LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)

LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)
Bab. XLVI Takut dan cemas


__ADS_3

Nathan baru saja selesai mengerjakan sholat subuh. Ia pun bergegas keluar dari musholla rumah sakit. Ia berniat membeli susu hangat dan cemilan untuk Bunga. Kondisi Putri yang masih mengkhawatirkan membuat Nathan dilanda cemas. Bukan hanya dengan Putri, tapi juga dengan Bunga yang nampak sekali begitu terpukul dengan kondisi sang Putri. Walaupun semalam Putri sempat membuka matanya, tapi melihat fisik Putri yang begitu lemah membuat mereka begitu tersiksa. Dia yang belum lama ini tahu Putri adalah putrinya saja begitu terpukul, apalagi Bunga yang merupakan ibu kandungnya. Ibu yang mengandung juga membesarkan dan mendampinginya selama 6 tahun ini.


Nathan baru saja mengenakan sepatunya dan hendak berdiri untuk segera pergi dari sana. Namun, saat Nathan baru saja mendongakkan kepalanya, tiba-tiba matanya bersirobok dengan sepasang mata yang menatapnya dengan dahi yang berkerut. Nampak sekali sosok itu menaruh rasa penasaran melihat keberadaannya di rumah sakit itu.


Sebenarnya Nathan semalam sudah dapat memprediksi hal ini. Tak butuh waktu lama, keberadaannya di sana pasti akan terendus oleh orang-orang yang mengenalnya. Salah satunya adalah sosok yang berdiri menjulang di hadapannya ini, yaitu Om Stefan, adik ibunya namun berbeda ibu. (Yang baca Pesona Mantan Istri yang Disakiti pasti ingat. 😄)


Karena rasa kagum Stefan pada sang kakak ipar membuat Stefan pun bercita-cita menjadi seorang dokter. Namun bila Alan merupakan dokter spesialis Onkologi, maka Stefan hanyalah seorang dokter umum.


"Om," seru Nathan seraya mengerjapkan matanya, meyakini ia tidak salah lihat.


"Kenapa? Kaget?" Stefan menarik satu sudut bibirnya membuat Nathan menggaruk tengkuknya salah tingkah.


"Sekarang kamu segera ikut Om! Om butuh penjelasanmu." tukas Stefan tegas.


Nathan pun lantas mengikuti langkah Nathan hingga ke ruang kerjanya.


"Duduk!" titah Stefan tegas menunjuk ke arah sofa dengan ujung dagunya.


Setelah mereka telah duduk di tempat masing-masing, barulah Stefan kembali bersuara.


"Jadi ... tolong jelaskan sama Om, siapa anak yang sedang dirawat di ruang Bougenville XX?" tanya Stefan straight to the point.


Nathan memejamkan matanya sejenak. Ia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. Setelah merasa siap, Nathan pun membuka mata dan bersiap untuk bercerita.


"Nama anak yang dirawat di ruang Bougenville XX adalah Putri Buana Wiryatama. Dia ... anak Nathan, Om. Nathan adalah ayah biologis Putri."


"Apa? Anak? Jadi ... dia benar-benar anak kamu?" seru Stefan dengan mata membulat sempurna

__ADS_1


Nathan mengangguk mantap.


"Tapi bukannya kamu belum lama pulang ke Indonesia? Bagaimana kamu tiba-tiba punya seorang anak? Kamu yakin, dia benar-benar anak kamu?" cecar Stefan. Bukan bermaksud menyudutkan ataupun tidak mempercayai. Namun bukankah kita harus bersikap waspada terhadap apapun itu. Apalagi selama 6 tahun ini, Nathan tinggal di Amerika. Ia yang cukup dekat baik dengan kakak perempuannya, maupun dengan kakak iparnya, tentu sering mendapatkan informasi mengenai kesibukan Nathan di sana. Di Amerika, Nathan hanya sibuk belajar dan bekerja paruh waktu. Ia tak suka terlalu bergantung dengan orang tuanya jadi ia bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhannya di sana. Apalagi apa-apa di sana serba mahal, tentu ia tak mau terlalu merepotkan orang tuanya. Meskipun orang tuanya lebih dari mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tapi tetap saja, ia lebih suka mandiri. Ia juga tak pernah terlibat hubungan percintaan selama di sana, jadi bagaimana bisa, baru saja beberapa bulan Nathan tinggal di Indonesia, tiba-tiba ia telah menjadi seorang ayah? Apa mungkin keponakannya itu pernah terlibat one night stand dengan seseorang saat di sana?


"Putri benar-benar anakku, Om. Walaupun aku belum test DNA, tapi tak ada keraguan dalam diriku mengenai Putri yang merupakan anak kandungku. Bukan hanya karena wajahnya yang begitu mirip, tapi juga usia dan kepercayaan ku terhadap ibunya. Ibunya adalah mantan kekasihku, Om. Aku telah menghamilinya sebelum berangkat ke Amerika. Dan bodohnya aku saat itu tidak mempercayai ucapannya yang mengatakan kalau dia hamil. Aku justru meninggalkannya seorang diri. Aku benar-benar jahat, Om. Aku ... aku udah buat Bunga dan Putri menderita selama ini. Dan kini ... sepertinya Putri pun tengah sakit yang cukup serius."


Nathan tergugu saat menceritakan perihal rahasia kelamnya itu.


"Om nggak nyangka, keponakan yang om bangga-banggakan ternyata seorang brengsekkk," ucap Stefan menggeram. "Jadi, anakmu sakit apa?" lanjut Stefan bertanya.


