
Legenda Nero
Chapter 21 - Pelelangan (3)
Karya: yudhaneru
=================================
Akhirnya semua harta kerajaan Maja Manis yang Nero jual telah habis. Patih dan Nero mendapatkan milyaran uang sebagai hasilnya. Setelah selesai pelelangan Nero dan dr Fahri segera bergegas pulang.
"Ahh paman, terimakasih telah mengajakku kesini aku malah dapet bibit tomat ini sedangkan paman tidak dapat apa-apa aku jadi tidak enak." Ujar Nero.
"Hahaha santai saja Nero, aku juga menghadiri ini hanya tidak enak saja karena telah diundang, jadi mau dapat sesuatu atau tidak sama saja bagiku." Ujat dr Fahri.
"Oh iya paman nanti aku bayar ya bibit ini, tadi pinjam uang paman besok aku titipin di Zaskia uang gantinya." Ujar Nero.
"Ahh jangann..!! Aku sudah bilang padamu kau adalah keluargaku sekarang, jika kau membeli sesuatu yang bisa membuatmu menjadi semakin kuat justru keluargaku yang diuntungkan. Jadi jika kau butuh apa-apa katakan saja padaku, aku pasti akan membantumu selama aku mampu.. dan buatlah keluarga baru mu ini bangga." Ujar dr Fahri.
"Terimakasih paman, ya aku berjanji aku akan membuat keluarga Boyke menjadi keluarga nomor 1 di negara ahh tidak bahkan di dunia. Biar semua orang tahu bahwa keluarga Boyke tidak bisa di remehkan." Ujar Nero.
"Baguss anakku, tekad yang sungguh kuat.. kalau begitu ayo kita pulang kembali." ujar dr Fahri.
"Ya.. ayo..!!" Ujar Nero.
Sementara itu di dalam pelelangan, patih sedang menerima uang hasil dari menjual harta.
"Ini sudah semua ya tuan, jumlahnya 25 milyar.. dan juga kotak misterius yang kau beli tadi sudah ada di dalam kantung penyimpanan ini." ujar pelayan.
"Hooo.. baiklah terimakasih, aku pamit dahulu." Ujar patih.
"Tunggu dulu tuan Galih..!!" Tiba-tiba Lily berlari menghampiri patih.
"Huh? Ada apa gerangan nona cantik ini mencariku? Kebetulan sekali aku ingin pamit undur diri, dan terimakasih banyak atas jamuan dan juga bantuannya sudah menjual barang-barangku." Ujar patih.
"Ahh tuan Galih, apa kau akan pergi? Kapan kau kembali lagi kesini? Jika ada yang ingin kau lelang silahkan langsung menghubungiku saja ya.." ujar Lily.
"Ya tentu nona, aku pasti akan menghubungimu nanti.." ujar patih.
"Hihi janji yaa..!!" Ujar Lily sambil mencium pipi patih.
"Daaa tuan Galih, semoga kita bisa bertemu lagi.. hihi" ujar Lily.
"Haihhh.. jika saja aku masih dalam wujud asliku, sudah ku terkam dia, akan kujadikan istri ke 26. Hahaha" gumam Patih.
Patih lalu pergi meninggalkan rumah pelelangan, dan segera menghubungi Nero dengan telepati.
"Hoii bocah, sudah semua nih, uang dan juga peti anehmu, dimana kau sekarang?" Ujar patih.
"Ahh patih sini cepat,kita sudah mau jalan pulang. Kita ada di depan gerbang." Ujar Nero.
"On the way..." ujar patih.
Patih segera bergegas menuju pintu gerbang, namun di tengah jalan dia di hadang oleh Tuhur dan beberapa anak buahnya.
__ADS_1
"Yooo.. galihh si uang berjalan. Hahaha kebetulan kita bertemu disini, area ini sudah bukan termasuk kedalam area pelelangan, jadi kita ber 2 bebas melakukan apapun disini. Aku belum membalas perbuatanmu tadi di dalam, apa tadi yang kau katakan?" Ujar Tuhur.
"Haihhh, bocah apa aku boleh mengamuk disini? Aku ada sedikit masalah nih." Ujar patih kepada Nero.
