
Legenda Nero
Chapter 23 - Gunung Salak
Karya: yudhaneru
================================
Akhirnya libur pun tiba, akademi ini sebelum memulai turnamen biasanya selalu meliburkan murid-muridnya 1 bulan untuk melakukan beberapa persiapan, seperti berlatih, menyiapkan pusaka atau relic, jurus beladiri, dan lainnya. Lalu tibalah saatnya Nero dan Irene pergi menuju gunung salak, pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat dengan menggunakan kuda milik Irene. Setibanya mereka di pegunungan salak.
"Berhenti kalian anak-anak kenapa kalian berada disini? Ini area berbahaya tidak ada yang boleh masuk." Ujar salah satu penjaga.
"Permisi pak, kami sudah mempunyai izin langsung dari kepala negara. Ini izinnya." Ujar Irene.
"Huh..? Nona muda, maaf atas kelancanganku, tapi tempat ini sangatlah berbahaya dan kalian anak-anak dilarang disini." Ujar penjaga itu.
"Lihat izin ini pak, ini adalah izin khusus dari ayahku, beliau percaya kami mampu menjelajahi gunung ini." Ujar Irene sambil mengeluarkan surat izinnya.
"Huh benar ini adalah izin khusus, baiklah seilahkan masuk nona, tapi bawalah ini.. ini adalah suar api, tembakkan ini ke udara maka kami akan tau posisi anda dan akan segera membantu anda jika anda dalam bahaya." Ujar penjaga.
"Baiklah terimakasih pak, ayo Nero kita pergi." Ujar Irene.
Irene dan Nero mulai memasuki gunung salak.
"Uhhh kenapa sepi sekali disini, tidak ada monster maupun hewan lainnya. Kalau begini terus pasti akan mudah." Ujar Irene.
"Dasar bodoh, apa kau tidak sadar daerah ini sangat luas bahkan lebih luas dari hutan raya bogor dan tidak terlihat 1 monster pun, berarti penghuni gunung ini sangatlah buas." Ujar Nero.
"Apa maksudmu Ahool? Ayahku tidak berani melawan Ahool selama ini, tetapi kau ini berani sekali apa kau tidak terlalu meremehkannya?" Tanya Irene.
"Huh.. asal kau tau saja di kehidupanku dulu Ahool lah yang menghancurkan kota kita.. saat bangsa iblis menyerang, mereka memanfaatkan kekuatan Ahool untuk menyerang kota kita. Kami semua mengungsi di bawah tanah dan membuat siasat bagaimana cara mengalahkan Ahool. Akhirnya kita menemukan sebuah catatan sejarah, kalau ternyata dibagian belakang lehernya Ahool terdapat luka dalam yang sebelumnya dibuat oleh salah satu pemimpin negara yang sebelumnya. Akhirnya Ia berhasil dikalahkan oleh paman Diego seorang diri dengan memanfaatkan luka tersebut akan tetapi paman Diego juga terluka parah, karena harus melawan Ahool dan juga beberapa iblis di malam hari dimana kemampuan Ahool sangat efektif di malam hari. Dan setelah paman Diego terluka bangsa iblis mulai mengerahkan pasukan utamanya untuk menyerang, sehingga kota kita tidak lagi selamat dan kami semua mulai mengungsi ke kota lain yang belum dikuasai iblis." Gumam Nero dalam hati.
"Sudah aku bilang kalau aku punya rencana sendiri, dan kau merusak rencanaku itu apa kau tau?" Ujar Nero kesal.
"Tenang saja aku bisa jaga diri, lagipula saat aku mendapatkan roh relic baruku dan kau mendapatkan tumbuhan obat yang kau cari kita akan segera pergi. Dan juga ada suar api ini, jika ada bahaya kita akan segara di selamatkan." Ujar Irene.
"Sebenarnya siapa disini yang meremehkan Ahool, asal kau tau saja dia bisa terbang dengan kecepatan suara, hanya sepersekian detik saja dia akan mampu berada di depan matamu. Ditambah lagi dia mampu mendeteksi berbagai musuh lewat gelombang yang ia pancarkan. Kemungkinan kita tidak bertemu dengannya adalah 0." Ujar Nero.
"Apa..?? Jadi kita pasti akan ketahuan olehnya? Sebenarnya apa rencanamu sebelumnya? Jangan bilang kau berencana melawannya langsung?" Ujar Irene.
"Tentu saja tidak, aku mempunyai beberapa tekhnik bersembunyi yang bahkan pantulan gelombang ultrasonik miliknya tidak akan bisa menemukanku. Tapi hanya aku sendiri yang bisa, dan jika dengan kau aku belum menemukan caranya kabur dari monster itu." Ujar Nero.
