Loss Of Yuan

Loss Of Yuan
chapter 9 [19/10/20-9]


__ADS_3

Setelah kembali dari kampus Yan langsung pulang ke rumah tanpa berniat pergi bersama Elma atau apapun itu. Ia butuh istirahat, lebih tepatnya adalah otaknya yang membutuhkan istirahat.


Ia merebahkan tubuhnya begitu saja di atas tempat tidur, membiarkan sepatuaaih melekat di telapak kakinya. Tas selempang biru tua di lemparkan nya ke sembarang arah hingga tercecer di lantai. Ia kelihatan kacau hari ini.


Tak butuh waktu lama, Ia langsung terlelap begitu saja setelah memejamkan mata. Tidak memedulikan tubuhnya yang masih lengket oleh keringat dan bau badan.


Yan baru terbangun saat jarum merah di jam dinding menunjuk ke angka 5, segera ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu Ia kembali ke tempat tidur duduk menghadap jendela kaca yang tertutup rapat di tambah tirai tipis sehingga hanya ada udara yang masuk melalui ventilasi.


Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Meskipun sudah mencuci wajahnya rasa kantuk itu tetap datang. Berusaha untuk tetap terjaga sebelum malam, Yan beralih membuka ponselnya.


Banyak pesan masuk dari grup kelasnya. Serta beberapa pesan dari teman-temannya yang lain. Ia tidak berniat sama sekali untuk membuka pesan. Ia hanya melihat tampilan luar pesan tersebut lalu menscroll layar ke bawah. Tidak ada yang menarik, Ia meletakkan kembali benda pipih itu di atas meja.


Ia berdiri lalu melangkah menuju jendela. Di singkapnya tirai tipis itu, sampai terbuka sempurna. Langit nampak mulai meredup, matahari hampir mencapai tempat peraduannya. Burung-burung beterbangan menuju sarangnya.


Sekejap Ia teringat Yuan, saudaranya yang belum kembali ke rumah sampai saat ini. Ia menutup lagi tirai tipis itu. Lalu kembali ke tempat tidur. Duduk berdiam tanpa melakukan apapun. Sampai suara derit pintu membuat nya menoleh.

__ADS_1


Mia masuk.


" Mama? "


Mia duduk di samping Yan. Tanpa menjawab perkataan anak perempuannya. Justru Ia balik bertanya.


" Kau lelah, Yan? "


Sejenak Yan diam. Ia tahu Mamanya masih memikirkan Yan. Mereka hanya mencari sebisanya tidak melapor polisi karena anjuran dari Gerf, dengan menyangkut pautkan usia Yuan. Entahlah sebenarnya itu hanya anjuran atau larangan, Yan tidak mengerti.


" Istirahatlah, masalah Yuan, seharusnya kau tidak oelu bersusah payah, " Ada nada keputusan adaan di sana. Yan hanya diam tak tau harus berkata apa. Di satu sisi Ia lelah kalau terus mencari tanpa membuahkan hasil. Di sisi lainnya Ia merasa Yuan adalah saudaranya, bagaimana pun Yuan harus kembali begitu pikirnya.


" Yuan akan ketemu, Ma. Dia akan pulang, " kata Yan meyakinkan sang Mama.


Mia hanya menatap kosong ke jendela. Ada gurat kerinduan di garis wajahnya. Kerinduan akan putra satu-satunya. Kerinduan akan kebersamaan keluarga yang nyaris lenyap di telah kesibukan.

__ADS_1


" Baiklah, nanti turunlah makan malam, " ucap Mia seraya berlalu dari sana. Di tutupnya pintu kamar Yan secara perlahan.


Yan hanya diam. Berusaha setenang mungkin.


" Sebenarnya kemana Yuan? " gumamnya entah untuk keberapa kalinya dia terus menggumamkan pertanyaan yang sama. Tanpa tahu pasti jawaban apa yang akan dia dapatkan.


Perlahan Ia berdiri lalu melangkahkan kakinya keluar kamar dan menutup rapat pintunya, berjalan menuju tempat dimana Mia berada.


" Setidaknya Yuan pasti kembali, karena... "


Bersambung....



__ADS_1



__ADS_2