
Akira membuka matanya perlahan, cahaya lampu membuat matanya silau, ia mengangkat sebelah tangannya menutupi matanya agar tidak silau,
"Akira kamu sudah sadar sayang.. " ucap kaori tersenyum bahagia.
Akira menurunkan tangannya, melihat orang yang berbicara kepadanya.
"Kaori, kenapa kamu bisa disini.. " tanya akira heran.
"Akira, aku disini menjagamu sayang, sebentar ya aku akan panggilkan dokter untuk memeriksamu.. " ucao kaori pergi meninggalkan akira.
"Kao tunggu.. " ucap akira lemah.
Kaori tetap pergi tidak menghiraukan panggilan akira.
Akira terdiam, ua berpikir sejenak mengingat-ingat apa yang terjadi.
Terlintas akari dipikirannya.
"Akari.. Akari.. Dimana akari.. " batin akira.
Sepertinya tadi ia bempimpi akari pergi meninggalkannya.
"Tidak mungkin akari meninggalkannya, tadi itu pasti mimpi, tapi kenapa seperti nyata.. " batin akira bergelut.
Kedua orangtua akira masuk.
"Akira kamu sudah sadar nak, syukurlah.. " ucap ibu akira nenghampiri anaknya, dan memeluknya.
"Bu, dimana akari kenapa dia tidak ada disini, dan kenapa kaori disini. " tanya akira tidak mengerti.
Kedua orang tua akira saling menatap, mereka ragu untuk memberitahu akira, sepertinya ingatan akira sudah kembali.
__ADS_1
Saat ibu akira hendak berbicara, kaori dan dokter masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Permisi, tuan nyonya saya akan memeriksa keadaan pasien.. " ucap dokter.
Kedua orangtua akira mempersilahkan.
"Bagaimana dok, keadaan pacar saya.. " tanya kaori tidak sabar.
"Semuanya baik-baik saja, sepertinya tuan akira pulih dengan cepat, tuan apa ada keluhan yang anda rasakan.. " ucap dokter.
Akira menggeleng.
"Tuan akira, hanya butuh istirahat sampai kapan keadaannya kembali pulih, kalau begitu saya permisi.. " pamit dokter.
"Kao, apa maksudmu tadi mengatakan bahwa aku adalah pacarmu.. " tanya akira tidak mengerti.
"Ya karena kamu pacar aku akira.. " ucap kaori duduk di samping akira dan tangannya hendak menggenggam tangan akira.
"Kamu jangan asal bicara kaori, pacarku adalah akari dan sampai kapan pun hanya akari yang ada di hatiku.. " ucap akira menatap tajam kaori.
"Akira, kamu dan akari sudah lama putus karena perempuan sial itu tang membuatmu menjadi seperti ini.. Dan sekarang akulah pacarmu.. " ucap tegas kaori.
"Tidak.. Tidak mungkin aku dan akari putus.. Kenapa.. Kenapa aku tidak mengingat apapun.. " ucap akira bingung.
"Tapi itu kenyataannya akira, dan jika perempuan itu benar mencintaimu dia pasti ada di sini dan tidak pergi meninggalkanmu dengan pria lain.. " ucap kaori.
"Akari pergi.. " ucap akira mendelik terkejut.
"Kaori berhenti.. Kamu jangan terus mencuci otak anakku.. " bentak ibu akira
"Tante aku, mengatakan hal yang sebenarnya.. Akari memang pergi dengan pria lain.. " ucap kaori.
__ADS_1
"Bu apa benar akari pergi.. " tanya akira lemah.
Ibu akira memandang suaminya ragu menjawab pertanyaan akira.
"Ia sayang akari pergi, tapi ia pergi demi kebaikanmu akari tidak tega melihatmu terus terluka.. " ucap ayah akira berusaha menjelaskan.
Akira berusaha berfikir keras.
"Aaaa... " akira menahan sakit di kepalanya.
"Akira sayang, kamu kenapa.. " tanya kaori panik hendak merangkul akira.
"Lepass.. Pergi kau.. " akira menepis tangan kaori.
"Akira, kenapa kamu kasar kepadaku, berhentilah memikitkan perempuan hina itu.. " bentak kaori.
"Jaga mulut busukmu itu kao, jangan berani-beraninya kamu mrnghina akari atau aku.. " ucap akira menggantung.
"Atau apa, akari sudah meninggalkanmu bersama pria lain di saat kamu membutuhkannya lalu kata-kata apa yang pantas untuknya.. " ucap kaori.
Akira terdiam,
"Berarti tadi bukan mimpi, benar akari menemuiku. " gumam akira.
"Bu akari pergi kemana.. " tanya akira.
"Dia akan ke london menemui kakaknya.. " ucap ibu akira.
Akira segera bangkit, melepas selang infus du tangannya, dan berlari keluar.
"Akira kamu mau kemana.. " teriak kaori berlari mengejar akira.
__ADS_1
"Akari aku mohon jangan pergi.. " batin akira matanya berkaca-kaca, ia terus berlari tanoa menggunakan alas kaki.