Legenda Nero

Legenda Nero
Chapter 8 - Sarang Burung Api


__ADS_3

Legenda Nero


Chapter 8 - Sarang Burung Api


Karya: yudhaneru





================================





Keesokan harinya tiap kelas berangkat menuju ke kawasan hutan raya bogor, tiap kelas naik kendaraannya masing-masing.



"Guru, apakah kita akan naik itu?" Tanya Boni sambil menunjuk kearah kendaraan sihir mewah milik kelas A.



"Haihhh coba turunkan sedikit tangan mu itu, lalu geser ke kanan.. itulah kendaraan kita kesana." jawab guru Andi.



Boni mencoba mengikuti arahan guru, akhirnya jarinya menunjuk ke sebuah gerobak becak, dan ada pedal di bagian belakang, yang artinya harus ada yang menggoes untuk menggerakkannya.



"Guruuuuu, apakah mungkin kita harus ada yang menggoes dari sini sampai ke bogor?" Tanya Boni memelas.



"Heehhh... tenang saja, aku sudah meminta beberapa kelas yang kendaraannya kosong.. dan kelas C memberikan sebagian tempat duduknya untuk kita, sebaiknya kalian berterimakasih pada guru Nur nantinya." Ujar guru Andi.



"Ya dikehidupanku sebelumnya ibu Nur banyak membantu kami juga dan merupakan 1 1 nya guru yang mendukung guru Andi dengan penelitiannya, sedangkan guru yang lain kebanyakan melecehkan dan memfitnah guru dengan kata-kata yang keji." Gumam Nero.



"Ayo, ayo kalian kesini bergabung bersama dengan kelas C.. beri salam kepada mereka dan bertrimakasihlah." ujar guru Andi



"Selamat pagi bu Nur, maaf merepotkan kelasmu kami harus menumpang kendaraan kalian menuju ke bogor. Ini adalah ke-5 murid ku Nadine, Zaskia, Nero, Boni, dan Burhan. Ayo beri salam yang sopan pada guru Nur." Ujar guru Andi.



"Hahaha sudah sudah pak Andi, tidak perlu sampai begitu santai saja.. kendaraan kami juga masih banyak yang kosong karena kami hanya mengirimkan 3 orang saja ke acara ini, hanya ke-3 orang ini yang mampu bertahan melawan para monster.. Aku dengar dari pak Andi kalian ber-5 cukup kuat yaa. Tak kusangka kalian malah masuk ke kelas E, aku memang tidak pernah setuju pada sistem bakat di akademi kita itu.. kalian bahkan lebih baik dari beberapa anak di kelas C." Ujar guru Nur.



"Teman guru Andi adalah guru kami juga, kami akan memanggil anda guru mulai sekarang. Salam kepada guru Nur." Ujar ke-5 anak kelas E.



"Hehehe bagus-bagus anak-anak yang baik. Mohon kerjasamanya ya.." ujar guru Nur sambil mengelus kepala ke-5 anak kelas E.


"Oh iya perkenalkan ini adalah ke-3 murid ku dari kelas C. Yang tinggi ini adalah Zayn Amara, lalu yang ini Zainal Ariq, dan yang perempuan adalah Rahma wati. Ayo semuanya salam kepada guru Andi." Ujar guru Nur.



"Salam hormat dari kami murid kelas C, kepada guru Andi." Ujar ke-3 murid.



Baik baik terimakasih semuanya, semoga kalian semua bisa akur ya di dalam. Mohon bantuannya." Ujar guru Andi.



Akhirnya mereka pun berangkat menuju hutan raya bogor. Hingga sesampainya di pintu masuk hutan, semua kelas pun bertemu.



"Hei.. hei.. hei lihat itu anak-anak rendahan dari kelas E. Apakah kalian yakin bisa melawan para monster disana? butuh perlindungan dari kami? Setidaknya bawakan barang-barang kami, lalu kami akan melindungi kalian jika monster datang. Hahahah" ujar salah seorang dari kelas A.



"Hadeehh.. dia lagi, dia lagi si boris pembawa masalah." Ujar Nero



"Heh lihat itu boss, ada wanita cantiknya disana. Wahhh aku tidak pernah lihat dia sebelumnya, dia tidak kalah dengan si irene boss.." ujar anak kelas B yang menjadi bawahan Boris.



