
Siang ini atau lebih tepatnya sepulang Putri sekolah, Bunga gegas mengajak Putri bersiap sebab sesuai rencana Nathan dan Kia, mereka akan mempertemukan dirinya dengan ibu yang sangat ia rindukan.
"Mama, emangnya kita mau pergi ke mana? Emangnya mama nggak jaga konter hari ini?" tanya Putri heran. Tidak biasanya ibunya itu mengajaknya pergi apalagi sampai harus meninggalkan pekerjaannya menjaga konter.
Setelah selesai menguncir rambut panjang Putri, Bunga membalik tubuh Putri agar berhadapan padanya. Diusapnya pipi Putri dengan sayang.
"Mama nggak jaga konter hari ini. Mama udah minta izin sama Om Niko sebab mama mau ajak Putri ketemu sama nenek, Putri mau kan ketemu sama nenek?" ujar Bunga seraya mengulas senyum.
Mata Putri mengerjap beberapa kali. Otaknya seolah sedang mencerna kata-kata Bunga barusan. Wajar Putri seperti itu sebab seumur hidupnya, ia tidak pernah bertemu ataupun diajak ketemu dengan neneknya.
"Nenek?" beo Putri dengan wajah polosnya membuat Bunga gemas lalu mencium pipinya.
"Iya sayangku, princessnya mama ... Mama mau ajak Putri ketemu nenek, ibunya mama. Putri mau kan?"
"Jadi Putri masih punya nenek, ma?" tanya Putri polos.
"Iya sayang, Putri masih punya nenek dan sebentar lagi kita ke rumah nenek. Entar ada Tante Kia juga, tantenya Putri."
Mendengar penuturan tersebut, sontak saja Putri berlompatan sambil berseru girang.
"Yeay, Putri punya nenek! Putri mau ketemu nenek. Ye, ye, ye, ye, Putri mau ketemu nenek," serunya girang membuat Bunga sampai berkaca-kaca. Seandainya saja orang tuanya menerima kehamilannya dan tidak mengusirnya, mungkin Putri akan merasa begitu bahagia. Tak perlu merasa kekurangan baik itu kasih sayang maupun kehangatan keluarga. Tapi nasi telah jadi bubur dan takkan mungkin kembali menjadi beras. Semua telah terjadi, tak dapat ia putar kembali. Yang bisa ia lakukan hanyalah mencoba memperbaiki. Semoga saja ,ia diberikan kesempatan untuk memperbaiki ikatan yang rusak ini.
Tok tok tok ...
"Assalamu'alaikum," ucap Nathan dari depan pintu pintu.
Mendengar suara sang ayah, sontak Putri berlari menuju pintu dan membukanya. Mata Putri berbinar begitu cerah dan indah. Kebahagiaan begitu terpancar nyata membuat sudut bibir Bunga tak kuasa untuk menahan senyum yang terukir indah.
"Papa ... " seru Putri sambil berhamburan ke pelukan Nathan.
__ADS_1
"Putri papa kayaknya bahagia banget nih sampai lupa jawab salam dari papa," celetuk Nathan gemas seraya mencubit pelan pipi Putri. Bunga yang mendengar hal tersebut ikut tersentil sebab ia pun turut tidak menjawab salah karena terlalu fokus dengan tingkah Putri yang lucu dan menggemaskan.
"Hehehe ... maaf, Pa. Putri lupa. Mama sih, nggak ingetin. Wa'alaikum salam." Ucap Putri yang kemudian menjawab salam.
Mata Bunga mendelik mendengar celetukan Putrinya itu yang memang benar adanya.
"Wa'alaikum salam," sahut Bunga sedikit dongkol.
"Jawab salam itu harus ikhlas, Ma, biar dapat pahala kayak Putri," ucap Putri sombong.
"Yeee, emang Putri yakin dapat pahala?"
"Iya dong, kan Putri masih kecil, belum ada dosa jadi pahala Putri pasti banyak banget," sahut Putri tak ada habisnya.
"Yayaya, suka-suka Putri aja deh."
"Oh ya, kok Putri kayaknya bahagia banget?"
Nathan mengulas senyum melihat ekspresi bahagia di wajah Putri. Tak lama kemudian, mata Nathan menatap Bunga diam-diam. Nathan terpaku melihat binar bahagia di netra Bunga. Merasa dirinya diperhatikan, Bunga pun menoleh ke arah Nathan membuat Nathan segera mengalihkan pandangannya. Jantungnya berdebar begitu kencang. Ia pun heran, setelah sekian tahun lamanya berpisah, kenapa hanya Bunga yang mampu membuat debaran tak biasa di dadanya. Sepertinya ia telah dikutuk untuk selalu mencintai Bunga, tak bisa berpaling ataupun berganti.
