
[ Hello sweet grief...]
Ponsel Mika berbunyi di atas nakas. Mika yang sedang merapikan kertas yang berserakan di meja belajarnya langsung mengangkat telpon tersebut setelah melihat nama si pemanggil.
"Halo, ada apa Jen, " tanya nya sambil tangan kananya masih sibuk merapikan kertas-kertas tersebut.
"..."
" Apa? Bagaimana bisa?! Kalian di mana sekarang ? Aku akan kesana bersama Kak Yohan , "
" ...."
" Baiklah, " Mika langsung mematikan panggilan tersebut dan mengambil tas yang selalu Ia bawa pergi, menyelempangkan nya di bahu kirinya lalu bergegas menuju ruang kerja Yohan.
Tanpa aba-aba Ia langsung masuk tanpa melihat Yohan yang sedang sibuk dengan banyak berkas di tangannya.
" Kakak, Alya "
" Alya ? Alya kenapa ?" Tanya Yohan yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah Mika, saat nama adik kesayangannya di sebut.
" Aku tidak tahu, tapi Jen dan Andrey membawanya ke rumah sakit, "
" Andrey? Dia ada di kota ini ? "
" Sudahlah lupakan masalah itu, kita harus ke rumah sakit sekarang, tapi sebaiknya jangan beri tahu Ayah, "
" Baiklah Ayo, "
Yohan segera mengambil kunci mobilnya dan bergegas menuju garasi bersama Mika. Ia mengemudikan mobilnya cukup cepat karena khawatir dengan keadaan adiknya. Sampai di halaman rumah sakit Ia segera memakirkan mobilnya lalu bergegas masuk di ikuti oleh Jen. Ia bertanya pada resepsionis rumah sakit.
" Permisi Suster, dimana pasien dengan nama Alyana Mikoto, "
" Sebentar, pasien atas nama Alyana Mikoto sedang ada di ruang UGD
Seelah mengetahui keberadaan adiknya mereka langsung menuju ruang UGD, tampak Jen yang duduk memeluk bonekanya dengan seorang pemuda yang tak asing di sebelahnya.
" Jen, "
" Kak Mika, Alya... "
Jen langsung memeluk Mika karena takut. Mika hanya diam dan membalas pelukan Jen. Sedangkan Yohan memandang pemuda yang sedang duduk di kursi tunggu dengan tatapan tajam. Pemuda itu tak lain adalah Andrey.
" Kak, sudahlah kasihan dia, lupakan saja " ucap Mika saat melihat Yohan yang terus menatap Andrey dengan tajam.
Andrey hendak pergi dari tempat itu, tapi Mika mencegahnya dan menyuruhnya duduk, sehingga dia terpaksa mengiyakannya walau Ia tak nyaman dengan Yohan yang terus menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
Sebenarnya ada apa? kenapa Kak Yohan selalu saja tidak suka pada ku. Batin Andrey.
-oOo-
" Bagus, aku mau gadis itu menderita sebelum dia mati, agar aku juga bisa melihat Adrian menderita dengan keadaan anak kesayangannya. "
Nyonya ku mohon sadarlah. Ini semua salah, semua itu salah, dendam tidak akan menyelesaikan semuanya. Batin pemuda itu, tapi Ia hanya bisa mengeluarkan semua kekesalannya di makam ibunya tidak di hadapan wanita yang sedang ada di hadapannya atau nyawa ayahnya akan hilang seketika itu juga.
-oOo-
Alya Pov^
Ku dengar samar-samar suara seseorang di samping ku. Ku rasakan tanganku yang kaku, aku ingin membuka mata ku tapi terasa sulit. Suara yang terdengar samar itu makin jelas di telingaku. Aku terus berusaha membuka mataku walau terasa berat. Akhirnya aku bisa membuka mata ku, ku lihat Jen yang duduk di samping ranjang ku sambil memeluk bonekanya. Aku ingin bicara tapi bibirku serasa kaku.
-oOo-
Author Pov^
Alya membuka matanya. Ia hendak berbicara tetapi bibirnya seakan kaku. Ia diam menatap Jen yang juga diam sambil menatapnya dengan sendu, Ia tidak mengerti ada apa, Ia tidak melihat Yohan atau Mika di sana. Sehingga Ia diam sambil memejamkan matanya. Dan Jen hanya diam, tatapan matanya seakan mengungkap kan sebuah permintaan maaf.
-oOo-
Di ruang tunggu Yohan dan Mika sedang mendengarkan penjelasan Andrey tentang apa yang terjadi pada Alya.