"Wahhh benar-benar sayang sekali kau ada di kelas E nona cantik. Lebih baik ikut kami disini keamananmu akan terjamin, dan kau akan kami bantu tangkapkan monster tingkat tinggi asalakan kau mau melayani kami. Hehehe." Ujar Boris.



"Sudah biarkan saja dia mengonggong, anjing akan semakin keras mengonggongnya jika kita tanggapi." Teriak Nero dengan keras.



"Heii bodoh, ternyata kau lagi Nero si sampah.. bagaimana bakat mu? Apa kau sudah bisa merespon 1 kristal element? Mau apa kau datang kesini? Kau ingin mendapatkan roh monster? Paling hanya akan mendapatkan roh rerumputan disini.. hahaha Atau mungkin kau ini tidak berbakat dan lalu dijadikan umpan monster untuk membantu teman-temanmu menangkapnya? Hahaha bodooohh.." ujar Boris.



"Heiii sepertinya aku mendengar suara berisik sekali, apa jangan-jangan monsternya sudah ada disekitar sini.. berbahaya sekali, ayo semuanya segera pergi dari tempat ini ada monster dekat sini.." ledek Nero untuk Boris.



"Sial kauu Nero, tidak perlu menunggu turnamen akademi akan ku hajar kau sekarang juga." Ujar Boris



"Heh maju kalau berani, setelah kalah dengan kata-kata kini kau mau beradu fisik hah?sungguh seperti ayam saja otaknya sebesar jari kelingking. Hahaha" ujar Nero.



"Mati kauu..!!*!" Teriak Boris.



"Hei nak apa yang kau lakukan, dilarang bertengkar disini." Ujar guru Andi.



Boris pun tidak bisa maju karena dihalangi oleh guru Andi.

__ADS_1



"Heh kau beraninya hanya bersembunyi dibalik gurumu ha?" Ujar Boris.



Tiba-tiba saja guru Tito dari kelas A menghampiri mereka.



"Wah-wah ada apa ini.. bagaimana bisa seorang guru ikut campur dalam perkelahian anak muda, apa kau sudah kehilangan urat malumu hei bapak teori no.1..??" Ujar guru Tito.



"Ugghh.. maafkan saya pak Tito, saya hanya melerai mereka berdua supaya tidak ada keributan yang terjadi disini." Ujar guru Andi.



"Hmm hmm memang benar kata pepatah buah tidak jatuh jauh dari pohonnya, di bawah guru yang bodoh muridnya pun menurunkan sifat bodohnya. Baiklah.. baiklah karena kebaikan hati ku kali ini kau kulepaskan.. jika anak kelas mu mengusik anak kelas A ku, tidak ada kata lain kali." Ujar guru Tito.



"Ya baik pak, hal itu tidak akan terjadi lagi." Ujar guru Andi.



"Guru Tito ini berasal dari keluarga purnama si penjaga inti api monas, dia adalah dalang dari semua kekejaman yang menimpa guru Andi karena dia kalah dalam adu teori dengan guru sebelumnya. Sayang kekuatan guru Andi tidak sehebat pak Tito, dengan kekuatannya dan dukungan dari keluarga purnama ia menjadi guru kelas terbaik dan menjadi guru ahli monster. Hmm ayo kita lihat seberapa tangguh dia ini.." gumam Nero.



"Haaahh~ baiklah baiklah.. benar sekali apa yang dikatakan pak guru Tito buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.. jika muridnya suka bersembunyi di balik keluarga besarnya, maka gurunya pun lebih parah. Hahaha" teriak Nero.



"Hei kau bocah tidak tau diuntung, aku sudah berbaik hati melepaskanmu kali ini.. dan kau berani melawan balik, benar-benar bocah yang bodoh.. aku pastikan akan mengeluarkanmu dari sekolah ini." Ujar guru Tito.