Tak dipungkiri, saat menempuh pendidikan di Amerika, banyak para gadis yang mencoba mendekatinya. Baik itu gadis yang berasal dari tanah air sendiri maupun warga negara sana dan pendatang seperti dirinya. Saat bekerja paruh waktu pun sebagai arsitek freelancer pun ia kerap mendapat ajakan berkencan ataupun menjalin hubungan, tapi tak ada satupun dari mereka yang mampu menggetarkan hatinya. Di hati dan jiwanya justru terpaku satu nama, hanya Bunga seorang. Oleh sebab itu, meskipun ia telah sekian tahun berada di negeri seberang, tak pernah sekalipun ia menjalin kasih dengan gadis lain. Mereka semua hanya Nathan anggap teman kayaknya Bella dan Lilya, tak lebih.
Nathan pikir, perasaan itu muncul karena rasa bersalahnya memutuskan Bunga begitu saja. Tapi sekarang terbukti, itu karena ia masih benar-benar mencintai mantan kekasih sekaligus ibu dari anaknya ini.
Bolehkah ia berharap bisa memperbaiki hubungannya dengan Bunga? Bukankah Bunga juga sudah tidak terlibat hubungan lagi dengan laki-laki yang bernama Edgar itu?
Nathan yang tiba di konter bersama dengan kehadiran ibu Edgar membuatnya mendengar segala pembicaraan mereka. Bukankah ini semacam petunjuk agar ia kembali memperjuangkan Bunga?
"Yuk, papa anterin!" ajak Nathan sembari menggamit telapak tangan Putri.
__ADS_1
"Papa yang anterin? Pakai mobil?" cecar Putri membuat Nathan terkekeh sembari mengangguk. "Yeyeyeye ... Makasih ya, Pa. Putri seneng deh, iya kan Ma?" Putri menoleh ke arah Bunga. Bunga yang tak ingin mengecewakan putrinya lantas mengangguk sambil mengulas senyum.
"Ya udah, let's go, Princess!" seru Nathan semangat.
"Go go go ... " seru Putri penuh semangat membuat Nathan dan Bunga tersenyum bahagia.
Mobil yang dikendarai Nathan telah membelah jalanan ibu kota. Jarak tempuh dari tempat tinggal Bunga hingga ke rumah orang tuanya sekitar 2 jam. Memang Bunga mencari tempat yang cukup jauh. Sebelum tiba di rumah orang tua Bunga, mereka terlebih dahulu mampir di salah satu restoran untuk makan siang. Setelah selesai makan, mereka pun meneruskan perjalanan mereka.
3 jam kemudian, akhirnya mobil Nathan telah tiba di depan gerbang rumah Bunga. Tiba-tiba tubuh Bunga menegang kaku di tempat. Ingatan masa lalu bagaimana ia diusir berkelebat di benaknya. Rasa takut, cemas, was-was bercampur aduk menjadi satu.
Rumah itu tampak masih seperti 6 tahun yang lalu. Tak ada yang berubah. Hanya pohon-pohon hasil tanamannya dan Kia serta ibunya saja yang makin menjulang tinggi. Bahkan pohon mangga yang ia tanam saat awal masuk SMA dulu telah menjulang begitu tinggi dengan buah yang juga begitu lebat. Putri sampai bersorak sambil bertepuk tangan saat melihat buah mangga yang begitu lebat membuatnya ingin sekali memetiknya.
"Wah, ini rumah nenek ya, Ma? Neneknya mana? Ma, ma, ma, lihat pohon mangga itu! Waaaah, buahnya banyak banget ma. Kira-kira Putri boleh nggak ya nanti petik?" cerca Putri seperti kehilangan rem.
"Mbak Bunga ... " seru Kia yang baru saja keluar dari dalam rumah dengan wajah berbinar. "Kak, bawa masuk aja mobilnya," imbuhnya seraya membukakan pintu gerbang rumah mereka.
Setelah gerbang dibuka, Nathan pun memasukkan mobilnya kemudian memarkirnya tepat di depan teras rumah.
Kemudian mereka pun turun dari dalam mobil dengan Putri dalam gendongan Nathan.
"Ibu mana dek?" tanya Bunga yang sudah tak sabar.
Kia mengulas senyum sendu, "ibu sedang tidur. Ayo, masuk dulu!" ajak Kia yang diikuti Nathan, Bunga, dan Putri.
"Putri cium tangan Tante dulu ya! Ini tante Kia, adiknya mama," ujar Bunga memperkenalkan.
"Hai Tante, kenalin, aku Putri. Nama panjangku Putri Buana Wiryatama. Bagus kan namaku? Itu nama pemberian mama lho Tan!" seru Putri heboh membuat Kia terkekeh. Tapi tidak dengan Nathan, antara sedih, bahagia, dan haru menjadi satu. Tak pernah ia sangka, Bunga justru menambahkan nama belakang dirinya pada Putri. Meski tersakiti pun ternyata Bunga masih begitu menghargainya sebagai ayah biologis dari Putri.
"Kia, itu suara siapa nak? Kok ada suara anak kecil? Ada tamu ya!" seru ibu Bunga dari dalam kamarnya.
__ADS_1
"Iya, Ma. Kita kedatangan tamu istimewa." sahut Kia antusias.
...Happy reading 🥰🥰🥰...