Loss Of Yuan

Loss Of Yuan
Ch 16 ~ Ingatan Camelia.


__ADS_3

Dua orang gadis tampak berdiri di depan pintu sebuah rumah. Salah satu dari mereka menekan bell yang ada di pintu. Tak ada tanda-tanda pintu akan terbuka, Ia menekannya sekali lagi. Tak lam kemudian pintu terbuka perlahan nampak wajah seorang gadis manis dengan rambut cokelat panjangnya yang di ikat di atas. Satu kata Cantik!


" Siapa ? " Tanya gadis itu.


Devi dan Ara hanya diam. Tak lama Jen datang dengan hebohnya. Tak lupa membawa bonekanya, kali ini Ia lebih sering membawa boneka kelinci karena boneka panda terlalu besar untuk dibawa kemana-mana.


" Wah, kalian datang " Heboh Jen saat tiba di ddepan.


"Siapa mereka ? " Alya bertanya sesaat setelah Jen datang.


" Mereka sahabat mu,.. " Jen berucap sambil tersenyum berharap Alya masih mengingat sahabatnya. Tapi Alya hanya diam mematung tidak mengerti.


" Jen, kemari sebentar " Ara menarik tangan Jen.


" Ada apa ? " Tanya Jen saat mereka sudah berada agak jauh dari Alya.


" Apa ini yang kau maksud memperkenalkan ? "


Jen hanya mengangguk polos.


" Dia am-- , eeee lupa ingatan?"


" Iya " Jen kembali menjawab dengan polosnya.


" Kenapa ? Bagaimana bisa ? Kenapa tidak bilang darinkemarin jadi kami bisa kemari lebih cepat?! Kau ini "


" Aku kan kemarin sudah bilang.... "


" Oh Ya Tuhan.... Kata-kata puitis begitu ? Kami tidak mengerti Jen, kau ini bagaimana ? "


" Em, aku mau memperkenalkan kalian, siapa tau kalau kalian datang dia akan sedikit pulih" Jen langsung pada inti permasalahannya.


" Tidak, ku rasa begini, kita ajak saja dia melihat bunga Camelia atau pergi ke taman, dia kan suka sekali mungkin dengan begitu dia..."


" Ara, Jen kalian sedang apa ? " Devi berteriak dari depan pintu.


" Sebentar kami kembali " Jen segera melangkahkan kakinya kembali menuju pintu di sana ada Devi dan Alya. Mereka masuk rumah terlebih dahulu. Mereka duduk di ruang tamu bersama. Sedangkan Alya entah pergi kemana.


-oOo-


Gadis itu lupa.ingatan, mungkin aku bisa membantunya untuk selamat dari nyonya iblis itu.


-oOo-


Alya nampak duduk di kursi taman belakang rumahnya seperti biasa memandangi rumpun bunga Dahlia Pinnata. Devi dan Ara datang menghampirinya duduk di sisi-sisi Alya sambil.ikut memandangi bunga Dahlia.


" Kau suka Dahlia ? " Devi memulai pembicaraan.


" Iya, dia cantik" jawab Alya sambil tersenyum.


" Kau tidak mau melihat Camelia putih saja ? Biasanya kau akan suka, "


Alya tiba-tiba murung kepalanya menunduk sambil menggeleng lemah. Seperti mengisyaratkan sebuah kalimat, Tidak Mau!

__ADS_1


Devi dan Ara memilih diam.


-oOo-


Alya berbaring di ranjang besarnya menatap langit-langit kamar. Matanya menerawang mencoba mengingat kembali ibunya. Tiba-tiba seberkas ingatan kejadian terputar dengan sendirinya seperti kaset rusak. Alya memejamkan matanya mencoba memutar ingatan menyakitkan tersebut.


^


"Mama, Kakak" seorang gadis kecil berlari kecil sambil membawa sebuah bunga berwarna putih ditangan kanannya. Menghampiri dua wanita yang masih menunggu nya.


"Mama, Kakak"


Gadis itu terus berlari, Memanggil Mama dan Kakaknya.


^


Alya memegang kepalanya yang terasa terjepit benda berat, rasanya seakan mau pecah. Ia tekan kedua sisi kepalanya untuk mengurangi rasa sakitnya, tapi sia-sia. Kepalanya terus berputar benda besar itu seakan nyata menghimpit sisi kepalanya. Ingatan tersebut terus muncul di kepalanya.


^


"Ana, kemari... "


Gadis kecil itu tersandung, bunga-bunga putih di tangannya jatuh berhamburan menyentuh tanah. Warna putih bersih itu hilang, bercampur kotornya tanah.


