Loss Of Yuan

Loss Of Yuan
Ch 15 ~ Dahlia.


__ADS_3

Pagi harinya...


Alya terbangun karena sinar matahari menembus tirai kamarnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Ia masih belum terbiasa dengan lingkungannya.


" Hei, kau baru bangun biasanya kau kan bangun lebih dulu daripada aku" Seru Jen yang tiba-tiba muncul dari luar sambil memeluk boneka kelinci.


Apa maksudnya gadis ini,?Biasanya ? Memangnya siapa aku ? Aku harus bagaimana memangnya ?. Batin Alya Ia hanya duduk sambil menundukkan kepalany berusaha menahan air mata yang hampir menyeruak keluar.


Mama, seharusnya aku tidak perlu bangun. Seharusnya tidak! Aku tidak mau bangun kalau akhirnya, semua menganggap ku bohong.


Air mata yang dari tadi berusaha Ia tahan keluar dengan sendirinya, Ia mengusap air matanya dan segera berlalu ke kamar mandi.


" Apa dia menangis ? Kenapa dia jadi sensitive begitu, aku salah bicara apa ?" Gumam Jen sambil menatap pintu kamar mandi yang tertutup.


Alya selesai membersihkan tubuhnya Ia segera menyisir rambutnya yang masih basah. Membiarkannya tergerai.


" Hei, kenapa tidak pakai hair dryer ? Biasanya juga pakai, " Ucap Jen tiba-tiba.


Lagi-lagi Alya merasa air matanya hampir mengalir Ia cepat-cepat menahan tangisnya, Ia menunduk dalam.


Siapa aku sebenarnya ?. Gumam Alya dalam hati sambil berusaha menahan tangisnya.


Alya hanya diam tanpa berniat mengajak Jen berbicara, Ia segera berlalu keluar kamar menuruni tangga menuju dapur. Sebelum sampai tujuan, Ia berbalik melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Sesampainya di sana Ia diam memandangi sebuah foto.


" Mama, " Gumam Alya sedih.


Ia meraba foto itu, berdebu. Ia memerhatikan tangannya yang tampak kotor. Lalu pergi meninggalkan ruang tamu menuju taman belakang. Ia duduk di sebuah kursi kayu panjang yang ada di sana. Kembali memerhatikan bunga-bunga di sana. Ia menengadahkan kepalanya lalu memejamkan matanya. Membiarkan panas matahari menerpa kulit putihnya.


Dari teras belakang Jen nampak memerhatikan Alya. Ia bermaksud menghampiri Alya tapi niatnya di tersebut di urungkannya saat mengingat kejadian di kamar tadi.


Dia bahkan tidak mau berbicara padaku. Apa salah ku ? Dia sungguh berbeda. Kenapa dia sensitive sekali ?. Gumam Jen dengan perasaan sedihnya. Ia segera berlalu dari sana, meninggalkan Alya sendiri di taman, tanpa Ia sadari Alya sudah mengamati keberadaannya di sana.


Alya kembali menengadahkan kepalanya ke atas. Matanya sedikit terasa silau tapi tak dihiraukannya, masih duduk dengan posisi yang sama, enggan berubah. Saat di rasa kulit wajahnya mulai memanas, Ia mengarahkan pandangannya ke depan di tatapnya gerombolan bunga Dahlia Pinnata berwarna oranye kemerahan di sana.


Cantik!


Alya memejamkan matanya mencoba menenangkan pikirannya yang berkecamuk.

__ADS_1


Sebenarnya siapa aku ? Apa sebelumnya mereka juga selalu mengawasi ku seperti itu, aku sangat tidak nyaman. Oh Mama....


Batin Alya terus berkelana mengingat wajah ibunya yang sudah tidak pernah hadir di alam bawah sadarnya.


-oOo-


Jen berjalan menyusuri taman sepi seorang diri sambil memeluk boneka kelinci berwarna putih dengan pita besar di belakang lehernya. Ia menghentikan langkahnya di depan gerombolan bunga camelia putih. Ia memetiknya satu, memerhatikannya lalu tersenyum.


