
"Nyonya, Tuan!" panggil security tadi dengan napas terengah engah.
"Ada apa Pak Tris?" tanya Tuan Adi kepada security nya.
"I itu Tuan, anu hemm Nona Jenar," ucap bya terbata karena napasnya masih tersenggal senggal.
"Ada apa dengan Jenar?" tanya Nyonya Tamara. Saat ini semua sedang berkumpul di ruang keluarga seperti biasa. Bian, Dimas dan Aiden tengah bermain PS, sedangkan para istri mereka sedang menidurkan twin J di kamarnya.
Ariel dan Chaca membagi tugas, yakni Chaca dengan membawa Vier dan Ariel membawa Javie. Mereka memutuskan untuk mengajak tidur di kamar masing-masing, itung itung belajar punya anak kecil. begitu pikir mereka.
"Non Jenar pingsan di taxi Nyonya, itu supir taxi nya ketakutan karena Non Jenar tidak bangun juga," jelas pak Tris seketika membuat semuanya terkejut.
"Lah kok Jenar naik taxi, kemana Arya?" tanya Dimas yang langsung berdiri.
Semua langsung berlari keluar rumah untuk melihat keadaan Jenar. Dan benar saja, Jenar pingsan di dalam mobil taxi.
"Dim kamu angkat Jenar antarkan ke kamar nya, dan Bian segera telfon dokter," perintah Tamara khawatir.
__ADS_1
Dimas pun perlahan mengangkat tubuh Jenar yang sudah sedingin es, awalnya ia terkejut saat baru mengangkat tubuh Jenar, benar benar dingin. Lalu ia segera menggendong Jenar menuju kamar nya.
Tamara sudah membayar ongkos taxi tersebut lalu ia segera menyusul Jenar ke kamar nya. Ia sangat khawatir dengan keadaan Jenar terlebih saat melihat ekspresi Dimas saat mengangkat tubuh Jenar tadi.
Saat taxi hendak pergi, mobil Arya pun sampai, ia segera turun dan berlari mencari keberadaan Jenar.
"Sayang?" panggil Arya saat memasuki rumah, ia pun segera berlari menuju kamar nya.
Deg.
"Mah, Pah ada apa ini?" tanya Arya saat memasuki kamar nya seketika membuat semua langsung menatap horor padanya.
"Kenapa Jenar bisa pulang naik taxi?" tanya Tamara datar namun matanya begitu tajam menatap Arya.
"Hemm tadi ada kesalah pahaman sedikit Mah, makanya Arya ini juga buru buru mengejar Jenar," ucap Arya lalu ia mendekati tubuh Jenar yang tengah berbaring lemas tak berdaya dengan raut wajah yang pucat pasi.
"Sayang!" ucap Arya melotot saat ia menyentuh tubuh Jenar yang begitu dingin seperti es.
__ADS_1
"Ke—kenapa Jenar seperti ini Mah? Pah?" tanya Arya takut.
"Kenapa? harusnya kami yang tanya kenapa Jenar bisa sampai seperti ini? dia pulang naik taxi bahkan sampai pingsan di taxi! kamu tidak tau bagaimana raut wajah takut supir taxi itu saat penumpangnya tak sadarkan diri! kamu itu sudah punya istri Arya, jaga istri kamu! bukan malah kamu biarin dia seperti ini!" seru mama Tamara menggebu, seperti biasa kalau sudah menyangkut cucu dan menantu nya, mama Tamara akan sangat marah.
"Maafkan Arya Mah, tadi Arya tidak sengaja membuat Jenar marah. Maaf," ucap Arya lirih, lalu ia kembali menatap Jenar. ia tatap wajah mungil istrinya yang kini tampak pucat dengan tubuh sedingin es.
"Kamu oleskan minyak ini sampai kuta menunggu Dokter," ucap Tamara datar memberikan minyak angin kepada Arya.
Mama Tamara menyuruh semua anak dan cucu nya keluar dari kamar Arya, dia ingin melihat anaknya sendiri yang mengurus istrinya.
"Biar Arya yang merawat istrinya, sebaiknya kita keluar," ucap Tamara menggandeng tangan suaminya lalu keluar.
"Semoga Jenar baik baik saja," ucap Dimas pelan menepuk bahu Arya.
"Biar anak anak malam ini sama kami Bang, rawat dan Jenar dulu, tidak usah pikirkan anak anak," ucap Bian juga menepuk bahu Arya sekilas lalu keluar.
"Tante Jenar cepet sembuh yah," ucap Aiden mengecup kening Jenar sebentar lalu berlari mengejar Papi nya karena melihat wajah kesal Arya menatapnya horor.
__ADS_1