Legenda Nero

Legenda Nero
Chapter 26 - Relic Roh Ahool


__ADS_3

Legenda Nero


Chapter 26 - Relic Roh Ahool


Karya: yudhaneru






==================================





Nero bersama dengan roh Rafflesia masih mencoba bertahan dari serangan energi Ahool, mereka menemukan titik buntu tidak memiliki rencana apapun. Hingga akhirnya..



"Syyuuuhhhh....!! Rrrrrrrr....!!" Tiba-tiba energi putih itu membesar, dan semakin lama semakin menyingkirkan roh Ahool.



"Ahh kenapa dengan roh Rafflesia? Mengapa ini makin membesar?" Ujar Nero heran.


"Swiinggggg....!!! Blaaarrrr...!!" Energi Rafflesia meledak dan membuat energi Ahool terpental.



"Aarrgghhh bagaimana mungkin? Jadi kau adalah monster tingkat langit? Jadi kau belum tumbuh secara sempurna? Sial ada-ada saja..!!" Ujar Ahool kesal.



"Apa?? Kau sudah tumbuh secara sempurna Rafflesia? Itu berarti bungamu sudah mekar? Woow hebat sekali, disaat seperti ini.. ini kesempatan bagus, dengan tambahan kekuatan roh tingkat langit aku bisa mengalahkan roh Ahool." Ujar Nero.



"Ciihh hanya ditambah roh tingkat langit yang baru saja terbangun tidak akan memberikan efek apapun, sekarang waktunya kau mati..!! Ujar Ahool sambil maju menyerang jiwa Nero.



"Hehe kita lihat saja siapa yang akan memakan siapa, kita selesaikan disini...!!" Ujar Nero maju menyerang.



Sementara Nero melakukan penciptaan relic dengan roh Ahool, sudah 2 minggu berlalu semenjak kejadian di gunung salak, master Diego melanjutkan pencarian Nero yang belum juga ditemukan, dan juga memeriksa keberadaan Ahool yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak.



"Kita sudah menelusuri semua tempat di gunung ini, tapi belum juga menemukan apapun.. dimana anak itu sebenarnya? Bahkan jika ia mati seharusnya mayat atau tulangnya ada.. tapi ini bahkan sehelai rambutpun tidak kita temukan." Ujar Bimo.



"Ya bahkan yang anehnya lagi, monster kelelawar raksasa yang bisa membuat master dan Arthur tidak dapat bertarung lagi, menghilang tanpa jejak. Sungguh misterus gunung ini." Ujar Sila.



"Ya tapi nona Irene bersikeras temannya ini tidak mungkin mati, dia bilang temannya ini sangat cerdik dan tidak seperti anak-anak lain kebanyakan dia seorang genius. Tapi sepintar apapun anak itu, aku rasa dia sudah mati bahkan master Diego yang seorang tingkat langit pun kewalahan melawan monster gila itu, merasakan aura membunuhnya saja sudah membuatku gemetar." Ujar Bimo.



Di kediaman master Diego, Irene sedang dikurung oleh ayahnya karena bersikeras ikut dengan tim pencari Nero. Sementara master Diego sedang beristirahat memulihkan kekuatannya.



"Ayaaahhh keluarkan aku..!! Atau akan aku bekukan seluruh tempat ini." Teriak Irene.


"Tenang lah kau nak, apa kau tau seberapa berbahayanya monster itu, kami sudah mengerahkan beberapa 10 penjaga elite dalam tim pencarian aku yakin mereka akan segera menemukan temanmu itu." Ujar master Diego.



"Tidaakk ayah, apa kau tau dia berkali-kali menyelamatkan ku.. dia menyembuhkan penyakit aliran energiku, juga membantuku mendapatkan bunglon es ini sebagai relic." Ujar Irene.


__ADS_1


"Apaa..?? Bunglon es katamu? Bukankah itu monster tingkat bumi? Bagaimana caramu mengalahkannya?" Ujar master Diego kaget.



"Sudah aku bilang temanku ini bukan orang sembarangan, bahkan dia memiliki roh iblis Rafflesia Arnoldi yang belum lama ini hilang di kebunraya bogor." Teriak Irene.



"Apaaaa...?? Roh Rafflesia Arnoldi? Bukankah dia teman sekelasmu? Di tingkat apa dia menyatu dengan Rafflesia? Banyak pemekat yang mengincarnya dari dulu namun tidak mampu menembus gas beracunnya bahkan seorang tingkat bumi.



