
Guys sekedar info yah, Novel author yang Unknown dan Janji yang menyakitkan akan lanjut tapi di akun author yang satunya, karena ada beberapa masalah dalam pengerjaannya ππ».
Dan Novelnya juga akan di mulai dari awal, tapi tetap dengan tokoh yang sama, Mohon maaf yah sebelumnya ππ»π.
*Nama a**kunnya "KaZah Cherry" bisa di cari pencarian yah, tapi untuk saat ini belum di buat novelnya, kalau sudah terbit nanti akan author info kan. Follow IG author juga yah @arhaadtz_ . Kalau mau tanya-tanya bisa via DM atau WA*
1. 085751915029
2. 081549400939
Dua-dua nya aktif yah π€.
Ok segitu dulu infonya, happy reading (γοΎ3οΎγ).
-oOo-
Sosok pemuda berjalan melintasi jalan sepi, dengan pepohonan di sisi kanan dan kiri jalan, daun-daun kering di tanah yang bergesekan dengan alas kakinya, memecah kesunyian yang tercipta. Ia terus berjalan. Ia sampai di sebuah gapura, Ia melewati gapura tersebut berjalan melewati jajaran patok-patok bertuliskan nama-nama orang . Ia berhenti di salah satu patok, Ia jatuh terduduk di sana. Di genggam nya sebagian dari gundukan tanah tersebutndengan dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya mengelus kepala nisan dengan lembut.
Annisa Sehdiayana.
Lahir 19-09-1978
*Wafat 19-09-200**9*
Ia menangis sekuat tenaganya air matanya mengalir tanpa bisa di bendung lagi. Nafas nya sesenggukan, bahunya berguncang. Ia tengadahkan kepalanya berusaha menahan sisa cairan yang hendak keluar dari matanya. Setelah dirasa agak tenang Ia kembali memandang batu nisan tersebut sambil berkata.
" Bunda, andai saja aku bisa melindungi Bunda, pasti Bunda masih bersama ku dan Ayah, "
" Bunda, hari ini ulang tahun ku, tapi aku tidak bisa merayakannya bersama Ayah, karena Ayah masih koma, jadi aku hanya datang sendiri kemari. "
" Apa Bunda tahu ? Ayah koma karena ulah wanita itu, wanita yang membunuh Bunda dulu, tapi kenapa tidak ada yang percaya pada ku ? "
" Aku kesepian Bunda, aku tidak punya teman yang baik di sini, aku ingin sekali menyusul Bunda, kata Wanita itu Ayah sebentar lagi akan mati. Aku tidak akan terima, "
" Bunda, Aku akan melindungi gadis itu, dia adalah sahabat ku dari kecil, Bunda ingat kan ? "
" Bunda, Aku janji akan menolong Ayah, Aku juga akan membebaskan diri ku dari Wanita jahat itu ,Bun "
__ADS_1
Pemuda itu menceritakan segala isi hatinya, sisi rapuhnya muncul, hanya di sini dia bisa menceritakan segala yang terpendam dalam hatinya. Ia tidak punya tempat berbagi, selain makam Ibunya. Ia juga ingin berbicara dengan Ayahnya walau sedang koma, tetapi penjaga di sana adalah bayaran Sang Nyonya Besar sehingga dia tidak bisa melakukan itu.
" Bunda aku akan balaskan dendam kematian Bunda, aku juga akan melindungi sahabat ku "
Ia memejamkan matanya mencoba mengingat sedikit bayangan masa lalu nya.
FlashBack Off...
Seorang anak laki-laki mungil berusia 8 tahun mengandeng tangan ibunya menunju sebuah taman bunga, Camelia!
"Bunda hari ini ulang tahun bunda, ayo kita pergi ke taman "
" Kita tunggu Ayah ya "
" Ayah sedang membeli kado Bunda, ayo kita ke taman Bunda, "
Saat mereka sedang berjalan menuju kursi taman untuk duduk, sang Ibu melihat gadis kecil yang akan di bunuh Ia yang mengetahuinya segera berlari melepaskan genggaman tangan anaknya. Ia hadangkan tubuhnya dibdepan gadis kecil yang sedang ketakutan itu,
"Alyana Bibi ini aku melindungi mu" Dalam hati wanita itu berkata.
Saat belati itu menusuk perutnya Ia lihat anak laki-laki nya datang menghampirinya. Ia segera mengambil sebuah bunga Camelia putih di genggamnya dengan tangan penuh darah lalu di berikan kepada gadis kecil itu.
" Anakku, gadis ini selalu Bunda lindungi sejak kecil, jadikan dia sahabat mu lindungi dia sayang "
" Tapi, dia.. "
Belum sempat sang anak mengatakan kalimatnya sang Bunda menghembuskan nafas terakhirnya.
-oOo-
Air mata menitik kembali dari sudut matanya, segera Ia usap cairan yang hampir membasahi pipinya.
" Maafkan aku yang terlalu egois ya Bunda. Aku sudah mengerti maksud Bunda, aku akan melindungi dia, sahabat ku. " Pemuda itu berucap sambil tersenyum.
Ia kembali saat matahari sudah condong hampir terbenam dan semburat jingga sudah muncul di kaki langit sebelah barat.
Aku sudah berjanji Bunda, Aku tidak akan mengingkari nya, percayalah pada ku Bunda.
__ADS_1
Ia berjalan melewati jalan setapak yang sama, masih dengan kesunyian. Pikiran nya berkelana mencari cara untuk bisa menemui gadis kecil nya. Sesekali Ia menendang daun-daun kering yang berserakan di jalan. Tatapan matanya begitu sendu dengan raut wajah yang tampak dingin. Ia tidak munafik, di akuinya pada diri sendiri kalau dia hanya seorang pemuda rapuh yang berusaha terlihat tegar di hadapan orang lain.
Saat melihat sebuah taman Ia mengalihkan langkahnya menuju sebuah kursi taman. Ia duduk mengedarkan pandangannya ke seluruh taman. Gelap, karena matahari sudah terbenam, sehingga hanya da lampu taman yang menyinari nya. Pandangan matanya jatuh di satu tempat, tempat di sana tumbuh sebuah pohon bunga putih bersih. Di ingatannya kembali terlintas kejadian berarah yang merenggut nyawa ibunya. Di ingatnya wajah gadis kecil yang menangis sambil memeluk Jasad Ibunya.
" Dia menangis, padahal dia tidak mengenal Bunda "
" Camelia Putih, jiwa Alya memang menyukainya, tapi saat jiwa Alya hilang Ana pasti kembali mengingatnya, mungkin itu yang membuatnya masuk rumah sakit "
Pemuda itu terus berada di sana, sampai udara dingin serasa menusuk kulitnya yang hanya berbalut jaket tipis bertudung lebar. Ia segera beranjak meninggalkan tempat yang menyimpan kenangan menyedihkan itu, Ia melangkahkan kakinya menuju jalan raya mencari taksi untuk mengantarkannya menuju rumah sakit tempat sang Ayah di rawat. Setelah itu Ia kembali ke rumah Sang Nyonya Besar.
Bersambung...
Hai, semuanya
Penasaran ngga sih sama sosok Bundanya Laki-laki itu ?
Kenapa dia sudah melindungi Alya sejak kecil ?
Kenapa dia menyuruh anaknya menjadi sahabat Alya ?
Siapa nama pemuda itu ?
Apa hubungan mereka dengan Nyonya Besar, Iblis ?
Baca kelanjutan cerita di episode berikutnya,
jangan lupa tinggalkan jejak Like, komen nya yah.
Bye-Bye β¨π.
β’
β’
β’
β’
__ADS_1
β’