Loss Of Yuan

Loss Of Yuan
Ch 18 ~ Membantunya.


__ADS_3

Cahaya matahari pagi seakan menembus mata Alya, membuat Alya terbangun. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk. Ia edarkan pandangannya, Sepi. Tidak ada siapapun kecuali dia di ruangan tersebut. Ia kembali memejamkan matanya, mencoba menenangkan pikirannya yang berantakan. Ia bangkit berusaha mendudukkan tubuhnya, Ia menjulurkan tangannya mengambil gelas air minum yang ada di atas meja, lalu meminumnya, membasahi tenggorokan yang kering seperti di terpa musim kemarau panjang. Setelah puas meneguk airnya Ia letakkan kembali gelas tersebut. Saat Ia meletakkan gelas tersebut secara tak sengaja Ia melihat secarik kertas tergeletak di atas meja dekat keranjang buah. Ia meraihnya lalu melihat tulisan yang ada di dalamnya.


Lekaslah sembuh teman ku, ku katakan padamu jangan mudah percaya dengan orang di sekitar mu apalagi orang yang baru kau kenal ~ your friends.


" Apa maksudnya ? " Alya mengernyitkan dahinya, bingung.


" Ini kertas dan tulisan tangan yang sama dengan surat kemarin, tapi siapa yang menulisnya ? " Alya meletakkan kembali kertas tersebut di atas meja. Ia kembali menyandarkan tubuhnya di ranjang, sambil memejamkan matanya. Hening, begitu tenang. Tapi ia tidak bisa menghirup udara terlalu bebas karena Ia masih di pasangi selang oksigen.


Ceklek. Pintu terbuka.


Tampak seorang perawat masuk membawa nampan berisi makanan, perawat tersebut meletakkan makanannya di atas meja.


" Nona, ayo makan siang lalu minum obatnya " Ucap perawat tersebut sambil tersenyum.


" Iya Sus, terima kasih " Alya mengangguk sembari tersenyum.


" Em, Sus, apa tadi pagi ada yang datang kemari selain saudara ku ?" Alya mencoba bertanya.


" Sepertinya ada Nona, dia memakai jaket hitam bertudung katanya teman sekolah Nona, "


" Oh, terima kasih Sus. "


Perawat tersebut hanya tersenyum.


Alya mengalihkan kembali pandangannya ke depan, Ia diam-diam mengamati tingkah perawat tersebut. Di lihatnya perawat tersebut mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong bajunya, lalu menaburkannya di atas makanan yang tadi dia bawa. Saat perawat tersebut menengok ke arahnya, Alya segera memejamkan matanya. Setelah kira-kira 4 menit, perawat tersebut pamit untuk keluar. Alya yang sudah merasa lapar, mengurungkan niatnya untuk memakan makanan tersebut saat mengingat perbuatan sang perawat.


Mungkin ini yang dimaksud surat itu. Gumam Alya dalam hati.


Ceklek. Pintu kembali terbuka.


Jen tampak masuk sambil membawa boneka dan sebuah kotak bekal di tangannya, Ia menghampiri Alya dan menaruh kotak bekal tersebut di meja.


" Aku bawakan makanan untukmu, aku tahu makanan rumah sakit rasanya tidak enak, jadi Kak Mika tadi memasaknya untukmu " Ucap Jen sambil tersenyum.


" Aku mau makan, aku sudah lapar " Alya langsung berbicara.


Jen mengambilkan kotak bekal tersebut lalu membukanya. Aroma nasi goreng yang lezat menyeruak memenuhi Indra penciuman Alya. Membuatnya tak sabar untuk segera memakannya.


" Wah, ini pasti lezat "


" Makanlah "


Alya memakan nasi goreng tersebut hingga habis tak tersisa di wadahnya, setelah itu Ia meminum obatnya.


" Jen, kapan aku boleh pulang ? "


" Entahlah, aku juga ingin kau leks pulang agar kita bisa bermain boneka, dan me--, "


Alya mengernyit saat Jen tidak melanjutkan kata-katanya.


" Maksud ku melihat bunga Dahlia Pinnata di taman, "


Alya tersenyum dan mengangguk mendengarnya.


Hampir saja, kalau aku menyebut bunga Camelia tadi pasti dia aka kesakitan lagi.


-oOo-


Setidaknya aku sudah membantunya mengawasi diri sendiri, semoga dia mengerti dan lebih hati-hati.


Seseorang pemuda nampak berdiri di ujung lorong rumah sakit yang mengarah ke ruang rawat Alya, setelah beberapa saat lalu berbincang dengan perawat palsu yang baru saja masuk ruangan tersebut.


Aku hanya tidak mau gadis manis seperti dia di jadikan sasaran balas dendam.


Sosok itu berbalik meninggalkan tempatnya, kembali menuju rumah sang Nyonya Besar!

__ADS_1


-oOo-


" Ayolah Jen, aku mau pulang, aku tidak suka di sini, " Alya merengek.


