. tiga atau empat tahun mungkin." Cintiya menjawab, kembali dengan kekehannya. Echa menahan mulutnya yang hampir saja  menyembur, sedangkan Salsa menatap Cintiya tak percaya.


Mungkin setelah ini Salsa gak perlu tanya-tanya lagi kenapa Angga sama Echa nikah mendadak. Rupanya karna Do'anya Cintiya.


Emang bener ya ternyata do'a orang teraniaya itu bakal terkabul, dan kini Echa tengah merasakan dampak dari ulah suaminya. 


"Tapi itu kan dulu, kalo sekarang kan udah beda, pemikiran kita kan semakin beranjak usia akan semakin dewasa." Cintiya kembali berbicara.


"Kalo sekarang mah aku do'ain nya yang baik-baik aja, aku juga sering do'ain Angga kok supaya dia bahagia dengan wanita pilihannya, tapi bahagianya kalo Angga udah nikah nanti ya."


"Amiiin,. Jawab Echa dan Salsa serentak, juga si kecil Lila yang ikut-ikutan. Gak tau aja Cintiya, kalo Angga emang udah nikah.


"Lagian do'a aku semasa SMA dulu gak mungkin kekabul kan?, masa iya ada yang hari ini nikah, besoknya langsung pisah, kan aneh." Ujarnya, kembali terkekeh geli.


"Jadi Echa jangan marah ya." Tambahnya sebelum mengakhiri cerita, takutnya sang adik sepupu marah padanya...


Echa hanya membalas dengan senyuman paksa, Salsa  yang duduk di sebelah mengambil tangan Echa, lalu mengusapnya pelan sembari berbisik. 


"Yang sabar ya Cha..."😥


...🙃🙃🙃...

__ADS_1


__ADS_2