
"Mau apa kau kembali lagi ke rumah ini anak sialan!" bentak ayah Bunga murka. Di sampingnya tampak Bayu menatap tajam Bunga dan Nathan secara bergantian dengan tangan terkepal erat.
"Ba-bapak ... " cicit Bunga dengan suara bergetar.
"Saya bukan bapak kamu. Saya tidak punya anak murahan seperti kamu. Keluar dari rumah saya sekarang sebelum saya melakukan hal yang lebih menyakitkan pada kalian berdua!" bentak Ayah Bunga lagi membuat persendian Bunga terasa begitu lemas.
Ternyata, 6 tahun belum merubah kakak dan ayahnya.
Bunga ... benar-benar kecewa.
Melihat kedatangan pak Broto yang merupakan ayah Bunga dan Bayu, kakak Bunga, Nathan pun segera bangkit dan menjatuhkan tubuhnya di hadapan ayah dan kakak Bunga.
"Pak, saya mohon, maafkan Bunga. Ini ... ini kesalahanku, bukan Bunga. Saya mohon pak, maafkan Bunga. Kasihan dia, pak. Dia sudah menderita selama ini," ucap Nathan sambil bersimpuh di kaki Pak Broto.
Tapi bukannya iba, pak Broto justru menendang pundak Nathan hingga tersungkur.
"Pak," teriak ibu Bunga terkejut dengan tindakan suaminya itu. Sedangkan Bunga masih bergeming di tempatnya. Ia masih linglung dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Oh, jadi kamu manusia breng-sek yang sudah menghamili Bunga?" decak Bayu sinis sambil mencengkram kerah baju Nathan.
Bugh ...
Bugh ...
Bruakk ...
Tanpa rasa kasihan, Bayu memukul dan menendang Nathan hingga ia tersungkur. Pelipis, hidung, dan sudut bibirnya sudah berdarah. Pipinya membiru akibat hantaman kepalan tangan Bayu yang membabi buta tanpa ampun dan sekuat tenaga.
"Bayu, sudah nak! Hentikan, kau bisa membunuhnya!" Ibu Bunga bernama Karlina memekik dengan wajah panik saat anak sulungnya memukul Nathan dengan beringas. Sedangkan Nathan hanya menerima pukulan demi pukulan itu tanpa perlawanan sedikitpun. Ia pikir apa yang dilakukan Bayu saat ini sudah sepantasnya ia dapatkan. Bahkan itu semua belum sebanding dengan apa yang telah ia torehkan pada putri keluarga ini.
__ADS_1
"Nggak, bu. Seandainya membunuh itu tidak berdosa, sudah aku lenyapkan nyawa keparaat ini," bantah Bayu dengan emosi yang sudah menggunung.
"Oh, jadi pelacur itu sudah bertemu kembali dengan keparaat ini? Setelah sekian tahun, baru berusaha menemui kami? Jadi kalian selama ini hidup bersama? Kalian memang pasangan tak tahu diri. Cih, menjijikkan!" desis Pak Broto merasa jijik dengan perilaku putrinya dan Nathan.
Ayah Bunga mengira Bunga dan Nathan selama ini hidup bersama tapi tak berusaha menemui mereka.
"Tidak, itu tidak benar, Om. Kami ..."
"Pak, kami tidak per- "
"Tutup mulutmu anak tak tahu diri! Kalau kau sudah bersama laki-laki brengsekk ini, untuk apa kau kembali lagi, hah? Lanjutkan saja hubungan menjijikkan kalian itu."
"Pak, aku mohon, maafkan aku. Aku tahu aku salah, tapi bapak keliru. Kami tidak pernah hidup bersama. Bahkan kami baru bertemu beberapa bulan ini," lirih Bunga yang sudah bersimpuh di lantai yang dingin.
"Itu benar, pak. Saya tahu, saya salah. Saya tidak percaya dengan kata-kata Bunga saat itu. Maafkan Bunga, pak. Dia tidak salah. Kami bahkan baru bertemu beberapa bulan ini. Kami juga tidak pernah hidup bersama."
"Saya tidak butuh penjelasan dari kalian. Segera pergi dari sini karena aku tak sudi melihat kalian lagi!"
