LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)

LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)
Bab. L Kenyataan memilukan


__ADS_3

Karena jalanan yang macet, mobil Nathan yang dikendarai Bayu baru tiba 1 jam kemudian. Nathan dan yang lainnya berlarian sepanjang koridor rumah sakit untuk menuju ruangan Bunga berada.


Setibanya di sana, ternyata Bela, Lilya, Aryo, dan juga Andra telah berada di sana. Setibanya di sana, mereka juga langsung memeriksakan darah mereka dan ternyata Andra-lah yang memiliki k


golongan darah yang sama dengan Bunga.


"An, Bel, Lil, Yo, kalian udah lama?" tanya Nathan pada keempat sahabatnya.


"Udah dari setengah jam yang lalu. Oh ya, kami udah periksa darah kami dan Andra memiliki golongan darah yang sama dengan Bunga jadi dia tadi udah mengikuti prosedur pengambilan darah. Kata Om loe, operasi akan dilakukan tepat jam 4 sore ini," tukas Aryo memberi tahu.


Lalu keempat sahabat Nathan dan Bunga melirik Karlina, pak Broto, Bayu, dan Zia. Untuk Bela dan Lilya tentu tidak asing dengan keempat orang tersebut, tapi berbeda dengan Aryo dan Andra. Mereka yang tahu kalau kakak dan ayah Bunga memperlakukan Bunga dengan tidak baik, bahkan mengusirnya saat hamil, membuat mereka kesal sendiri.


"Jadi kamu yang sudah mendonorkan darah untuk Bunga, terima kasih ya, nak atas bantuannya," tukas Karlina bersuara terlebih dahulu.


"Tidak masalah Tante, kami sahabatnya tentu sudah kewajiban kami membantu Bunga."


Degh ...


Kata-kata itu nyaris seperti sebuah sindiran di telinga keluarga Bunga. Mereka yang hanya sebagai sahabat saja mengatakan kewajiban bagi mereka untuk membantu Bunga, sedangkan mereka justru tanpa rasa kasihan telah membuang Bunga di saat ia sedang terpuruk.


"Bisakah kami melihat keadaan Bunga sebelum di operasi?" tanya Pak Broto pada mereka.


Tapi keempat sahabat Bunga itu justru mengedikkan bahunya seolah enggan berbicara dengan ayah Bunga.


"Nathan tanya om Stefan dulu, bisa nggak nya , Om," ujar Nathan saat melihat keberadaan Stefan yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka.


Nathan pun bergegas mendekati Stefan dan bertanya. Kemudian ia memandang keempat keluarga Bunga tersebut.


"Maaf, sementara Bunga tidak bisa kalian temui. Sebentar lagi Bunga akan dipindahkan ke ruang operasi. Kalian bisa melihatnya saat Bunga dipindahkan saja. Permisi." Tanpa basa-basi Stefan segera masuk ke ruangan UGD membuat Pak Broto, Bayu, Karlina, dan Kia mendesah kecewa. Mereka benar-benar ingin melihat Bunga, tapi sayangnya tidak bisa.

__ADS_1


Kemudian selang beberapa menit setelah Stefan masuk, pintu kembali terbuka. Beberapa perawat pun keluar sambil mendorong brankar yang di atasnya terdapat Bunga dengan keadaan yang begitu memilukan.


Karlina dan Kia sampai menutup mulutnya saat melihat keadaan Bunga yang benar-benar mengenaskan. Wajah Bunga tampak penuh dengan luka, belum lagi terlihat jelas bagian bawah bantal terlihat basah karena darah yang sepertinya sukar berhenti. Ditambah selang oksigen dan jarum infus serta bed monitor yang turut menyertainya membuat hati mereka kian hancur.


"Bunga, ini bapak, Bunga, maafkan, bapak minta maaf. Bangunlah nak, bapak mohon, bertahanlah nak, Bapak mohon ... " lirih pak Broto sambil berusaha mengejar brankar yang terus di dorong.


"Bunga, maafin kesalahan kakak. Kakak salah, kakak menyesal sudah menyakiti dan mengabaikan mu. Kakak mohon bertahanlah, sembuhlah. Kakak janji akan lebih menyayangi mu. Kakak akan kabulkan apapun permintaanmu, kakak mohon. "


Sama seperti pak Broto, Bayu pun tak henti-henti mengucapkan permohonan maaf pada Bunga sambil terus mengikuti brankar itu hingga benar-benar menghilang di balik pintu ruang operasi.


