LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)

LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)
Bab. LVII Takkan pernah terganti


__ADS_3

Malam sudah sangat larut, kedua insan yang belum lama dipersatukan kembali itu justru tak bisa memejamkan mata mereka sama sekali. Mereka masih terjaga dengan pikiran yang sibuk melanglang buana.


"Nath," panggil Bunga pada Nathan yang berbaring di sampingnya dengan posisi menyamping. Buncahan bahagia memenuhi relung jiwanya. Apalagi bisa tidur menyamping seraya memandang lekat wajah cantik Bunga merupakan impian yang akhirnya terwujud juga. Takkan ia lepaskan kesempatan yang telah diberikan yang maha kuasa ini. Dinikmatinya setiap lekuk wajah itu secara rakus dengan bibir yang menyunggingkan senyum tipis.


"Apa sayang?" jawabnya tanpa memutus pandangan.


"Kamu kok liatin aku terus sih?" protes Bunga yang sebenarnya merasa canggung. Ia sampai merasa canggung sendiri untuk bergerak karena tatapan Nathan yang begitu intens.


"Kenapa? Aku hanya memuaskan mataku yang lama merindu menatapmu," jawab Nathan jujur.


"Ck ... gombal," balas Bunga dengan semburat merah di pipi.


"Kok gombal? Aku jujur, sayang. Kamu nggak tahu aja, aku tuh kangen banget sama kamu. Tak pernah sekalipun aku melupakanmu meskipun kita jauh sayang."


"Tapi kamu pergi ninggalin aku. Ngehubungun juga nggak. Nggak balik-balik, nggak nyariin, kangen apa itu? Nggak bisa lupain apa itu?" tutur Bunga yang akhirnya mengeluarkan sesuatu yang selama ini ia pendam.


Nathan lantas mendekat dan menyelipkan lengannya di bawah kepala Bunga, menjadikannya bantalan. Kemudian ia merapatkan tubuhnya, mendekap kepala Bunga ke dadanya yang hangat.


"Maaf! Aku tahu, sejuta kata maaf pun takkan bisa menebus segala kesedihan dan penderitaanmu selama ini. Tapi aku hanya bisa mengatakan itu dan aku akan melakukan apapun untuk membahagiakan mu dan anak kita. Aku akan mengganti hari-hari yang hilang dengan membaktikan seluruh hidupku hanya untuk kalian. Aku jujur, Nga, aku tak pernah melupakanmu. Di sini ... " Nathan memegang tangan kanan Bunga dan meletakkannya di dadanya, "hanya ada kamu, namamu, tak pernah terlupa, tak pernah terganti. Hanya satu, yaitu kamu, Bungaku," ucap Nathan penuh kesungguhan.


"Apa saat di sana kamu pernah ..."


"Menjalin hubungan dengan perempuan lain?" terka Nathan yang diangguki Bunga.


Nathan lantas tersenyum kemudian menggeleng, "kalau mencoba pernah. Mencoba dekat dengan seseorang yang menyatakan menyukaiku, tapi saat aku mencoba memberinya kesempatan, hatiku rasanya nggak nyaman. Dia seakan menolak kehadiran perempuan lain di dalam sana. Hatiku sepertinya tidak rela kau digantikan orang lain. Jadi, aku menolaknya dan lebih memilih menjadi teman," ujarnya jujur.


Tapi Bunga justru menatapnya sangsi.


"Kau tak percaya, hm? Aku serius sayang. Kamu itu nggak pernah tergantikan."


"Nath, yang aku tahu kan di sana itu hidupnya bebas. Malah melakukan hubungan itu tu, bisa bebas banget. Apa kamu pernah melakukannya dengan perempuan lain meskipun tanpa sengaja?" tanya Bunga dengan jantung yang berdebar-debar.


Nathan terkekeh lalu mengecup puncak hidung Bunga gemas.

__ADS_1


"Hampir."


"Hah!" seru Bunga dengan mata membulat.


"Ya, hampir. Tapi untungnya bayanganmu menyadarkanku."


"Jadi kau ... kau ... " Bunga menelan ludahnya susah payah.


"Bukan aku bermaksud sayang. Tapi saat itu, aku menghadiri pesta temanku. Terus ada yang ngasi aku minum. Kamu tahu kan dulu aku bad boy. Ngeroko, minum minuman beralkohol pernah aku coba tapi saat mengenalmu aku nggak pernah lagi lakuin itu. Nah, pas di pesta itu ternyata semua minuman mengandung alkohol. Hari itu merupakan hari terberatku. Entah kenapa hari itu aku selalu kepikiran kamu. Perasaan tak nyaman, tak tenang, benar-benar kepikiran. Untuk menenangkan pikiranku, aku minum-minuman lucknut itu. Tapi karena aku udah lama nggak minum itu, aku mabuk. Terus ... "


"Terus apa?"


"Ada yang mau memanfaatkan itu untuk ... mengajakku bercinta."


"Apa?" seru Bunga dengan mata membulat.


