LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)

LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)
BAB. LXXI See you and bye-bye


__ADS_3

Setelah 3 hari menjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya hari ini Bunga dan Putra tampan mereka telah diizinkan pulang. Keluarga besar Bunga dan Nathan, tak ketinggalan Putri sudah menunggu kepulangan sang mama dan adik bayinya yang sudah sangat lama ia nanti-nantikan.


"Itu mobil papa, Om," seru Putri antusias. Ia pun bergegas menuju teras, menunggu sang mama dan papa berserta adik kecilnya datang.


"Wah, Putri seneng banget kayaknya," ucap Bayu sambil tersenyum tipis.


"Iya dong, Om, kan mama sama papa ajak dedek bayi Putri, Putri jadi seneng dong," kekeh Putri sumringah.


"Mama, papa," pekik Putri antusias.


"Wah, princess nya mama dan papa udah nggak sabar liat adek Satria ya?" ucap Nathan yang baru saja turun dari dalam mobil. "Tunggu sebentar ya!" imbuhnya.


Lalu Nathan segera membantu Bunga turun dari dalam mobil setelah terlebih dahulu mengambil alih baby Satria ke dalam gendongannya.


Kemudian ia mengajak Bunga dan Putri masuk ke dalam rumah dimana semua anggota keluarga telah berkumpul. Sedangkan Bayu berjalan di belakang mereka sambil membantu membawakan tas berisi perlengkapan Bunga dan baby Satria selama di rumah sakit.


Bunga disambut dengan begitu hangat. Tak pernah berubah, justru ia makin disayang dan dimanjakan keluarga besarnya. Tak pernah ia sangka ia akan sampai pada titik ini, titik dimana ia bisa merasakan kebahagiaan yang begitu sempurna.


"Halo dedek Satria, perkenalkan, nama kakak Putri. Kakak itu kakaknya dedek Satria. Dedek Satria lucu deh. Kakak sayang dedek Satria," ucap Putri seolah-olah sedang memperkenalkan diri pada sang adik membuat semua orang terkekeh mendengarnya.


"Dedek, kakak punya es krim lho, dedek mau nggak? Kalau mau nanti kak Putri ambilin," ujarnya membuat semua makin tergelak kencang.


"Putri sayang, adek Satria kan masih bayi jadi belum bisa makan es krim." Nathan mencoba menjelaskan.


"Jadi dedek Satria boleh makan apa, pa?" tanya Putri lagi.


"Dedek Satria kan masih bayi jadi cuma bisa minum susu."


"Oh, kalau gitu Putri ambilin susu Putri dulu pa, Putri mau kasih adek."


"Nggak bisa juga, sayang. Dedek bayinya belum bisa minum susu kayak Putri." Kini Bunga yang ikut menimpali.


"Jadi minum susu apa, ma?"


"Sini mama bisikin!" Lalu Bunga pun mendekatkan telinganya pada bibir Bunga.


"Oh, jadi dedek bayi cuma bisa minum susunya mama ya ma?" bisik Putri.


"Iya."


"Emang mama ada susu? Oh, susu yang suka papa buatin itu ya? Putri mau buatin untuk dedek Satria boleh nggak ma?" ucapnya lagi membuat Bunga pusing sendiri menjelaskannya.


"Assalamu'alaikum." Terdengar seruan salam dari arah pintu masuk. Suara yang begitu familiar di telinga Bunga. Ia pun membelalakkan matanya saat melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam," jawab semua orang yang tengah berkumpul di ruang tamu.


"Nico?" serunya tak percaya dengan siapa yang dilihatnya.


"Mbak Bunga?" seru Niko yang sama-sama terkejut.


"Lho, kamu kenal mbak Bunga?" tanya Kia pada Niko yang dijawab dengan anggukan oleh Niko.


