
" Ayah, apa tidak sebaiknya kita lapor saja? " Yan yang sedang duduk bersama ayah dan ibunya di ruang tamu bertanya.
Gerf tampak memasang raut wajah tidak suka. Ia sedikit mengerut kan keningnya sebelum akhirnya menjawab.
" Yuan sudah cukup besar, dia berusia 18 tahun Yan. Lagipula masalah seperti ini hanya akan di anggap remeh terutama karena usianya. Jadi kita harus berusaha sendiri, " Tuturnya.
" Em, baiklah. Yan pergi ke kamar dulu ya? Masih ada makalah yang harus di selesaikan, selamat malam, Mama- Ayah "
Yan berlalu meninggalkan kedua orang tuanya. Ia masuk ke kamar tidurnya lalu mengunci pintunya dari dalam.
" Mas, kenapa kau kekeh tidak ingin laporkan ke polisi, aku khawatir dengan Yuan, " tanya Mia dengan suara sedikit lirih.
Aku sudah mengatakannya tadi, Mia. Lagipula Yuan pemuda yang kuat aku yakin dia punya masalah sendiri dan tidak mau menyusahkan kita, percayalah. " tutur Gerf berusaha menenangkan istrinya.
Di kamar Yan.
" Ayah tetap tidak mau melapor polisi, bagaimana cara menemukan Yuan? Aku juga sedikit khawatir dengan keadaannya, " ucap Yan gelisah sambil mondar-mandir di dekat tempat tidur. Menggigit ujung kukunya.
" Uhh, bahkan Elma juga sudah tidak tau harus bagaimana, aku juga bingung, kemana perginya Yuan? "
__ADS_1
Sebenarnya tidak ada makalah yang harus di selesaika, itu hanya alasan Yan untuk menyendiri di kamarnya, sambil berusaha mencari jalan keluar.
Sebelumnya Ia sudah membuka akun sosial media milik Yuan, sayang nya akun tersebut di private. Ponselnya juga tidak aktif, itu yang membuat Yan semakin khawatir akan saudara kembarnya.
Ia masih mondar-mandir di kamarnya seperti sebuah setrika yang dengan rajin merapikan pakaian di bawahnya. Sesekali Ia berhenti sekedar menatap.jam dinding di dekat meja belajarnya.
Akhirnya setelah sekian lama berfikir dan tidak menemukan titik keluar yang sekiranya tepat, Yan mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur. Bertepatan dengan itu ponselnya bergetar karena ada panggilan masuk.
Unknown Number
Yan mengernyit sebelum menggeser ikon hijau di layar ponsel dan mendekatkan benda itu ke telinganya.
Tidak ada jawaban.
" Halo? Siapa ini? Halo? "
Tut.. Tut..
Dan panggilan terputus begitu saja. Membuat Yan sedikit kesal karena nya. Ia meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja. Lalu memejamkan matanya berusaha untuk tidur.
__ADS_1
" Where are you, Yuan? I'm worried about you,. gumamnya lirih seperti bisikan.
Dan pada akhirnya Yan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, tetapi Yan tetap tidak bisa memejamkan matanya sama sekali, membuatnya sedikit merasa pusing. Ia bangkit dan berniat keluar menuju dapur untuk mengambil air minum, tapi di urungkan nya saat dilihatnya sebuah gelas berisi air di atas meja.
Ia meraih gelas itu dan meminum airnya. Saat Ia hendak kembali ke tempat tidur, Ia mendengar suara pagar rumahnya di buka. Sekilas Ia merasa takut kalau-kalau ada orang jahat yang masuk, tapi pikirannya segera di tepis saat Ia melihat melalui jendela kamarnya dan tidak ada siapa-siapa di sana. Ia bernafas lega, lalu beranjak kembali tidur.
Setelah berkali-kali mengubah posisi akhirnya Yan berhasil terlelap dalam alam mimpi.
Di sisi lain.
" Aku harus segera kembali sebelum banyak yang melihat keberadaan ku, "
Seseorang berjalan di antara kegelapan malam, menuju kegelapan yang semakin mengkungkung nya membuat sedikit perasaan takut berkembang sempurna.
Sosok itu terus berjalan sampai hilang di sebuah jalan kecil tanpa penerangan. Menyisakan jejak kaki berdebu di sepanjang jalan yang di laluinya.
**Bersambung....
Maaf terlalu pendek, banyak deadline tugas** ;)
__ADS_1