LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)

LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)
Bab. LIX


__ADS_3

Stefani, Karlina, dan pak Broto menatap berkaca keteter yang menancap di dada Putri. Semua pemeriksaan mulai dari tes darah, tes pencitraan, dan beberapa tes lainnya menyatakan kondisi Putri stabil dan cukup baik untuk menjalani prosedur BMT.


Dari semua sampel pemeriksaan HLA hanya milik Bunga yang tingkat kecocokannya lebih tinggi dari sampel lainnya. Hal yang lantas membuat Bunga harus tergolek di ruangan lain demi menjalani prosedur pengambilan stem Cell atau sel induk milik Bunga untuk kemudian ditransplantasikan ke tubuh Putri.


"Putri akan baik-baik saja, ma. Jangan terlalu khawatir!" bisik Alan dengan ekspresi yang istrinya tunjukkan. Karlina dan Pak Broto pun ikut mendengarkan. Mereka pun sama seperti Stefani yang begitu mengkhawatirkan kondisi Putri. Mereka sungguh menyesali mengapa mereka harus dipertemukan putri dalam keadaan seperti ini. Seandainya dulu mereka tidak berpikir egois mereka yakin Putri dan bunga tak akan mengalami hal-hal demikian. Kalaupun penyakit ini tetap ada, setidaknya mereka bisa menanggulanginya lebih cepat agar tidak makin parah seperti ini.


Stefani menghela nafas panjang, bagi para dokter mungkin melihat pemandangan ini tidaklah asing dan sudah biasa. Melihat bayi masih merah didorong ke ruang operasi untuk di bedah pun sudah biasa, tapi bagi orang awam seperti Stefani, Karlina, dan Pak Broto melihat bayi dipasang selang infus saja pasti sudah meremang. Apalagi melihat cucu mereka sendiri yang usianya masih terlalu kecil tapi sudah harus berjuang dengan berbagai alat medis yang menancap di tubuhnya, tentu saja membuat hati mereka nelangsa. Namun, tak ada yang dapat mereka lakukan selain menerima sebab ini merupakan salah satu upaya untuk memperpanjang usia cucu mereka tercinta.


Dikatakan memperpanjang usia sebab penyakit kelainan darah akibat kelainan genetik sebenarnya tak ada obat yang pasti. Namun, ada upaya untuk menindaklanjutinya agar tidak makin parah pun. untuk memperpanjang usia dan agar bisa bertahan hidup lebih lama.


"Bunga bagaimana keadaannya?" Stefani menoleh ke belakang, tentu saja dia juga memikirkan Bunga. Karlina dan Pak Broto yang sedari tadi diam pun ikut memalingkan wajahnya turut menyimak. Mereka pun mencemaskan putri mereka itu. Putri yang baru saja bisa merasakan kebahagiaan disayangi keluarga lengkap, orang tua lengkap. Apakah Bunga juga ditancapi kateter sama seperti Putri?


"Papa belum ke sana, tapi papa sudah meminta Stefan dan dokter Agus stand by di sana jadi mama jangan khawatir, oke!" Alan mencoba menenangkan sang istri. "Untuk bapak dan ibu, saya harap juga jangan khawatir. Doakan saja yang terbaik untuk Bunga dan juga Putri, cucu kita," pungkas Alan yang juga mencoba menenangkan besannya. Ia sangat yakin, kedua besannya itu pun tengah mencemaskan keadaan Putri apalagi mereka bukan berasal dari kalangan medis, tentu rasa kecemasan mereka jauh lebih tinggi pada Bunga dan Putri.


Stefani mengangguk. Pun Karlina dan Pak Broto yang ikut mengangguk dengan perasaan yang begitu campur aduk. Pak Broto memalingkan pandangannya pada Putri yang terbaring dengan kateter dan selang panjang yang menancap di dadanya. Jangan lupa pada beberapa selang infus. Ah ... kalau bisa Pak Broto ingin menggantikan posisi Putri. Biar saja dia, jangan anak sekecil Putri.


"Seberapa besar harapan kita pada prosedur ini, pak?" Akhirnya pak Broto bersuara setelah sedari tadi hanya bungkam sembari mendengarkan. Hatinya berdenyut nyeri merasakan bagaimana sedihnya Bunga melihat kondisi anaknya yang seperti ini. Ia yang baru bertemu dengan cucunya saja bisa merasakan sakitnya melihat cucunya itu tergolek lemas tak berdaya karena sakitnya, apalagi Bunga yang merupakan ibu kandungnya, yang berjuang mempertahankannya sedari dalam kandungan saat tak ada yang mau mengakuinya, yang berjuang melahirkannya sekuat tenaga meski dalam keterbatasan, dan yang bersusah payah membesarkannya dengan mengorbankan segenap daya upaya.


"Harapan kita hanyalah bisa membuat Putri bisa sedikit lebih normal. Bisa kembali beraktivitas walau tidak seratus persen seperti dulu. Putri tetap akan punya batasan sendiri, tapi dengan prosedur ini, tentu saya dan tim dokter bisa sedikit membantu agar Putri tidak sering kambuh," terang Alan panjang lebar pada pak Broto.


Ya, mereka tidak terlalu berharap tinggi. Namun tetap saja, mereka akan terus berdoa agar Putri bisa sehat kembali dan bisa tumbuh normal seperti anak-anak lainnya.


...***...


Bayu hendak menekan knop pintu ketika dari kaca yang ada di pintu dia lihat dua sejoli itu nampak begitu intim.


Bukan!

__ADS_1


Mereka Tidak tengah berciuman atau bahkan melakukan hubungan layaknya suami istri. Mereka hanya saling mengobrol, berpegangan tangan dan sesekali tertawa.