"Hiyaahhh.. sekarang malah memanfaatkan kekuasaannya sebagai petinggi sekolah, apa kau takut melawan anak bocah sepertiku? Hingga bersembunyi dibalik kedudukan anda? Bagaimana jika kita buat saja taruhan.. di pertandingan turnamen sekolah nanti aku telah bertaruh dengan Boris akan mengalahkannya disana, sepertinya itu belum cukup memuaskanmu ya.. kalau begitu bagaimana jika semua murid mu anak kelas A akan ku kalahkan.. jika aku tidak bisa mengalahkan semua anak kelas A maka aku akan keluar dari sekolah ini.. tetapi jika tidak pak Tito harus berlutut meminta maaf padaku dan guruku." Tantang Nero.



Semua murid kelas A menatap Nero dengan tatapan sinis.



"Huhh anak bodoh..!!" Gumam Irene.


"Hmmm boleh juga nyali anak ini.." gumam David.


"Siapa anak itu, hingga berani mengancam guru Tito? Dia sudah gila." Ujar beberapa murid-murid lainnya.



"Hahahaha..!!! Benar-benar anak bodoh, kau hanya memperpanjang waktu sebelum hukumanmu saja.. baiklah kalu begitu, tidak akan mungkin kau mengalahkan Boris apalagi David dan Irene. Kemampuan kalian bagaikan langit dan bumi. Akan kuterima taruhanmu itu bocah." Ujar guru Tito.



"Heheh.. kita lihat saja nanti pak siapa yang akan tertawa di akhir." Ujar Nero.



"Kau yakin Nero dengan taruhanmu itu? Apa kau tidak terlalu meremehkan murid-murid dari kelas A.." ujar guru Andi cemas.




"Baiklah aku akan percaya padamu kali ini, tapi dengan syarat kau harus berlatih 2x lipat lebih keras mulai sekarang." Ujar guru Andi.



"Eeeehhhh..!?!" Keluh Nero.


"Hahahahaha!!!" Tawa anak-anak dari kelas E.



Guru Tito pun menjelaskan cara melawan monster yang baik, dan cara mengambil rohnya untuk merubahnya menjadi relic.


Lalu tiba saatnya murid-murid masuk ke hutan raya.



"Baiklah semuanya waktu kalian hanya 24 jam dari sekarang. Kalian sudah boleh masuk, berhati-hatilah di dalam akan ada banyak monster ganas disana.. jika kalian tidak berhati-hati aku rasa kalian akan mati.." ujar guru Tito sambil mengarahkan tatapan jahat ke arah kelas E.



"Heee... sepertinya dia merencanakan sesuatu di dalam sana, takkan kubiarkan itu sampai terjadi." Gumam Nero.



Semua muridpun masuk ke dalam pintu gerbang, satu persatu mereka mulai membuat kelompok kecil lalu memisahkan diri dari rombongan untuk mencari beberapa monster tingkat atas.



"Hei Zayn, Zainal, dan Rahma kita akan berpisah disini yah.. kita akan bertemu lagi setelah semuanya berhasil mendapatkan relic." Ujar Nero.



"Oke kawan, hati-hati di jalan sepertinya aku mencium rencana jahat dari guru Tito pada kalian. Sebaiknya kalian tetap waspada." Ujar Zayn.



"Tenang saja, kami tidak semudah itu termakan jebakannya, terimakasih telah mengkhawatirkan kami. Kalau begitu kita pamit untuk berangkat ke arah gunung sana" Ujar Nero.


"Oke kawan..!" Jawab Zayn.



"Hei Nero kenapa kita malah mendekat ke pusat racun itu, bukannya malah ke daerah yang lebih bersih.. bukankah monster-monster banyak berkumpul disana?" Tanya Nadine.



"Betul apa yang kau pikirkan Nadine, hanya saja sedikit meleset.. coba kau pikirkan saat ini si monster Rafflesia itu sedang melemah sehingga area di sekitarnya tidak lagi di kontaminasi oleh racunnya dan apa yang akan terjadi jika tanah yang selama 4 tahun terakhir tidak dijamah oleh monster-monster itu.. hehehe benar sekali sumber makanan yang melimpah, tanaman obat langka, dan yang pasti monster tingkat tinggi akan berburu disana." Jelas Nero.



