Legenda Nero

Legenda Nero
Chapter 22 - Lembaran Misterius


__ADS_3

Legenda Nero


Chapter 22 - Lembaran Misterius


Karya: yudhaneru






===============================





Nero pun mandi dan membersihkan dirinya di dalam asrama. Setelah selesai semuanya, Nero pergi ke ruang virtual untuk melihat-lihat apa saja yang sudah ia dapatkan.



"Patihh... keluarlah..!!" Ujar Nero.


"Yooo nak, gimana? Udh sampai asrama?" Tanya patih.


"Udah patih kita berhasil, panen nih dapet segini banyak. Hahaha" ujar Nero senang.


"Haaahh kau enak tinggal duduk, aku yang paling berjasa disini bahkan sampai bertarung dengan si keluarga Lunglung sialan itu..!!" Ujar patih kesal.



"Hehe terimakasih banyak patih, aku akan mengabulkan 1 permintaan deh, kau tinggal bilang saja kau mau apa." Ujar Nero.


"Serius?? Haha nanti akan ku pikirkan, kalau gini kan sama-sama enak. Hehe" ujar Patih.


"Haahh dasar.. tapi jangan yang susah-susah ya patih." Ujar Nero.


"Tenang saja.. hehe" ujar patih.



"Oh iya patih, ayo kita periksa kotak ini.." ujar Nero.


"Ahh kotak aneh ini ya, apa kau tahu isi kotak ini sampai harus membelinya dengan emas mahal?" Ujar patih.


"Tidak.., hanya saja aku agak familiar dengan aura yang dikeluarkan kotak itu, samar-samar aku pernah merasakannya di suatu tempat di kehidupanku yang lalu." Ujar Nero.



"Hmm begitu.. akan kucoba buka.. duaarrrr..!!! Argghhh apa itu energi yang sangat kuat, sesaat aku tidak dapat melindungi diriku dengan element, seperti elementku di netralisir." Ujar patih yang terpental kebelakang.



"Tunggu sebentar patih, ada tulisan kuno di kotaknya. Hmmm air bertemu api, api bertemu metal, metal bertemu angin, angin bertemu tanah, dan tanah bertemu air. Hmm.. kata-kata ini mirip seperti dengan kata yang ada di buku pemekatan element suciku? Apa maksudnya ini? Mungkinkah cara membukanya hanya bisa oleh pengguna 5 element.. akan ku coba." Ujar Nero sambil mencoba membuka dengan kekuatan 5 element.



"Klakkk.." tiba-tiba saja kotak itu terbuka


"Ahh ternyata benar harus pemekat 5 element yang membukanya. Huh..? Apa ini? hanya selembar kertas?" Tanya Nero Heran.



"Tapi aura kertas itu sangat aneh Nero, seperti menyimpan kekuatan besar di dalamnya.." ujar patih.


"Ya kau benar patih, aku juga belum pernah lihat kekuatan seperti ini sebelumnya tapi kenapa tidak ada tulisan ataupun gambar di kertas ini? Apa mungkin kita harus mengumpulkan semua lembarannya terlebih dulu untuk membuat isinya muncul." Ujar Nero.



"Hmm manakutahu nak, bahasa aneh tadi pun aku heran kau bisa membacanya." Ujar Patih.


"Itu bahasa kerajaan persia kuno ribuan tahun lalu patih, dulu mau tidak mau aku harus bisa berbagai bahasa untuk bisa bertahan hidup.. karena hidup berpindah-pindah dari negara 1 ke negara lainnya." Ujar Nero.



"Untuk saat ini simpan saja kertas ini di kotak, sepertinya belum saatnya aku mengetahui isi kertas ini." Ujar


Nero.


"Ahh ya bibit tomat ini, dimana kita akan menanamnya?" Tanya patih.


"Ohh.. itu bisa kita tanam disini patih, ruangan ini cukup luas dan tomat api akan tumbuh lebih cepat di ruangan yang sedikit sinar mataharinya." Ujar Nero.



"Walaupun hanya butuh sedikit, bagaimana kita mengatasi kebutuhan cahaya mataharinya?" Tanya patih.


"Hehe tenang saja paman, di daerah Tunisia sana tepatnya kota Matmata ada suku yang hidup di bawah tanah dengan menggali lubang-lubabg untuk di tinggali. Dan mereka biasa berkebun tanpa menggunakan cahaya matahari." Ujar Nero.



"Huuhh?? Lalu bagaimana bisa tumbuhan itu tumbuh? Bukankah bahan utama fotosintesis adalah cahaya matahari?" Tanya patih.