"Jadi, mbak kamu yang belum lama kamu temukan itu mbak Bunga ini?" tanya Niko pada Kia yang dijawab Kia dengan anggukan juga. "Ya Allah, kalau aku tahu mbak yang selama ini kamu cari-cari itu mbak Bunga yang ini, udah sejak lama aku kasi tau. Kamu sih nggak pernah kasi foto mbak Bunga ke aku," protes Niko sambil bersungut-sungut.


"Ya, aku kan nggak tahu kamu kenal, Ko, kamu gimana sih!" kilah Kia tak suka disalahkan.


"Ya kayak aku bilang tadi kenapa nggak dari awal kamu kasih tahu jadi kan aku bisa kasih tahu kamu," sahut Niko kekeh tak mau mengalah.


"Kan ... "


"Udah, kok pada berantem sih! Kan mbak juga udah ketemu, Kia, Niko, nggak perlu kalian berantem," sergah Bunga.


"Iya nih 2 orang, tiap ketemu selalu aja bertengkar," imbuh salah seorang perempuan yang ikut bersama mereka.


"Tau nih, bukannya mempersilahkan kami duduk dulu kek, malah sibuk berantem," sambung teman Kia lainnya.


"Hehehe ... sorry. Perkenalkan mbak, Om, Tante, mereka ini sahabat Kia. Yang ini Niko, itu Aldo, dan ini Nena."


Mereka pun kemudian saling memperkenalkan diri masing-masing. Mereka adalah teman-teman kampus Kia.


"Oh, dia itu cinta pertama aku yang pernah aku ceritakan itu, si penjaga konter," ujar Niko santai membuat semua orang membelalakkan matanya.


"Apa?" seru semua orang terkejut membuat Niko terkekeh.


Nathan yang sejak tadi menimang baby boy nya lantas memicingkan matanya pada Bunga. Ia memang sudah tahu bahwa Niko adalah pemilik konter tempat Bunga dahulu bekerja, tapi hanya sebatas itu saja.


"Niko itu adiknya kak Edgar. Aku kenal kak Edgar kan karena dia datang ke konter," tukas Bunga seraya berbisik.


"Tapi kamu nggak ada hubungan apa-apa sama dia kan, Yang?" bisik Nathan masih dengan tatapan mengintimidasinya.


"Ya mana ada, sayang. Mana suka aku sama berondong kayak dia. Aku kan cinta matinya sama kamu," balas Bunga masih sambil berbisik membuat wajah yang tadi mengintimidasi jadi sumringah. Bahkan senyumnya terlihat malu-malu membuat Kia dan lainnya jadi iri.


"Bang, bagi kiatnya dong biar bisa dapetin cewek kayak mbak Bunga?" celetuk Niko tiba-tiba membuat ketiga sahabatnya langsung menyorakinya.


"Belajar dulu yang bener, baru pacaran," sahut Nathan datar.


"Yah, bang, kok pelit banget sih! Berbagi itu indah, bang," seloroh Niko tak tahu malu. "Mbak, kalau bang Nathan bikin mbak sedih lagi, Niko selalu siap sedia jadi penyembuh laramu. Tenang aja, aku nggak akan kayak kak Edgar kok. Mama dan papa udah nggak maksa-maksa lagi soal jodoh, jadi Niko bebas," sambungnya membuat ketiga temannya lantas menggeplak kepalanya gemas.

__ADS_1


"Bini orang woy!" seloroh Aldo.


"Dasar, cowok nggak ada akhlak ya gini, berani-beraninya merayu cewek di depan lakinya," decak Nena sambil geleng-geleng kepala. "Hati-hati loe, Ko, dihajar bang Nathan tau rasa."


"Namanya usaha awww ... Sakit, Kia, ampun ... " pekik Niko saat Kia mencubiti perutnya membuat semua orang tergelak melihat interaksi mereka.


"Rasain loe, dasar calon pebinor!" seru Aldo dan Nena sambil tergelak kencang.


...***...


