
"Baik la kalau begitu saya permisi dulu ya, saya mau menyusul istri saya," ujar Arya sopan kepada rekan bisnis nya.
"Ah iya, terimakasih atas waktunya Tuan Arya," ucap salah satu rekan bisnis Arya.
Sebelum menyusul Jenar, Arya memutuskan untuk ke toilet sejenak, setelah selesai barulah Arya segera mencari keberadaan Jenar ke tempat makanan, nihil Jenar tidak ada di sana.
Padahal tadi Jenar bilang bahwa ia ingin mengambil makanan, lantas kemana dia? pikir Arya.
Tempat penyajian makanan ada dua, satu khusus desert, dan satu makanan berat, salahnya Arya mencari Jenar di tempat makanan berat sedangkan Jenar berada di tempat desert.
"Kamu dimana sayang?" gumam Arya karena tidak menemukan keberadaan Jenar.
Hingga tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seseorang.
Bruk.
"Ah maaf, maafkan saya Tuan, Saya tidak sengaja," ujar nya lembut.
"Ah tidak apa apa, saya juga salah," ucap Arya datar.
__ADS_1
"Kak Arya!" pekik nya berbinar kala ternyata yang ia tabrak adalah kakak kelas nya dulu sewaktu sekolah.
"Iyakan ini kak Reyhan Arya Pranata?" tanya nya sekali lagi membuat Arya mengerutkan dahinya.
"Siapa ya?" tanya Arya bingung karena tidak mengenali nya.
"Iihh ini Bella kak? Bella yang dulu gendut, yang pernah kakak tolong waktu Bella di todong sama temen temen kakak, " ucap Bella menggembungkan pipinya.
"Astaga!" seketika Arya mengerjap tak percaya, karena dulu seingatnya Bella memang sangat tembem dan sekarang terlihat sangat tirus dan mungil.
Untuk sesaat Arya lupa tujuannya untuk mencari Jenar, dirinya malah asik mengobrol dengan Bella hingga tiba tiba dirinya di kejutkan oleh suara Jenar hingga membuatnya terkejut.
"Bagus ya Mas, di cariin dari tadi kemana mana ternyata malah asik disini!" ucap Jenar dengan ekspresi wajah datar seketika membuat Arya terkejut.
"Sayang, hey yank, tunggu dulu!" Arya langsung mengejar Jenar yang langsung pergi meninggalkan nya.
Sedangkan Bella menatap bingung kepada keduanya, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
"Apakah itu pacar kak Arya? atau istri nya?" tanya Bella pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Di parkiran, Jenar masih tetap tidak mau mendengarkan penjelasan dari arya, dirinya sudah sangat lelah dan kesal karena tingkah dosen gila nya, dan sekarang dirinya memergoki suaminya tengah bercanda tawa dengan seorang gadis. Takdir gila macam apa lagi ini, batin Jenar.
Saat melihat taxi yang baru sjaa menurunkan penumpang nya, Jenar pun langsung masuk ke dalam taxi tanpa memperdulikan suara teriakan Arya sama sekali.
Dirinya tidak menangis, hanya saja Jenar merasa sangat kesal dan marah. Entahlah mengapa Jenar juga tidak menangis, padahal dirinya sangat ingin menangis. Mana dia merasa sangat kedinginan karena angin malam.
"Sial sial sial! pokoknya aku benci banget malam ini benciiii!" teriak Jenar dalam hati lalu ia segera merebahkan kepalanya pada pintu mobil dan memejamkan matanya sebentar.
"Maaf Nona sudah sampai," ucap si supir taxi tersebut namun tidak ada pergerakan sama sekali pada tubuh penumpang nya. Tentu saja sang supir taxi tersebut merasa sedikit takut.
"Nona, hallo Nona sudah sampai?" panggil si supir taxi itu lagi namun masih nihil, Jenar masih tidak bergerak sama sekali.
Karena merasa takut dan khawatir, akhirnya sang supir taxi segera turun dan berniat memanggil tuan rumah itu.
"Maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya security saat setelah supir taxi memencet bel.
"Ah begini Pak, maaf itu apa benar Nona itu tinggal disini? saya sudah membangunkan nya tapi masih juga tidak gerak, saya takut Pak," ucap supir taxi tersebut dengan tubuh sedikit bergetar.
"Astaga Nona Jenar!" teriak security lalu ia segera membuka gerbang nya dan menghampiri mobil taxi tersebut.
__ADS_1
"Non, Non Jenar bangun Non," ucap security, namun sama saja Jenar tidak juga bangun.
"Pak tolong bawa masuk saja mobilnya biar saya panggilkan yang lain," ucap security tadi dan langsung berlari menuju rumah utama untuk membuat laporan.