LDR( Jauh Kangen Dekat Berantem)

LDR( Jauh Kangen Dekat Berantem)
Bab12. Persoalan cinta.


__ADS_3

"Minggu pagi."


Tak seperti biasa, minggu pagi ini Echa masih menggelung di kamarnya. Walau matanya tak terpejam tapi Echa masih berada diatas bantal. 


Bukan kebiasaan Echa yang berubah jadi malas-malasan, hanya saja si kecil Lila yang lagi sakit dan minta terus di peluk sama kakaknya.


Dulu ketika masih ada Angga, Echa selalunya akan jogging setiap pagi bersamanya juga si kecil Lila yang gak mau ketinggalan. Tapi setelah Angga sudah kuliah di luar negeri Echa sudah jarang untuk olahraga diluar, lagian gak enak juga kalo jogging sendirian. 


Paling kalo ada teman yang ngajak, barulah Echa mau ikutan, kalo nggak ada, ya dirumah aja. Lagian dirumah Echa atau dirumah Angga juga ada alat olahraga sendiri, jadi tetap bisa jaga kesehatan walaupun gak ikut jogging di luar. 


Apalagi kayak sekarang, ada si kecil Lila yang rewel dan mintak di peluk terus sama Echa, jadi ya gak bisa kemana-mana.


Sebenarnya kemarin itu si Lila demam tinggi, dan semalam panasnya udah mulai turun. Tapi karna dia rewel dan mintak tidur di peluk sama kak Echa, jadilah malamnya mama Lina ngantarin Lila kerumah Echa, karna gak mungkin juga Echa yang tidur di rumah mertuanya sementara mamanya sendirian dirumah.


Hingga pagi ini kondisi Lila udah membaik, badannya juga udah gak panas lagi. Tapi karna dianya memang manja ke Echa, jadilah pagi ini dia masih belum mau lepas dari pelukan kakaknya.


...****************...


"Lila, kak Echanya jangan dipeluk terus dong, sakit tauk badan kak Echanya kalo di peluk terus." Oceh Angga dari panggilan video melalui laptop. Echa tersenyum saja menanggapi ocehan Angga pada adiknya.


"Enggak kok, Lila peluknya gak sakit, kak Echa gak sakit kan?" Tanyanya mendongakkan wajah ke arah Echa. Masih dengan senyuman, Echa menggelengkan kepala.


"Tuh kan kak Echa gak sakit, wlek." Sewot Lila diikuti dengan juluran lidahnya.


"Huuu, dasar anak kecil."


"Biarin, yang penting Lila bisa peluk kak Echa, wlek."


"Ish, awas aja ya nanti kalo kak Angga udah pulang, gak bakalan kak Angga kasi Lila peluk kak Echa lagi."


"Emang kenapa, orang kak Echa kakaknya Lila."


"Ya tetap gak boleh, kak Echa kan istrinya kak Angga. Entar kak Angga peluk kak Echa dari pagi sampek siang sampek malem, supaya Lila gak kebagian meluk kak Echa."


Mendengar penuturan sang kakak wajah Lila mulai tampak sedih, namun sesaat kemudian kembali ceria begitu mendengar Echa membisikkan sesuatu di telinganya.


"Yaudah gak papa, tapikan kak Angga pulangnya masih lama, wlek."


"Sekarang yang bisa meluk kak Echa cuman aku kak Angga gak bisa." Sungut Lila menyampaikan apa yang di bisikkan Echa padanya, Lila kembali mengeratkan pelukannya. 


Didalam pelukan, Echa kembali membisikkan sesuatu pada Lila.


Dengan wajah songongnya tapi tetap terlihat gemas, Lila berkata. 


"Lila bisa peluk kak Echa, Lila juga bisa cium kak Echa. Lila langsung menciumi pipi Echa.


"Heh heh heh, siapa yang izinin Lila buat cium kak Echa., Cha gak usah mau Cha dicium sama Lila." 


Echa tersenyum geli mendengar ucapan Angga, masak dia cemburu sama adik ceweknya. Echa tau itu cuman candaan Angga, tapi tetap terdengar lucu di telinganya.


Tak menghiraukan ucapan Angga, kini malah Echa yang menciumi seluruh wajah Lila, hingga si Lila tertawa geli karna ciuman kakaknya.


...****************...


Ditengah candaan mereka, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, mama Sarah yang berdiri disana.


"Pantesan dari tadi mama ngetok pintu gak di jawab, lagi telponan sama suami ternyata." Sarah masuk kamar dan berjalan mendekati mereka.


