
"Langsung saja, saya tidak mau bertele-tele. Kau tahu, statusmu itu sangat menggangu. Tak memiliki keluarga, pendidikan rendah, pekerjaan yang ... " Weni menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dan satu hal yang sangat mengganggu, kau memiliki anak di luar nikah. Jadi, saya akan memberikanmu sebuah penawaran, yang bila kau bersedia melakukannya, maka kami akan mempertimbangkan dirimu untuk menjadi pendamping putraku," ujar Weni membuat dahi Bunga mengernyit penasaran. Bunga terdiam, ia masih menunggu kelanjutan kata-kata Weni.
"Lebih baik kau serahkan anakmu kepada ayahnya. Bila kau tak tahu siapa ayahnya, kau bisa titipkan dia di panti asuhan. Aku tak ingin ada yang tahu kalau kau sudah memilki seorang anak. Kalau kau seorang janda, mungkin aku tidak akan terlalu mempermasalahkannya, tapi status anakmu ini anak di luar nikah dan aku tidak mau keluargaku menjadi bahan cemoohan dan menanggung malu karena menikahkan anak kami dengan perempuan yang memiliki anak di luar nikah. Jadi, bagaimana? Apa kau bersedia?"
Sontak saja jantung Bunga rasanya mencelos.
Segitu hinakah memiliki anak di luar nikah?
Segitu hinakah status seorang anak yang di lahirkan di luar tali pernikahan?
Apakah karena mereka berstatus anak yang lahir di luar nikah jadi ia tak memiliki hak untuk berbahagia dan memiliki keluarga yang lengkap?
Bunga menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian tertawa hambar. Jelas saja sikap Bunga menimbulkan tanda tanya di benak Weni, ia merasa heran dengan respon Bunga. Apa yang lucu dengan penawarannya barusan, pikirnya.
"Asal Tante tahu, Putri adalah hidupku dan sumber kebahagiaanku. Tak ada yang lebih berharga bagiku melainkan dirinya. Kalau saya ingin menyingkirkannya, mengapa tak sedari awal saja, saat ia masih berbentuk embrio di dalam rahimku? Saya pasti akan bisa meriah cita-citaku, tidak akan kehilangan keluargaku, sahabatku, kehidupanku. Tapi tidak, saya tidak ingin melakukannya. Aku rela meninggalkan semuanya demi mempertahankan buah hatiku. Cukup dosa masa laluku yang membuatku jatuh terpuruk dan aku tak ingin berbuat dosa lagi dengan membuang darah dagingku sendiri. Jadi kalau tante menyuruhku memilih, maaf, anakku bukan pilihan. Anakku adalah prioritas utama dalam hidupku. Aku lebih baik tidak menikah seumur hidup daripada harus mengorbankan anakku demi kebahagiaanku yang semu," tegas Bunga tanpa keraguan sedikitpun.
Beginilah seorang ibu, ia rela melakukan apapun bahkan nyawanya sekalipun demi buah hati tercinta.
Weni tersenyum sinis, terlihat sekali ia begitu meremehkan Bunga. Sebenarnya Weni sudah tahu, Bunga akan menjawab seperti itu. Sebenarnya ini merupakan suatu taktik untuk memukul mundur Bunga tanpa perlu bersusah payah tentunya.
"Baiklah kalau itu keputusanmu. Artinya, tak ada harapan untuk melanjutkan hubunganmu dengan putraku. Jadi aku harap, kau jangan merengek-rengek pada Edgar untuk mempertahankan putrimu dan tetap melanjutkan hubungan kalian."
"Tenang saja Tante, saya takkan merengek pada putra Tante. Saya bisa pastikan itu."
...***...
Sepulangnya ibu Edgar, Bunga menelungkupkan wajahnya di atas meja dengan tangan sebagai alasnya. Sebenarnya ia tadi amat sangat gugup, tidak mudah untuk bersikap pura-pura tenang seperti tadi. Namun, ia tak ingin terlihat lemah dan diinjak-injak orang lain. Dia bukanlah Bunga dulu yang lemah dan manja. Ia adalah seorang ibu yang kuat. Ia tak membutuhkan orang lain bila hanya untuk membuat hidupnya kian rumit.
Bunga mendesah lirih, ia tak menyangka ibu Edgar akan bertindak sejauh itu. Ia tak menyangka Weni yang notabene seorang ibu bisa memintanya membuang Putri bila ingin mempertahankan hubungannya dengan Edgar. Padahal Weni pun seorang ibu, tapi bisa-bisanya ia menawarkan sesuatu yang mustahil baginya. Tidakkah ia berpikir, bagaimana bila hal tersebut terjadi padanya? Apakah karena merasa hidupnya begitu sempurna jadi ia bisa bersikap semaunya? Sungguh Weni merupakan seorang ibu yang tak berhati nurani.
"Bunga ... " panggil seseorang membuat Bunga tersentak dan menengadahkan wajahnya.
"Kau ... " Bunga mendengkus saat melihat sosok Nathan telah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Terima kasih ya!" ucap Nathan membuat Bunya bingung.
"Terima kasih?" beo Bunga penuh tanda tanya.
"Terima kasih karena lebih memilih Putri. Padahal bila mau, kau bisa lebih memilih berbahagia dengan laki-laki itu dan melepaskan Putri bersamaku, tapi kau ... justru mengutamakan kebahagiaan Putri. Kau memilih mempertahankannya, tak pernah berubah. Aku bangga padamu. Aku bangga pernah menjadi bagian dalam hidupmu. Aku bangga memiliki seorang putri dari rahimmu. Aku bangga masih mencintaimu, dari dulu hingga sekarang. Kau memang seistimewa itu," ucap Nathan dengan sorot mata penuh cinta.