"Huh? Masalah apa patih? Jangan buat keributan disini, banyak keluarga besar yang datang, kita tidak akan bisa berbuat banyak jika mereka melawan kita bersamaan." Ujar Nero.
"Ahh kau benar juga, banyak orang-orang merepotkan disini.. okelah kalau begitu, dimana kau sekarang? Akan ku kirim kantung ini dengan burung bayangan, sementara aku menahan mereka disini, setelah kau dapat kantungnya, panggil aku segera ke dalam bayanganmu." Ujar Patih.
"Okee siapp, ide bagus patih..!!" Ujar Nero.
"Burung bayangan keluarlah..!! Bawa kantung ini ke Nero secepat mungkin." Ujar patih sambil mengeluarkan burung bayangannya.
"Kaaakkk...syuuttt..!!" Burung itu pun melesat segera terbang.
"Huh? Percuma saja kau membawa kabur kantung itu, pengawal cepat tangkap burung itu." Ujar Tuhur.
"Siapp boss.." ujar pengawalnya.
"Jleebbb...!!" Tiba-tiba pengawal yang mengejar kantung itu terkena panah dari bayangan pemanah milik patih.
"Siapa itu? Jadi kau tidak sendirian? Berani-beraninya menyembunyikan seorang pemanah, cepat kita serang dia semuanya." Ujar Tuhur sambil mengeluarkan relic pedangnya.
"Keluarlah relic legendaku, ular naga jawa..!" Ujar patih seraya badannya dilapisi dengan armor hijau dan mahkota berkepala ular.
"Huhh.. relic apa itu? Hanya 1 relic tapi Bisa menutupi seluruh tubuhnya dengan armor seperti itu? Siapa sebenarnya orang ini, untungnya aku sudah memanggil beberapa bantuan, aku harus menahannya selama mungkin sebelum bantuannya datang." Gumam Tuhur.
"Duakk.. bukk..!! Beberapa pengawal mencoba menyerang patih, namun tidak ada yang berhasil melukainya.
"Argghh dasar kalian pengawal tidak berguna, cepat serang lagi secara bersamaan setidaknya tahan dia sampai bantuan kita datang." Ujar Tuhur.
"Mana? Apa hanya segini saja kemampuan kalian, aku bahkan tidak beranjak dari posisiku sejengkalpun. Dimana sikap sombongmu tadi? Sepertinya saatnya aku yang menyerang ya." Ujar Patih.
"Rasakan ini, tinju ular naga... booommm..!!!" 2 orang pengawal terkena pukulan patih dan tanah disekitar pukulan patih hancur membuat lubang.
"G..gilaa sepertinya aku salah berurusan dengan orang ini, dia sangat kuat." Ujar Tuhur.
"Duarrr. . Buakkk... daaarr...!! Patih mengamuk menghajar pengawal-pengawal Tuhur.
"Settt.. takkkk..!!" Tiba-tiba seseorang datang dan menghadang pukulan patih dengan 1 tangan.
"Huh? Dia berhasil menghadang pukulanku dengan 1 tangan, sepertinya orang ini tidak sembarangan." Gumam patih.
"Kak Balin akhirnya kau datang..!! Hahaha rasakan itu Galih inilah saat-saat terakhirmu." Ujar Tuhur.
"Heiiii siapa yang berani mengganggu adikku, harus berurusan denganku. Hehe" ujar Balin.
"Hmm.. orang ini sepertinya berada di tingkat bumi lapisan pertama sama sepertiku, pasti akan cukup merepotkan nih. Nero lama sekali, apa belum sampai juga burung itu.." gumam Patih.
"Rasakan tombakku ini, tombak badak bercula 4.." ujar Balin.
"Huh hanya relic senjata tingkat bumi tidak akan bisa menembus armor naga ularku." Gumam patih.
"Syuuttt..!!" Ujung tombak itu tiba-tiba membelah menjadi 4.
"Tak..takk..takk, ughhh.... sial aku tidak memperkirakannya bisa membelah menjadi 4 seperti itu, hampir saja aku kena." Ujar patih.
