Life After Marriage ( Jenar & Arya )

Life After Marriage ( Jenar & Arya )
Robert


__ADS_3

"Iya Mas, nanti Jenar sama Chaca ke sana kok," ucap Jenar yang tengah berbicara dengan Arya di telfon.


'Ya sudah, Mas tunggu. Dan juga kamu hati-hati sayang."


"Iya Mas," jawab Jenar tersenyum lalu ia segera mematikan sambungan telfon nya dan hendak kembali ke kelas. Tadi Jenar menerima telfon dari arya saat dirinya tengah izin ke toilet.


Sepanjang kelas berlangsung, Jenar begitu fokus dengan materi-materi yang di jelaskan oleh dosen. Namun tidak dengan dosen tersebut, ia menjelaskan beberapa hal akan tetapi matanya hanya terfokus kepada Jenar. Hingga tanpa terasa jam nya telah selesai.


"Eh Je, kamu sadar gak sih dari tadi di lihatin terus sama dosen?" Tanya Hanna menghampiri Jenar ke kursinya.


"Masa sih? Apa aku melakukan kesalahan lagi?" Tanya Jenar menunjuk dirinya sendiri.


Chaca hanya menghela napasnya panjang melihat kepolosan saudara iparnya tersebut. "Bukan lo ngelakuin kesalahan Jenar, tapi gue rasa dia ada suka sama lo."


Jenar begitu terkejut mendengar ucapan Chaca hingga reflek ia memukul bahu Chaca dengan Buku. "Sembarangan kalau ngomong! Gimana kalau ada yang denger dan di kira beneran? kamu bisa di tuduh fitnah Chaca!"


Chaca semakin terkekeh melihat reaksi yang di tunjukkan Jenar padanya. "Je lo gak pernah kenal sama cowok ya selain laki lo?"


"Pernah lah. itu Kak Dimas, Bian sama kak Fahmi mereka bukan suamiku." Jawab Jenar santai membuat Chaca langsung membulatkan matanya sedangkan Hanna tergelak.


"Maksud gue selain itu Jenar! Dan gimana bisa lo bawa bawa nama laki gue? sialan!" Sungut Chaca dengan kesal.


"Au ah daripada bahas dosen killer mending kita makan di kantin kuy, laper nih." Kata Jenar mengusap perut nya.


Saat hendak akan keluar dari kelas nya, tiba-tiba mereka sedikit terkejut karena melihat Pak Robert datang dengan membawa sebuah paper bag dan menyerahkan nya kepada Jenar. "Buat kamu!"

__ADS_1


"Buat saya Pak?" Tanya Jenar mengerjapkan matanya tak percaya.


"Hem, saya tau luka di bahu kamu masih sakit, jadi saya terpaksa membelikan itu agar kamu tidak perlu ke kantin!" ucapnya datar lalu langsung pergi begitu saja dan membuat Jenar cs syok.


"Je ... " panggil Chaca.


"Gila pak Robert ganteng banget yah," ucap Hanna sambil memandangi punggung pak Robert yang semakin menjauh.


"Huum ganteng, jadi ini buat kamu aja." Kata Jenar memberikan makanan kepada Hanna.


"Lah kenapa buat aku? Gak ah kamu aja. aku takut nanti itu ada pelet nya terus aku jadi jatuh cinta sama dia dan aku berpaling dari Aa Arlan. Oh no!" ucap Hanna panjang lebar.


"Serah!" kata Jenar dan Chaca bersamaan lalu mereka pergi ke kantin.


Kini ketiga sahabat itu tengah menikmati makanan di kantin, dan makanan dari pak Robert berakhir menjadi makan siang Hanna hari ini.


*Ting.


'Non, den Javie demam. Nyonya besar tidak ada, saya bingung karena den Javie tidak mau sama saya Non*.' ucap Encus dari ujung telfon.


"Saya pulang sekarang!" kata Jenar sedikit panik.


"Aku cabut dulu ya buru-buru." Kata Jenar lalu ia segera berlari mencari taxi.


"Jenar mau kemana?" Tanya Hanna bingung.

__ADS_1


"Javie sakit, Mama lagi pergi sama Vier kayaknya." Katanya setengah berteriak.


Brug.


"Auuwhh," Jenar meringis karena dia tidak hati-hati, hingga membuatnya terjatuh kembali.


"Kenapa kau itu sangat hobi menabrak ku Hem?" Tanya Robert sambil membantu Jenar bangun dari posisi nya.


"Maaf Pak, saga minta maaf saya tidak sengaja. Saya buru-buru permisi Pak." Ucap jenar lalu hendak kembali berlari namun tangan nya langsung di cekal oleh pak Robert. "Mau kemana?" Tanya nya.


"Saya harus pulang Pak, permisi." Ucap Jenar lagi lalu ia melepaskan cekalan tangan Robert dan kembali berlari.


Tanpa Jenar sadari Pak Robert malah menyusulnya dan ia langsung menuju ke arah motor nya. "Ayo, saya antar" kata Pak Robert memberikan helm kepada Jenar.


"Maaf Pak, saya bisa nak taxi," kata Jenar menolak tawaran Robert.


"Kamu buru-buru kan?" Tanya pak Robert dan di balas anggukan kepala oleh Jenar. "Tidak usah gengsi, buruan naik."


Setelah menimbang-nimbang dan ia juga tak menemukan taxi, akhirnya Jenar pun mau menerima tawaran pak Robert. Sebuah senyum tersungging di wajah pak Robert karena Jenar mau menerima bantuan nya. Pak Robert pun segera melajukan motor nya menuju alamat yang di maksud Jenar.


Sekitar 45 menit, kini motor Pak Robert sudah sampai di depan gerbang kediaman rumah Pranata. "Terimakasih Pak sudah mengantarkan saya pulang. Dan maaf tidak bisa menyuruh mampir karena saya buru-buru permisi." Ucap Jenar lalu segera berlari memasuki gerbang.


Pak Robert masih dapat melihat Jenar berlari ke arah seorang pengasuh sedang menggendong anak bayi dan langsung menyerahkan kepada Jenar.


"Dia penyayang juga sama adiknya," ujar Pak Robert yang mengira bahwa itu adalah adik nya Jenar.

__ADS_1


"Cantik, manis dan penyayang. Kandidat yang sempurna," ucapnya lagi terkekeh lalu segera melajukan motor nya pergi meninggalkan kediaman Pranata.


__ADS_2