Bayu tersenyum. Ia sangat suka melihat interaksi itu. Bayu bersyukur, ternyata adiknya menemukan laki-laki yang tepat untuknya. Laki-laki yang begitu tulus mencintainya dan selalu setia mendampingi dalam setiap keadaan. Bayu bisa merasakan, betapa Nathan mencintai adiknya itu. Dan Bayu pun bisa melihat, betapa adiknya pun mencintai ayah dari keponakannya itu. Meskipun mereka telah terpisah selama bertahun-tahun, ternyata mereka masih bisa menjaga cinta mereka dengan baik, tak tergoyahkan, meski jarak dan waktu memisahkan. Dimana biasanya kisah cinta SMA banyak dianggap tak lebih dari sekedar cinta monyet, tapi Nathan dan Bunga justru menjadikan cinta mereka cinta sejati. Bayu sampai salut dengan mereka berdua. Bayu saja yang usianya terpaut beberapa tahun dari Bunga belum berhasil menemukan cinta sejatinya, tapi adiknya justru masih bertahan dengan cinta pertamanya kala SMA.


"Seandainya dulu kakak tidak egois. Seandainya dulu kakak tidak mengusirmu, Bunga. Seandainya dulu kakak justru mencari laki-laki yang menghamilimu dan segera menyatukan kalian, mungkin kisah kalian takkan seperti ini," gumam Bayu lirih. Ada rasa sesal yang begitu besar dalam dada Bayu. Secara tidak langsung, sebenarnya apa yang menimpa Bunga ini merupakan kesalahannya.


Keegoisan, tak mau menerima takdir, dan berhati batu membuatnya abai pada adiknya sendiri. Membuatnya tidak merasakan kasih sayang dan perhatiannya.


"Aku memang kakak yang sangat kejam," lirihnya lagi.


"Kak," panggil seseorang menyentak lamunan Batu yang tengah memperhatikan interaksi Nathan dan Bunga.


"Ah ... kamu," ucap Bayu tergeragap karena terkejut.


"Kakak ngintip ya? Cie ... pasti iri! Makanya kak, cari pacar gih, dari pada ngintipin orang lagi sayang-sayangan di dalam," ledek salah seorang sahabat Bunga yang bernama Bela.


"Astaga, gue dikacangin!" sinis Bela sambil mendengus. "Ck ... yang lain mana sih? Katanya udah mau sampai, tapi malah gue yang duluan sampai." gerutu Bela yang gegas mengambil ponselnya kemudian menghubungi salah seorang yang ditunggunya.


"Gue di belakang loe!" ujar seseorang di dalam telepon itu membuat Bela segera menoleh.


"Lama amat sih, Ndra, Yo? Kalian pasti lirik-lirik perawat cantik dulu ya sebelum ke sini?"


"Idih, kurang kerjaan. Emang kami mat keranjang," sergah Aryo yang tak suka dituduh macam-macam.


"Kita boleh masuk nggak?" tanya Aryo.


"Tau tuh, tanya sama kakak Bunga aja dulu. Kak, kita boleh masuk nggak ya kira-kira?"

__ADS_1


"Ketuk aja mumpung masih jam besuk. Tapi sebentar lagi jam besuk habis, jadi cepetan aja."


"Oke, bos!" seru Bela ceria yang tak direspon sama sekali oleh Bayu.


"Astaga, kakak Bunga kok gitu amat ya? Pelit banget ngomong. Atau dia lagi sariawan?" gumam Bela bisik-bisik dengan Aryo dan Andra. Bela memang bersikap seperti berbisik, tapi suaranya justru cukup jelas sehingga Bayu dapat mendengarnya dengan jelas.


"Nggak usah ngomongin orang dari belakang. Kalau mau protes, langsung bilang ke orangnya aja," ketus Bayu membuat Bela menyengir lebar memamerkan deretan giginya yang putih.


"Nggak, nggak usah kak. Makasih. Aku masih mau hidup," seloroh Bela membuat Aryo dan Andra tersenyum kaku karena tidak enak hati dengan kakak dari Bunga tersebut.


"Jangan gila loe, Bel? Liat mata kak Bayu kayak udah mau melompat keluar. Siap-siap aja kalau kamu langsung diseretnya," bisik Andra di telinga Bela.


"Hah! Gimana Ndra kalau dia beneran seret gue? Kan gue cuma bercanda soalnya muka dia tuh serius banget. Udah kayak hakim mau jatuhin vonis mati ke terdakwa aja," balas Bela.


"Ya nggak gimana-gimana sih, Bel. Jalanin aja, nggak masalah. Ganteng juga. Kayaknya udah lumayan mapan juga," balas Aryo yang juga berbicara sembari berbisik-bisik seakan tidak peduli yang sedang mereka perbincangkan itu ada di belakang mereka sendiri.


"Maksudnya? Serius, gue gagal paham sesama maksud loe." Bela menggaruk ujung pelipisnya. Serius, Bela benar-benar tidak mengerti apa maksud kedua sahabat Nathan itu.


Kemudian Andra membisikkan sesuatu dan sukses membuat Bela melotot dan mencubiti pinggangnya. Bagaimana tidak, bisa-bisanya Andra mengatakan "maksudnya diseret itu, diseret ke KUA buat dijadiin bini."


Aryo dan Andre tergelak kencang setelah mengerjai Bela, sedangkan Bela auto bergidik ngeri saat bertemu tatapan horor Bayu.


"Nggak mau ih. Takut. Dan, buruan masuk aja, keburu waktu besuk habis." Kemudian Bela, Aryo, dan Andra pun masuk ke ruangan dimana Bunga dan Nathan berada.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2