"Ehk, enggak kok mah, orang Echa lagi becanda sama Lila, si Angganya aja yang tiba-tiba nelpon." Sanggahan tetap Echa berikan, padahal jelas-jelas mereka lagi telponan.


"Mama mertua, istri aku jangan digituin, malu dia tuh." 


"Apaan sih." Ketus Echa. Angga dan mamanya tergelak. Lila yang gak terlalu mengerti dengan obrolan orang dewasa hanya diam saja sambil terus memeluk kakaknya.


"Angga gimana kabarnya disana, sehat-sehatkan." Kini mama Sarah yang mengambil obrolan, Echa dan Lila hanya diam memperhatikan.


"Sehat ma, Alhamdulillah. Mama mertua juga sehat kan?"


"Kalo mama alhamdulillah sehat, tapi hati mama nih yang kadang suka gak sehat, suka iri kalo liat suami istri lagi telponan." Sambil mengulum senyum ditatapnya lekat wajah putri satu-satunya.


"Apasih ma." Ucap Echa malu-malu, pipinya nampak merah. Wajah Angga terlihat senang di seberang sana.

__ADS_1


"Yaudah Angga baik-baik ya disana, belajar yang rajin, jangan suka lirik-lirik cewek lain, ingat disini ada hati yang selalu setia menanti."


"Siap mama mertua menantu mu ini akan selalu ingat nasehat mama mertua." Ucap Angga dengan mengangkat tangan di pelipis kepala pertanda memberi hormat. Sarah tertawa melihatnya, walau Angga terlihat bercanda tapi Sarah percaya dengan Angga, lelaki yang sudah ia ketahui tingkah laku dan sifatnya sedari bayi hingga sekarang, Angga yang dari dulu selalu menjaga putrinya, menghibur disetiap Echa bersedih, dari dulu selalu begitu dan ia yakin akan terus begitu.


"Kalo masalah hati insyaallah akan selalu Angga jaga mah, gak bakal lirik-lirik yang lain. Tapi tetap, mama juga jangan lupa do'ain Angga." Ucap Angga, kali ini dengan nada serius. Senyuman disertai Anggukan Sarah berikan.


"Yaudah yang penting jangan lupa sholat, rajin-rajin belajar, jangan lupa olah raga kesehatannya dijaga, sama yang paling penting, jagain hati anak mama." Disertai senyuman Angga manggut-manggut.


"Udah gitu aja yah, assalamu'alaikum."


"Lah, kok malah udahan mah?" Ucap Angga protes. Sarah terkekeh geli. Echa dan Lila yang dari tadi ikut memperhatikan juga ikut tertawa.


"Yaudah kalo belum mau dimatiin, Angga ngobrolnya sama mama aja, soalnya Echa udah ditungguin sama temennya di bawah."


"Ha!"


"Mah, beneran ada temennya Echa!, Siapa mah?" Kini giliran Echa yang kaget.


"Temennya Echa!, cewek atau cowok ma?" Angga yang bertanya, ada cemburu di nadanya.


Samar-samar Angga masih mendengar bisikan Echa ke mamanya..."Mah bilangin cowok mah, bilangin cowok."


"Aku denger lo Cha." Saut Angga datar, cemburu masih kentara di nada bicaranya. Echa malah tergelak mendengar ocehan suaminya.


"Temennya Echa yang biasa kemari, ya si Alifah, Sindy, sama si Salsa." Mamanya menjelaskan. Dia tau sang menantu lagi cemburu, itu wajar dan Sarah senang mendengarnya. 


Setidaknya Sarah tau kalo menikahkan Angga dengan Echa bukanlah hal yang salah, karna berdua memiliki rasa cemburu yang hanya bisa dimiliki jika seseorang itu punya tempat spesial dihatinya.


Echa turun kebawah, kini giliran mama Sarah yang ngobrol dengan Angga, juga menggantikan Echa memeluk Lila, si kecil Lila juga tidak protes, malah ikutan mengobrol dengan kakak cowoknya.


...****************...


Setelah bertemu dengan para sahabatnya yang ternyata mau ngajak Echa jogging, Echa naik lagi keatas buat pamit sama mamanya.


Beruntung waktu Echa pamit si kecil Lila lagi terlelap, jadi Echa gak perlu repot bujukin Lila yang kondisi nya baru sembuh dari sakit dan biasanya selalu minta ikut kalo Echa mau jogging.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah jogging beberapa kali mengelilingi lapangan, Sindy, Salsa, Alifah dan Echa duduk di salah satu meja di tepian lapangan tersebut, tempat biasanya orang-orang bersantai setelah lelahnya berolahraga. 