"Hmphh aku tidak butuh diselamatkan olehmu, aku tau caranya bertarung..!!" Ujar Irene.
"Haiiihh... karep kemu lah." Ujar Nero.
Nero dan Irene akhirnya tiba di suatu hutan yang penuh dengan tumbuhan membeku.
"Ahh disini dingin sekali, ada apa ini mengapa sampai ada es disini." Ujar Irene.
"Tunggu dulu jangan bergerak, biar aku yang periksa.
Nero pergi ke danau yang telah membeku.
"Hmm.. semua danau ini benar-benar sudah membeku ada apa disini, ini bukanlah ulah Ahool pasti ada monster lain yang menyebabkannya." Gumam Nero.
"Aaaaaahhhhhhh..!!" Tiba-tiba terdengar suara teriakan Irene.
"Heeiii.. ada apa??!?" Nero berlari menghampiri Irene.
"Toloong aku Nero, ada yang menyerangku beberapa kali tapi tidak dapat terlihat." Ujar Irene.
"Huh?? Tidak terlihat? Sepertinya monster ini memiliki kemampuan kamuflase, pantas saja dia bisa bertahan dari Ahool." Gumam Nero.
"Berlindunglah di belakangku, Rafflessia Arnoldi keluarlah." Ujar Nero sambil mengeluarkan relicnya.
"Taaakkk...!!!" Tiba-tiba ada yang menyerang Nero.
"Ughhh.. sial dia sangat cepat, dan cairan apa ini dingin sekali." Ujar Nero.
"Ahhh.. Nero tanganmu membeku, biar aku serap es ini tunggu sebentar.." ujar Irene.
"Tunggu dulu, lebih baik kita lakukan setelah menghajar monster itu aku belum tau apa dia sebenarnya. Cepat keluarkan relicmu, sepertinya kau kebal dengan serangan esnya." Ujar Nero.
"Baiklah, keluarlah Burung Hantu albino." Ujar Irene yang mengeluarkan relicnya.
"Huh bentuk apa relicmu itu? Tidak ada yang berubah?" Tanya Nero heran.
__ADS_1
"Ini.. liat mataku, dia menyatu dengan mataku dengan kemampuannya aku bisa melihat 360° dan sejauh 10 meter." Ujar Irene.
"Huh monster tipe efek ya, sangat cocok untuk seorang ahli serangan jarak jauh sepertinya." Gumam Nero.
"Baiklah kau bertugas mengawasi, aku akan membidik lokasi arah datangnya serangan." Ujar Nero.
"Siapp..!!" Ujar Irene.
"Syuuuttt...!!" tiba-tiba terdengar suara serangan.
"Hati-hati Nero dari kananmu..!!" Ujar Irene.
"Langkah cahaya..!!" Nero berhasil menghindarinya.
"Rasakan ini jarum beracun..!!" Nero melempar relicnya ke arah datangnya serangan.
"Ssskkk....ssskkkk" tiba-tiba terlihat sekilas bayangan monster di atas pohon yang bergerak menghindari serangan Nero.
"Dia cukup cepat juga, Irene cepat makan ini..!!" Ujar Nero.
"Huh apa ini?" Tanya Irene heran.
"Sudah makan saja, itu anti racun Rafflesiaku.. aku akan menggunakan gas beracun untuk memperlambat gerakan monster itu." Ujar Nero.
"Oke.. glekk..." irene memakan pil anti racun Nero.
"Yosshhh rasakan ini jurus baru relicku, jurus efek.. gas beracun." Ujar Nero sambil menancapkan jarumnya di tanah, seketika gas muncul dari jarum yang ditancapkan Nero.
"Hehe roh Refflesiaku sudah tumbuh dari tunas menjadi kuncup bunga, tinggal menunggu mekar saja sampai dia bisa mengeluarkan kemampuan sebenarnya. Saat menjadi kuncup muncul kemampuan baru yaitu gas beracun.. bisa dikatakan ini tipe efek yang mengubah medan disekitar dipenuhi oleh racun." Gumam Nero.
"Kaaakkk...! Kuuukkk..!!" Tiba-tiba terdengar suara monster yang sedang kesakitan.
"Dia disana, rasakan ini jarum beracunku..!" Ujar Nero sambil melempar jarum beracunnya.
"Jlebb...!! Kuuukkkk..!!" Tiba-tiba muncul seekor bunglon raksasa yang jatuh ke tanah.
"Ahh itu adalah bunglon es monster tingkat bumi, heii Irene monster ini sangat cocok untukkmu coba kau lihat." Ujar Nero.
