
Praaaang ...
"Astaghfirullah," ucap Karlina saat baru saja gelas di tangannya jatuh saat ia hendak minum. "Pertanda apakah ini, Ya Allah? Semoga tidak ada apa-apa yang menimpa anak-anakku maupun suamiku," ucapnya lagi seraya mengusap dadanya yang tiba-tiba berdebar dengan kencang.
Sementara itu, di kampusnya, Kia sedang membaca buku di perpustakaan. Ia sedang menunggu mata kuliah selanjutnya sambil membaca buku. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, 15 menit lagi mata kuliah selanjutnya akan di mulai. Kia pun segera menyimpan bukunya ke tempatnya kembali, setelah itu ia pun segera beranjak dari sana untuk kembali ke kelasnya. Di setiap langkahnya, Kia mendengar kasak-kusuk percakapan tentang seorang wanita yang kecelakaan dan kini viral. Dengan langkah acuh tak acuh, Kia meneruskan langkahnya hingga ke dalam kelas dan duduk di tempatnya.
"Kalian lagi apa sih? Kok heboh banget?" tanya Kia pada salah seorang temannya.
"Ih, loe ini Ki, gini nih kalau kelewat kutu buku jadi berita yang lagi viral aja nggak tahu," ucap temannya itu seraya berdecak.
"Kasi tau aja kenapa sih, nggak usah pake ngejek. Kalian kan tahu, gue emang kurang suka tuh buka sosmed. Kebanyakan nggak ada faedahnya soalnya. Banyak berita-berita nggak penting yang di share berulang-ulang, ujung-ujung jadi bahan ghibah. Mending berita itu fakta, lha kadang cuma sekedar fitnah atau ajang pansos sama pamer ini itu, males banget gue," sanggah Kia tak suka kebiasaannya yang kudet alias kurang update dicemooh teman-temannya.
"Ya, ya, ya, terserah deh loe mau bilang apa. Kembali ke laptop deh, yang loe tanyain tadi itu ada kecelakaan yang viral. Ada seorang perempuan kecelakaan di depan rumah sakit. Si cowok sampai jerit-jerit terus nangis-nangis pas liat si cewek udah berdarah-darah gitu. Kasian banget pokoknya."
"Iya, aku aja sampai nangis liat si cowok meraung-raung kayak gitu. Mungkin mereka habis bertengkar kali ya terus si cewek ngambek lari ke jalan atau emang niat mau bundir karena itu si cowok sampai shock terus nangis-nangis nyesel gitu," imbuh yang lainnya.
"Oh, ya! Mana sih, gue jadi penasaran!"
"Buka aja sosmed loe, pasti pada berseliweran orang bagiin videonya."
Lantas Kita pun segera mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya kemudian ia mulai membuka akun sosmednya yang jarang ia buka dan seperti kata teman-temannya tadi, banyak akun yang membagikan video tersebut. Karena penasaran, Kia pun menekan tombol putar di layar ponselnya.
Seketika matanya terbelalak dengan jantung yang berdebar kencang. Gemuruh di dadanya membuat Kia jadi gemetar.
"Ki, loe kenapa? Kok loe shock kayak gitu?"
"Kasihan ya, Ki, mereka. Semoga si cewek bisa sembuh ya! Bisa-bisa gila cowoknya kalo si cewek nggak selamat."
"Nggak ... ini ... ini nggak mungkin. Mbak Bunga pasti nggak papa kan! Mbak Bunga ... " ucap Kia dengan bibir bergetar hebat.
"Ki, loe kenal sama mbak itu?" tanya temannya hati-hati.
"Dia ... dia mbak gue, Rin. Gue ... gue pamit ya! Gue harus segera jadi tau keluarga gue," ucap Kia panik.. Tanpa banyak kata lagi, ia segera mencangklong tasnya kemudian berlari keluar mencari tukang ojek untuk mengantarkannya ke rumah.
Di perjalanan, Kia mencoba menghubungi ayah dan kakaknya, namun tak ada respon. Ingin Kia menghubungi ibunya segera, tapi ia takut ibunya tiba-tiba shock dan jatuh pingsan.
"Ya Allah, tolong selamatkan mbak Bunga, Kia mohon," lirih Kia dengan berurai air mata.
...***...
Bunga telah masuk ke ruang UGD. Stefan dan asistennya beserta beberapa perawat segera masuk untuk melakukan pertolongan pertama, khawatirnya pendarahan makin banyak hingga bisa mengancam jiwa Bunga bila tidak segera dihentikan.
"Bagaimana Om?' tanya Nathan panik saat Stefan keluar dari ruang UGD.
