Loss Of Yuan

Loss Of Yuan
chapter 11 [29/10/20-1]


__ADS_3

-Teruslah berharap, tapi jangan sampai salah harap.


-oOo-


Mia duduk bersandar di sofa ruang tamu, sambil memejamkan mata dengan tangan kanannya memegang remote TV.


"Kapan Yuan kembali?" gumamnya.


Sejak Yuan belum kembali dari perkemahannya, Mia semakin khawatir Ia sering duduk diam di ruang tamu atau kursi teras hanya untuk menunggu Yuan datang dan itu semua seperti percuma.


Setiap kali ada yang mengetuk pintu, Mia akan membuatnya dengan antusias tapi akhirnya dia kecewa karena melihat orang di balik pintu bukan orang yang di khawatirkan nya selama ini.


"Yuan masih hidup, "gumamnya lagi.


"Kenapa tidak lapor polisi saja?"


Kalau kita lapor polisi, percuma. Yuan sudah hampir dewasa, apa artinya dia bilang bagi kepolisian?


Kalimat Gerf itu terus diingat oleh Mia. Terkadang Ia ingin memaki Gerf karena dia Seolah terlalu menyepelekan masalah hilangnya Yuan. Tapi dia tidak punya keberanian untuk itu, dia tahu Gerf orang yang keras dan tidak mau dibantah. Maka Ia diam saja sambil terus berharap.


Beberapa hari ini Gerf malah lebih sering pulang larut malam dari biasa nya. Mungkin karena pekerjaannya lebih banyak sekarang, begitu yang dipikirkan oleh Mia.

__ADS_1


"Yuan, Yuan."


Di sisi lain.


Amelia masih diam di tempat, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Riri tidak mengerti perkataan nya tadi, Ia mengutuki kebodohannya sendiri yang bicara sembarangan.


"Bodoh! Kalau dia paham gimana? Dasar bodoh!" umpat Amelia.


Setelah memaki-maki diri sendiri seperti orang tidak waras, Amelia bersungut-sungut jalan menuju koridor dalam, berharap tidak bertemu dengan Yan, Riri, atau Elma dan siapapun yang berhubungan dengan mereka.


"Semoga dia tidak mengerti dan lebih percaya dengan dalihku tadi," gumam Amelia.


Di pinggiran kota...


Ia berjalan menuju bawah jembatan, tempat biasa preman-preman berkumpul untuk mencari sahabatnya—sahabat yang hanya di ketahui oleh Yuan sendiri.


Ia melihat Jordan sedang duduk berkumpul bersama teman-teman.


"Jordan," seru Yuan memanggil nama kawannya itu. Semua menoleh, begitu melihat siapa.yang datang masing-masing dari mereka menghentikan sebentar kegiatannya.


Yuan tersenyum, "Tidak apa, aku hanya ingin bicara"

__ADS_1


Yuan berjalan mendekat lalu duduk di kursi yang sudah disiapkan untuk nya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar.


"Ada apa, An?"


"Aku butuh bantuan, kau tahu kenapa aku begini?"


"Aku tahu dari Jakson, dia bilang melihat Yan pergi kesana-kemari mencari mu, dan dia juga mendengar kalau kau tidak pulang setelah kemah," tutur Jordan.


Ya, aku bukan tidak mau pulang, tapi tidak bisa pulang,"


Jordan mengernyitkan kening, bingung, "Maksudmu bagaimana?"


"Kau tidak akan mengerti, aku butuh bantuan mu dan yang.lain sekarang, aku takut kalau aku pulang nanti ada sesuatu,"


"Ok.maksud mu? Jelaskan lebih rinci nggak usah berbelit, kau tahu aku sedikit bodoh," ujar Jordan sambil terkekeh geli.


"Aku pernah hampir dibunuh," tukas Yuan.


Semua yang ada di sana kaget dan menoleh ke arah Yuan. Tidak terkecuali Jakson yang sudah mengetahui masalah Yuan tidak pulang. Tapi Ia tidak tahu apa alasan Yuan melakukan hal itu.


"Kalian percaya? Ini menegangkan tidak seperti biasa,"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2