"Dia mendapatkan roh Rafflesia saat mencapai tingkat dasar ayah, tapi masih dalam berbentuk tunas." Ujar Irene.



"Jadi begituu, mengapa aku baru terpikirkan cara seperti itu, apa temanmu ini tidak sengaja menemukan tunasnya? Benar-benar anak yang beruntung." Ujar master Diego.



"Jadi kau pikir dia hanya anak yang beruntung? Menurutku tidak ayah, dia sudah menunggu moment dimana tunas itu akan muncul, dan bukankah aneh jika tunasnya berada jauh dari induknya? Itu tidak mungkin..Tunas pasti berada di sebelah induknya, dimana saat kami pergi ke hutan raya bogor monster Rafflesia sedang menguatkan pertahanan di area sekitarnya, area cakupan racunnya mengecil tetapi ketebalannya bertambah. Bahkan saat itu sangat mustahil untuk mendekat ke arah Rafflesia." Ujar Irene.



"Jadi menurutmu, dia memakai sebuah cara agar bisa masuk kedalam gas beracun Rafflesia?" Tanya master Diego.



"Ya aku yakin ayah, dia sangat jenius.. sejak pertama masuk akademi dia sama sekali tidak bisa merespon 1 pun kristal element, secara pengetahuan itu sangat mustahil baginya untuk mencapai tingkat dasar, akan tetapi dia berhasil mencapainya diumur sepertiku yang memiliki bakat 3 element." Ujar irene.



"Ahhh.. semakin kau bilang begitu semakin aku menyesal telah meninggalkannya dulu. Jika dia masih hidup dia akan menjadi harapan besar untuk bangsa ini." Ujar master Diego.



"Tidakk...!! Dia pasti belum mati ayah, dia bahkan melawan bunglon es tingkat bumi seperti bukan apa-apa. Dia sangat pintar pasti memikirkan sebuah cara." Teriak Irene.



"Tenang lah nak, aku juga berharap begitu aku ingin sekali bertemu dengannya.. hanya saja dari pengalamanku melawan Ahool, dia sangat jauh berbeda dengan monster tingkat bumi, dia seekor monster setingkat dengan monster Legenda, bahkan aku dan Arthur tidak mampu menghentikannya." Ujar master Diego.




"Tidaaaakkk...!! Kau sudah aku anggap sebagai anakku.. bukankah kau sudah berjanji akan mencapai puncak dunia membawa nama keluarga ini?" Ujar dr Fahri menangis.



"Tidaakk... aku tidak percaya, tidak mungkin Nero mati dia pasti selamat, bahkan dia berhasil kabur dari sarang burung api tanpa terluka, dan menyerang monyet berwajah merah dengan mudah.. tidak mungkin dia mati...!! Ayo ayah kita segera mencarinya." Teriak Zaskia



"Tapi yang menyerangnya adalah monster tingkat langit yang sebenarnya berada di tingkat legenda, kemungkinannya sangat kecil dia bisa selamat." Ujar dr Fahri.



"Apa ayah lupa monster yang mengutukku adalah monster legenda juga? Akan tetapi Nero bisa menyegelnya bahkan akan membantuku mengalahkannya? Apa ayah lupa?" Ujar Irene.



"Huhh.. kau benar sayang, aku juga masih berharap kalau dia masih hidup, akan aku utus beberapa kelompok untuk mencarinya, dan meminta bantuan Agung untuk membantu." Ujar dr Fahri.



"Baik ayah terimakasih banyak, aku dan teman-teman juga akan membantu mencari beberapa informasi tentangnya." Ujar Zaskia.



"Baik nak, dan kita juga sepertinya sudah harus memberitahu orang tuanya mengenai masalah ini." Ujar master Diego.



Pencarian Nero terus berlanjut, banyak tim pencari yang diutus untuk menemukannya.. dari pemerintahan, keluarga Boyke, dan keluarga Jati. Hingga waktu turnamen akademi telah tiba, guru Andi yang sedang berduka akibat hilangnya Nero salah satu murid terbaiknya berencana mengeluarkan Nero dari list pertandingan. Akan tetapi teman-teman Nero mencoba menghentikan gurunya.



