
Seorang gadis nampak terbaring lemah di sebuah ranjang rumah sakit. Jarum infus masih melekat di punggung tangan kirinya. Cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah gorden tak membuatnya bangun. Gadis itu masih terlelap dalam tidurnya, tidak!Lebih tepat adalah, pingsannya. Seseorang duduk di kursi mengamati gadis itu sambil tersenyum. Menyentuh tangannya, mencoba membuat gadis itu terbangun. Tapi tak bisa. Gadis itu hanya diam tanpa berniat membuka matanya. Sosok itu hanya diam.
Aku tahu keluarganya tidak akan datang sepagi ini. Bahkan mereka lebih memilih pekerjaannya daripada nyawa gadis ini.
________🖊️
Gadis kecil itu berlarian mengitari rumpun bunga yang indah. Memetik satu lalu mencabut mahkota putih bersih itu, menghamburkannya ke segala arah.
" Aku suka Camelia, "
"Alya ku sayang lupakan tentang Camelia sudah saatnya kau bangun, "
_________🖊️
Mata Alya perlahan membuka, cahaya terang yang masuk secara tiba-tiba ke matanya membuatnya mengerjap-ngerjapkan matanya karena silau. Putih, masih di ruangan yang sama. Sepi. Tidak ada siapa-siapa.
Ahh, Dimana aku ? Kemana semua orang ?
Ia mencoba mendudukkan tubuhnya di sandaran tempat tidur. Ia edarkan pandangannya menyapu sekeliling ruangan, rumah sakit. Ia hanya diam, ingin bergerak tapi takut rasa sakit di kepalanya datang lagi, karena ingatan-ingatan itu terus berlarian membayanginya secara berantakan.
Siapa yang berbicara dengan ku tadi malam. Apa hubungan ku dengan Camelia ? ,
"Camelia Putih..."
"Aku suka Camelia "
Alya tidak mau mengingat atau mencoba mengingat hal-hal lain. Ia takut sakit kepala itu akan terus menyiksa dirinya. Akhirnya dia hanya diam, menunggu seseorang atau perawat datang. Ia tolehkan pandangannya ke arah meja di sampingnya. Ada secarik kertas berisi sebuah tulisan. Ia mengambil kertas itu dan membacanya.
Kau gadis kuat, lekaslah sembuh agar aku bisa mengganggu mu lagi.
" Dia orang yang sama dengan tadi malam, siapa dia ? " Pikiran Alya berkelana menebak sosok misterius yang berbicara padanya tadi malam. Alya mulai merenung mengingat kembali wajah ibunya.
" Mama... "
" Alya kau sudah sadar, " heboh Jen yang tiba-tiba masuk ke ruang rawat Alya. Sontak membuat Alya yang sedang melamun itu kaget.
" Aku khawatir sekali kemarin, syukurlah kau tidak apa-apa, " Jen duduk di kursi yang ada di dekat ranjang Alya.
" Apa kepalamu masih sakit,? "
Alya hanya menggeleng lemah, menjawab pertanyaan Jen.
__ADS_1
" Aku membawakan mu buah, ayo makanlah yang banyak, kalau kau sudah sembuh nanti kita akan bermain boneka berdua, Devi dan Ara juga ingin membawa mu pergi ke taman bunga melihat bunga Camelia putih yang cantik, kau suka ?" Jen berbicara sangat antusias.
" Camelia.... " Alya berucap lemah. Di lihatnya Jen mengangguk penuh semangat. Perlahan bayangan gadis dengan bunga putih kembali hadir di hadapannya.
^
" Alya ku sayang.... "
" Ana, Camelia putih!"
Gadis kecil itu tersandung, sehingga bunga-bunga putih di tangannya jatuh berhamburan ke tanah.
" Aku suka Camelia, "
" Yang berwarna putih, Mama "
^
Alya Pov^
Saat bayangan gadis kecil dan bunga-bunganya itu hadir aku merasa kepala ku kembali sakit. Tapi ku menahannya agar Jen tidak khawatir. Siapa gadis kecil itu, ada apa dengan Camelia putih ? Pikiran ku berkelana mencari kepastian bayangan itu. Sayup-sayup ku dengar suara Mama berbicara pada ku.
" Alya sayang lupakan tentang Camelia,... "
" Camelia putih!"
Kepalaku serasa mau pecah pandangan ku rabun ku lihat semua seakan gelap dan bergoyang seperti gempa bumi. Ku dengar Jen yang berteriak memanggil dokter sambil memegang tangan ku.
