
"Princess papa udah siap?" tanya Nathan pada sang Putri sesaat setelah masuk ke kamarnya. Hari ini Putri memiliki jadwal kontrol. Meskipun transplantasi sumsum tulang belakang telah berhasil, namun setiap bulan Putri harus tetap melakukan kontrol kesehatannya. Mereka tidak boleh melewatkannya satu kali pun sebab semua demi kesehatan Putri yang tetap stabil dan untuk mencegah penyakit itu kembali kambuh dan tak terkendali sebab Bernard Soulier Syndrome merupakan penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan belum ditemukan obatnya. Mereka hanya bisa menjaga agar penyakit tersebut tidak kembali lagi dengan terus mengontrol kesehatan Putri dan menjauhkannya dari hal-hal yang bisa menjadi pemicu penyakit itu kembali lagi.
"Sudah, papa," seru Putri girang. Nathan pun lantas memeluk tubuh mungil Putri dan mengecup kepalanya dengan sayang.
"Anak papa emang paling cantik dan paling pintar. Udah bisa mandi sendiri, pake baju sendiri, papa bangga banget sama Putri," ucap Nathan dengan senyum merekah.
"Iya dong, kan Putri anak mama dan papa. Mama mana, pa?"
"Mama tadi lagi siap-siap, kamu turun dulu buat sarapan ya, sayang. Papa mau lihat mama," ucapnya sambil mengelus puncak kepala Putri dengan sayang.
Putri mengangguk, kemudian segera membalik tubuhnya menjauh. Ia menuruni tangga dengan perlahan sambil berpegangan dengan Nathan yang terus mengikuti hingga ke bawah. Saat Putri beranjak menuju meja makan, Nathan justru kembali ke kamarnya untuk melihat sang istri. Menurut perkiraan dokter, Bunga akan melahirkan sekitar 2 Minggu lagi. Namun itu hanya prediksi, sebab terkadang kelahiran bisa maju atau mundur dari waktu yang diperkirakan.
"Sayang, kamu kenapa?' tanya Nathan saat melihat Bunga nampak meringis sambil menekan-nekan area pinggangnya.
"Ah, nggak kenapa-napa kok sayang. Hanya saja ... pinggang aku makin sakit aja. Perut aku juga nggak nyaman banget. Bisa tolong bawakan aku teh hangat nggak sayang?" pinta Bunga yang diangguki Nathan.
"Kamu duduk di sini dulu ya! Tunggu aku!" seru Nathan sambil memapah Bunga menuju tepi ranjang agar ia duduk di sana.
Nathan pun bergegas menuju dapur dan membuatkan teh hangat untuk Bunga.
"Bunga mana, Nath?" tanya Stefani yang sedang membantu art mereka menyiapkan sarapan.
"Ada di kamar, ma. Pinggangnya agak sakit jadi aku mau biarin dia sarapan di kamar aja," tukas Nathan sambil mengambil beberapa lembar roti dan mengolesinya dengan selai kacang kesukaan istrinya itu.
Setelah roti dan teh hangatnya siap, Nathan pun bergegas membawanya ke dalam kamar.
__ADS_1
"Kok kamu bawa makanannya ke mari, sayang? Aku bisa sarapan di bawah kok. Kau cuma pingin teh hangat aja sebelum turun," ujar Bunga tapi ia tak menolak saat Nathan memberinya setangkup roti . Bunga menggigitnya sedikit demi sedikit sambil menyesap teh hangatnya.
"Nggak papa. Pinggang kamu kan katanya sakit. Aku nggak mau kamu tambah kesakitan kalau mondar-mandir," ucap Nathan sambil memperhatikan Bunga yang sedang makan. Bunga lantas menyuapkan roti di tangannya ke mulut Nathan, Nathan pun membuka mulut kemudian menggigit roti itu dan mengunyahnya.
"Nggak segitunya juga kali sayang. Entar Putri malah nyariin kita gimana?"
"Nggak usah khawatir, kalau udah ada Opa sama Oma nya, Putri malah kadang lupa sama kita. Kalau kamu sakit, kamu nggak usah ikut kontrol Putri aja, gimana? Kamu istirahat aja. Aku nggak mau ... "
"Aku nggak mau tinggal, pokoknya ikut," seru Bunga yang memang tak mau melewatkan jadwal kontrol Putri meskipun hanya satu kali.
