
Hari ini, Javie sudah di perbolehkan pulang, sebenarnya Jenar sedikit kecewa karena Arya tidak bisa menjemputnya. Tapi ia mencoba mengerti karena Arya sudah hampir tiga hari tidak ke kantor. Dan itu membuat kerjaan Arya menumpuk.
"Je gue mampir ke toko kue dulu ya?" ucap Chaca pelan dan Jenar hanya menganggu kan kepalanya sambil mengusap kepala Javie yang tengah tertidur di pangkuan nya.
Setelah beberapa saat, mobil Chaca sudah sampai di salah satu Toko kue langganan keluarga Pranata, Chaca pun turun dan ia tidak sengaja menutup pintu mobil nya lumayan kencang hingga membuat Javie terbangun.
"Woaah Sayang, lihat tuh ada ondel ondel," ucap Jenar membuka kaca mobilnya.
Javie yang tadinya hendak menangis tidak jadi karena ia terpesona oleh ondel ondel.
"Apa itu Sayang hem?" tanya Jenar.
"Enden enden," jawab Javie senang hingga membuatnya terlonjak lonjak bahagia.
"Javie mau turun?" tanya Jenar dan Javie pun mengangguk antusias.
Javie dan Jenar begitu menikmati tarian ondel ondel tersebut dengan riang gembira, hingga tanpa ia sadari bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang tengah memperhatikan nya dengan rasa kagum dan bahagia.
"Jenar," paggil nya karena ia sudah tidak bisa menahan rasa untuk tidak menghampiri Jenar.
__ADS_1
"Pak Robert!" ucap Jenar terkejut saat membalikkan tubuhnya.
"Kamu apa kabar?" tanya nya tersenyum tipis. "Hallo boy," lanjutnya menyapa baby Javie.
"Alhamdulillah saya Baik Pak, hemm sepertinya Chaca sudah selesai membeli kue, saya permisi ya Pak," ucap Jenar hendak menghindar.
"Kamu menghindari saya?" tanya Robert mengerutkan dahinya.
"Hah!" Jenar terkejut kembali saat mendengar ucapan Robert. "Emm maaf Pak, saya rasa kita tidak sedekat itu untuk menghindar," ucap Jenar sopan.
"Jenar!" panggil Robert menahan tangan Jenar.
"Maaf Pak bisa tolong lepaskan tangan Saya," pinta Jenar sopan.
"Maaf Pak, saya tidak mengerti apa yang bapak katakan! Tapi disini saya tidak berniat menggoda siapapun termasuk ANDA!" ucap Jenar menahan kesal nya.
"Ah iya satu lagi, daripada saya menggoda laki laki lain, lebih baik saya menggoda SUAMI saya sendiri, yang lebih jelas sudah HALAL!" kata Jenar penuh penekanan lalu ia segera berlalu kembali menuju mobil.
Jangan tanyakan ekspresi pak Robert, tentu saja ia sangat terkejut. Jenar sudah bersuami, itu berarti ia sudah menikah. Robert mengepalkan tangannya dengan kuat, rahang nya langsung mengeras, lalu ia menarik napas dalam.
__ADS_1
"Kita lihat nanti peri kecil," gumam Robert dalam hati dengan menampilkan senyum smirk nya.
"Sorry lama," ucap Robert lalu mendudukkan dirinya di sebuah kursi yang sudah di pesan oleh sahabat lama nya.
"Ck, gue udah jamuran nunggu lo disini!" sungutnya kesal.
"Hehehe sorry tadi ada insiden kecil," cerita Robert sambil memesan makanan.
"Insiden apaan?" tanya nya.
"Ck sejak kapan lo jadi kepo begini?" cibir Robert membuat sang empunya berdecak.
"Terserah lah, buruan apa yang mau lo omongin? gue ninggalin meeting penting nih demi nemuin PAK DOSEN terhormat!" ucapnya penuh penekanan.
"Sialan lo! lo pikir gue mau jadi dosen haiss!" ucap robert kesal. Dirinya memang tidak pernah mau menjadi dosen, namun tuntutan dari orang tua nya, sebelum ia mewarisi kampus itu ia harus terjun dulu agar bisa tau keadaan kampus tersebut.
Namun karena rasa terpaksa itu, kini ia tidak lagi menjadi terpaksa. Ia malah semakin bersemangat setiap hari untuk ke kampus demi bertemu dengan seorang gadis cantik yang sudah memikat hatinya sejak pertama bertemu.
Robert, dan sahabat nya tersebut akhirnya membicarakan tentang beberapa hal bisnisnya, dan juga keluarga masing-masing. Satu hal yang membuat Robert terkejut bahwa ternyata kini sahabat lama nya itu sudah tidak sendiri lagi.
__ADS_1
"Hah kapan gue nyusul," keluh Robert lesu membuat sahabat nya terkekeh.
"Makanya jangan terlalu fokus kerja!" cibirnya lalu tergelak meratapi nasib sahabat nya. Bagaimana tidak, Robert kabur dari acara perjodohan nya dan kini ia harus mengurus kampus karena tuntutan keluarga nya.