"Dia sepertinya monster tipe sihir, dan memiliki kemampuan alami bisa berkamuflase dengan lingkungan sekitar. Sangat cocok untuk penyihir sepertimu..!" Ujar Nero.
"Benarkah? Tapi apa aku sanggup menyerap monster tingkat bumi?" Tanya Irene.
"Hmm benar juga, tapi baik karakteristik maupun element kalian ber 2 memiliki kemiripan besar kemungkinan kau akan berhasil." Uajr Nero.
"Oke akan aku coba, apa ini sudah mati?" Ujar Irene.
"Belum tunggu sebentar lagi, sampai efek racunku bekerja." Ujar Nero.
"Ahh itu sudah mati, cepat kau serap sebelum rohnya hilang." Ujar Nero.
"Baiklah..." ujar Irene.
Irene memulai persiapan penggabungan roh dengan bunglon es. Hingga malampun tiba.
"Aaahhhhh... brrrrr.. dingin sekali." Ujar Irene yang sedang meditasi tiba-tiba mengigau berbicara kesakitan sendiri.
"Huh.. roh monster tingkat bumi sepertinya sangat berat untuknya.. aku akan membuat beberapa penghangat dengan kristal api.. hanya sampai sebatas ini aku dapat membantumu, sisanya hanya kau yang bisa menentukan sendiri." Ujar Nero.
5 hari sudah berlalu, Nero membuat kemah disekitar danau yang sudah tidak membeku lagi. Sementara Irene belum juga bangun dari meditasi penciptaan relicnya.
"Ujang, tolong jaga Irene disini sementara aku pergi mencari sarang Ahool." Ujar Nero kepada ujang.
"Baik tuan.. hati-hati." Ujar ujang.
Nero mulai berkeliling gunung sambil mencari sarang Ahool. Ditengah jalan ia juga mendapatkan berbagai tanaman obat, dan bahan-banah kemenyan, dll. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah gua di balik puncak gunung salak.
"Huh..? Gua apa ini? Mungkinkah ini sarangnya? Coba aku cek mumpung belum malam, jika hari sudah gelap Ahool sangat berbahaya." Gumam Nero.
Nero mencoba masuk kedalam gua.
"Wow banyak kristal element disini, ini sangat cocok untuk membantu meditasi pemekatan element dan semua jenis element ada disini, benar-benar surga." Ujar Nero.
Sementara Nero menambang kristal di gua aneh tadi, Irene terbangun dari meditasinya.
"Huh..? Akhirnya aku berhasil.. relic bunglon ini berbentuk syal, dan kemampuan es ku rasanya semakin kuat. Ngomong-ngomong dimana ya Nero." Ujar Irene sambil mencari Nero di sekitar.
"Syuutt.." tiba-tiba Irene melihat ada seseorang yang mengintip dari balik pohon. "Siapa kau? Keluarlah.." ujar Irene.
"Tuann...tuann.. haloo... ah kenapa telepatinya tidak bekerja? Bagaimana ini, gadis itu sudah bangun, dan dia ingin menyerangku, apa yang harus aku lakukan." Gumam Ujang kebingungan.
"Cepat keluar atau aku akan menyerang..!!" Ujar Irene.
__ADS_1
"Uhh.. disaat seperti ini kemana si Nero, dia laki-laki atau bukan sih berani-beraninya meninggalkan seorang wanita sendirian di hutan.. kalau ketemu nanti akan aku pukul dia. Tapi apa sebenarnya di balik pohon itu? Apa seekor monster? Kalau begitu langsung aki serang saja lah." Gumam irene.
"Keluarlah relic bunglon, relic burung hantu.. serangan tombak es.. syuuuttt..!!" Ujar Irene sambil melemparkan serangannya ke arah ujang.
"Duarrrr...!!" Seketika pohon tempat ujang bersembunyi membeku lalu hancur.
"Huh..? Lumayan juga serangan gadis itu, untung kekuatanku sudah kembali berkat tuan Nero, jika tidak aku pasti sudah membeku.
"Siapa kau??" Tanya Irene.
"Tenang nona aku bukanlah orang jahat, aku disini untuk menjagamu atas arahan seseorang." Ujar Ujang.
"Huh apakah ayahku?" Gumam Irene.
"Kalau begitu bilang pada tuanmu, aku sudah besar tidak perlu dilindungi lagi. Aku bukan putri kecilnya lagii..!!" Teriak Irene kesal.
"Huh?? Putri? Apa tuan Nero adalah ayahnya? Apa mungikin anaknya seumuran dengannya? Aku bingung." Gumam ujang bungung.