Nathan meringis melihat respon terkejut Bunga, "ma-maaf, sayang. Tapi kamu tenang, aku ... aku sadar sebelum melakukannya kok. Kami hanya sempat ber----ciuman saja. Tapi tiba-tiba aku terbayang kamu nangis liatin aku. Akhirnya aku sadar, terus buru-buru pergi. Sejak itu, aku benar-benar nggak mau nyentuh alkohol lagi. Aku ... nggak mau liat kamu sedih dan kecewa. Maafkan aku ya, sayang," ucap Nathan yang tampak benar-benar menyesal.


"Masa lalumu milik kamu tapi masa depan milik kita bersama. Jadi biarkan itu menjadi pengalaman masa lalumu, tapi aku harap kejadian serupa takkan pernah terjadi lagi di masa kini dan masa depan," ucap Bunga lirih.


"Aku janji, sayang. Aku takkan mengulangi lagi perbuatan bodohku di masa depan."


"Boleh aku tanya satu lagi?"


"Hmmm ... tanyakan saja. Aku akan menjawabnya dengan jujur."


"Nath, kenapa kau mau menikahiku? Apalagi saat itu bukankah aku sedang koma, kesempatan hidupku kecil."


"Jawabanku hanya satu, yaitu karena aku sangat-sangat mencintaimu."


"Tapi mengapa? Bagaimana kalau nyawaku tak tertolong? Apa kau tak menyesal?"


"Aku akan lebih menyesal kalau tidak bisa mengikatmu dalam satu ikatan suci. Kalaupun kau pergi meninggalkanku, aku takkan menyesal. Aku justru akan selalu menjaga cinta kita itu sampai aku menyusulmu di alam sana."

__ADS_1


"Nath," lirih Bunga dengan mata berkaca-kaca. Ia sungguh terharu dengan segala penuturan Nathan. Ia tak menyangka, laki-laki sesempurna Nathan masih setia menjaga cintanya hanya untuknya semata. "Maaf," ucap Bunga seraya terisak.


"Tak ada yang perlu dimaafkan. Kau tidak salah, sayang. Justru akulah yang salah. Seharusnya aku mempercayai mu dan tidak meninggalkan mu. Maafkan aku," lirih Nathan yang ikut berkaca-kaca.


"Tidak, kau pun sebenarnya tidak benar-benar salah. Kita masih labil saat itu jadi wajar kau bersikap seperti itu. Kalaupun kau percaya, kau pasti tak bisa meraih cita-citamu."


"Aku mencintaimu, Bunga."


"Aku pun mencintaimu, Nath," balas Bunga lirih kemudian Nathan mengecup dahi Bunga dengan hangat dan dalam.


"Sudah ya, tidurlah. Supaya keadaanmu benar-benar pulih," ucap Nathan yang diangguki Bunga.


Seminggu telah berlalu, dan akhirnya Bunga telah dipersilahkan pulang setelah menjalani beberapa test. Kondisi Bunga telah 98% membaik. Hanya saja, Bunga belum diizinkan melakukan hal yang berat ataupun berpikir keras.


"Mama ... " seru Putri bahagia saat melihat Bunga masuk ke rumah orang tua ayahnya.


"Putri ... " Bunga berseru lirih sambil berjongkok kemudian merentangkan tangannya. Putri pun segera mendekat dan berhambur ke dalam pelukan ibunya yang sudah lebih dari satu bulan ini tidak dijumpainya.


"Mama, Putri kangen," ucap Putri sambil terisak.


"Mama juga kangen, sayang. Sangat kangen." Bunga tak dapat membendung air matanya lagi. Ia tumpahkan rasa rindunya melalui pelukan hangat dan panjangnya pada sang putri tercinta.


Rumah besar milik Alan dan Stefani jadi saksi, akhirnya Putri bisa mewujudkan impiannya memiliki keluarga yang lengkap, ada ayah, ibu, Om, Tante, kakek, dan nenek dari kedua orang tuanya. Semua kini sedang berkumpul bersama. Untuk pertama kalinya, keluarga besar dari dua keluarga berkumpul dan bercengkrama. Bunga sampai berkaca-kaca, tak pernah terbesit di benaknya bisa melihat saat-saat indah seperti ini. Nathan yang melihat mata Bunga menatap keluarganya dengan berkaca-kaca lantas menggenggam tangannya.


"Kini ... saatnya untukmu bahagia sayang," ucap Nathan dengan senyuman penuh cinta.


"Terima kasih, Nath. Semua berkat dirimu. Terima kasih karena kau telah hadir kembali dalam hidupku dan terima kasih karena kau masih mencintaiku hingga saat ini. Aku mencintaimu, Nath. Dahulu, sekarang, hingga nanti, akan selalu mencintaimu," ucap Bunga tulus.


"Begitu pula aku, sayang. Dahulu, sekarang, hingga akhir masa hidupku, akan selalu mencintaimu. Selamanya takkan pernah terganti."


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2