Stefan melepaskan maskernya, "Bunga kehilangan banyak darah meskipun pendarahan sudah bisa dikurangi namun kita harus segera melakukan operasi. Ada rusuknya retak dan bagian kepala bocor. Kita membutuhkan beberapa kantong darah. Stok di rumah sakit hanya tersisa satu kantong. Kalau bisa, segera hubungi keluarganya atau teman-teman kamu untuk memeriksa golongan darah yang cocok," ujar Stefan membuat kaki Nathan seketika melemas bak jelly.
__ADS_1
Nathan memejamkan matanya kemudian menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia harus kuat, demi Bunga, demi Putri, itu yang digumamkannya dalam hati.
Tanpa banyak bicara lagi, Nathan segera membalikkan badannya kemudian berlari memasuki lift yang akan mengantarkannya ke lobi rumah sakit. Kemudian ia keluar dari dalam lift dan bergerak cepat menuju area parkir dimana mobilnya berada. Tak mau membuang banyak waktu, Nathan melajukan mobilnya membelah jalanan secepat mungkin agar bisa segera tiba di rumah orang tua Bunga. Besar harapannya agar orang tuanya sudi memaafkan Bunga dan mendonorkan darah merah demi kesembuhan dan keselamatan Bunga. Entah bagaimana hidupnya kelak bila sampai Bunya meninggalkannya. Apalagi bila sampai Putri mengetahui keadaan ibunya yang tidak baik-baik saja. Rasa khawatir mendominasi relung jiwanya.
Saat di lampu merah, Nathan menyempatkan mengirimkan pesan ke grup sahabatnya dan mengatakan Bunga membutuhkan donor darah segera.
Yang lebih dahulu melihat pesan itu adalah Bela. Ia pun segera menghubungi sahabatnya yang lain satu persatu. Mereka pun bergegas mendatangi rumah sakit tempat dimana Bunga berada.
Karena jarak rumah Bunga dan rumah sakit tidak begitu jauh, tidak sampai setengah jam kemudian Nathan telah tiba di rumah Bunga. Namun bukan sambutan hangat yang ia terima setibanya di sana, justru pukulan demi pukulan karena emosi dan kemarahan yang masih meraja di benak ayah Bunga dan Bayu.
"Mau apa lagi kau ke sini, hah? Tidak cukupkah kau sudah membuat keluarga kami jadi kacau balau," bentak Bayu penuh emosi. Hari ini di tempat kerjanya terjadi beberapa masalah. Alhasil saat ia melihat kedatangan Nathan, ia langsung mencecarnya dan menjadikan Nathan sebagai tempat pelampiasan amarahnya. Bertepatan saat itu juga Pak Broto baru pulang. Bukannya menghentikan aksi kekerasan sang anak, Pak Broto justru memandang datar Nathan yang berusaha berbicara tapi tak dihiraukan Bayu sama sekali.
Bugh ...
Bugh ...
Brakkk ...
Kruakkk ...
"Kak, aku mohon, berhenti sejenak! Ada yang mau aku sampaikan!" melas Nathan saat Bayu tak henti-hentinya ingin melayangkan tangan dan kakinya di tubuh Nathan.
"Apa, hah? Kau mau minta maaf? Minta ampun? Aku tak sudi memaafkan kalian!"
Brakkkk ...
Bugh ...
"Aaargh ... "
"Kak Bayu, kakak apa-apaan sih? Kenapa kau Bayu memukuli kak Nathan seperti ini?" pekik Kia kaget setibanya di rumah ia justru dihadapkan dengan adegan perkelahian atau lebih tepatnya pemukulan yang dilakukan Bayu pada Nathan. Nathan yang tak ingin berkelahi, hanya mencoba menghindar, tapi Bayu seolah kesetanan, ia terus mengejar Nathan yang menghindarinya.
"Kenapa kau membelanya, Kia? Gara-gara dia , Bunga jadi ... "
"Kakak nggak bisa terus menyalahkan Kak Nathan sedangkan baik bapak dan kakak egoisnya tiada duanya. Setidaknya kak Nathan sudah mencoba menebus kesalahannya, sedangkan bapak dan kak Bayu apa? Hanya bisa menyalahkan orang lain. Sejak Mbak Bunga kecil, kalian perlakukan nggak adil, karena itu mbak Bunga jadi salah jalan jadi jangan hanya bisa menyalahkan."
"Tutup mulutmu, Kia! Tidak sopan kau berbicara seperti itu dengan kakakmu," bentak pak Broto pada Kia.
Kia baru saja hendak kembali menyahut, tapi tangan Nathan justru mencegahnya.
"Tapi kak ... "
"Sekarang ada hal yang lebih penting. Bunga ... Bunga butuh kalian, aku mohon!"
Bruk ...
__ADS_1
Nathan menjatuhkan dirinya di hadapan Pak Broto dan Bayu.
"Aku mohon, tolong Bunga. Aku takut ... aku takut kalian akan benar-benar menyesalinya bila terlambat sedikit saja," melasnya lagi sambil terisak pilu.