...***...
Nathan, Bunga, Putri, dan tak pernah tinggal Alan, kini telah berada di rumah sakit Cinta Medika. Dokter Agus bekerja sama dengan dokter Alan untuk selalu mengontrol keadaan Putri. Setelah pemeriksaan dinyatakan aman, mereka pun bersiap untuk pulang. Tapi baru saja Bunga hendak berdiri dari kursinya, tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang hangat mengalir dari sela-sela kakinya. Mata Bunga pun sampai terbelalak.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Nathan saat melihat Bunga yang bergeming di tempatnya dengan kepala menunduk ke bawah.
"Apa?" seru Nathan yang mengejutkan dokter Agus dan Alan yang masih berdiskusi di meja dokter Agus.
"Kenapa, Nath?" tanya dokter Alan penasaran.
"Pa, sepertinya Bunga udah mau melahirkan. Itu ... ketubannya sudah pecah," ujar Nathan yang sudah bersiap hendak menggendong Bunga menuju ruang dokter yang biasa memeriksa kehamilan Bunga.
"Apa?" seru kedua dokter senior itu.
"Cepat, gendong Bunga. Biar papa telepon dokter Meta agar bersiap," titah Alan yang diiyakan Nathan.
__ADS_1
"Aku jalan aja, Yang! Nggak papa," lirih Bunga yang mulai merasakan nyeri menjalar di setiap sendinya hingga ia mendesis.
"Nggak, nggak, aku takut kamu kenapa-kenapa. Udah sini, biar aku gendong!" Lalu Nathan segera menyelipkan lengannya di belakang pundak dan di bawah lipatan lutut, sedangkan Bunga melingkarkan tangannya di leher Nathan, kemudian Nathan pun segera menggendong Bunga dan membawanya ke ruang persalinan. Tampak di sana sudah ada dokter Meta yang sudah menunggu.
"Kamu udah mulai merasakan kontraksi sejak kapan?" tanya dokter Meta sambil mengenakan sarung tangan steril untuk memeriksa jalan lahir Bunga.
"Udah dari sini hari tadi, sekitar jam 3'an dok," ucap Bunga sambil meringis.
"Kenapa kamu nggak bilang sayang?" tanya Nathan yang sudah siaga di sisi kanan Bunga sambil menggenggam erat tangannya.
"Aku nggak mau buat kamu panik, Yang. Apalagi belum ada tanda-tanda mau melahirkan, jadi aku tahan aja dulu. Kalau aku kasi tau kamu, pasti kamu langsung bawa aku ke rumah sakit, aku nggak mau. Bosen tau lama-lama di rumah sakit," ujar Bunga lirih membuat Nathan menghela nafasnya.
"Apa yang istri Anda katakan benar. Nggak perlu terburu-buru meskipun udah merasa ada kontraksi. Kecuali sudah ada tanda-tanda mau melahirkan seperti keluarnya darah bercampur lendir atau pecahnya ketuban, nah itu harus segera dilakukan tindakan," tutur dokter tersebut yang kemudian di simpan di memori Nathan untuk persiapan bila Bunga kembali hamil anaknya kelak.
'Astoge Nath, yang ini aja belum berojol, eh udah mikirin next kehamilan Bunga.' 😂
"Pembukaan kamu udah hampir lengkap. Kita akan mulai bersiap," seru dokter Meta.
...***...
Detik demi detik terus berganti, tak terasa Bunga telah masuk ke dalam ruang persalinan hampir 30 menit. Stefani, Alan, Karlina, Pak Broto, Bayu, Kia, dan sahabat Bunga dan Nathan sudah menanti kabar di luar dengan perasaan was-was. Doa-doa terlantun di hati mereka masing-masing, mendoakan kebaikan agar Bunga dapat melahirkan dengan selamat, sehat ibu dan anaknya, tanpa satu kurang apapun.
Tak lama kemudian, terdengar pekikan tangis bayi dari dalam ruangan serba putih itu. Semuanya saling menatap satu sama lain, mengucapkan syukur akhirnya buah hati Nathan dan Bunga telah lahir. Tapi perasaan mereka belum tenang sepenuhnya, sebab mereka belum mendapatkan kabar bagaimana keadaan Bunga dan bayinya saat ini.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...