"Waahh benar jugaa, dan hanya kita yang pergi menuju arah sini, kita akan panen besar. Hahahah" jawab Nadine.



Setibanya mereka di dekat pusat racun Rafflesia.



"Tunggu dulu semuanya, makanlah ini dulu." Nero memberikan daun yang ia petik dari beberapa tumbuhan disekitar.

__ADS_1



"Ehh apa ini Nero, daunnya sudah layu begini kenapa tidak ambil yang masih segar itu? Dan ini sangat menjijikkan.." tanya Boni.



"Daun itu adalah daun tua yang berhasil selamat dari serangan racun besar sebelumnya, didalamnya pasti terdapat anti-racun yang cukup untuk membuat kita bertahan dengan racun disini.." jelas Nero.



"Aku bingung kau ini tau dari mana ilmu-ilmu seperti ini.. apa kau belajar ahlikimia Nero?" Tanya Zaskia.


"Hehehe aku hanya senang membaca buku-buku saja kok, tidak perlu sampai dibesar-besarkan seperti itu." Jawab Nero tertawa.


"Ayo kita mulai mencari ke dalam.." ajak Nero.



Sesampainya mereka di daerah dekat sekali dengan gumpalan racun yang mengelilingi Rafflesia itu, mereka melihat ladang yang sangat hijau dipenuhi buah-buahan yang subur dan banyak sekali berbagai macam monster langka.



"Waaahh.. benar apa kata Nero disini sangat subur dan banyak sekali hewan berkeliaran. Sangat cantik sekali." Ujar Nadine.



"Oke kita akan berpencar mulai sekarang, kalian carilah monster tingkat menengah yang kira-kira bagus untuk kalian setelah itu kita akan berkumpul lagi disini untuk membuat rencana melawannya. Oke semuanya bubar.." Ujar Nero.



"Hmm selagi menunggu mereka mencari monster yang cocok, aku akan meneliti si tanaman menyusahkan ini.. ternyata perkiraan guru salah mengenai dia melemahkan racunnya, dia hanya memperkecil jarak lingkup gas racunnya untuk mempertebal daerah di sekitarnya untuk melindungi diri dari beberapa pengganggu.. tapi apa yang ia lakukan di dalam ya sampai membuat racun setebal ini bahkan sekali orang lewat bisa-bisa hanya tersisa tulangnya saja sampai mereka menembus kedalam. Aku penasaran, akan kucari cara untuk bisa menembus ke dalamnya." Gumam Nero.



Nero pun pergi ke arah sahabatnya Boni, untuk melihat kondisinya.



"Hoi bon, gimana udh dapet monster bagus belum?" Tanya Nero.


"Ehh Nero coba kau lihat disana, itu ada kura-kura bercangkang baja, ada badak bercula 4, ada kuda berkaki api, itu semua langka.. tapi aku bingung hewan apa yang cocok denganku. Hmm.. apa kau ada saran?" Tanya Boni.



"Hmmm.. kau ini sangat membutuhkan tipe api yang kuat untuk memperkuat element apimu yang lemah, hewan-hewan itu tidak cocok denganmu meskipun itu langka. Ayo ikut aku, akan aku carikan yang cocok untukmu." Ujar Nero.



Akhirnya mereka pun menemukan monster yang cocok untuk Boni.



"Lihat itu, itu adalah burung api monster tingkat bumi. Sepertinya itu sangat cocok untukmu." Ujar Nero.


"Kau gila ya, aku saja belum mencapai tingkat dasar dan kau menyuruhku melawan monster tingkat bumi?? Itu sama saja dengan bunuh diri.." ujar Boni takut.



"Hahahha siapa yang menyuruhmu untuk melawan induknya, bahkan jika kau berhasil menyerap rohnya tubuhmu akan hangus terbakar." Ujar Nero sambil tertawa.



"Lalu aku harus bagaimana??" Tanya Boni.