Cantik!


Pikirannya menerawang mengingat seseorang yang berkaitan dengan bunga tersebut. Ia segera menepis pikirannya, melangkahkan kakinya ke arah sebuah kursi taman yang ada di sisi pinggir berdekatan dengan gerombolan bunga sepatu. Ia mendudukkan tubuhnya di sana memeluk boneknya dengan erat. Sembari memejamkan matanya, merasakan angin sepoi-sepoi menerpa kulitnya.


Dua orang gadis berjalan mendekati Jen yang masih menikmati hembusan angin. Mereka mendekat, saat sudah berada di sisi Jen salah satu dari mereka menepuk pundak Jen, membuat Jen membuka matanya.


" Kau sendiri, mana Alya ? " Tanya seorang gadis yang tak lain adalah Devi.


" Eum, dia di rumah, maksudku di taman belakang rumah "


" Sejak kapan dia menyukai taman belakang rumahnya, bukannya dia lebih senang di sini, Karena banyak bunga Camelia ? " Devi bertanya bingung.


" Mungkin sekarang Ia tidak akan suka Camelia lagi, " ucap Jen lesu tanpa mengalihkan pandangannya, dari menatap bunga Camelia putih di seberang sana.


" Besok datanglah ke rumah, aku mau memperkenalkan kalian kepada Alya" ucap Jen sambil tersenyum kecut.


Ara dan Devi saling menatap bingung, Memperkenalkan?


" Kau bercanda, untuk apa kami berkenalan lagi Jen ? " ucap Ara masih dengan kebingungannya.


" Kalian akan tahu, "


Ara dan Devi memutuskan untuk diam, karena walau bagaimanpun mereka tahu Jen tidak akan memberi tahu mereka sekarang. Mereka harus tahu secara langsung besok!


" Camelia.... " Jen menyebutkan nama bunga indah itu, dengan suara yang parau.


" Kenapa Jen ? " Devi bertanya sembari mengamati wajah Jen yang nampak sendu.


" Aku benci Dahlia... "

__ADS_1


Devi dan Ara semakin bingung dengan semua kata-kata Jen.


" Maksud mu kau tidak suka bunga Dahlia ? Kenapa ? "


" Karena dia Camelia bersedih... "


Apa yang di maksud Jen sih ? Aku tidak mengerti sejak kapan dia jadi puitis begini ? ~ Ara mengirimkan pesan ke ponsel Devi.


Entahlah aku juga tidak mengerti, kita datang saja besok ~ Devi.


Dahlia, Camelia apa yang di maksud bunga atau nama seseorang ? ~ Ara.


Sudahlah, aku juga tidak paham, Jen yang mengerti dan besok kita akan tahu. ~ Devi.


Mereka berdua menyudahi percakapan singkat tersebut. Tak lama kemudian Jen berdiri. Ia sedikit merapikan bajunya. Lalu berpamitan pulang kepada Devi dan Ara.


" Devi, Ara aku pulang lebih dulu, selamat siang " Ucap Jen sambil berlalu dari sana.


-oOo-


Mika kembali di fokuskan dengan naskah-naskah novel miliknya, membuatnya harus bekerja extra di depan layar laptop. Jari-jarinya terus bergerak tanpa ada niat untuk berhenti. Matanya menatap susunan kata di layar laptopnya. Mencoba mengamati kesalahan penyusunan dan memperbaiki nya.


Setelah satu jam menatapnlayar laptop pekerjaan Mika selesai. Ia segera mematikan dan mencharger laptopnya. Ia sendiri membaringkan tubuhnya yang lelah di atas tempat tidur mencoba meregangkan jari-jarinya yang berasa kaku karena terlalu lama mengetik. Ia melihat jam dinding yang ada di kamarnya pukul 11.56.


" Sebentar lagi maka siang, sebaiknya aku segera memasak" gumam Mika. Ia beranjak keluar kamar melangkahkan kakinya menuju dapur. Ia mulai memasak makanan untuk makan siang.


-oOo-


Bersambung....





__ADS_1



__ADS_2