" Saat itu aku hendak pergi ke rumah kawan ku, saat aku berhenti di taman aku melihat Jen dan Alya. Saat itu ku lihat Jen memasuki sebuah toko minuman. Tak lama kemudian, ada seseorang yang mendekati Alya, aku tidak melihat apa yang dilakukan orang itu karena saat itu sebuah mobil box melintas sehingga menghalangi pandanganku, saat mobil itu sudah lewat aku tidak melihat orang yang mendekati Alya tapi ku lihat, Alya memegangi kepalanya seperti sedang kesakitan, jadi aku memutuskan menolongnya, aku tak sengaja melihat sebuah botol minuman di kursi taman tempat duduk Alya, "
" Unknown Number, " Gumam Mika.
Tak lama kemudian ponsel Mika berdering menandakan ada pesan masuk.
'Kejutan sudah dimulai Nona, apa kau suka ?'
Tanpa berpikir panjang Mika langsung menghubungi nomor si pengirim tali nihil, nomor itu sudah tidak aktif lagi.
" Sial, pasti dia orang yang sama dengan tadi malam," Gumam Mika yang masih terdengar oleh pendengaran Yohan.
" Apa maksudmu Mika ? " Tanya Yohan.
" Unknown Number, Who this ?"
Yohan tampak mengerutkan dahinya mendengar kata-kata Mika.
Unknown Number ?
" Damn It! Pasti nomor itu!" Kesal Yohan, membuat Andrey dan Mika yang ada di sana.
__ADS_1
" Kak ,Yohan,,, " Seru Jen dari ambang pintu ruangan Alya.
" A, Ada apa ? Apa yang terjadi ? "
Jen diam sejenak. Oh aku tidak mau menjadi seperti ini lagi. Cukup gadis boneka yang di kenal orang bukan gadis berbahaya seperti dulu.
Jen mendekat.
" Aku tahu, ada yang mencoba mencelakakan Alya,"
" Hei, apa maksudmu ?!" Mika tidak mengerti.
" Aku tahu, saat aku di dalam tadi, seorang suster hendak memasukkan sesuatu ke dalam infus Alya, jadi aku menukar cairan itu dengan air putih saat suster itu pergi, jadi syukurlah Alya tidak apa, dan ini juga yang kedua kalinya, " Jen menghembuskan nafas panjang di akhir kalimatnya.
" Jen jangan bilang kau, "
" Kakak, Kak Mika tau aku kan, Aku tidak mau begini lagi, tapi apa boleh buat, saat Alya kecelakaan waktu itu, aku tahu ini di sengaja jalan itu cukup sepi dan jarang terjadi kecelakaan di sana, karena polisi tidak mencari pelakunya, padahal ini seperti tabrak lari, bahkan Alya sampai hilang ingatan. Dan saat Alya masuk rumah sakit karena sakit kepalanya, aku melihat seorang suster memasukkan bubuk ke dalam makanan Alya, tapi sepertinya Alya tahu itu. Jadi aku kembali keluar rumah sakit dan membeli makanan serta kotak bekal. " Jen berkata dengan sedikit sendu.
" Aku hanya tidak tahu, kenapa sekarang aku kurang mengerti dengan keadaan sekitar ku, " Ucapnya dengan mata mulai berkaca-kaca. Andrey yang melihatnya hanya diam tidak berusaha ikut campur. Karena Yohan juga tidak akan mempercayainya.
" Jen, "
" Aku tahu, aku tahu, aku tahu aku salah ,harusnya aku memberi tahu kalian tapi aku merasa aku bisa. Sampai aku tidak sadar kemampuan ku tidak seperti dulu lagi, "
" Bukan begitu, Jen kau hanya merasa malu dengan dirimu yang dulu, "
" Tidak! Kalian tidak tahu apa yang ku rasakan hanya Alya yang tahu, tapi sekarang Alya, " Air mata Jen tidak dapat di bendung lagi Ia menangis. Menangisi kepayahannya sendiri. Mika yang iba melihatnya langsung mendekap Jen layaknya seorang adik.
-oOo-
Alya Pov^
Sudah dua kali ada seorang perawat yang mau melukaiku. Tapi untungnya aku selamat. Tapi kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi ? Aku harus cepat mencari tahu semua ini.
-oOo-
Hai- Hai jangan lupa like dan komennya yha...
Buat yang tanya, eh mana da Yang nanya ya, author kok lupa sih, hehe.
dahlah bye-bye..
•
•
__ADS_1
•