Pohon-pohon rindang di sekeliling lapangan menambah segar dan sejuk udara sekitar, membuat orang-orang yang sengaja datang buat olahraga merasakan udara yang masih bersih dan bebas dari polusi.


Orang yang datang kemari bukan semuanya mau olahraga, ada yang datang cuman buat foto-foto, ada yang hanya mau lihat keramaian sekaligus cuci mata, dan ada juga yang datang malah buat tempat pacaran, hadeeeh...🥴.


Ditengah duduk diam melepas lelah, tiba-tiba Salsa nyeletuk.


"Cha menurut loe cinta itu kek gimana sih?"


"Lha...! Kenapa ni anak, tiba-tiba ngomongin cinta." Kaget, Echa berusaha menahan tawanya. Alifah sama Sindy malah terkekeh geli mendengarnya.


"Ya gak ada, cuman nanya doang, masak gue gak boleh nanyak."


"I..iya boleh, tapi kenapa tiba-tiba loe nanyak masalah cinta?"


"Ya gak papa, iseng aja. Lagian kalo gak mau jawab juga gak papa." Sungutnya sebal, Echa malah jadi tak enak hati, Sindy sama Alifah sekuat tenaga menahan tawa.


"Udah ah, gue mau balik." Ketus Salsa yang langsung berdiri dan bersiap pergi, tapi tangannya segera ditahan sama Echa.


"Jangan baper gitu dong Sa, sorry deh gue yang salah, duduk lagi yah,. Sekarang kita bahas masalah cinta." Bujuk Echa, lagi-lagi Alifah dan Sindy harus bisa menahan tawa, entah komedi jenis apa yang ada dihadapan mereka.


Walau tak menjawab, Salsa menuruti permintaan Echa, dia kembali duduk bersama mereka. 


Dengan wajah merengut Salsa memalingkan wajahnya dari Echa. Echa hanya bisa melengos melihat sahabatnya yang satu ini tiba-tiba ngambek padanya, padahal Sindy sama Alifah juga ikut ngetawain Salsa tapi yang kena getahnya malahan cuma Echa.😟


Tapi demi persahabatan Echa akan coba menjawab.


"Ehm, jadi cinta itu...emmm???" Ucapan Echa terhenti, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, pikirannya masih loading, dia juga bingung mau mengarang apa. Referensinya benar-benar minim soal cinta.


Belum juga ada jawaban, Salsa memicingkan matanya kearah Echa, Echa makin tak enak hati.


"Hehehe...gue juga bingung Sa, gak tau gue kalo masalah cinta-cintaan, mending loe tanya masalah yang lain aja." Salsa malah mendengus mendengar alasan Echa.

__ADS_1


"Masak iya Echa gak tau masalah cinta secara kan dia yang udah duluan menikah diantara mereka." Batin Salsa.


"Udah gak usah bete gitu mukaknya, kalo Echa emang gak bisa jawab gak mungkin bisa di paksa."


"Lagian kenapa sih Salsa tiba-tiba nanyain masalah cinta?, emang ada yang nembak loe, ada yang ungkapin perasaannya sama loe, atau malah loe sendiri yang mulai suka sama seseorang?"Alifah menengahi, tapi lebih seperti menginterogasi.


"Enggak gitu, ehm...gue cuman pengen tau aja, cinta itu gimana?"


"Ehm...Soalnya ada yang nanyain sama gue, lha gue gak tau jawabnya gimana. Gue gak pernah pacaran, deket sama cowok juga kagak, jadi mana gue tau, makanya gue iseng nanyain ke Echa, kan dia udah nikah."


"Ya walaupun gue udah nikah, tapi kalo gue emang gak tau gimana, masak harus gue paksain tau buat jawab masalah loe." Saut Echa, nada bicaranya mulai kepancing emosi. Sindy malah terkekeh geli melihat para sahabatnya, bertengkar dengan masalah yang gak jelas arahnya.


"Udah jangan berantem, masak abis olahraga lari mau olahraga mulut lagi." Alifah menengahi, lalumenarik tangan Echa keatas meja setelahnya menarik pula tangan Salsa keatas meja.


"Ayo salaman, masak gara-gara cinta malah jadi marahan." Alifah menautkan tangan Alifah dan Salsa bersalaman, tapi setelah dia lepas, tangan mereka pun kembali terlepas. Alifah mendengus kesal, memang jadi penengah para sahabatnya butuh kesabaran ekstra.