Mendadak suasana menjadi hening. Bulir bening nan hangat mengalir dari sudut mata Nathan.


"Kemungkinan berhubungan dengan kanker darah. Namun entah jelasnya apa Nathan nggak tahu sebab dokter bilang harus menunggu hasil lab terlebih dahulu. Dokter sebelumnya juga mengatakan, aku akan membutuhkan bantuan seorang hematolog," ujar Nathan lirih membuat Stefan terhenyak.


Bagaimana kisah masa lalu terulang kembali? Ia masih ingat bagaimana kakak perempuannya tampak begitu pucat dengan rambut yang nyaris habis karena efek kemoterapi. Saat pertama kali bertemu, kakaknya pun tengah berjuang melawan kanker dan kini, putri dari keponakannya pun mengalami hal yang hampir serupa. Ia hanya berharap, semoga penyakit putri keponakannya bisa disembuhkan.


Dan disinilah Nathan, Alan, dan Stefan sekarang. Di sebuah ruangan khusus milik Alan. Nathan pun menceritakan perihal Bunga dengan lebih lengkap. Bahkan sejak awal hingga pertemuannya kembali. Alan murka. Ia bahkan sampai menampar pipi Nathan untuk pertama kalinya.


Plakkk ...


Plakkk ...


"Anak kurang ajar! Apa papa dan mama mendidik mu untuk menjadi anak yang tidak bertanggung jawab, hah? Bagaimana bisa kamu meninggalkannya begitu saja di saat ia sedang hamil? Bahkan gara-gara kamu, dia diusir keluarganya, harus hidup terlunta-lunta di jalanan, kemudian kehilangan salah satu anaknya. Dan kini ia pun harus menanggung derita karena anaknya yang lain menderita penyakit berbahaya. Kau tahu, bagaimana hancurnya perasaan perempuan itu karena ulahmu? Apa kau tahu, hah? Papa benar-benar kecewa dengan kamu."


Awalnya Alan marah dengan begitu menggebu. Namun lambat laun kata-katanya terdengar lirih. Ia bisa merasakan bagaimana hancurnya hati Bunga saat ini sebab ia pun pernah merasakannya. Ia masih ingat, bagaimana hancurnya perasaannya saat melihat Stefani terbaring dengan berbagai alat penunjang kehidupan yang menempel dan menancap di tubuhnya. Rasa takut, cemas, was-was, gelisah, bercampur aduk menjadi satu dalam benaknya. Rasa takut kehilangan. Bahkan sampai sekarang ia masih sering terbayang masa-masa itu. Alan benar-benar bersyukur, penyakit itu benar-benar menghilang dari tubuh istrinya. Semua pun tak lepas dari bantuan Aglian. Bahkan hingga sekarang ia masih merasa berhutang budi dengan sahabat istrinya tersebut. Sebab, berkat bantuannya juga, istrinya bisa menjalani pengobatan dan perawatan secara maksimal.


"Antar papa ke sana! Papa ingin melihat cucu papa. Setelah itu jemput mama kamu. Mama juga harus segera tahu. Tapi jangan bicara apa-apa dulu. Papa nggak mau mama tiba-tiba shock saat mendengar kabar tak terduga ini."

__ADS_1


Setelah mengatakan hal tersebut, Nathan, Alan, dan Stefan pun segera menuju ke kamar tempat Putri dirawat.


"Bunga, bagaimana keadaan Putri?" tanya Nathan saat telah berada di ruangan Putri.


"Putri udah bangun. Tapi dia tampak lemah sekali. Nath, aku ... aku takut," lirih Bunga sembari memalingkan wajahnya agar Putri tak melihat kalau ia menangis.


"Sssttt ... Kamu yang tenang. Aku yakin, Allah pasti akan memberikan kesembuhan dan kesehatan untuk Putri," ujar Nathan seraya mengusap punggung Bunga. Bunga pun segera menyeka air matanya. Ia tak mau, Putri bersedih karena melihatnya menangis.


"Princess nya papa udah bangun, toh! Eh, ada yang mau ketemu sama Putri lho. Putri bisa nebak nggak siapa yang mau temuin Putri?" tanya Nathan dengam memasang mimik ceria.


Putri menggeleng, ia memang tak mampu menebak saat ini.


"Sebentar ya! Papa panggil dulu orangnya," ujar Nathan seraya tersenyum manis.


Dahi Bunga mengerut, ia penasaran, siapa yang dimaksud Nathan. Apa itu ibunya dan Kia? Atau Sahabatnya? Atau ...


Belum sempat Bunga menduga-duga, dua orang pria masuk bersamaan dengan Nathan yang membukakan pintu untuk kedua orang itu. Salah satu dari mereka memiliki perawakan gagah


walaupun sudah cukup berumur. Sedangkan laki-laki yang kedua umurnya sekitar 40 tahunan. Tapi siapa mereka ya? Bunga bertanya-tanya dalam hati.


"Pa, Om, kenalin, ini Bunga. Dan yang itu Putri," ujar Nathan membuat Bunga terbelalak kaget.


"Bunga, kenalin, ini papa aku dan ini Om aku, adik mama. Mereka adalah dokter yang juga bekerja di sini."


Sontak saja, apa yang dikatakan Nathan membuat Bunga panas dingin. Peluh mengalir dari sekujur tubuhnya. Ia takut dan khawatir, bagaimana bila keluarga Nathan menolak dirinya dan anaknya sama seperti keluarga Edgar? Bunga benar-benar takut dan cemas kali ini.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2