"Aku tidak punya anak yang menjijikkan seperti dia," desis pak Broto membuat Bunga makin terisak, sedangkan Nathan tak habis pikir. Betapa teganya ayah dan kakak Bunga pikirnya. Tidakkah ia merindukan Bunga setelah sekian tahun berpisah?
"Kenapa? Kenapa sejak dulu bapak jahat dengan Bunga? Kakak juga. Kenapa? Kenapa hanya aku yang selalu dimarah bila berbuat salah walaupun tak sengaja? Sedangkan yang lain, selalu dianggap wajar. Kenapa? Kenapa aku selalu dibedakan? Apakah aku ... bukan anak kalian?" lirih Bunga tergugu dalam isak tangisnya.
"Bunga, itu tidak benar nak. Kau itu anak ibu, putri kesayangan ibu. Jangan berpikir macam-macam!" seru Karlina panik mendengar penuturan Bunga yang baru kali ini memiliki keberanian untuk mengeluarkan uneg-unegnya.
"Tapi itulah kenyataannya, Bu. Lihat, setelah 6 tahun berlalu pun bapak dan kak Bayu tak berubah sedikitpun. Mereka bahkan tidak pernah merindukan apalagi berusaha mencari keberadaanku," lirih Bunga lagi dengan nada putus asa.
"Kau mau tahu alasannya? Iya? Baiklah, aku akan memberitahukanmu alasannya," desis Pak Broto sambil tersenyum sinis. "Itu karena kau adalah pembawa sial. Gara-gara kelahiranmu, istri yang paling ku cintai meninggal. Seharusnya kau tidak pernah lahir ke dunia. Seharusnya kau saja yang mati, bukan Marlina. Saat dalam perut kau membuat Marlina sakit-sakitan, lalu saat kau lahir pun kau merenggut nyawa istriku. Kau memang anak pembawa sial. Sekarang kau puas kan sudah mengetahui kenyataannya?"
Deggg ...
__ADS_1
"Ma-maksudnya?"
"Maksudnya gara-gara kau ibuku meninggal. Kau puas?"
"Ma-ma," cicit Putri sambil bersembunyi di balik punggung Kia.
Tak ingin dilihat putrinya kalau ia sudah menangis, Bunga pun segera menghapus kasar air mata di wajahnya.
Mata Pak Broto dan Bayu membeliak saat melihat keberadaan Putri di rumah mereka. Terlebih Bayu yang pernah bertemu dengan Putri beberapa waktu yang lalu.
"Mama nangis? Mama kenapa nangis? Kakek itu jahat sama mama ya? Atau ... Om itu yang jahat?" tanya Putri sambil menatap lekat pak Broto dan Bayu yang masih tak bergeming di tempatnya.
"Ma, pulang ya!" bujuk Putri dengan raut wajah takut yang diangguki Bunga. Cukup dulu pikirnya berdebat dengan orang tuanya. Ia tak mau membuat Putri tersudutkan oleh sikap ayah dan kakaknya.
"I-iya, sayang," sahut Bunga dengan wajah sendunya.
"Bunga," lirih Karlina yang sudah bersimbah air mata.
"Lain kali bicara lagi ya, bu. Banyak yang ingin sekali Bunga tanyakan," lirih Bunga dengan mata berkaca-kaca.
Setelah itu, Bunga pun meraih Putri ke dalam gendongannya. Sebelum benar-benar keluar dari rumah itu, Bunga melirik Nathan dan memberi kode dengan ekor matanya yang bila diartikan 'aku pulang duluan.'
Nathan mengangguk. Setelahnya, Bunga benar-benar menghilang.
Bayu masih tertegun di tempatnya. Ia seketika teringat kata-kata Putri tempo hari.
'Om beneran nggak jahat? Nggak bakal culik Putri kan? Jangan culik Putri ya, Om! Kasihan mama kalau Putri nggak ada. Mama pasti sendirian, kesepian. Mama pasti bakal nangis terus kalau kehilangan Putri. Putri bukan anak orang kaya kok Om. Mama Putri miskin, nggak ada duit jadi nggak bisa kasi duit.'
Degh ...
__ADS_1
Seketika Bayu merasakan begitu ngilu di benaknya. Ayah Bunga pun masih nampak linglung setelah melihat gadis kecil tadi.