
New York
Keesokan harinya..
Drt..
Drt..
Flint yang baru saja selesai mandi segera mengambil handphone nya diatas nakas. Tertera nama Roland di layar.
"Apa yang akan kau sampaikan Roland?"
"Semua perintah tuan sudah di laksanakan. Orang kita sudah mengosongkan rumah tuan Morgan", ucap Roland dari jauh.
Seringai nampak di wajah tampan Flint. "Bagaimana putrinya yang ada di rumah itu? Siapa namanya...Kay...Kay–?"
"Kaylee tuan".
"Whatever..."
"Nona Kaylee tidak ada di sana, menurut pelayan ia sedang berada di luar kota, tuan".
"Apa yang terjadi, ada yang menolak pengusiran itu?"
"Iya. Ada sedikit masalah, dua orang pelayan dan seorang pemuda menolak untuk keluar dari rumah itu. Pemuda tersebut seorang pengacara, ia paham hukum mengancam akan melaporkan Gladwyn holding company”.
"Biarkan saja. Perintahkan saja Henry mengurus nya".
__ADS_1
Flint menutup telpon dari Roland. Laki-laki tampan itu terlihat bahagia, bahkan suara siulan keluar dari mulutnya. Flint mengambil kemeja dan jas kerja di ruang wardrobe. Banyak pilihan di sana namun ia memilih warna merah dengan celana hitam.
"Hatiku sedang senang, jadi aku memilih mu", ucap Flint tertawa lepas sambil melempar blazer berwarna merah ke atas tempat tidur.
Flint melakukan pengosongan rumah Morgan bukan tanpa alasan. Karena kemarin ia menerima laporan dari orangnya melihat Kaylaa di perusahaan agensi tempatnya bekerja.
Emosi Flint terpancing setelah melihat beberapa gambar, gadis itu tertawa lepas ketika turun dari taksi.
Hingga Flint mengambil keputusan, memerintahkan Roland untuk segera mengosongkan rumah Morgan pagi ini.
*
Queen's city
Terdengar tepuk tangan Tory. "Cukup untuk hari ini". Tory mendekati Kaylee. "Apa juga aku bilang, kamu memiliki potensi menjadi seorang model Kaylee", ucap Tory tersenyum menatap gadis cantik dihadapan yang melakukan sesi pemotretan.
"Tapi aku ingin memakai identitas Kaylaa. Ingat itu Tory. Aku ingin mendapatkan honor seperti Kaylaa, agar bisa segera melunasi hutang saudara ku itu", ucap Kaylee ketika di dalam mobil.
Tory tersenyum mendengarnya. "Kau tahu itu melanggar hukum. Kau bisa membuat ku dan perusahaan ku dalam masalah".
"Kalau kau tidak mau, aku tidak akan menggantikan pekerjaan Kaylaa dan kamu pasti akan di tuntut untuk membayar pinalti pada perusahaan yang sudah bekerjasama dengan Kaylaa".
Tory tersenyum mendengarnya. "Ternyata kau cerdas. Kau juga bicara ceplas-ceplos berbeda dengan saudara mu yang selalu menjaga bicara nya", ujar Tory.
"Kau akan terbiasa dengan ku, bu manajer", seloroh Kaylee beberapa waktu yang lalu ketika di dalam mobil Tory yang langsung meminta Kaylee melakukan sesi foto di tepian kolam renang sebuah hotel berbintang di kota Queen's.
Setelah pekerjaan pertama nya selesai, Kaylee pamit pada Tory karena ia akan kembali ke Chicago menyelesaikan pekerjaan nya di kota tersebut sebelum ia akan menetap di kota Queen's.
__ADS_1
Saat ini Kaylee tiba di hotel tempat ia dan Claire menginap. Kaylee menempelkan id card kamar dan langsung membuka pintu.
Gadis itu tersenyum melihat tingkah Claire yang hilir mudik di depan kaca jendela. Bahkan gadis itu terlihat menggigit kukunya.
"Claire–"
Claire menolehkan kepalanya menatap Kaylee. "Oh my God Kay, dari tadi aku menghubungi handphone mu kenapa mati", ketus Claire nampak panik.
Kaylee merogoh tasnya. "Aku mulai bekerja Claire, makanya handphone ku silent".
"Kenapa Regan mengubungi ku sebanyak ini?", gumam Kaylee menatap layar ponselnya dua belas kali panggilan tak terjawab dari Regan temannya.
"Regan memberi tahu, perusahaan tempat ayahmu bekerja, memerintahkan orang mengosongkan rumah mu Kay. Sekarang Dorothy dan Ana ada di toko bunga".
"A-pa?"
"Regan sudah berusaha mencegah eksekusi tersebut, namun perwakilan perusahaan memiliki sertifikat asli rumah mu yang di jaminkan. Mereka juga sudah memberikan tiga kali peringatan, dua kali pada ayahmu dan satu kali ketika menemui minggu lalu", ucap Claire.
Kaylee terduduk di ujung tempat tidur. "Aku harus menemui pimpinan mereka. Aku tidak akan menyerah begitu saja", seru Kaylee.
"Claire sebaiknya kamu ke bandara sekarang, kau kembali ke Chicago dan aku akan ke kantor pusat Gladwyn holding company yang ada di New York. Aku tahu kantor pusat mereka ada di sana", ujar Kaylee. "Mumpung aku masih di Queen's, aku naik kereta saja ke New York hanya dua jam perjalanan".
"Iya", jawab Claire bergegas.
Kaylee dan Claire berpelukan ketika sampai di lobby hotel.
Kaylee menyandarkan kepalanya. "Apapun yang terjadi aku harus bertemu pemilik Gladwyn holding company. Mereka benar-benar tidak memiliki hati nurani", gumam Kaylee yang tidak sadar masih berdandan seperti Kaylaa.
__ADS_1
...***...