"Tapi nona disini sangat berbahaya, kau tidak bisa sendirian... nanti tuanku marah." Ujar Ujang.
"Diammm..!! Cepat kau pergi atau akan aku serang kau..!!" Teriak Irene.
"Ahooooooolllll....!!! Ahooolllllll..!!" Tiba-tiba terdengar seuara aneh dari kejauhan.
"Huh suara apa itu?"ujar Ujang.
"Ahool?? Tidak mungkin, apakah itu Ahool yang Nero maksud?" Ujar Irene.
"Syuuuttt... wrrrr..wrrr... tiba-tiba saja seekor kelelawar yang sangat besar terbang diatas mereka.
"Huh monster apa itu? Sial hawa membunuhnya sangat menekan, aku sampai merinding." Gumam Ujang.
"Aaahhh.. a..a.. ayah tolong aku... huu... huu tolong!! Irene baru pertama kali merasakan bahwa kematian telah berada di depan wajahnya, seketika tubuhnya tidak bisa bergerak, untuk berbicarapun sulit karena hawa membunuh Ahool yang sangat menekan.
"Ahh gadis itu sepertinya tidak bisa bergerak, anak kecil sepertinya mungkin sudah pingsan jika merasakan tekanan seperti itu, sedangkan dia berhasil bertahan.. mental yang luar biasa.. ahh meskipun tidak bisa dibandingkan dengan tuanku.. kalau dia mah anak ajaib.Haha ahh aku harus segera membantunya..!!" Gumam Ujang.
"Rasakan ini monster jelek..!!" Ujar Ujang yang melompat menyerang Ahool.
"Kaaakk Ahooolll.." Ahool menembakkan gelombang super soniknya ke arah Ujang.
"Buaakkk... gabrukkk...bruakkk..!!" Ujang terlempar jauh akibat serangan Ahool.
"Ahhh kuat sekali dia, kupingku sakit sekali, tidak gadis itu dalam bahaya sekarang.. bagaimana ini, tuan Nero tidak dapat dihubungi.. bagaimana cara menggunakan telepati ini.." gumam Ujang kebingungan.
Ahool menghampiri Irene yang sedang menangis, sldan segera ingin menyerangnya.
"Seeettt... jlebb..." tiba-tiba sebuah jarum jatuh dan mengeluarkan asap beracun.
"Ireeenneeeee sadarlaaahh...!! Kau tidak akan bisa menyelesaikan apa-apa hanya dengan menangis, cepat sadar dan pergi dari sana..!!" Teriak Nero.
"Ahh Nerooo...!! Tolongg aku tidak bisa bergerak, aku tidak tau apa yang terjadi dengan tubuhku ini terasa sangat berat." Ujar Irene.
"Ahh dia terkena tekanan hawa membunuh Ahool, sial aku memang terlalu gegabah mengijinkannya ikut." Gumam Nero.
Sementara itu Ahool pergi menjauh dari Irene, karena merasa ada sesuatu yang ganjal pada asap yang dihasilkan jarum Nero.
"Ahooooolllll...!!" Seketika Ahool menyerang Nero.
"Ahh... Patih tolooong..!!" Patih segera keluar dari ruang virtual Nero.
"Relic naga hijau, Duakkk..!! Patih menangkis serangan Ahool.
"Gilaa... armorku hampir pecah oleh serangan barusan.. dia sangat berbahaya Nero, cepat kita pergi dari sini." Ujar patih.
"Tidak mungkin patih, dia sangat cepat tidak mungkin kita bisa kabur darinya." Ujar Nero.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Ujar patih.
"Cih saat ini masih malam hari, sangat berbahaya melawan Ahool. Sial lebih baik aku fokus menyelamatkan Irene dulu saja, huh dia sudah pingsan?? Aihhh jangan-jangan karena efek anti racunku sudah habis dia pingsan keracunan jarumku. Tapi untung saja hanya menghirup sedikit dia hanya akan pingsan sementara waktu, dengan begini aku bisa memmasukannya ke dalam ruang virtual." Gumam Nero.
"Ujang bantu patih cepat, gunakan relicmu..!" Teriak Nero.
"Nero kita gunakan cara seperti di tempat pelelangan saja, kau cepat lari sejauh mungkin, lalu kami akan kembali ke dalam bayanganmu sekiranya kau telah berada cukup jauh dari jangkauan monster ini." Ujar patih.
"Baiklah, berhati-hatilah patih saat malam keluatan Ahool sudah setara dengan para monster tingkat legenda." Teriak Nero.
__ADS_1
"Cih kau telat memberitahunya, aku juga sudah menduganya, monster ini benar-benar sangat kuat..! Ujar patih.