"Tidak guru.. kami yakin Nero akan kembali, dia tidak akan mati semudah itu, kami semua percaya padanya." Ujar ke-9 teman terbaiknya.


__ADS_1


"Aku tau kalian sangat sedih, aku juga tidak mau seperti ini terjadi. Tapi jika memasukkan namanya kedalam list dan lalu kalah tanpa bertanding, bukankah malah akan menjelekkan namanya? Lebih baik kita berdoa bersama untuknya, biarkan namanya harum sebagai murid yang bersinar dari kelas terburuk." Ujar guru Andi.



"Tidak guru, kami mohon beri Nero 1 kesempatan lagi.. dia pasti datang, kami yang akan bertanggung jawab jika dia kalah, kami akan meminta maaf padanya." Ujar Boni.



"Bagaimana kalian bisa sangat percaya padanya sampai seperti ini. Bukankah master Diego sendiri yang mengumumkan kematiannya, jika kalian sangat yakin seperti ini aku semakin tidak bisa menerima kematiannya, dia tidak akan tenanag disana jika kita yang disini tidak menerimanya." Ujar guru Andi sambil mengeluarkan sedikit air matanya.



"Ya guru..!! Jika dia tidak tenang disana biarkan saja, akan tetapi jika dia masih hidup dan tahu bahwa teman-teman dan gurunya yang sudah ia anggap sebagai keluarganya tidak percaya padanya. Aku yakin dia akan lebih kecewa pada kita semua." Ujar Boni.



"Hhuuuh kau benar boni, maafkan aku terlalu sedih atas kehilangannya.. baiklah aku tidak akan mengeluarkannya dari turnamen ini. Aku pergi ke panitia dulu untuk memberitahukannya." Ujar guru Andi.



Guru Andi menuju ruang para panitia dan guru berkumpul, ternyata disana sedang terjadi keributan antara panitia dengan guru Tito.



"Apa yang kalian tunggu, cepat segera keluarkan dia dari turnament ini.. bukankah master Diego telah mengumumkan dia telah tiada." Teriak guru Tito pada panitia turnament.



"Tenang guru Tito, kami tidak bisa mengeluarkannya begitu saja harus ada persetujuan dari wali murid kelas E." Ujar panitia.



"Ada apa ribut-ribut ini? Kalian menyebut aku barusan?" Ujar guru Andi yang tiba-tiba datang.



"Ahh ini dia walinya si murid pembawa masalah, cepat kau urus dia keluarkan dia dari turnamen ini. Kau sudah dengar sendiri kan kalau dia telah mati. Hahaha bahkan berani bertaruh denganku, bocah sepertinya memang pantas mati." Ujar guru Tito.



"Diam kau bodoh..!!" Ujar guru Andi yang pergi melewati guru Tito begitu saja tanpa menghiraukannya.



"Andiii..!! Berani-beraninya kau." Teriak guru Tito.



"Diam.. atau akan aku bunuh kau..!!" Ujar guru Andi sambil menatap tajam guru Tito dengan hawa membunuh yang sangat kuat.



"Ughhh...!!" Seketika guru Tito mundur kebelakang karena takut dengan hawa membunuh guru Andi.



"Cih.. kali ini kau akan kubiarkan, tidak untuk lain kali." Ujar guru Tito yang berjalan pergi meninggalkan ruangan panitia.



"Maaf saya mengganggu datang kesini, hanya saja saya benar-benar memohon kepada anda untuk tidak mengeluarkan Nero dari pertarungan. Kami semua percaya kalau dia akan datang." Ujar guru Andi.



"Pak Andi tenang saja kami tidak akan mengeluarkan peserta tanpa seizin dari wali kelasnya. Hanya saja untuk urutan pertandingan kami tidak bisa mengubahnya, sedangkan murid pak Andi harus bertarung di awal pertarungan melawan murid dari kelas A." Ujar panitia pertandingan.



"Tidak bisakah kau menukarkannya dengan peserta lain? Aku mohon sekali padamu, hanya beberapa pertandingan saja." Ujar guru Andi.



"Aku minta maaf sekali pak Andi, jika urutan peserta di ubah itu akan merusak data kami. Kepala sekolah pun pasti tidak akan mengizinkannya." Ujar panitia.



"Haah baiklah kalau begitu, maafkan aku sudah merepotkanmu." Ujar guru Andi sambil berjalan kembali ke tempat kelas E.



__ADS_1


__ADS_2