
-Tidak perlu mengadu, orang baik dan tulus akan mengerti tanpa ku mengatakan nya:)
Pov Yan^
" Kau baik-baik saja? " Tanya Elma saat aku membuka sempurna kedua mata ku.
Aku diam tak membalas perkataannya. Wajahku saja sudah cukup menjawabnya, aku kehilangan minat untuk berbicara, membuat ku memutuskan untuk diam.
" Baiklah, aku pergi sebentar, jangan kemana-mana, okay? "
" Kau pikir aku akan pergi? "
Elma hanya tersenyum berlalu begitu saja, dan menutup pintu ruangan itu rapat.
Aku menyenderkan lagi kepala ku ke ranjang klinik. Aku tidak ingat pasti apa yang terjadi padaku saat pingsan. Saat bangun ku sudah berada di ruangan serba putih ini.
Aku memejamkan mata mencoba menghilangkan rasa sakit yang masih berdenyut nyeri di kepalaku. Sesekali aku melayangkan pandanganku ke arah pintu berharap pintu itu terbuka dan menampilkan sosok yang ku cari beberapa hari ini, Yuan.
Yuan, dimana dia? Sekitar tiga minggu yang lalu dia pamit kepada Ibu dan Ayah untuk pergi kegiatan bersama teman-temannya. Tapi dia tak kunjung pulang, tidak ada yang tahu keadaan maupun keberadaannya bahkan teman dekatnya, Igo.
Aku selalu menanyakan nya kepada semua temannya yang aku kenal. Tapi tidak ada yang tau, aku hampir putus asa. Yuan? Saudara kembar laki-laki ku. Kata orang tua ku dia adalah yang tua. Aku tidak peduli, dia juga tidak pernah meminta dipanggil kakak.
Kami jarang sekali akur, tapi ada terselip rasa kesepian saat dia tidak ada. Beberapa kali aku mencoba menghubungi nomor ponselnya tapi selalu tidak aktif.
Yuan tidak pernah mematikan ponselnya. Membuat ku merasa khawatir, tapi perasaan khawatir itu segera aku tepis. Aku berharap Yuan selalu baik-baik saja.
" Yan? "
Suara lembut Elma membuyarkan lamunan ku tentang Yuan. Ia memasuki ruangan dengan kantong plastik hitam di tangannya.
" Kau haus? Mau minum? " Tanya Elma sambil menyodorkan sebuah botol air mineral.
__ADS_1
" Apa aku harus lari marathon agar tidak haus lagi?
Aku segera menyahut botol di tangan Elma dan membuka tutupnya lalu meminum airnya sampai habis.
Elma hanya tersenyum melihatku. Ku pikir dia teman yang sangat baik untukku. Dia tidak pernah sakit hati atas apa yang kau katakan, tidak seperti yang lain. Sebenarnya dia adalah pacar Yuan. Aku menyukai nya karena dia ramah.
Saat Yuan di kabarkan menghilang di terlihat baik-baik saja seakan tidak peduli. Tapi dari sorot matanya aku tahu dia sedih dan kehilangan, dia selalu menemaniku menemui teman-teman Yuan yang dia kenal dan menanyakan keadaan terakhir atau posisi terakhir Yuan. Tali mereka menjawab sama, baik-baik saja dan perkemahan.
" Yan? "
Lagi-lagi suara lembut itu membuyarkan lamunan ku. Aku menatapnya dan tersenyum. Hanya kepadanya aku tersenyum yang lain tidak.
" Yan, kau tidak mau memberi tahu Ibu Mia? "
" No! Aku tidak mau dia semakin khawatir cukup dia memikirkan Yuan saja, "
" Baiklah, "
Sifatnya yang seperti itu memang membuat Yuan menyukainya. Lagi-lagi Yuan, dimana dia? Kami semua kehilangan jejaknya, tidak ada yang tau sama sekali keberadaannya.
Terakhir kali aku mengirimnya pesan adalah tiga minggu yang lalu, itu pun hanya untuk memintakan izin pada Ibu, karena aku akan pulang terlambat.
Kadang aku merasa bodoh, awalnya aku menganggap Yuan tidak menghilang, tapi hanya sebuah lelucon Ayah. Tapi saat aku melihat Ibu yang terus berdiam dan kadang hendak menangis membuat ku sadar itu sungguhan. Ah, saudara macam apa aku ini?
" Yan? "
Aku segera mengarahkan mataku. Mencoba agar Elma tidak mengetahui keadaan nyu yang sedang memikirkan Yuan. Tapi sia-sia Elma mengerti keadaan ku dan aku tidak pernah bisa melakukannya di hadapan Elma.
" Kau jangan khawatir , Yuan akan kembali, " ucapnya sambil tersenyum.
" Aku, hanya kasihan pada Ibu, "
__ADS_1
" Maka dari itu, kau tidak boleh ikut bersedih. Jangan buat Ibumu lebih sedih dengan kondisi mu, "
Aku tersenyum mendengarnya, terkadang aku berfikir betapa beruntungnya Yuan mendapatkan pacar sebaik dan setulus Elma. Dan beruntungnya aku Elma menjadi teman bahkan sahabatku.
Aku seringkali bersama Elma. Catatan, Aku mengenal Elma setelah dia berpacaran dengan Yuan. Tidak ada niat lain selain berteman dengan ku. Aku tahu dia wanita yang baik. Karena Yuan adalah tipe pemilih.
" Elma, ayo kita pulang, sebentar lagi sore Ibu pasti khawatir "
" Baiklah, "
Aku segera turun dari ranjang klinik. Saat berdiri aku mencoba menahan rasa sakit yang sedikit demi sedikit berkurang. Aku berjalan mengikuti Elma. Kami pergi keluar dan menuju parkiran untuk mengambil motor Elma dan mengantarkan aku pulang.
" Ayo, "
Aku ikut menaiki motor matic milik Elma. Setelah itu dia segera melajukan kendaraannya menuju rumah ku. Sepanjang jalan aku hanya melamun. Lagi-lagi memikirkan Yuan.
Rasanya aku begitu khawatir akan kondisinya aku selalu berharap agar dia baik-baik saja dan segera pulang.
Aku tidak tega melihat Ibu yang terus melamun, tidak seperti ku yang hanya melamun saat berada di situasi seperti ini. Tali Ibu memikirkan Yuan di manapun. Ibu tidak pilih kasih, jika aku yang ada di posisi Yuan pasti dia juga akan se khawatir ini. Karena hanya kami anaknya sedangkan ayah, dia terkadang sangat sibuk. Tetapi dia selalu meluangkan waktu demi bersama keluarga
Akhir-akhir ini ayah lebih sering bekerja di rumah. Lebih tepatnya semenjak Yuan menghilang. Aku tetap pada jadwal kampus ku karena ayah melarang ku ikut mencari, Hanay sebatas bertanya kepada teman-teman nya atau memasang poster 'orang hilang' yang menurutku tidak berguna.
Karena orang di luar sana tidak mungkin percaya seorang pemuda 19 tahun menghilang dari rumah. Bukankah ini terlihat seperti lelucon?
"Yan, sudah sampai, "
Aku segera turun dan mengajak Elma masuk untuk mampir dan memberikan nya minum.
" Dimana, dia? Aku merindukannya, " gumam Elma saat kami memasuki rumah. Aku mendengarnya tapi tidak bertanya, karena Elma tidak akan menunjuk kan kesedihan nya di hadapan orang lain.
" Duduk lah, aku akan ganti baju, biar ku panggil ibu, "
__ADS_1