
Ballroom hotel Axton di sulap begitu indah. Alunan musik lembut terdengar mengalun ketika pasangan Axton dan Marie memasuki ballroom mewah itu, diiringi langkah ketiga putra dan cucu mereka yang berjumlah empat orang.
Keluarga Axton kompak memilih konsep warna putih yang melambangkan kesucian.
Tamu undangan merangsek mendekati pasangan berbahagia itu. Lima puluh tahun sudah hidup bersama, bukan hal yang mudah. Decak kagum dari tamu undangan pun mengiringi gerakan Axton dan Marie yang sedang berdansa di tengah ruangan.
Mendadak lampu-lampu di padamkan di ganti dengan sinar yang redup, membuat suasana mendadak jadi romantis.
MC meminta tamu undangan yang membawa pasangan untuk berdansa menemani Axton dan Marie.
"Kalau aku menikah nanti harapan ku pasti ingin mencapai usia pernikahan seperti tuan Axton dan nyonya Marie", bisik Claire pada Kaylee.
Kaylee menganggukkan kepalanya. "Tentu saja semua orang menginginkan pernikahan seperti mereka".
Kaylee, mengalihkan perhatiannya pada undangan lainnya. Tepat sepasang mata sedang menatapnya dengan tajam. Tak lain ia adalah Flint. Orang yang ingin Kaylee hindari.
"Claire, aku kembali ke kamar saja mendadak perutku mulas", bisik Kaylee di telinga Claire.
"Apa kau tidak bisa menahannya? Sebentar lagi Kay, aku ingin mencicipi hidangan nya", seru Claire memohon.
Kaylee kembali menatap kearah Flint, tapi tak nampak lagi laki-laki itu di sana.
"Iya baiklah sebentar lagi saja. Kau nikmati saja dulu hidangannya Claire", ujar Kaylee menghembuskan nafasnya sambil mengucap syukur dalam hati.
Claire memeluk lengan Kaylee. "Nah begitu Kay. Kita sudah seharian bekerja apa salah menikmati pesta ini. Iya kan".
*
Malam kian larut. Cukup panjang acara Axton dan Marie hingga jarum jam menyentuh angka sebelas perayaan itu belum juga kelar.
Flint dan Aaron memilih menghabiskan waktu di bar yang terdapat di hotel itu Kedua nya menikmati sebotol wine terbaik yang ada di sana.
"Apa kau melihat Kaylee?", tanya Aaron.
"Hem. Sepertinya ia tidak suka melihatku ada di sana".
"Lantas kau menyerah begitu saja?"
__ADS_1
"Tidak akan!"
"Apa yang akan kamu lakukan Flint?"
Flint belum menjawab pertanyaan Aaron, ketika Aaron menyadari handphone miliknya bergetar.
"Pesan dari Thomas, menanyakan keberadaan kita yang tiba-tiba menghilang", ujar Aaron meneguk minuman nya.
Flint melihat jam tangannya. "Sudah malam, sebaiknya aku ke kamar ku".
"Iya. Aku akan menemui Thomas di kamarnya. Aku rasa ia pasti menginap di sini", ujar Aaron.
Keduanya keluar bar. Menunju lift.
*
"Kay jika kalian membutuhkan sesuatu tekan saja angka satu. Petugas hotel akan segera datang", ujar Thomas pada Kaylee.
"Iya. Terima kasih atas bantuan mu Thomas", balas Kaylee sambil meneguk air mineral.
Saat ini Kaylee hanya berdua dengan Thomas. Mereka duduk di minibar, berbincang-bincang setelah selesai acara. Thomas mengantar Kaylee dan Claire ke kamar nya. Kamar khusus yang biasa Thomas tempati ketika berada di Chicago.
Karena hari ini adalah hari spesial pesta pernikahan kedua orangtuanya maka ia memilih tidur di mansion Axton dan Marie, berkumpul dengan kedua kakaknya yang sudah berkeluarga dan memiliki anak.
"Ting-tong!
"Hm... mungkin petugas hotel, aku akan melihatnya", ujar Thomas beranjak sambil memegang gelas berisi wine dan membuka pintu.
"Dude...kamu sedang apa? Kenapa kau tidak mengajak ku dan Flint jika kau minum-minum, teman".
Thomas tidak menjawab pertanyaan Aaron. Temannya itu tidak datang sendirian ia bersama Flint.
Flint langsung menatap ke dalam. Wajahnya langsung menggelap dengan rahang mengeras bahkan terdengar gemeretak gigi yang saling bersentuhan. Kedua tangan Flint terkepal setelah melihat keberadaan Kaylee di kamar Thomas.
Mendadak suasana panas terasa tegang. Aaron baru menyadari ketika ia melihat Kaylee. Ternyata Thomas tidak sendirian di kamarnya.
"Kau brengsek Thomas. Ternyata kau mengkhianati ku!
__ADS_1
"Brughh!"
Thomas dan Aaron tidak menyangka Flint langsung memukul Thomas seperti itu, seketika tubuh Thomas terhuyung. Gelas di tangannya seketika lepas dan pecah. Tubuh Thomas menindih pecahan gelas itu. Bahkan di sudut bibir Thomas berdarah akibat pukulan Flint.
"Flinttt hentikan. Apa yang kau lakukan pada temanmu, hah?!", teriak Kaylee berlari hendak menghampiri Thomas. Namun tangannya seketika di tarik Flint yang sudah di kuasai amarah yang membuncah.
"Pantas saja kau tidak mengangkat telpon ku dari kemarin-kemarin ternyata kalian berdua menghabiskan waktu bersama?!", teriak Flint.
Aaron membantu Thomas berdiri. Terlihat siku Thomas berdarah.
"Sejauh apa pengkhianatan yang kalian lakukan di belakang ku, hah? Cepat katakan!"
"Kau ini, apa-apaan", seru Kaylee. "Lepaskan aku!"
"Kaylee... Thomas, apa yang terjadi. Kenapa ribut sekali?"
Claire berlari keluar kamar dengan rambut masih basah dan memakai bathrobe berwarna hitam. Begitu mengetahui bukan hanya Kaylee dan Thomas di sana, ia merapatkan bathrobe nya.
Flint dan Aaron spontan melihat Claire. Thomas tersenyum puas melihat wajah Flint.
"Kau tahu Kaylee, laki-laki ini cemburu melihat mu bersama pria lain. Kalian saksinya ternyata Flint Myron Gladwyn sekarang menjadi budak cinta", seru Thomas tertawa mengejek temannya itu.
"Kau brengsek, kau sengaja memancing ku? Dan kau... ikut aku sekarang!", ketus Flint menarik kuat tangan Kaylee.
"Flint .. lepaskan aku. Aku tidak mau ikut dengan mu!", teriak Kaylee.
Bukannya melepaskan. Flint malah mengangkat tubuh Kaylee seperti karung beras. Kaylee memukul punggung laki-laki itu, namun tiada artinya.
Suara Kaylee terus terdengar hingga pintu lift tertutup rapat.
Thomas, tangan mu terluka. Aku akan mengobatinya", ujar Claire menarik tangan Thomas agar mengikutinya.
Thomas menolehkan kepalanya, mengedipkan matanya pada Aaron yang berdiri terdiam menyaksikan tingkah kedua temannya. Laki-laki itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
...***...
To be continue
__ADS_1
Penasaran kelanjutan nya? Tinggalkan dulu komentar kalian yang banyak..