Bunga membuang wajahnya sambil mendengkus. Tak dapat ia pungkiri, kata-kata Nathan barusan membuat jantungnya berdebar dengan keras dan kencang. Bunga kadang merasa bodoh sendiri, bagaimana bisa jantungnya masih berdebar untuk orang yang sama setelah apa yang ia lakukan padanya dahulu.
"Tak usah bermulut manis karena aku bukanlah gadis belia yang mudah kege'eran dengan mulut manismu itu," ketus Bunga namun kata-kata tersebut justru membuat Nathan melebarkan senyumnya.
"Aku sungguh-sungguh, Nga. Aku serius dengan ucapanku tadi," ujar Nathan yang kini sudah duduk di salah satu kursi yang ada di konter tersebut.
"Ya ya ya, terserah kau saja," jawab Bunga sekenanya. Ia malas menanggapi ucapan laki-laki di hadapannya itu.
"Bunga ... "
"Apa?" ketus Bunga.
"Apa kau mau bertemu dengan orang tuamu? Bila ia, aku mau menemanimu. Aku juga ingin meminta maaf pada mereka dan memohon pengampunan agar mereka mau memaafkanmu," ujar Nathan membuat wajah Bunga seketika sendu.
"Tak ada orang tua yang benar-benar membenci anak-anaknya, Bunga."
"Tapi kenyataannya memang mereka tak pernah benar-benar menyayangiku." Mata Bunga sudah berkaca-kaca. "Apalagi setelah tahu kesalahanku yang sangat-sangat fatal, wajar bila mereka membenciku," imbuhnya lagi.
"Tapi ibumu tidak, Nga. Apa kau tidak kasihan dengan ibumu yang kini sakit-sakitan. Ibumu sangat merindukanmu. Atau minimal kau temui ibumu supaya beliau tenang dan tidak kepikiran dirimu lagi," ujar Nathan memberi nasihat. Karena terlalu tenggelam dalam kegelisahan, Bunga sampai tak sadar kalau Nathan telah menggenggam tangannya.
"Kalau kau mau, aku dan Kia akan berusaha membantumu. Kia juga sudah bilang, kalau lusa kakakmu pergi ke luar kota dan ayahmu akan ada seminar hingga sore hari. Jadi siangnya kita bisa menemui ibumu di rumahmu, bagaimana? Kau mau?"
Seakan mendapatkan secercah sinar harapan, Bunga pun mengangguk pasti dengan senyum merekah di bibirnya. Ia pun sudah sangat merindukan ibunya. Semoga saja, ia tidak mendapatkan masalah hati itu.
Nathan yang melihat Bunga mengangguk antusias lantas tersenyum. Semoga perlahan-lahan, ia bisa mengembalikan kebahagiaan Bunga yang telah lama hilang dari dalam hidupnya.
...***...
__ADS_1
Tok tok tok tok ...
"Bunga, aku mohon, tolong buka pintunya. Aku ingin bicara. Aku mohon, Bunga. Jangan mengambil keputusan sepihak seperti ini!" pekik Edgar dari depan pintu. Tapi Bunga Tek bergeming. Ia merasa enggan membukakan pintu untuk Edgar. Ia merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Semuanya telah berakhir.
Duk duk duk duk ...
"Bunga, aku mohon, bicaralah denganku. Tolong berikan aku kesempatan untuk memperjuangkanmu, aku mohon! Bunga ... jangan seperti ini." Pekik Edgar lagi.
"Ma, mama lagi marahan sama Om Edgar ya?" tanya Putri polos. Ia heran, tak biasanya ibunya bersikap seperti itu.
"Ah, tidak, sayang. Mama cuma sedang malas ketemu orang aja. Soalnya mama sedang pusing," ucap Bunga yang pura-pura memijit pelipisnya.
"Oh." Putri ber'oh ria saja. Kemudian ia melanjutkan lagi kegiatannya menggambar.
"Bunga, aku takkan pulang sebelum kau membukakan pintu untukku!" teriak Edgar lagi.
"Woy, berisik! Udah malam malah teriak-teriak!" pekik tetangga yang tepat di sebelah kanan rumah Bunga.
Mendengar hal tersebut, Bunga merasa tak enak hati. Ia pun segera keluar. Mungkin memang benar, ia harus bicarakan masalah ini dengan Edgar.
"Mau bicara apa lagi, kak?" tanya Bunga tanpa mau membalas tatapan Edgar
"Bunga, aku mohon, beri kesempatan padaku untuk memperjuangkanmu! Aku yakin, seiring berjalannya waktu, mama akan menerimamu dan juga Putri," ujar Edgar seraya memelas.
"Maaf kak, aku nggak bisa. Sebaiknya kakak pulang, udah malam. Aku nggak enak dengan tetangga. Nanti mereka berpikir macam-macam tentangku. Tolong hargai aku!" ucap Bunga penuh permohonan.
"Tapi Bunga ... "
"Kak, bagiku restu orang tua itu yang utama. Aku pun ingin memiliki keluarga yang lengkap. Cukup sudah aku dibuang keluargaku karena kesalahanku dan aku tidak ingin kakak pun merasakan hal yang sama dibuang keluarga kakak hanya demi mempertahankan aku perempuan yang tak jelas ini," pungkas Bunga membuat Edgar tersenyum getir.
"Semoga kau nanti berubah pikiran, Nga. Aku akan menunggumu," ucap Edgar sebelum berlalu dari hadapan Bunga.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...