" Tapi aku takut Kak Yohan, marah "


" Tidak, aku tidak mau di sini, aku mau pulang "


" Sebentar lagi Kak Yohan datang, kita bilang saja yaa "


" Hmm "


-oOo-


~Sementara itu.


Mika masih sibuk merevisi tulisan yang akan di terbitkan hari ini. Semuanya perlu perbaikan, sehingga dia harus bekerja lebih teliti lagi dari biasanya.


" Siapa yang membuat tulisan seperti ini, semuanya berantakan sekali, aku lelah " Gerutu Mika di sela-sela pekerjaannya.


Tepat pukul 1 siang pekerjaan nya selesai, Ia segera merapikan meja kerjanya, lalu segera keluar ruangan menuju parkiran. Ia memasuki mobil sport hitamnya.


" Ahh, sebentar "


Jen, apa kau masih di rumah sakit ? ~ Mika.


Iya, ada apa ? ~ Jen.


Tidak. Aku sebentar lagi sampai, aku baru saja selesai merevisi, jadi terlambat telponlah Yohan juga, kita bawa pulang Al hari ini. ~ Mika.


Tanpa menunggu balasan dari Jen Mika langsung menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya ke arah rumah sakit.


-oOo-


~Di ruangan Alya.


Telponlah Yohan juga. Aku gugup kalau harus menelponnya, bagaimana ini? Gumam Jen dalam hati.


Lebih baik aku suruh Alya saja yang berbicara.


" Alya, apa kau mau berbicara dengan Kak Yohan ? "


" Tidak. "


" Tapi kata Kak Mika suruh telpon Kak Yohan juga, "


" Kirimi saja pesan, jangan bicara padaku aku masih marah..." Alya membuang tatapannya dengan kesal ke arah lain.


Ahh, dasar bodoh kenapa tidak dari tadi ku kirim pesan.


Jen segera mengetikkan pesan singkat lalu mengirimnya ke Yohan.


5 menit kemudian.


Ting.


"Hmmm,"


Hmmm ? Dasar laki-laki aneh. Kalau begini kapan aku bisa mendekati Kak Yohan ?


-oOo-.


" Ibu, kapan gadis bodoh itu akan mati ? Setidaknya dia harus menderita " Seorang anak gadis tampak berbicara dengan ibunya.


" Sabar lah sayang, kita tunggu saja "

__ADS_1


" Hmm, "


Sosok pemuda lain hanya diam mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


Anak dan Orang tua sama saja, iblis! Cih, aku yang akan membuat rencana kalian gagal dengan membantunya, aku akan membantu gadis malang itu, dasar orang-orang bodoh!.


-oOo-


~Di kediaman Mikoto.


" Jen antar lah Alya ke kamar, Aku mau bicara dengan Yohan sebentar "


Setelah Jen membawa Alya ke kamarnya Mika mulai berbicara.


" Sebaiknya sekolah Al--"


" Sebentar lagi ujian, kitantidak perlu menyuruhnya masuk sekolah, kondisinya tidak memungkinkan sekali.. Kau akn bicara begitu ?" Yohan menyela.


" Ahh, iya.. Biarkan dia ikut ujian saja, kita akan minta surat izin dari sekolahnya "


" Hmm, baiklah akan aku urus, "


" Kak, "


" Ya, ada apa ? "


" Sepertinya, Alya sakit karena mengingat Camelia, tapi kenapa bisa sampai begitu, dulu dia hanya merasa pusing dan susah tidur tidak sampai separah ini, "


" Bisa saja, ada ingatan kelam yang terbuka di memori kepalanya. Tapi aku tidak tahu itu apa ? Setahu ku Alya selalu baik-baik saja sejak kecil, kecuali saat kecelakaan itu... "


" Ya, aku juga bingung, tapi kata dokter saat dia mulai merasakan sakit di kepalanya karena mengingat sesuatu dari masa lalu itu akan berakibat fatal, karena jiwanya tidak kuat. "


" Aku hanya takut, Alya mempunyai kepribadian ganda "


" Tidak! Kakak jangan bicara begitu! Selamanya tidak akan pernah ! " Mika sedikit membentak tidak terima akan kata-kata Yohan.


" Mika, aku hanya takut, tapi di lihat kondisinya sepertinya suatu ingatan menggangu jiwanya, untung saja tidak parah "


" Ya, tapi kita harus terus mengawasi Alya, kalau kita lengah nyawanya bisa dalam bahaya. "


" Hmm, "


-oOo-


Gadis itu sudah tidak di rumah sakit lagi. Bagaimana caraku mengunjunginya sekarang ? Tidak mungkin kalau aku datang ke rumahnya. Huftt.


Tunggu, ah iya sebaiknya...


Bersambung...


Halo guys , selamat malam semua.


Masih setia baca karya Arhaa kan ?


Jangan lupa like, komen nya yah,


bagi yang tidak suka cukup tidak usah membaca, kalau kalian rasa ceritanya tidak masuk akal ya ini hanya imajinasi Arhaa bukan kenyataan 🙂🖖🏻.


Ok sekian bye-bye 😙🥀




__ADS_1




__ADS_2