"Hehe dengan menggunakan kekuatan element tentu saja, sebenarnya jika matahari mengeluarkan sinar ultra violet maka element api jika digabung dengan tanah dan angin juga bisa menghasilkan sinar ultra violet. Suku matmata ini biasanya mempekerjakan beberapa pemekat element untuk menjaga tanamannya." Jelas Nero.



"Hooo.. jika begitu aku juga bisa ya membuat sinar ultra violet." Ujar patih.


"Tentuu sajaaa, kau ini pengendali 4 element yang sangat hebat hanya menggabungkan ke 3 element menjadi sinar UV itu hal mudah bagimu patih." Ujar Nero memuji.


__ADS_1


"Heh tumben sekali kau memuji, pasti ada maunya kalau begini nih.." ujar patih curiga.


"Hehe tau saja patih, tolong rawat tomat ini di dalam patih siram setiap hari dan jangan lupa terkadang sinari dia juga ya. Hehe" ujar Nero.


"Cihhh aku sudah tau tujuanmu, dasar kau anak malas." Ujar patih kesal.


"Hahaha patih memang yang terbaik, baiklah mulai sekarang roh mu akan aku tinggal disini." Ujar Nero



Seusai membongkar semua hasil lelangnya, dan juga menyiapkan beberapa pot untuk menanam bibit tomat api, Nero pergi tidur. Pagi harinya Nero dan Boni berangkat sekolah seperti biasa.



"Haaahhh hari ini lagi-lagi ada pelajaran ketahanan fisik, aku paling benci pelajaran ini capek sekali." Keluh Boni.


"Haihh kau ini malas sekali, semakin kuat kekuatan fisikmu maka semakin kuat pula kau saat pertarungan. Jangan hanya mengandalkan kekuatan elementmu saja, kekuatan fisik juga sangat penting untuk pertarungan refleks dan juga kelincahan." Ujar Nero.


"Yaa. Yaa. Yaa siapp pak guru.." ledek Boni.



Sesampainya mereka di kelas.



"Neroo Irene si dewi sekolah mencarimu, gila kemarin Naomi dari kelas B sekarang Irene dari kelas A kau ini sebenarnya pakai pelet apa?" Ujar anak-anak kelas E.



"Huh? Duhh si cewek galak itu, mau apa dia bertemu denganku..?" Gumam Nero.


"Oitt ada apa mencariku apa kau perlu sesuatu?" Tanya Nero.



"Huh? Kenapa kau baru datang? Sudah jam berapa ini?" Tanya Irene.


"Huhh?? Ya atuh terserah aku mau datang jam berapa, memang apa urusan mu? hadeehh.." ujar Nero malas.



"Aku sudah dari tadi menunggumu disini, kau pikir aku tidak lelah." Ujar Irene.


"Laahh mana aku tau kau mencariku, kau tidak bilang sebelumnya. Sudahlah apa sebenarnya keperluanmu?" Ujar Nero.



"Huh.. aku ingin membalas budi padamu berkat metode berendam dalam kristal api aliran energiku kini sudah sangat jauh membaik. Akan aku kabulkan 1 permintaanmu, apapun itu uang, senjata, buku sihir, apapun yang kau inginkan." Ujar Irene.



"Haiihhh sudah aku bilang aku tidak membutuhkan apapun darimu, ehh tunggu dulu oke aku punya.. aku punyaa.. tolong minta ayahmu untuk memberikan aku izin memasuki pegunungan salak, aku membutuhkan sesuatu disana." Ujar Nero.




"Haahh tenang saja apa kau lupa, aku bisa bergerak secepat cahaya seperti yang kau lihat kemarin. Tidak akan ada yang bisa menangkapku." Ujar Nero.



"Tetap saja kau bodoh ya, ayahku bahkan bisa bergerak lebih cepat darimu tapi dia tidak berani ke gunung itu, disana dikabarkan ada monster raksasa yang mempunyai sihir gelombang suara, bahkan monster-monster disekitarnya tidak ada yang berani mendekat." Ujar Irene.



"Heheh.. tentu saja monster itu lah tujuanku sebenarnya namanya adalah Ahool monster tingkat langit yang hampir mendekati legenda, seekor kelelawar raksasa yang bisa bergerak bebas bahkan dalam gelap sekalipun, dan tipe monster itu adalah monster tipe kecepatan dan sihir. Dia menyerang menggunakan sihir gelombang suara dan gerakannya yang sangat cepat." Gumam Nero.



