
-Sedikit saja yang diketahui yang teliti akan menemukan titik terang.
Mia baru saja merebahkan diri di sofa setelah membersihkan dapur. Dibiarkannya televisi yang menyala percuma. Remote di biarkan tergeletak di sofa sebelahnya.
Mata nya yang hampir menua menatap kosong ke arah pintu berharap sosok yang di carinya beberapa waktu ini akan datang menghambur ke pelukannya. Yuan, anak laki-laki nya yang tidak kembali ke rumah setelah kegiatan perkemahan bersama kawan-kawan nya.
Harapan hanya tinggal angan-angan yang hilang terbawa angin. Mata tuanya terpejam lama, mencari sosok putranya dalam ingatan.
Suara ketukan di balik pintu menembus pendengaran nya, dengan tergesa Ia bangkit untuk membuka pintu berharap sosok di balik sana adalah putra nya.
Tapi semua seakan sia-sia saat pintu terbuka sempurna dan menampakkan sosok di balik sana. Seorang pemuda yang berdiri tegap dengan seulas senyum di bibirnya.
"Ah, ayo masuk Fen, "
Fenzie, pemuda itu masuk mengekor di belakang Mia menuju ruang tamu. Setelah itu Mia pergi ke dapur untuk membawakan camilan serta minuman untuk tamunya.
Mia kembali dengan nampan berisi segelas sirup jeruk dan stoples kacang. Ia meletakkan nya di meja lalu ikut mendudukkan tubuhnya di sofa.
" Apa ada perkembangan tentang, Yuan? "
Mia hanya menghembuskan nafas kasar nya menanggapi perkataan Fenzie. Wajahnya terlihat lesu, tanpa ada semangat di mata tua nya yang masih cukup sehat.
" Setidaknya bisa bertanya kepada teman-teman nya, "
__ADS_1
" Hanya sedikit, tidak semuanya Fen, "
" Sedikit saja pasti akan ada gabungan nya, Bibi. Kita harus berusaha " Ucapnya sesopan mungkin.
Mia kembali menghembuskan nafas kasar. Sampai suara seorang gadis memecah keheningan. Masing-masing menoleh ke arah suara, tampak Yan dan Elma berdiri dengan seulas senyum manis tersungging di bibirnya.
" Yan, sudah pulang? " Fenzie mencoba menyapa sepupu nya itu, Yan.
" Kalau aku belum pulang, lalu yang sedang berdiri di sini siapa? " Tukas Yan
Fenzie yang sudah terbiasa mendengar nya hanya terkekeh pelan, lalu kembali memakan camilan di hadapannya.
Setelah merasa cukup lama berada di sana. Fenzie pamit pulang, kepada Mia. Yan mengantarnya sampai teras depan lalu Ia kembali ke ruang tamu bersama Mia dan Elma.
" Tunggulah sebentar, Paman Gerf pasti senang melihat mu di sini, " Cegah Mia.
Elma menegang mendengar nama Gerf di sebut oleh Mia. Seketika Ia membulatkan niat awalnya untuk segera pulang. Menyelempangkan tas nya ke bahu sebelah kiri lalu mencium tangan Mia sebgai tanda pamitan.
Di sisi lain.
Fenzie duduk di sebuah halte, motornya diparkirkan begitu saja di depan halte terkena sinar matahari sore. Sesekali Ia menguap merasakan kantuk karena kepalnya yang sedikit berdenyut, kelelahan.
Awalnya ia berniat segera pulang ke rumah orang tuanya, tapi niatnya di urungkan tatkala melihat sosok yang di kenalnya keluar dari sebuah minimarket. Tak mau ambil pusing, dengan mencampuri urusan orang lain, Fenzie memilih duduk di halte sambil meneguk air mineral yang baru di belinya.
__ADS_1
Mata cokelatnya beralih menatap sekitar dengan teliti berharap tidak ada seorang kawan atau yang di kenalnya melihat keberadaannya di sini. Tak ingin waktu nya terganggu.
Setelah menghabiskan cukup waktu di halte Ia memutuskan pulang ke rumah orang tuanya sebelum matahari tenggelam sempurna.
Baru saja Ia turun matanya seperti menangkap sosok seseorang--lain dengan yang dilihatnya di minimarket tadi--berjalan melintasi kerumunan orang di seberang jalan. Kemudian hilang di telan keramaian.
Sejenak berpikir, akhirnya dia memutuskan niat awalnya, pulang. Di kaitkannya helm di kepala, lalu segera menyalakan mesin motor segera.melajukannya membelah jalan menuju rumah--orang tua--yang di rindukannya.
Sepanjang jaln di lewati dengan kecepatan sedang, berusaha menikmati senja di kota kelahirannya. Sudah tidak banyak pohon yang ada di pinggir jalan tapi cukup menyegarkan udara sekitarnya.
Matahari samar-samar mengeluarkan semburat jingga, pertanda dirinya akan hilang di kegelapan malam.
Fenzie sampai tepat saat matahari hampir hilang. Di parkirnya motor di halaman rumah bercat putih dengan pohon mangga yang tumbuh rindang di dekat pagar.
Perlahan tangannya membuka kenop pintu yang tidak
terkunci, dan nampaklah seorang wanita paruh baya duduk sendiri di kursi goyang, seulas senyuman hangat menyambutnya.
___________________
Sebelumnya maaf kalau terlalu pendek dan revisi nya lambat termasuk tidak sesuai perkiraan.
Bagi yang merasa kecewa atau tidak suka dengan alur ceritanya yang di revisi, dan mau pamit menjadi reader saya di sini, silahkan.
__ADS_1
Saya tidak punya hak melarang:)