"Kak, yang video viral itu ... "
"Bunga ... dia dalam keadaan kritis. Dia harus segera di operasi. Tapi stok darah di rumah sakit tidak mencukupi. Tidakkah kalian sebagai keluarga sedikit saja merasa iba? Sudah cukup ia menderita selama ini. Silahkan kalau kalian ingin membunuhku sebagai penebus segala kesalahanku, tapi aku mohon, tolonglah Bunga, aku mohon!" Nathan memohon seraya menangis.
Pak Broto dan Bayu terhenyak mendengar penuturan tersebut.
"Apa ... apa katamu tadi, nak?" Karlina mendekat dengan kursi rodanya. Matanya telah basah karena mendengar kata-kata Nathan barusan.
"Bunga kecelakaan, tante. Bunga kritis dan membutuhkan transfusi darah segera untuk melakukan operasi."
"Ayo nak Nathan, antar Tante ke rumah sakit segera. Tinggalkan saja dia manusia egois dan sok suci itu. Mereka tidak pantas disebut sebagai seorang ayah dan seorang kakak," desis Karlina menahan emosi.
Pak Broto dan Bayu tertegun mendengarnya. Rasa bersalah menyeruak begitu saja. Bayangan Marlina yang meninggal setelah melahirkan Bunga melintas di benak pak Broto.
'Tolong jaga Putri kita ya, mas! Lindungi dia, cintai dia, kasihi dia, sayangi dia, dan jangan lupa katakan padanya, ibu sangat menyayangi dirinya.'
Pun Bayu, bayangan saat ibunya dengan wajah ceria mengatakan ia akan memiliki seorang adik kemudian memintanya berjanji untuk selalu menjaga dan melindunginya. Namun, kini yang ia lakukan justru sebaliknya. Ia tidak menepati janjinya pada ibunya. Ia tak pernah menjaganya. Ia tak pernah melindunginya. Ia justru mengabaikan dan membencinya.
'Bayu, kalau ibu nggak ada, tolong jaga adek ya! Lindungi. adek. Jangan buat dia bersedih atau ibu akan ikut bersedih nanti. Bayu nggak mau kan ibu bersedih?'
'Nggak mau, Bu. Ibu tenang aja, Bayu janji akan selalu sayang adek, jaga adek, dan lindungi adek. Bayu sayang banget sama ibu dan adek.'
Deg ...
"Berhenti!" seru Bayu yang langsung menghentikan Nathan yang hendak masuk ke kursi kemudi.
"Bayu, hentikan! Jangan buat masalah lagi! Kalau kau tidak mempedulikan Bunga terserah, tapi jangan halangi ibu dan Kia untuk melihat keadaan Bunga. Bagaimana pun, Bunga itu anak ibu. Walaupun dia bukan lahir dari rahim ibu, tapi bagi ibu, dia tetap anak ibu. Menyingkirlah, jangan halangi Nathan lagi!" sergah Karlina dengan mata melotot dan memerah karena amarah dan kesedihan yang menyala-nyala.
"Bukan, bukan begitu maksud Bayu, Bu. Bayu hanya ingin ikut pergi ke rumah sakit. Kondisi Nathan juga tidak baik untuk menyetir jadi biarkan Bayu yang menyetir. Bayu akan mendonorkan darah Bayu. Semoga darah Bayu cocok sama Bunga," tukas Bayu dengan bibir bergetar karena mulai menyadari kesalahannya.
"Bapak juga ikut. Ayo, kita segera berangkat saja! Bapak juga akan memeriksakan darah bapak cocok atau tidak untuk didonorkan ke Bunga," pungkas Pak Broto membuat Karlina dan Kia tersenyum haru.
Nathan sampai meneteskan air matanya dan menyerahkan kunci mobilnya pada Bayu seraya mengucapkan terima kasih karena bersedia membantu Bunga.
"Kau tidak perlu berterima kasih. Sudah kewajiban ku melakukan ini. Bagaimana pun, Bunga adalah adikku. Aku tahu, aku salah selama ini dan aku berjanji akan memperlakukannya dengan baik dan menuruti segala permintaannya asalkan Bunga sembuh seperti sedia kala," pungkas Bayu sambil meneteskan air matanya.
Pak Broto yang duduk di kursi belakang bersisian dengan Karlina pun sampai tak dapat mengontrol air matanya. Dalam hati, ia pun melakukan hal yang sama, berjanji akan memperbaiki kesalahannya yang telah mengabaikan Bunga selama ini.
'Aku mohon ya Allah, berikanlah aku kesempatan untuk menebus segala kesalahanku pada putriku. Aku mohon selamatkanlah dia. Maafkan bapak, nak. Maafkan bapakmu yang kejam ini. Bapak mohon bertahanlah, nak. Bapak mohon!'
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...