Mereka tergugu, terisak, dan menangis pilu. Mengapa mereka baru menyadari kesalahan mereka di saat kondisi Bunga sedang tidak baik-baik saja seperti ini. Seharusnya tempo hari, saat Bunga kembali lagi setelah 6 tahun ia menghilang, mereka sudah memaafkannya. Tapi mereka justru dengan teganya kembali memarahinya bahkan kembali mengusir dan tidak mau mengakuinya sebagai anak, sebagai bagian dari keluarga mereka. Mereka merasa sangat menyesal. Kekhawatiran muncul di benak mereka, bagaimana bila Bunga tidak selamat? Seumur hidup mereka pasti akan selalu dalam penyesalan.


"Bunga, maafin bapak. Sembuhlah nak, sembuhlah, bapak mohon." Pak Broto tergugu di depan ruang operasi pun Bayu yang tak mampu membendung kesedihan dan penyesalannya.


Hampir semua yang mengenal Bunga tak mampu membendung kesedihan dan air mata. Bukan hanya orang tua, tapi juga para sahabat apalagi Nathan yang merasa begitu ketakutan.


Saat sedang melamun dengan air mata berderai, tiba-tiba ponsel Nathan berdering. Dilihatnya nama sang ibu yang menghubunginya. Stefani kini sedang menjaga Putri.


"Nath, segera ke ruangan Putri. Dari tadi dia nangis nyariin Bunga. Terus ... "


"Terus apa, ma? Putri kenapa?" tanya Nathan panik.


"Putri mimisan lagi. Darahnya ... darahnya banyak sekali, Nath. Ya Allah, kenapa Putri harus mengalami ini," lirih Stefani di sambungan telepon.


Nathan yang mendengar hal tersebut, sontak saja merasakan dadanya berdenyut nyeri. Ia sampai memukul-mukul dadanya karena terlalu sakit.


"Nath, kamu kenapa? Hei, Nathan berhenti!" sergah Aryo sambil menahan tangan Nathan.


"A-aku harus ke ruangan Putri sekarang," ujar Nathan dengan bibir bergetar.

__ADS_1


Sontak saja semua yang ada di sana menoleh ke arah Nathan dengan penuh tanda tanya. Tak sanggup menjelaskan, Nathan justru segera menarik tungkainya secepat mungkin untuk menuju ruangan Putri.


"Putri?" beo Pak Broto yang masih linglung.


"Putri ... dia anak Bunga, pak," ujar Bayu.


"Tapi tadi dia bilang dia harus ke ruangan Putri sekarang, apakah Putri juga ... " ucap Pak Broto menggantung.


"Bayu akan coba cari tahu, pak," ujar Bayu yang bergegas berlari menyusul Nathan dan juga Aryo.


Hingga sampailah ia di kamar Bougenville XX membuat Bayu mengerutkan keningnya. Bayu melihat Nathan menghampiri wanita paruh baya yang entah siapa.


"Bagaimana keadaan Putri, ma?" tanya Nathan saat melihat sang ibu sedang terisak di bangku depan kamar rawat Putri.


"Papa sama dokter Agus sedang menanganinya. Ya Allah Nath, kenapa begini? Bunga kritis, Putri tak jauh berbeda, kenapa mereka harus mengalami ini, Nath?" lirih Stefani yang langsung berhambur ke pelukan Nathan.


Aryo dan Bayu hanya saling menoleh. Mereka benar-benar bingung, sebenarnya apa yang terjadi.


"Maaf," tegur Bayu membuat Nathan dan Stefani lantas menoleh. "Emmm ... kalau boleh tahu, Putri yang kalian bahas itu apakah dia ... dia ... "


"Ya, dia anakku dan Bunga. Putri sedang berada di dalam sana sama seperti Bunga, sedang berjuang untuk hidup."


"Maksudnya? Apa Putri sedang sakit? Sakit apa? Apa dia kecelakaan juga sama seperti Bunga?" tanya Bayu panik. Tadi ia hanya memikirkan Bunga, sampai lupa keberadaan Putri yang tak kunjung terlihat.


"Putri ... Putri kecil kami sedang bertarung melawan penyakit yang sangat berbahaya. Putri ... dia mengidap penyakit Bernard Soulier Syndrome. Penyakit kelainan genetik yang menyebabkan Putri kerap mimisan dalam jumlah yang tidak sedikit. Karena penyakit itulah Bunga jadi frustasi. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Akibatnya ia kehilangan kontrol dan kecelakaan."


Lagi, lagi, dan lagi Nathan menumpahkan air matanya. Mata Nathan sampai membengkak karena hari ini hampir setiap jam ia menangis. Bayu yang mendengarnya bagaikan disambar petir. Penyesalan itu kian membuncah. Ia tak menyangka adiknya dan juga keponakannya kini sama-sama sedang berjuang untuk hidup.


Tubuh Bayu sampai merosot ke lantai. Sendi-sendinya terasa begitu lemas. Kenapa di hari yang sama ia harus mendengarkan dua kenyataan yang menyakitkan dan memilukan?

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2