Alifah kembali diam di tempat, memikirkan gimana solusi mendamaikan dua sahabatnya. Salsa dan Echa juga masih diam-diaman.,Sindy malah menatap wajah mereka berganti-gantian, menunggu respon apa yang akan terjadi setelahnya.


Setelah diam-diaman yang memang agak lama, Kini giliran Sindy yang akan mengambil perannya.


Sambil mengulum senyum, Sindy kembali menautkan tangan kedua sahabatnya, berdua kembali  bersalaman dengan tangan Sindy yang ikut memegangi diatasnya.


Tapi kali ini Sindy tak melepas tangannya dari tangan Salsa dan Echa, tak ingin lagi terjadi kejadian serupa.


Tapi masalahnya orang-orang sekitar yang melihat, menatap mereka dengan tatapan aneh juga curiga. Sindy mah cuek saja, Echa sama Salsa yang salah tingkah dibuatnya.


Dan Alifah mulai bisa tersenyum kembali melihat tingkah absurd yang dilakukan sahabatnya.


Wajah Sindy kini mulai serius, dia mulai menyampaikan pendapatnya, soal Cinta. 


"Masalah cinta ini adalah masalah yang cukup rumit sahabat ku, jadi kita sebagai wanita penerus bangsa janganlah terlalu sibuk dengan masalah yang seperti itu, tapi kalau sahabat memaksa untuk tetap ingin tau, maka aku Sindy sebagai sahabatmu kamu dan kamu(Sindy menoleh bergantian ke Salsa dan Echa), Sindy akan setia menjelaskan."


"Jadi tetap pengen tau?" Tanya Sindy dengan gaya gemulai yang di buat-buatnya. Salsa dan Echa cepat-cepat menggeleng. 


"Lho, tadi katanya pengen tau masalah Cinta?" Berdua kembali menggeleng. Alifah sekuat tenaga menahan tawa.


Sindy menghela napas panjang. 


"Jadi beneran gak mau tau." Berdua kembali menggeleng.


"Terus kenapa masih marahan, ayo cepat maafan." Kata Sindy, masih dengan mode gemulainya. Tapi berdua kembali menggeleng.


Sindy kembali menghela napas, dia melepas tangannya pada kedua tangan mereka, Sindy berdiri dari duduknya....


"Lihat lah teman-teman, dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir, sesama sahabat pun dapat saling bermusuhan dengan satu kata yang mempunyai beribu makna, itulah dia Cinta." Sindy mengakhiri kata-katanya, tiba-tiba suara tepukan tangan menyeruak diantara mereka. Tanpa Salsa dan Echa sadari mereka sudah dikelilingi oleh orang-orang yang dari tadi nontonin mereka.


Dengan wajah kaget dan masih melongo, berdua melihat kearah meja, ternyata tangan mereka masih berpegangan. Buru-buru keduanya menarik tangan mereka.


Echa dan Salsa manggut-manggut sambil tersenyum paksa sama sekelilingnya, kesal sekaligus malu. 


Dengan sangat terpaksa mereka harus menahan malu gara-gara kelakuan Sindy. 


Berdua menoleh kearah tempat duduk Alifah dan Sindy, mereka sudah tak ada di tempat. Rupanya Alifah sama Sindy sudah kabur meninggalkan mereka.


Malu-malu Echa dan Salsa berdiri dari duduknya sambil menutup wajah mereka dengan tangan. 


Terdengar jelas suara orang sekitar seolah memberi semangat, padahal gak tau apa-apa. 


"Jangan berantem lagi ya."


"Lelaki gak cuman satu tapi sahabat hanya satu."


"Aku sayang padamu."


Mendengar ocehan absurd orang-orang, Echa sama Salsa  malah jadi salah tingkah dan semakin malu dibuatnya.


Pelan-pelan berjalan keluar dari kerumunan, setelah bebas keduanya langsung berlari sekencang-kencangnya meninggalkan tempat menyebalkan tersebut.


Satu dua suara sorak sorai masih terdengar di telinga mereka, berdua makin mengencangkan larinya hingga menjauh dari semua orang yang tadi menyaksikan kejadian memalukan mereka. 


Bodo amat dengan yang namanya cinta. Salsa sama Echa sudah saling memaafkan, dan kini mereka punya tujuan yang sama, membalas Alifah dan Sindy yang dengan tega meninggalkan mereka...😠

__ADS_1


...🙃🙃🙃...


__ADS_2