"Iya.. iya aku sudah tahu itu semua, hanya saja aku membutuhkan sesuatu yang tumbuh disana jika tidak keselamatanku dalam bahaya, lebih baik aku mencoba daripada aku hanya berdiam diri menunggu kematianku tanpa berbuat apa-apa." Ujar Nero.



"Huhh..? Apa kau sedang sakit? Bagaimana kalau kita ke dokter saja? Mungkin mereka tau sesuatu." Ujar Irene Khawatir.


"Tidak perlu, penyakitku ini bukanlah penyakit sembarangan, apa kau lupa bahkan penyakit aliran energimu itu dokter kota tidak bisa menyembuhkannya? Apalagi dengan penyakitku ini." Ujar Nero.



"Uhh benar juga, aku sendiri heran darimana kau mempelajari ilmu pengobatan bahkan dokter kotapun tidak mengetahuinya?." Ujar Irene.


"Ahh sudahlah panjang jika diceritakan, bagaimana dengan permintaanku? Aku benar-benar membutuhkan izin itu, tolonglah." Ujar Nero Memohon.



"Uhmmm.. baiklah jika itu bisa menyelamatkanmu, aku akan memintanya ke ayah nanti." Ujar Irene.


"Benarkah..? Terimakasihh Irene.. kau sangat baik." Ujar Nero sambil memegang kedua tangan Irene.



"Huhh..!! Lepaskaaaann..!!" Ujar Irene sambil menarik tangannya dari Nero.


"Aihhh iyaa maaf, maaf... aku terlalu senang." Ujar Nero.


Hmphhh.. ya baguslah kalau itu membuatmu senang, aku pergi dulu urusanku sudah selesai denganmu." Ujar Irene.


"Siapp boss..!!" Ledek Nero.



Irene pun pergi meninggalkan kelas E. Nero kembali kedalam kelas dengan beberapa sorakan iri dari teman-teman sekelasnya. Kelas pun berjalan dengan lancar seperti biasa, begitupun dengan kelas tambahan guru Andi. Hari demi hari berlalu, Nero dan teman-temannya melanjutkan latihan mereka di akademi hingga tak terasa waktu sudah berlalu beberapa bulan dan hanya menyisakan waktu 1 bulan lagi sebelum turnamen akademi untuk anak kelas 1 dimulai. Nero sudah berada di tingkat menengah sedangkan yang lainnya berada di tingkat dasar bintang 3. Sedangkan Boni, Zaskia, dan Nadine hanya tinggal 1 langkah lagi hingga menuju tingkat menengah ketiga anak itu mendapatkan perhatian besar dari guru Andi karena kegigihannya berlatih padahal bakat mereka tidak tinggi. Kini tiba saatnya Nero meminta Irene tentang janjinya mengenai Izin masuk kedalam daerah terlarang pegunungan salak.



"Yooo boss, gimana izinku? Apa sudah kau dapatkan?" Tanya Nero yang datang ke kelas A menemui Irene.

__ADS_1


"Huh.. Nero..! Ya aku sudah dapat, nanti sore temui aku di danau akademi akan ku berikan padamu." Ujar Irene.



"Wohooo thankyouuu Irene, kau yang terbaik." Ujar Nero.


"Kau ini sebenarnya sakit apa sih? Kelihatannya tubuhmu itu baik-baik saja." Tanya Irene heran.


"Ahh.. uhukk.. uhukk aku benar-benar sakit kok, karena aku sangat senang saja jadi seperti ini. Hehe" ujar Nero malu.



"Haahh.. terserah kau saja lah, aku sudah memperingatkan kalau gunung itu berbahaya bahkan ayahpun kemarin bertanya padaku untuk siapa ini. Dan aku sedikit berbohong padanya kalau kau pergi membawa beberapa ahli tingkat bumi, sehingga dia mau mengeluarkan izinnya." Ujar Irene.



"Hehe kau tenang saja, aku tidak mungkin pergi kesana tanpa mengetahui situasinya aku tidakalah sebodoh itu." Ujar Nero.


"Ya aku tau, orang bodoh tidak akan mungkin bisa mendapatkan relic Rafflessia Arnoldi dan mengerti tentang berbagai macam pengobatan sepertimu, makanya aku berani memberikan izin itu padamu." Ujar Irene.



"Huhhhh...??? Bagaimana kau tau tentang relicku?" Tanya Nero panik.


