
"Kei, bukankah kau tadi sudah tidur?" tanya Aska yang gugup karna Keinya memergokir dirinya sedang berciuman.
tanpa menjawab ucapan Aska, Keinya langsung maju ke arah Aska dan Aysel.
"Mommy awas! aku ingin duduk dipangkuan daddy." Keinya menarik tangan Aysel yang sedang duduk dipangkuan Aska.
"Kei, sekarang mommy yang akan menemani mu tidur, biarkan daddy ber'istirahat."
"No. Mommy." Keinya menjulurkan lidahnya pada Aysel Saat Aska memangkunya.
"Udah yank. Kamu tunggu di kamar ya. Nanti aku nyusul," sahut Aska menimpali percakapan Aysel dan Keinya.
Aysel pun hanya memutar bola matanya jengah saat Keinya lagi-lagi mengganggu waktu bersama Aska.
Seteleh membaca kan dongeng panjang lebar, Akhirnya Keinya pun tertidur.
"Ko kamu belum tidur sih yank?" tanya Aska saat masuk ke kamarnya, dan melihat Aysel sedang melihat Ponselnya sambil menyenderkan punggungnya di ranjang.
Aysel pun menaruh ponselnya diatas nakas "Kaki ku pegel mas, jadi aku ga bisa tidur. Tadi pagi aku ikut kelas pilates tapi sekarang malah pegel." keluh Aysel.
Sebelum duduk, Aska mengambil minyak urut, "Mas, ngapain?" tanya Aysel saat Aska memijit kakinya "Mas, udah ga udah di pijitin! olesin aja ke kakinya," ucap Aysel lagi ketika Aska mulai memijit kakinya dengan lembut.
"Udah yank, ga apa-apa," balas Aska sambil fokus mengurut kaki Aysel. "Yank!" ucap Aska lagi.
"Hmmm."
"Kayanya kita ga bisa ke Spanyol deket-deket ini deh?"
"Kenapa?"
"Andra cuti. Di kantor banyak banget kerjaaan."
"Tumben kamu ngasih ijin ka Andra cuti akhir bulan?" tanya Aysel.
__ADS_1
Seketika Aska menelan ludahnya karna pertanyaan Aysel. Dia harus membuat jawaban yang tepat agar Aysel tidak curiga.
"Emm .... " Aska berdehem karna mebcari jawaban yang tepat.
"Ka Andra ngancem kamu pake anceman motor ya?" tebak Aysel. Mendengar ucapan Istrinya Aska langsung memandang Aysel.
"Kamu tau yank?" tanya Aska dengan kaget. Lalu dia menghentikan pijitannya dan duduk di sebelah Aysel. "Maaf ya. Mas ga maksud bo'ingin kamum."
"Lain kali, kalau ada apa-apa tuh bilang," sahut Aysel dengan nada lembut dia menegaskam bahwa dia sama sekali tak masalah dengan apapun Keinginan Aska.
"Tadinya mas mau bilang sama kamu, tapi pas mas mau bilang kamu udah keburu beliin mas motor lagi. Kan mas gak mau kalau kamu kecewa karna ternyata mas udah beli motornya duluan."
"Ya udah ga apa-apa. Nanti pindahin motornya ke garasi kita."
"Tapi yank, sejak kapan kamu tau soal motor mas?" tanya Aska sambil cengengesan karna masih merasa malu.
"Surat-suratnya kamu taruh di brankas, gimaba aku ga tau. Di brankas itu kan banyaknya berkas prusahaan aku."
"Awas lu Ndra, gue bales lu," ucap Aska dalam hati. Sekarang dia bisa bernapas lega karna Andra sudah tak bisa lagi mengancamnya.
"Yaudah tidur yu, udah malem," ucap Aysel sambil berbaring.
"kakinya udah enakan?" tanya Aska sebelum ikut membaringkan dirinya.
"Udah." Aska pun langsung ikut membaringkan dirinya menyusul Aysel dan kemudian mereka terlelap.
Pagi hari.
"Yank. Aku mau ke rumah Andra sebentar!" teriak Aska saat menuruni tangga.
Hanya melewati beberapa rumah Aska pun sampai di rumah Andra.
"Selamat pagi Pak Aska!" sapa satpam penjaga rumah Andra.
__ADS_1
"Pagi pak. Si Andra ada pak?" tanya Aska.
"Pa Andra udah berangkat pak tadi subuh."
"Kemana. Pak?"
"Katanya ke Bali pak."
"Awas lu Ndra, lu balik gue kirim lu ke Jerman," geruta Aska dalam hatinya.
"Saya permisi dulu pak." Pamit Aska pada satpam.
"Mas. Kamu kenapa sih?" tanya Aysel saat sedang menata sarapan dan dia melihat suaminya datang dengan menggerutu.
"Si Andra yank. Dia gercep banget, udah pergi ke Bali aja dia," ucap Aska sambil mendudukan dirinya di meja makan.
"Biarin aja sii mas. Dia juga butuh liburan."
"Tapi yank ..." ucapan Aska terputus karna Aysel memberi tatapan tajam dan menunjuk ke Arah Rafa dan Keinya yang sedang memperhatikan Aska. Aysel memberi Isyarat dengan matanya menyuruh Aska diam karna ada Raffa dan Keinya. Aysel sudah sangat hapal bahwa putra putrinya akan meniru semua yang Aska lakukan.
.
.
.
.
Siang hari.
Saat Keinya keluar gerbang sekolah, Dia mengernyit heran saat melihat bukan Aska atau Andra yang menjemputnya. Melainkan Bram.
"Uncle Bram!"
__ADS_1