^


" Arrghh" Alya mengerang karena rasa sakit di kepalanya bertambah saat memori-memori di ingatannya terpancar. Membuat kepalanya seakan ingin pecah berhamburan.


^


" Ana, kau tidak merasa bunga ini indah"


" Cantik sekali warnanya..."


" Lihat lah bunga Camelia,... "


" Alya, bunga Camelia... "


^


Alya terkulai lemas sambil terus memegangi kepalanya, sakit! itu yang dia rasakan. Sesekali bayangan aneh muncul secara berantakan di hadapannya. Pandangannya seakan kabur berkunang-kunang. Kakinya lemas tapi kepalanya terus saja mencoba merekam ulang kejadian demi kejadian membuat Alya makin tersiksa.


" arghhh, sak--kitthh" Alya kembali mengerang karena rasa sakit di kepalanya seakan bertambah kuat menekan kepalanya.


Jen yang baru saja masuk ke kamar seketika terlonjak kaget melihat kondisi Alya yang terduduk di lantai sambil meremas kepalanya sendiri.


" Alya kau kenapa ? "


" sakit, arghhh " Alya terus saja mengerang. Meremas kepalanya hingga rambutnya tampak berantakan karena ulahnya sendiri.


Jen segera bangkit melemparkan bonekanya ke segala arah Ia tidak peduli! Ia segera keluar mencari keberadaan Adrian, Yohan, ataupun Mika untuk membantunya.


" Kak Yohan, Kak Mika, hahhh, Alya dia itu, hah huft, " Jen berusaha berbicara sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.

__ADS_1


" Kenapa Alya, " Mika langsung bangkit dari duduknya.


" Dia seperti kesakitan "


Segera saja Mika dan Yohan berlari meninggalkan Jen menuju kamar adiknya untuk melihat kondisinya. sekarang. Betapa terkejutnya mereka melihat kondisi Alya, mereka segera menghampiri Alya. Alyabhanya melihat mereka dengan tatapan kosong bayangan kejadian demi kejadian berlarian di hadapannya menelan pandangan nyata dari matanya, membuatnya tersiksa karena rasa sakit itu terus bertambah.


^


" Kau cantik sekali, hai aku Alya..."


" Mama, bunga itu namanya Camelia ?"


" Oh Camelia putih yang cantik, "


^


Alya Pov^


Sayup-sayup ku dengar suara mereka yang menghawatirkan diriku aku tidak bisa melihat mereka karena bayangan-bayangan itu terus menutupi pandangan ku. Ku remas kepalaku dengan sangat kuat berharap sakitnya berkurang, tapi seakan sia-sia kepalaku serasa akan pecah. Ku coba mencari keberadaan orang di sekitar ku, tidak bisa! Perlahan pandanganku mulai meredup, gelap tidak ada siapa-siapa, aku kehilangan kesadaran ku.


*


Aku membuka mataku menatap sekitar ku, ruangan dengan dinding berwarna putih, sebuah jarum menancap di tangan ku. Ku rasai sakit di kepala ku masih ada walau sedikit berkurang. Ku coba angkat tanganku tapi tidak bisa. Aku tidak mau begini, apa yang terjadi padaku ? Aku hanya diam, pandangan ku masih belum jelas tapi pendengaran ku menangkap sebuah suara langkah kaki mendekat. Ada yang menyentuh tangan ku. Dia berbicara kepadaku.


" Hei, bukankah kau gadis kuat ? Ayo bangun agar aku bisa mengganggu mu lagi, aku tau kau melupakan ku tapi kita tetaplah teman "


Suara itu tak asing bagiku, seperti aku pernah mendengarnya, tapi aku lupa semua.


" Kau harus semangat, jangan lemah atau dia akan kembali merebut kebahagiaan mu, apa.kau ingat ? " Sosok itu kembali berkata aku hanya diam, aku ingin bicara tapi lidah ku seakan kelu, mulut ku sulit bergerak, dan rasa sakit di kepala ku hampir datang.


" Jangan mengingat sesuatu yang di paksakan itu akan menyiksa dirimu "


Sosok misterius itu melepas genggaman tangannya lalu berjalan menjauh dariku. Aku tidak bisa melihat nya, tapi suara langkah kakinya perlahan terdengar sayup-sayup dan hilang, pandangan ku mulai gelap dan aku kehilangan kesadaran ku lagi.


^


"Camelia merah atau putih ? "


" Aku mau Camelia,..."


^


Perlahan bayangan gadis kecil dan bunga putih yang nampak indah itu hilang hanya ada kegelapan. Aku seperti tersiksa dengan pikiran ku sendiri.


Bersambung....





__ADS_1




__ADS_2