Hari berganti hari begitu cepat, tak terasa hari ini merupakan hari pernikahan Bayu dan Bela. Mereka melangsungkan pernikahan di kediaman Bela. Bela yang terlahir dari keluarga cukup berada tentu mengadakan resepsi pernikahan yang cukup meriah. Namun mereka mengadakan resepsi itu di rumah mereka sendiri yang memang memiliki halaman rumah cukup luas.


Para tamu datang silih berganti, memberikan ucapan selamat dan doa-doa agar pasangan itu jadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah.


"Selamat ya, kak. Selamat ya, Bel. Semoga kalian bahagia selalu," ucap Bunga pada sang kakak dan sahabatnya.


"Makasih ya, dek. Jujur, sampai sekarang kakak masih dihantui rasa bersalah padamu. Terima kasih karena bersedia memaafkan kakak dan tetap bersedia menjadi adik kakak yang baik. Kakak sayang kamu."


"Tak usah ungkit masa lalu, kak. Bunga udah memaafkan segalanya. Kini saatnya kakak berbahagia, seperti aku yang bahagia dengan Nathan dan kedua buah hatiku," ucap Bunga membuat mata Bayu berkaca-kaca. "Bel, gue titip kakak gue ya! Laporin gue kalau dia macam-macam, biar kita daftarin dia ke sunat massal, biar kak Bayu disunat lagi," seloroh Bunga sambil tergelak.


"Dasar, adik nggak ada akhlak. Masa' kakak mau didaftarin sunat massal," ketus Bayu bersungut-sungut.


"Tenang aja adik ipar, kalau dia macam-macam, kakak ipar mu sendiri yang akan mencincangnya jadi 100 bagian terus dikasi ke ikan-ikan arwana piaraan gue, gimana ide gue? Lebih keren kan!" tukas Bela membuat Bayu bergidik ngeri.


"Astaga kak, bini loe sadis amat! Gue saranin, jangan macam-macam ya! Bela kalo udah ngomong, pasti ditepatin," bisik Nathan di telinga Bayu membuat pengantin baru itu makin merinding saat tahu sisi lain dari istrinya.


Melihat wajah sang kakak yang pucat pasi, sontak saja membuat Bunga tergelak.


"Udah ah, yuk kita foto dulu! Satria sama kak Putri udah nggak sabar mau foto sama Om dan Tante nya nih!"


"Ya udah, ayok!" ajak Bela. Lantas mereka pun segera berpose dan ... cheeeers .....


Akhirnya, Bunga benar-benar bisa merasakan kebahagiaan yang selama ini diimpikannya. Ia tak pernah menyesali masa lalunya sebab tanpa masa lalu, ia takkan mungkin bisa sampai di titik ini.


Kini kisah Bunga yang berawal dari penuh luka akhirnya berakhir happy ending. Meskipun tidak selalu hari-hari mereka dihiasi canda tawa bahagia, sebab yang namanya rumah tangga, pasti akan ada bumbu-bumbu yang menyertainya. Entah itu perselisihan, kesedihan, kesakitan, maupun kesalahpahaman. Namun, dengan besarnya rasa cinta mereka, mereka pun dapat melaluinya dengan baik. Yang terpenting, mereka mampu menjaga kesetiaan dan kepercayaan. Saling pengertian, saling memahami, saling menjaga, itu yang mereka lakukan.


Sekian kisah cinta Bunga dan Nathan dalam novel berjudul LUKA BUNGA. Semoga kita bisa mengambil pelajaran yang baik dari karya othor yang masih biasa ini. Sampai jumpa di novel lainnya ya!


Yang belum mampir ke karya othor lainnya, bisa langsung cek di beranda akun othor ya!


Yang masih on going dan nggak kalah seru ada Benalu dalam Rumah Tanggaku. Yang belum mampir, yuk dihaturin! Othor tunggu kedatangannya.


__ADS_1


...See you and ... bye-bye. 😘😘😘...


...^^^Happy reading 🥰🥰🥰^^^...


__ADS_2