"Kau lihat gua itu.. itu adalah sarang dari burung api itu, kau pancinglah induknya aku akan pergi ke dalam mengambil telur/anakannya.. ingat kau harus lari ke arah gumpalan racun itu sedekat mungkin, karena kau sudah memakan penawar racun sebelumnya setidaknya tubuhmu tidak akan kenapa-napa jika hanya berada di lingkungan yang mengandung racun tingkat rendah sedangkan burung itu tidak akan berani mendekatinya. Sementara itu aku akan masuk ke guanya." Ujar Nero



"Hah kau yakin? Masuk sih bisa, tapi bagaimana denganmu keluar? Bukankah hanya ada waktu beberapa saat saja sampai dia kembali ke sarangnya lagi setelah mengejarku?" Tanya Boni.



"Tenang saja, di dalam sarang burung api pasti terdapat rumput merah berduri emas, yang tumbuh di sekitar kotoran burung api.. dengan rumput itu aku akan bisa menghilangkan tubuh fisikku dan hawa keberadaanku selama beberapa menit. Kurasa itu cukup untuk melarikan diri dari sana." Ujar Nero



"Baiklah jika itu katamu, aku akan percaya.." ujar Boni.


"Okee, ayo kita mulai rencananya.. " ajak Nero.



"Heeeeeiiii..... kauu burung jelekk!!! Sini kejar aku kalau bisa, weeekk weeekk.. krrrr krrr krrr.. cuit, cuit..." teriak Boni kepada burung itu.



Burung api itu langsung melesat ke arah Boni lalu mengejarnya.



"Uwaaaaahhh maaap maaafkan akuu, aku hanya bercandaaaa.." Boni pun lari terbirit-birit menuju ke arah kabut racun Rafflesia.



Nero pun tidak menyia-nyiakan waktunya ia langsung masuk kedalam gua sesaat sesudah burung itu pergi menjauh.



"Fiuuuhh.. berhasil juga aku masuk, aku harus cepat mencari sarangnya sebelum burung itu kembali dan sadar aku ada disini." Ujar Nero.



Nero berlari masuk kedalam gua, akhirnya ia menemukan sarang burung api.



"Wahhh nasib Boni benar-benar sedang baik kali ini ada 1 anak burung yang sudah menetas dari telurnya, ini akan bisa diserap oleh Boni untuk dijadikan relicnya.. cup cup cup maaf ya anak burung aku akan membawamu, aku akan jamin roh mu akan bahagia hidup bersama temanku yang bodoh itu. Akan ku masukkan ke dalam ruang virtual dulu anak burung api ini. Baiklah saatnya panen rumput merah berduri emas untuk kabur nanti, ada sangat banyak di sekitar sini, aku akan ambil banyak siapa tau aku membutuhkannya nanti. Hehehe" ujar Nero.



Saat sedang memetik beberapa rumput merah berduri emas, tiba-tiba saja Nero melihat cahaya merah terang yang keluar dari lubang gua.



"Ahh apa itu, indah sekali cahayanya. Akan ku coba periksa kesana." Ujar Nero.


"Uwaaahhhh banyak sekali kristal api disini, jika seorang elementor api melakukan pemekatan element dengan kristal ini kecepatan pemekatannya akan bertambah hingga 5x lipat. Dan harganya sangat mahal karena sangat langka, aku benar-benar sedang beruntung akan ku sikat habis kristalnya. Hehehe" ujar Nero.



"Tapi sepertinya cahaya ini bukan berasal dari kristal api, ada yang lebih berkilau di dalam sana.. akan ku periksa. Waaahhh ituu.. ituuu adalah kumbang 5 element, siapa yang memakannya akan mendapatkan 80% resistance terhadap 5 element selama beberap jam. Waahh kumbang ini sangat langka, aku benar-benar mendapat jackpot kali ini. Ehh tunggu dulu, jika aku memakan ini lalu memakan anti racun tubuhku akan kebal 100% terhadap element racun, dengan begitu masuk ke dalam kabut racun itu akan semudah menembus kabut biasa. Hohoho akan kucoba nanti~" ujar Nero



Nero pun melanjutkan mengumpulkan rumput merah, dan menambang beberapa kristal api. Beberapa waktu kemudian induk burung api datang.


__ADS_1


"Kaaaakkkk, kaaaakkk." Suara burung api yang sedang marah melihat anaknya yang sudah menetas menghilang dari sarangnya.


__ADS_2