Loss Of Yuan

Loss Of Yuan
Ch 23 ~ Kenyataan


__ADS_3

Alya masih terbaring lemah di ranjang rumah sakitnya. Ia tampak belum membuka matanya saat seorang perawat masuk ke ruang rawatnya. Perawat itu, tampak membawa sebuah nampan berisi makanan. Ia meletakkan nampan tersebut di meja yang ada di sisi kanan ranjang Alya. Sejenak Ia menatap Alya dengan iba. Lalu mengucapkan beberapa kata.


" Maafkan aku, aku terpaksa, " ucap perawat itu dengan suara parau. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil dari saku bajunya. Saat Ia baru membuka tutup botol tersebut, tangan Alya tiba-tiba memegang tangan itu dengan kuat.


" Aku tidak memaafkan mu, " Ucapnya dengan suara lemah dan tanpa menatap perawat tersebut. Ia melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tangan perawat tersebut.


" Pergilah, aku ingin istirahat "


Perawat itu masih terkejut karena aksinya ketahuan oleh Alya. Tapi secepatnya Ia keluar dari ruangan itu. Lalu pergi menghilang dari rumah sakit. Tak lama kemudian Jen masuk bersama Mika dan seorang gadis lain. Rambutnya hitam seperti Mika, hanya saja tubuhnya sedikit lebih tinggi dan senyumannya tidak sedingin Mika walau Ia terlihat jarang tersenyum.


" Hai, Alya selamat pagi!" Sapa gadis itu yang tak lain adalah Felice.


Alya hanya menanggapinya dengan tersenyum. Aku lelah sekali.


" Kau belum sarapan ? Kalau belum tadi Ibu ku memasakkan makanan untukmu, katanya dia sudah rindu padamu, " sambung Felice lagi masih dengan senyumannya.


" Aku mau makan " Ucap Alya seraya bangkit dari tempat tidurnya. Kondisinya sudah lebih baik dari hari-hari sebelumnya, tetapi Ia masih belum di izinkan pulang oleh dokter karena kondisinya masih lemah.


" Kakak, " Panggil Alya kepada Mika yang sedang duduk di sofa ruangan tersebut.


" Iya, kenapa ?"


" Aku ingin jalan-jalan bersama Jen di taman rumah sakit, tapi apa boleh ?"


" Boleh, tapi kau harus makan dulu, supaya kau cepat pulih dan kembali ke rumah, " Ucap Mika sambil tersenyum walau senyuman itu terkesan dingin, tapi bagi Alya dia merasa senyuman itu sangat berharga. Setelah mendapat izin dari Mika, Alya segera menghabiskan sarapan yang di bawakan oleh Felice.


Rasanya tidak pernah berbeda. Gumamnya dalam hati.


-oOo-


Alya dan Jen sedang berada di taman, mereka duduk berdua di atas kursi yang berada di bawah sebuah pohon rindang. Jen diam sambi memeluk bonekanya.


Tiba-tiba saja Alya langsung memeluk Jen sambil terisak membuat Jen kebingungan karenanya.

__ADS_1


" Alya kau kenapa ?" Tanya Jen bingung.


" Aku merindukan mu, Jen" jawab Alya di sela-sela Isak tangisnya. Ia masih memeluk kuat tubuh mungil Jen yang sedang kebingungan.


" Baiklah kalau kau merindukanku maka kau harus cepat sembuh agar kita bisa bermain boneka lagi, " Ucap Jen saat Alya sudah melepaskan pelukannya.


" Aku merindukan mu bukan boneka! Dasar menyebalkan! " Cebik Alya kesal.


"Eh--" Jen memandangi Alya yang masih mengusap bekas air mata di pipinya.


" Apa? Boneka itu membosankan tau!" Ujar Alya kesal sambil memandang Jen yang masih bengong.


Jen masih terdiam belum sepenuhnya mengerti akan maksud Alya membawanya kesini.


Alya tiba-tiba menangis dan memelukku, apa tidak salah? Lalu dia bilang kalau boneka itu membosankan , hah?! Apa aku tidak salah dengar? Apa, Apa ? .


" Jen! Kau tidak mendengar kan aku ya!" Alya mengguncang bahu Jen yang sedang melamun.


"Ah, a.. ap. eh tidak, Alya..." Jen menggantung kalimatnya.


" Kau, sembuh " Tanya Jen tidak percaya. Ia merasa sedang berada dalam mimpi, saat mendengar kenyataan ini.


" Aku sembuh sejak, aku masuk.rumah sakit waktu itu, aku hanya sengaja menyembunyikan semuanya karena aku punya rencana " Tutur Alya sambil tersenyum miring di akhir kalimatnya.


" Rencana ?"


" Jen, apa sebelum ini aku juga pernah lupa ingatan ? " Tanya Alya memastikan pemikirannya selama ini.


" Eum, iya kenapa memang nya " Jen masih berusaha mencerna semuanya.


" Waktu itu, saat aku masuk rumah sakit dan tidak sadarkan diri beberapa hari, aku mimpi aneh sekali mimpi itu putus-putus, tapi seperti rangkaian kejadian, dan aku tidak melihat wajah ibu ku sama sekali. Kau tahu selama ini aku tidak pernah peduli pada ibuku dan dimana dia berada, tapi aku tahu dia masih hidup sampai sekarang dia belum mati!" Alya berkata dengan menggebu-gebu.


