
Sudah dua hari ini Echa mendadak jadi pendiam, tak seperti biasanya yang selalu ceria dan senang bercerita juga adu mulut sesama sahabatnya.
Entah apa yang Echa pikirkan. Apakah Echa mikirin tentang ujian nasional yang hanya tinggal 2 minggu lagi?, atau Echa berpikiran hal-hal buruk yang mungkin terjadi setelah ujian nanti, gak lulus misalnya.
Tapi masak iya seorang Echa yang selalu masuk peringkat 3 besar takut gak lulus, orang Salsa ama Sindy yang nilainya selalu pas-pasan aja santai-santai aja.
Tapi bisa aja sih!, ketakutan kan bisa datang pada siapapun dan kapanpun, tapi....Ah gak mungkin deh kayaknya.
Atau....Echa lagi ada masalah sama keluarganya?, atau sama Angga?...Yah mungkin dia lagi ada masalah sama Angga,.
Dalam hubungan suami istrikan sering terjadi masalah, setidaknya itu yang sering di tampilkan di infotemen dan media sosial.🤭
Tapi kalo emang Echa ada masalah sama Angga, kenapa malah para sahabatnya juga ikut kena imbasnya.😵
...???
Sindy dan Salsa lagi berbincang bersama, lebih tepatnya lagi julitin si Echa, sahabatnya. Si cantik yang punya lesung pipit di kedua pipinya yang tiba-tiba mendadak jadi pendiam dan sudah dua hari ini lesung pipitnya tak pernah tampak lagi.
Alifah hanya diam mendengarkan ocehan keduanya, Sindy dan Salsa sedang berdebat tentang masalah apa yang sedang dialami Echa, hingga mereka kini ikut kena dampaknya dari masalah itu sendiri.
Bukan hanya jadi pendiam dan irit suara, Echa juga jadi agak lebih sensi dengan keadaannya saat ini, dia juga jadi malas untuk mendebatkan sesuatu yang memang gak penting. Contohnya saja seperti sekarang.
...****************...
Waktu mereka bersama masuk kelas setelah istirahat makan di kantin, Echa masih saja diam tanpa suara. Jadi Sindy dan Salsa yang kepo dan gak suka di diemin terus sama siEcha, memilih untuk bertanya, sebenarnya masalah apa yang sedang dialami Echa. Sedangkan Alifah hanya diam saja dan mengikuti arah, apa yang nantinya akan terjadi.
Berbeda dengan dua sahabatnya yang selalu bar-bar dalam setiap tindakan, Alifah memang lebih tenang dalam menyikapi setiap keadaan. Dia gak akan bertindak tanpa adanya strategi dan solusi untuk menyelesaikan masalah yang akan ia tangani.
Pada awalnya Salsa dan sindy bertanya dengan baik-baik ke Echa, tapi karna jawaban Echa selalu, "Baik-baik saja." Jadilah mereka sedikit kesal dan memaksa Echa buat cerita semuanya,.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Echa malah pergi meninggalkan mereka begitu saja. Tentu saja Sindy dan Salsa jadi makin kesal, tapi juga ada rasa menyesal. Menyesal karna memaksa Echa yang padahal jelas-jelas gak mau cerita.
Walaupun niat mereka baik tapi tetap saja cara mereka salah. Alifah malah memandang sikap Echa adalah sikap yang tepat, dia lebih memilih pergi dari pada harus berdebat dengan dua sahabatnya yang malah akan menjadi masalah baru buat Echa.
"Alifah, loe bantuin kita dong, ngomong ke Echa kek apa kek, ini malah ikutan diem juga kayak si Echa." Alifah hanya menggedikkan bahu mendengar perkataan Salsa dan Sindy.
Melihat tanggapan Alifah, keduanya hanya bisa melengos pasrah. "Huft."
"Kalo Echa belum mau cerita biarin aja dulu, jangan di paksain." Ujar Alifah akhirnya.
"Loe berdua kan tahu kalo nantinya Echa juga bakal cerita ke kita. Jadi ya sabar aja, jangan buat dia malah jadi tambah beban, kasian."