Ku dengar suara langkah kaki mendekat, entah siapa aku tidak tahu, pandangan ku kabur, gelap, semua seakan hilang tertutup bayangan yang terus berputar bagai kaset rusak. Dan, brukk. Aku kehilangan kesadaran ku lagi untuk kesekian kali.
-oOo-
Aku berada di taman yang di penuhi rerumpunan bunga putih seperti mawar. Aku berjalan ku petik bunga itu, familiar. Aku merasa mengenal bunga ini, tapi aku lupa namanya. Tiba-tiba seseorang memanggil ku dengan berteriak. Ku balikkan tubuh ku, seorang wanita berdiri tak jauh dari hadapan ku di tangannya ada sebuah belati yang masih mengkilat karena tajamnya. Ia perlahan mendekati ku sambil tersenyum. Aku ketakutan melihat senyumannya, perlahan aku memundurkan langkah ku, dia terus mendekat. Tiba-tiba dia mengarahkan belati tajam itu ke arah ku, sambil berteriak.
" Kau harus mati di tangan ku gadis manis nya Mikoto!!!"
Aku takut, tubuh ku seakan kaku. Aku membayangkan tajamnya belati tersebut menembus perut ku. Tidak, tidak ada yang ku rasakan. Ku buka mataku, tubuh seseorang tepat berada di hadapan ku, darah mengalir deras dari perutnya yang tertancap belati. Tubuhnya seperti bermandikan darah, Aku memeluknya sambil menangis ketakutan, aku tidak bisa melihat wajahnya yang tertutup sebagian Tudung lebarnya. Dengan tangan yang masih berlumuran darah dia bersusah payah mengambil sebuah bunga yang gugur di tanah, meremasnya menggunakan tangannya yang penuh darah. Merah, bunga itu berubah menjadi merah, tidak tersisa sebercak atau setitikpun warna putih di sana. Ia memberikan bunga itu padaku, Camelia Merah Darah! Aku takut tapi tanganku seakan bergerak sendiri menggenggam bunga tersebut. Ku dengar dia berkata.
" Lupakan Camelia putih itu hanya menyiksa mu, "
Setelah itu ku rasakan napasnya sudah tidak ada lagi, dia meninggal di pelukanku, tubuhku terkena aliran darahnya baju putih ku ikut menjadi merah menyerap darahnya. Aku masih ketakutan, wanita yang membawa belati itu sudah pergi entah kemana. Aku masih memeluk wanita bersimbah darah itu dengan erat. Aku gemetar ku genggam erat Camelia Merah Darah di tangan ku, ku pejamkan mataku lalu ku buka segera selebar-lebarnya.
__ADS_1
^
" Dokter, dia sadar dok, " Jen sedikit berteriak saat melihat Alya membuka matanya secara tiba-tiba. Dokter pun segera mendekati ranjang Alya memeriksa denyut jantungnya. Lalu menyuruh seorang perawat memberikan obat penenang agar Alya beristirahat.
" Biarkan dia istirahat "
Dokter dan perawat itupun pergi meninggalkan ruangan tersebut hanya tersisa Jen dan Alya di sana. Jen masih setia menunggui Alya sadar, Ia menelpon Mika untuk datang ke rumah sakit menemaninya menunggui Alya. Sekitar 15 menit kemudian pintu ruangan terbuka nampak Mika dan Yohan datang bersama. Mereka mendekat ke ranjang Alya. Lalu duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
-oOo-
" Apa kau sudah melaksanakan tugas mu dengan baik, ? "
" Iya nyonya "
" Bagus, gadis itu akan mati, harus mati !!"
Cih, siapa yang mau melakukan tugas keji seperti itu lebih baik aku memasukkan racun itu ke dalam minuman mu bukan cairan infus gadis itu, Nyonya Iblis!
-oOo-
Bersambung....
Ada yang penasaran ngga sama sosok "Nyonya Iblis" Dan " Pemuda suruhannya" Itu ?
Haha, Arhaa bakal kasih tau di episode-episode berikutnya jadi baca aja terus Novel Alyana Ku Tersayang yahh 🤗.
Oh Ya, Arhaa bakal tamatin novel ini, dan ngga sampe ratusan episode karena Arhaa ngga suka bikin novel yang terlalu bertele-tele.
Ya udah yah Bye-Bye sampai sini dulu hari ini. 🖖🏻🤗..
.
—Picture Cover by arhaa_
•
•
•
__ADS_1
•
•