Jen spontan menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Alya. Karena setahunya Yuri Kayano sudah mati, tapi tidak ada yang tahu di mana jasadnya berada. Sehingga keluarga besarnya mengklaim kalau Yuri sudah mati.

__ADS_1


" Kau tahu, ternyata selama aku lupa ingatan aku selalu bermimpi di datangi seorang wanita cantik dia baik dan selalu memelukku dengan lembut, pelukan seorang Ibu, " Katanya dengan suara parau.


" Dia memanggilku bukan dengan nama Alya tapi Ana, aku juga berulang kali mendengar Kak Yohan dan Kak Mika memanggil ku dengan sebutan Ana, tapi mereka selalu menghindar saat aku bertanya,lalu saat aku kecelakaan bersamamu, ahh.malam itu " Alya mulai menceritakan yang terjadi.


FlashBack On...


Aku sedang berada di dalam mobil bersama Jen tiba-tiba Jen berteriak dan mengambil kendali mobil lalu membanting setir ke arah kanan, aku tidak mengerti ala yang terjadi. Aku merasa semua baik-baik saja. Tiba-tiba aku merasa berada di tempat lain, aku tidak tahu dimana ini. Tali aku melihat seorang wanita duduk di sudut ruangan sambil.menekuk kakinya ada seorang Pria di sana. Tapi aku tidak melihat wajahnya karena dia membelakangi ku. Aku melihat wanita itu ketakutan Ia menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya, saat dia mengangkat wajahnya aku terkejut setengah mati. Wanita itu yang selalu datang di mimpi ku dan memelukku seperti anaknya. Aku masih diam mematung wanita itu seperti bisa melihat kehadiran ku tapi tidak dengan lelaki yang ada di sana. Aku hanya melihat ke arah wanita di sudut itu, hingga aku tidak menyadari lelaki itu sudah pergi sehingga aku kehilangan kesempatan melihat wajahnya. Aku mendekati wanita itu dan berdiri di depannya. Dia menangis melihat ku padahal biasanya dia selalu tersenyum saat datang di mimpi ku. Aku mendengar dia menyebut nama ku. 'Alyana Mikoto' Aku tidak tahu dari mana dia tahu nama ku. Tapi dia bilang kalau dia ibu ku dan dia menceritakan semua masa kecilku termasuk Mika dan Yohan di dalamnya. Aku menangis tidak percaya dengan semua ini.Bukan kah Mama sudah meninggal? Begitu yang ada di pikiran ku, tapi tidak! ini tampak seperti hunian manusia aku bisa merasakannya. Saat suara pintu terbuka tiba-tiba sebuah cahaya putih yang terang menangkap ku, lalu aku terbangun dan mendapati orang-orang berwajah khawatir di sekeliling ku. Aku melihat Kak Mika dan Kak Yohan. Aku jadi kembali mengingat cerita Mama. Tapi aku juga bingung Mama tidak menceritakan perihal Papa sama sekali. Dan aku jga tidak melibat keberadaan Papa di sana. Aku memutuskan bersandiwara hilang ingatan lagi untuk memikirkan ini semua. Karena ada beberapa lintas bayangan kejadian yang datang di hadapan ku membuat ku pusing termasuk kejadian ingatan Camelia tempo hari. Tapi setelah itu aku memutuskan untuk jujur kepada Jen. Jenneth Fanasehya yang terlihat paling mengkhawatirkan mu selain Yohan dan Mika.


FalshBack Off...


Seusai Alya menceritakan semuanya. Ia kembali menatap rumpun bunga di hadapannya Dahlia Pinnata, bunga yang di gemarinya semenjak kejadian kecelakaan itu. Jen yang sedari tadi hanya diam berusaha mencerna semua perkataan Alya tiba-tiba berdiri lalu beralih duduk di depan Alya dan mengeluarkan sebuah foto dari saku bajunya. Alya memandangi foto itu foto seorang gadis kecil yang berdiri di sebuah taman tak ada senyuman di wajahnya gadis itu terlihat duduk di sebuah kursi taman dan menggenggam sebuah bunga merah di tangannya.


" Camelia merah, " Gumamnya setelah melihat foto tersebut.


" Kau tahu, Camelia merah sangat kau sukai saat kau masih kecil, tapi setelah kau mengalamikecelakaan mobil bersama Tante Yuri, kau melupakan semuanya kau malah menyukai Camelia putih. Sedangkan Tante Yuri tidak ada yang tau dimana dia sekarang karena jasadnya tidak di temukan. " Ucap Jen dengan suara parau, menahan tangis karena mengingat kejadian itu.


" Alya, apa sekarang kau sudah ingat ? "


Alya hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Tak disangka Jen langsung memeluk erat Alya sambil menangis.


" Kak Alya " Ucapnya di sela Isak tangisnya.


" Kakak? Bukan kah kau ? "


Jen melepas pelukannya lalu menatap Alya dalam-dalam.


" Kau belum ingat semua ternyata, tapi jalani dulu kenyataan ini agar kau mengerti " Ucap Jen sambil tersenyum.


Bersambung....


***Hai, author mau kasih tau kalau cerita ini mau cepat di tamatkan ><.


Konflik sudah di mulai memang awalnya agak aneh tapi ini sudah hampir mencapai puncak konfliknya jadi tetap baca terus novel AKS yah...

__ADS_1


Bye- Bye...


Happy Arhaa ❤️🌻***.


__ADS_2