"Sebagai sahabat, tugas kita ya menghibur dia, ada disaat dia butuh orang untuk mendengarkan. Bukan malah maksa dia buat cerita masalahnya yang memang dia sendiri belum siap buat cerita." Alifah menyampaikan pendapatnya, Sindy dan Salsa jadi merasa semakin bersalah.
"Itusih pendapat gue ya, kalo loe berdua mau ikutin ya sukur, kalo enggak ya gue bisa apa!" Tambah Alifah lagi.
"Iya deh sorry." Ujar keduanya.
"Iya deh iya, kita minta maafnya sama E.....cha......
Ditengah perbincangan mereka tiba-tiba Echa masuk lagi kekelas mengabaikan Ketiga sahabatnya. Ekor mata ketiganya terus mengikuti pergerakan Echa.
Echa mengambil tasnya yang ada di laci meja dan langsung menggendongnya di belakang.
"Gue balik dulu yah, maaf kalo beberapa hari ini gue bikin kalian gak nyaman. Jujur gue gak ada niat buat Kalian kesel, gue lagi butuh waktu buat sendiri, maaf." Ucap Echa yang setelahnya langsung beranjak pergi.
Tertangkap jelas dimata ketiga sahabatnya kalo mata Echa berkaca-kaca, Sindy dan Salsa makin merasa bersalah sama Echa. Mungkin setelah ini Echa akan langsung pulang kerumahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Rangga kafe."
Echa sedang berada di ruangan yang memang dibuat khusus untuk pemilk kafe tersebut. Ruangan ber AC yang seperti kamar, lengkap dengan kasur dan TV di dalamnya, ada lemari, meja dan kursi untuk kerja juga tentunya.
Jadi, setelah Echa cabut dari kelasnya. Sebenarnya bukan cabut sih, Echa tadi sudah izin dulu dengan guru piket untuk pamit pulang dengan alasan sakit.
Setelahnya Echa gak langsung pulang, dia lebih memilih untuk singgah ke kafe Angga. Lagian kalo pulang di jam sekarang yang ada nanti malah di tanya-tanyain sama orang tuanya.
...----------------...
Dari seberang panggilan, Angga hanya bisa menenangkan tangisan istrinya. Ditanya kenapa juga gak di jawab, jadi satu-satunya yang bisa dilakukan Angga sekarang hanya menenangkan Echa sekaligus mendengarkan tangisannya sampai tangis nya berhenti sendiri.
"Udah ya sayang jangan nangis terus, aku jadi ikut merasa bersalah ni kalo liat kamu nangis gini, udah ya..." Dengan ucapan selembut mungkin Angga terus berusaha menenangkan tangisan Echa.
Sudah hampir 10 menit istrinya menangis. Dan Angga hanya bisa menatap tangisan istrinya dari balik layar.
Lagi-lagi jarak mereka membuat hati Angga ikut sakit melihat tangisan Echa. Harusnya dia bisa berada disana, memeluk dan menengkan hati istrinya.
"Sayang, udah dong nangisnya, entar Echa sakit. Kalo Echa kek gini Angga jadi merasa gak ada gunanya sebagai suami, udahan ya nangisnya." Sepanjang tangisan Angga hanya bisa membujuk, selembut mungkin dia ucapkan setiap kata. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk meredakan tangis istrinya.
Terkadang jarak memang terasa begitu kejam, dengan tega memisahkan dua hati yang berharap bisa saling membagi luka, saling menumpahkan rasa dan saling menguatkan hati.
Masih dengan sesenggukan, tangis Echa perlahan mulai mereda. Setelah dirasa agak tenang, Echa mulai menceritakan masalah yang sedang ia rasakan.
Dengan air mata yang tanpa disuruh mengiringi jalannya setiap kata yang keluar dari mulut Echa, Angga dengan penuh perhatian mendengarkan.
Disaat hati ini tak sanggup lagi menampung luka, saat itulah kita butuh pelukan seseorang untuk menumpahkan setiap tetes air mata. Seorang yang siap menenangkan tanpa harus tanya kenapa, seseorang yang dengan senang hati mendengarkan setiap cerita luka disaat kita sudah siap untuk cerita.
Bagi Echa, seseorang itu ialah Angga, seorang suami dan sahabat yang selalu ada disetiap cerita hidupnya...
__ADS_1
...🙃🙃🙃...