"Tentu saja saat aku melihat relicmu dulu di belakang sekolah, aku mencium bau busuk tidak enak dan merasa pernah mencium bau seperti itu. Tak lama setelah itu ada kabar bahwa monster tumbuhan Rafflesia Arnoldi sudah tidak tumbuh di hutan raya bogor lagi, sejak dari itu aku sadar kalau relicmu itu adalah tumbuhan monster Rafflesia Arnoldi." Ujar Irene.



"Ahhh sialll, rahasiaku sudah terbongkar kemana-mana ini terlalu bahaya kalau sampai dia tau." Gumam Nero kebingungan.


"Tenang saja, aku belum menceritakannya kepada siapapun, dan tidak akan aku ceritakan." Ujar Irene.



"Ahh benarkah..!? Tolong jangan kau beritahu siapapun. Ini sangat penting aku tidak ingin membuat kehebohan di akademi." Ujar Nero memohon.



"Ya tenang saja, aku tidak akan memberitahukan siapapun hanya saja dengan 1 syarat, aku telah berhasil masuk ke tingkat menengah dan itu semua berkat teknik meditasi pemekat yang kau berikan padaku, aku akan ikut bersama denganmu ke gunung salak, aku juga sudah membuat izin milikku sendiri kau tenang saja." Ujar Irene.



"Huh..? Dia juga telah masuk ke tingkat menengah? Seperti yang di harapkan dari jenius nomor 1 akademi. Hanya aku beritahu sedikit tekhnik meditasi pemekatan saja dia sudah mampu menembus tingkat menengah, benar-benar bakat yang mengerikan." Gumam Nero dalam hati.



"Apa kau gilaa?? Kau tidak mengerti betapa bahayanya di gunung salak, jika aku bertarung sambil membawamu kesana aku tidak akan sanggup melawan Ahool.. dasar bodoh. !!" Ujar Nero marah.



"Ahool? Apa itu Ahool?" Tanya Irene.


"Ahh.. sial kecepolosan, anak ini merepotkan sekali ahhhhh....!!!" Gumam Nero kesal.



"Kau bilang disana ada monster kan, dari informasi yang aku tahu dia bernama Ahool monster tingkat langit dia sangat berbahaya.." ujar Nero.



"Apa Langit? Apakah Seperti prisai Garuda milik ayahku?" Tanya Irene kaget.


"Haaahh.. tidak-tidak prisai ayahmu adalah monster tingkat legenda, Ahool berada dibawahnya." Jelas Nero dengan malas.



"Itu adalah monster tingkat langit, bagaimana bisa kau berani melawan monster mengerikan sepertinya." Ujar Irene heran.



"Sudah aku bilang, aku punya caraku sendiri.. aku tidak akan bisa ditangkap oleh Ahool.. tapi dengan membawamu kesana itu akan merusak semua rencanaku." Ujar Nero.



"Tidakk.. aku tetap ingin kesana, aku ingin mencari monster relic baruku, jika kau tidak mau mengajakku akan ku bongkar rahasia relic Rafflesiamu." Ancam Irene.



"Ahh aku akan menemanimu mencari relic barumu nanti, aku tau tempat yang bagus untuk pemekat element es sepertimu.. tapi bukan di gunung salak" bujuk Nero.


"Tidaakkk aku mau ikutt..!! Jika tidak ikut aku akan teriak sekarang." Ancam Irene.



"Haaaiiihhh merepotkan sekali kau ini, baiklah lusa saat libur tiba temui aku di depan gerbang akademi jam 6 pagi, jika telat 5 menit saja kau akan aku tinggal.." ujar Nero kesal.


"Okee dealll... aku tidak akan telat..!!" Ujar Irene.


"Oh iya, izinnya sekalian kau bawa lusa saja." Ujar Nero.



"Heiii... heiii... coba lihat siapa ini, bukankah ini Nero si anak tanpa element? Sedang apa kau di kelasku? Sedang membayangkan punya kelas seperti ini huh? Jangan mimpiii..!!! Hahaha" ujar Boris yang tiba-tiba muncul.



"Aihh satu lagi pembawa masalah datang, sudahlah aku capek meladeni kalian orang-orang aneh.." ujar Nero yang langsung pergi meninggalkan Irene dan Boris.


"Hahaha apa kau takut denganku, langsung pergi begitu saja dasar pengecut.. hei Irene..." ujar Boris yang ingin mengajak bicara Irene disebelahnya.



"Diam kau orang anehh..!! Berisik..!!" Ujar Irene pergi juga.



"Huh?? Ada apa ini, kenapa semua orang memanggilku aneh sih? Apa aku salah pakai minyak wangi ya?" Ujar Boris bingung sendiri.

__ADS_1


__ADS_2