__ADS_1
"Hoho relic armormu itu sangat keras, baru kali ini aku melihat ada yang bisa selamat dari tombak badakku. Pantas saja Tuhur sampai kewalahan, sepertinya kini saatnya aku serius. Sayap burung api terbanglah.." ujar Balin.
"Ughhh sial, pengguna tombak terbang musuh paling merepotkan sejak dulu, ternyata di zaman seperti ini ada juga yang bisa menguasainya." Gumam Patih.
"Haha apa kau kaget? Inilah salah satu kemampuan pasukan keluarga Lunglung, pasukan tombak terbang aku adalah ketua dari squad tersebut. Saatnya kau mati, karena sudah berani-berani berurusan dengan keluarga Lunglung." Ujar Balin.
Semetara itu di sisi Nero.
"Kaaaakkk....!! Ahh itu burung patih.. masuklah kedalam ruang virtual..!!" Ujar Nero.
"Syuuuttt..." burung itupun masuk.
"Yosshh.. patih dimana kau? Bagaimana keadaan disana?" Tanya Nero.
"Tidak baik, aku sedang berurusan dengan seorang pemekat tingkat bumi sekarang, apa burung itu sudah sampai? Cepat kau tarik aku kembali, armorku sudah cukup banyak menahan serangan aku takut dengan kekuatanku sekarang aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi." Ujar patih.
"Sudah patih, ayo kembalilah kedalam bayanganku." Ujar Nero.
Sementara itu serangan Balin sedang melesat dari atas ke arah patih.
"Syuuuttt... mati kau sampaahhh..!!" Ujar Balin.
"Kau cukup hebat, hanya saja waktuku tidak banyak saat ini.. jika kita bertemu lagi saatnya kita bertarung dengan serius. Hehe dadaa.." ujar patih kembali kedalam bayangan Nero.
"Duaaaarrrrr...!!!" Suara serangan Balin yang menabrak tanah.
"Siaaaalllll...!! Kemana dia..., jurus apa yang dia gunakan bisa menghilang seperti itu." Ujar Balin marah.
"Ahh kakak, bagaimana apa dia berhasil kau bunuh? Ahh jubah ini? Kau berhasil menghanguskannya kak? Sampai hanya jubahnya yang tersisa? Kau memang hebat kak. Ujar Tuhur.
"Dasar bodoh, dia kabur bodoh.. tiba-tiba tubuhnya masuk kedalam tanah dan jubahnya tertinggal tidak ikut bersamanya." Ujar Balin.
"Ahhh sial, dia orang yang mempunyai banyak harta langka kak, kita harus mencarinya." Ujar Tuhur.
"Ya bawa jubahnya, siapa tau disana ada petunjuk. Dan ayo kita segera laporkan ini pada paman Gana." Ujar Balin.
"Baik kak..!!" Ujar Tuhur.
Sementara itu Nero dan dr Fahri sudah berangkat pulang menuju akademi.
Sesampainya mereka di akademi hari sudah menjelang sore, Nero langsung berpamitan dengan dr Fahri sesaat mereka sampai di akademi.
"Haaahh.. akhirnya sampai juga di rumah. Tok.. tok.. tok oiii bonii bukain pintu ini aku Nero." Teriak Nero sambil mengetok pintu asrama.
"Iyaaaa tunggu, tungguu...!!" Ujar Boni.
"Haihhh jam berapa ini, udah molor aja." Ujar Nero.
"Ehhh semprul, enak kau tadi gak masuk.. tadi di kelas ada pelajaran fisik badanku remuk-remuk semua, enak kau malah izin. Ditanyain guru Andi tuh, izin mulu.. untung Zaskia bilang kepentingan keluarganya dan kekuargamu, tapi di kelas jadi malah tersebar rumor katanya kalian berdua telah dijodohkan. Haha" cerita Boni.
"Apaaa..?? Ada-ada saja.." ujar Nero menepuk keningnya.
"Okelah aku pergi mandi dulu, kau lanjutkan saja tidurmu." Ujar Nero.
"Iyalaah udah ngantuk banget ini." Ujar Boni.
__ADS_1